Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Laporan Kasus: Pengobatan Cystolithiasis pada Kucing Anggora Jantan dengan Protokol Biasa dan Pakan Khusus Penderita Saluran Kemih Pappa, Suryadi; Anthara, I Made Suma; Widyastuti, Sri Kayati; Widyasanti, Ni Wayan Helpina
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.302

Abstract

Kucing kasus merupakan kucing ras anggora, jenis kelamin jantan berumur satu tahun, bobot badan 3,9 kg, warna rambut oranye, diperiksakan ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan kucing tidak bisa urinasi, nafsu makan menurun, dan tidak sejak minum sehari sebelumnya. Palpasi abdomen bagian hypogastrium medial kucing mengalami nyeri dan vesica urinaria menegang. Pemeriksaan radiografi menunjukkan hasil yang radiopak karena adanya kristal pada vesica urinaria. Sedimentasi urin dibawah mikroskop terlihat adanya kristal magnesium amonium fosfat (struvite). Kucing didiagnosis mengalami urolithiasis dengan prognosis fausta. Dilakukan pemasangan kateter urin untuk memudahkan pembilasan dan urinasi. Pasien diberikan terapi antibiotik ciprofloxacin dengan pemberian satu kali sehari selama tujuh hari 50 mg/kg BB per oral (PO), obat hemostatikum asam tranexamat sebanyak satu kali sehari selama enam hari 50 mg/kg BB PO, antiradang dexamethasone dengan pemberian dua kali sehari selama empat hari 1 mg/kg BB PO, dan terapi peluruh batu saluran kemih batugin yang mengandung 3 g ekstrak daun tempuyung dan 0,3 g ekstrak daun kejibeling pemberian satu kali sehari sebanyak 3 mL selama dua minggu. Kucing diberikan diet pakan khusus untuk penderita penyakit saluran kemih/Urinary Care selama masa pengobatan. Kondisi kucing kasus mengalami pemulihan dua minggu pascaterapi.
Laporan Kasus Newcastle Diseases Dan Avian Influenza Pada Ayam Buras Pranatha, Wahid Danang; Irhas, Rajiman; Arhiono, Haru Nira Putra; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.618 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.498

Abstract

Ayam buras (bukan ras) merupakan salah satu sumber plasma nutfah yang mempunyai potensi penggerak ekonomi pedesaan. Newcastle Disease (ND) dan Avian influenza (AI) merupakan penyakit fatal yang menginfeksi ayam buras. Kedua virus ini termasuk jarang menginfeksi unggas dalam waktu bersamaan karena memiliki virulensi yang tinggi dan dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar pada peternakan unggas. Pada kasus ini dari 120 ekor ayam, 62 ekor ditemukan sakit dan 27 ekor mati. Hasil tes laboratorium dengan uji HA/HI menunjukkan ayam kasus terinfeksi virus Newcastle Disease dan Avian Influenza. Hasil pengamatan sampel organ secara Patologi Anatomi (PA) diketahai bahwa otak, jantung, dan hati normal; trakea, paru-paru, dan usus mengalami hemorrhagi; proventrikulus menunjukan ptekie. Sedangkan pemerikasaan secara Histopatologi (HP) pada otak terdapat vaskulitis dan edema; trakea hemorrhagi dan edema; paru-paru hemorrhagi; miokardium jantung edema; mukosa usus infiltrasi sel radang makrofag dan nekrosis difusa; hati menunjukan adanya kongesti pada vena ventralis dan kapiler; proventrikulus terdapat pelebaran dan perlekatan epitel satu sama lain, nekrosis dan adanya nucleus eritrosit.
Case Report: Ehrlichiosis and Anaplasmosis in Timber Wolf Crossbreed (Canis lupus) in Bali, Indonesia Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Putra, I Putu Cahyadi; Suwiti, Ni Ketut
Media Kedokteran Hewan Vol. 36 No. 1 (2025): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v36i1.2025.88-99

Abstract

Pathogenic bacteria from the Anaplasmataceae family cause ehrlichiosis and anaplasmosis in animals, including dogs and wild carnivores (wolves, foxes, raccoons, and others). These diseases are emerging vector-borne diseases transmitted through ticks. A six-month-old timber wolf crossbreed (Canis lupus) came to the Veterinary Teaching Hospital, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Bali, Indonesia, with a history of weakness, decreased appetite, and excessive salivation. Examination revealed that the timber wolf crossbreed had pale mucosa, lethargy, hypersalivation, normochromic microcytic anemia, thrombocytopenia, gas accumulation in the stomach and intestine, and no foreign bodies in the digestive tract. Rapid test results with the SNAP® 4Dx® Plus Test IDEXX® were positive for Ehrlichia sp. and Anaplasma sp.; however, the blood smear examination was negative. The therapy for this case included sodium chloride 0,9% infusion as fluid therapy, atropine sulfate as symptomatic therapy, hematopoietic, multivitamin, iron supplementation as supportive therapy, and doxycycline antibiotic as causative therapy. The wolf showed decreased salivary excretion and ate 4 h after fluid therapy, atropine sulfate, and hematopoietic administration. The wolf improved their condition through increased appetite and became agile after seven days of treatment. The wolf was declared clinically cured after two weeks of doxycycline treatment.
Epitheliogenesis imperfecta in a day-old Landrace piglet in Payangan, Gianyar, Bali Putra , I Putu Cahyadi; Rinca , Korbinianus Feribertus; Widyasanti , Ni Wayan Helpina
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 1 (2025): ARSHI Veterinary Letters - February 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.1.3-4

Abstract

Satu dari enam ekor anak babi Landrace lahir dengan kondisi lahir tanpa kulit pada bagian pantat. Pemeriksaan fisik menunjukkan anak babi memiliki bobot lahir 1,32 kg, suhu 39,1oC, absennya kulit pada bagian belakang paha kanan (4,2 x 7,1 cm) dan kiri (5,1 ×5,3 cm) serta pangkal ekor, sehingga teramati luka terbuka. Berdasarkan signalement, sejarah kasus dan pemeriksaan fisik, anak babi didiagnosis mengalami epitheliogenesis imperfecta (EI). Terapi yang diberikan yaitu antibiotik procaine dan benzathine penicillin G dosis 1 ml/10 kg bobot badan (BB) sekali injeksi. Diphenhidramine HCl dosis 1 mg/kg BB diberikan sekali injeksi. Pembersihan luka dilakukan sehari sekali dengan larutan infus NaCl 0,9% dan diberikan antiseptik povidone iodin 10% selama 14 hari. Luka dibiarkan terbuka tanpa dibalut. Pada hari ke-3 setelah lahir, anak babi diberikan suplemen Ferdex® Plus dosis 2ml/piglet sekali pemberian. Anak babi selama perawatan dibiarkan bersama induknya. Hasil treatment menunjukkan kesembuhan dimulai dari terbentuknya keropeng pada hari ke 3 dan perlahan – lahan terkelupas dengan sendirinya hingga hari ke 8 (tersisa ± 10% bagian keropeng). Kulit sepenuhnya telah tumbuh dan luka sepenunya telah sembuh pada hari ke 15 pasca anak babi lahir.
Polycystic kidney disease in a Himalayan-Persian crossbreed cat Nugraha , Putri; Convienna; Dewa , Andreas Topan; Putra , I Putu Cahyadi; Widyasanti , Ni Wayan Helpina
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 2 (2025): ARSHI Veterinary Letters - May 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.2.43-44

Abstract

Penyakit Ginjal Polikistik (PKD) adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh mutasi pada PKD1, yang sebagian besar ditemukan pada kucing Persia. Studi kasus ini melaporkan kejadian PKD pada kucing persilangan Himalaya-Persia yang diobati dengan terapi cairan, suplementasi ginjal, manajemen nutrisi, dan beras merah. Seekor kucing ras Himalaya-Persia betina berusia 5 tahun yang telah disterilkan dibawa ke Klinik Hewan Kassiti Vetcare, Bandung, dengan keluhan nafsu makan menurun selama seminggu, tidak mau makan selama empat hari, sakit perut, dan urin berwarna oranye. Anemia makrositer hiperkromik ditemukan pada tes darah lengkap. Pemeriksaan kimia darah menunjukkan peningkatan kadar kreatinin (363,1 µmol/L), yang menunjukkan gangguan fungsi ginjal. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan bahwa ginjal membesar, batas antara korteks dan medula tidak jelas, dan kista hipo-anekoik dengan berbagai ukuran diamati di area korteks-medula ginjal. Pasien didiagnosis dengan PKD dan memiliki prognosis yang buruk. Perawatan yang dilakukan meliputi terapi cairan Ringer laktat intravena (IV), suplemen ginjal RenaCor®, beras merah Flozindo® (RMR), dan NatureBridge® untuk ginjal kucing. Kondisi pasien membaik setelah perawatan, seperti yang ditunjukkan oleh kondisinya yang aktif dan warna urin yang normal.
Case Report: Multiple Tick-Borne Diseases and Gastrointestinal Protozoal Infection in a Young Poodle Dog Putra, I Putu Cahyadi; Meida, Yeocelin Meida; Widyasanti, Ni Wayan Helpina
Media Kedokteran Hewan Vol. 36 No. 3 (2025): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v36i3.2025.304-318

Abstract

Co-infections involving tick-borne diseases (TBD) alongside gastrointestinal protozoans are poorly understood in domestic dogs. This case report examines the occurrence of Babesia sp., Ehrlichia sp., and Anaplasma sp. co-infections with Giardia sp. and Amoeba sp. in a three-month-old female poodle. The owner complained that her dog had yellow vomiting and bloody diarrhea, and refused to eat. A physical examination was performed, revealing lethargy, 4% dehydration, bloody diarrhea, mandibular lymphoglandular swelling, and a Rhipicephalus sanguineus tick infestation in the case dog. The parvovirus antigen rapid test kit yielded negative results, whereas the TBD antibody test kit yielded positive results for Anaplasma sp., Babesia sp., and Ehrlichia sp. Infection with Giardia sp. and Amoeba sp. was detected by native stool examination. The dog had lymphocytosis, monocytosis, granulopenia, hyperchromic normocytic anemia, and thrombocytopenia. The therapy provided was metronidazole and doxycycline combination antibiotics, lactated ringer fluid (RL) therapy, vitamin B complex, Sangobion®, Fufang E'jiao Jiang® (FEJ), ondansetron, vitamin K1, kaolin-pectin, and Hill's Prescription Diet® A/D feed. The therapy showed significant improvement during the 3-day hospitalization, and the dog was declared clinically cured after two weeks of treatment.
Pyometra servik terbuka pada anjing domestik dengan riwayat terapi progestin secara rutin Putra, I Putu Cahyadi; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Antaprapta, I Gusti Ngurah Agung; Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha; Suwiti, Ni Ketut
ARSHI Veterinary Letters Vol. 6 No. 1 (2022): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2022
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.6.1.1-2

Abstract

Pyometra servik terbuka merupakan akumulasi nanah pada lumen uterus yang ditandai dengan keluarnya leleran melalui vagina. Penggunaan progestin yang kurang tepat untuk tujuan kontrasepsi telah diketahui dapat menimbulkan terjadinya pyometra. Seekor anjing domestik berjenis kelamin betina, berumur 3 tahun dan memiliki bobot badan 8,64 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana (RSHP FKH UNUD) dengan keluhan anjing tidak mau makan, perut membesar dan keluar cairan putih bercampur darah dari vulva sejak sepuluh hari. Berdasarkan hasil anamnesis, anjing tidak pernah kawin dan rutin diberikan kontrasepsi berupa injeksi progestin saat kondisi loop (estrus). Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan anjing mengalami distensi abdomen dan keluar nanah bercampur darah melalui vagina. Hasil pemeriksaan ultrasonografi teramati uterus bersekat – sekat, lumen uterus anekhoik (berisi cairan) dan dinding uterus hiperekhoik. Terapi yang dilakukan adalah ovariohysterectomy, terapi cairan, antibiotik, hemostatik serta antiradang. Anjing sudah mau makan sehari pascaoperasi dan diizinkan untuk rawat jalan. Anjing melakukan kontrol ke RSHP FKH UNUD setelah 7 hari operasi dan diketahui bahwa luka sudah tertutup dan kering sehingga dilakukan pelepasan jahitan.
Abortus pada kucing akibat infeksi feline panleukopenia virus Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Putra, I Putu Cahyadi
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.9-10

Abstract

Feline panleukopenia virus (FPV) yang menginfeksi kucing dalam keadaan bunting diketahui dapat mengakibatkan abortus, mumifikasi fetus, kematian fetus dini dan resorption fetus. Kucing domestik betina berumur 7 bulan dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan gejala muntah, diare, lemas dan tidak mau makan. Pemeriksaan ultrasonografi terlihat 5 fetus dalam keadaan hidup dengan usia kebuntingan 39,7 ± 2 hari. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan terjadi leukopenia, anemia makrositik hipokromik dan trombositopenia. Rapid test kit antigen FPV menunjukkan hasil positif. Terapi dalam kasus ini dibagi dalam 2 tahap yaitu pengobatan injeksi selama 3 hari yaitu antibiotik, antiemetik, ATP dan multivitamin. Kucing mengalami abortus pada hari ke-2 dan ke-3 sehingga dilanjutkan dengan terapi oral selama 7 hari yaitu antibiotik, antiprotozoa cefadroxil, metronidazole, adsorben dan emolien serta multivitamin. Terapi cairan ringer laktat diberikan selama 5 hari bersamaan dengan pakan pemulihan. Proses pemulihan ditandai dengan tidak ada muntah dan mulai ada nafsu makan pada hari ke-3. Feses sudah berbentuk semisolid pada skor 5 (skala 1-7) pada hari ke-6. Kucing sudah dapat dibawa pulang oleh pemilik dan dilanjutkan rawat jalan dengan terapi obat oral. Tujuh hari setelah rawat jalan kucing telah dinyatakan sembuh.
Excision of prolapsed vaginal fibroma in a Golden Retriever dog Putra, I Putu Cahyadi; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha; Suwiti, Ni Ketut
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 2 (2024): ARSHI Veterinary Letters - May 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.2.31-32

Abstract

(intact) yang mengalami nyeri saat buang air kecil dan terlihat adanya massa yang menonjol dari vagina. Pada pemeriksaan fisik, anjing tersebut ditemukan dalam keadaan shock dengan nyeri vagina. Teramati massa oval berwarna putih dengan tekstur keras berukuran 9,3 cm x 5,5 cm yang tertutup darah. Analisis hematologis menunjukkan leukositosis, limfositosis, granulopenia, anemia mikrositik hiperkromik, dan trombositopenia. Massa tumor diangkat, dinding vagina dikembalikan ke dalam rongga vagina, dan vulva dijahit. Premedikasi termasuk atropin sulfat dan xylazine, serta anestesi diberikan menggunakan ketamin dan isofluran. Perawatan pascaoperasi terdiri dari asam tolfenamat, vitamin K1, amoksisilin, meloksikam, dan suplemen Sangobion®. Pemeriksaan histopatologi menggunakan pewarnaan hematoksilin-eosin mengungkapkan sel-sel fibroma fusiform. Tujuh hari setelah pengangkatan tumor, jahitan dilepas, dan kondisi vagina kembali normal.
COINFECTION OF NEWCASTLE DISEASE AND CAPILLARIA SPP. IN LOCAL CHICKENS IN KERTA VILLAGE, PAYANGAN DISTRICT, GIANYAR REGENCY, BALI Ketut Nanda Maharanthi; Ida Bagus Kade Suardana; I Putu Cahyadi Putra; Ni Wayan Helpina Widyasanti; Ida Bagus Oka Winaya
Buletin Veteriner Udayana Bul. Vet. Udayana. August 2025 Vol. 17 No. 4
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2025.v17.i04.p28

Abstract

Newcastle Disease (ND) is a viral infection that significantly affects poultry and leads to substantial economic losses in the poultry industry. This case study aimed to achieve a definitive diagnosis of the disease in a seven-month-old free-range chicken owned by a resident of Kerta Village, Payangan Subdistrict, Gianyar Regency, Bali. The methodologies employed encompassed the collection of clinical and epidemiological data through history taking, anatomical pathology examination, histopathology, bacteriology, parasitology, and virus isolation via culture of embryonated chicken eggs, which were subsequently confirmed using hemagglutination (HA) and hemagglutination inhibition (HI) tests. Tracing and history-taking revealed that the chicken rearing system was semi-intensive. The chicken population comprised 15 chickens, of which 12 exhibited illness and 10 succumbed within eight days. The clinical signs observed included lethargy, pale bluish drooping wattle and cockscomb, periorbital edema, respiratory distress, reduced appetite and water intake, greenish diarrhea, torticollis, and limp drooping wings. Epidemiological data indicate a morbidity rate of 80%, a mortality rate of 67%, and a case fatality rate of 83%. Anatomical pathological examination through necropsy revealed multiorgan hemorrhage, pulmonary hemorrhage, petechiae in the proventriculus, and intestinal hemorrhage. Organ samples were collected for histopathological analysis with hematoxylin-eosin (HE) staining, which revealed inflammation in various organs, predominantly characterized by lymphocyte infiltration. The HA test demonstrated a high viral titer (29), and the HI test confirmed a positive ND virus infection. Bacteriological examination revealed Escherichia coli in the small intestine and cecum as part of the normal flora. Fecal examination revealed 100 eggs per gram of Capillaria spp. Based on these results, the chickens were diagnosed with a coinfection of Newcastle Disease virus and Capillaria spp. The implementation of routine vaccination programs, improved management practices, and control of poultry movement is recommended as disease prevention measures.