Handayeni, Ketut Dewi Martha Erli
Departemen Perencanaan Dan Wilayah Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Kriteria Lokasi Pembangunan Tower BTS (Base Transceiver System) di Kota Kediri Rofiqoh Etika Amalin; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.486 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i1.22198

Abstract

Infrastruktur telekomunikasi memiliki peran penting terhadap perkembangan ekonomi nasional. Menurut data Dirjen Pos dan Telekomunikasi pengguna seluler mengalami pertumbuhan rata-rata 31,9% pertahun dalam periode 2006-2010. Upaya untuk meningkatan layanan telekomunikasi di Kota Kediri memiliki masalah karena terdapat keberadaan menara yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitarnya, lokasi yang melanggar aturan dan tower BTS yang tidak memiliki ijin. Perspektif pemilihan lokasi dari pemerintah dan operator memiliki perbedaan, sedangkan infrastruktur tersebut harus berada di lokasi yang strategis untuk mendapatkan hasil yang optimal. Oleh sebab itu, perlu adanya penelitian untuk merumuskan kriteria lokasi menurut stakeholder di Kota Kediri. Metode yang digunakan yakni analisis Delphi untuk menentukan faktor penentu lokasi. Kemudian setelah ditemukan faktor dilakukan pembobotan terhadap faktor dengan analisis AHP. Analisis terakhir yakni perumusan kriteria dengan menggunakan Content Analysis. Dari analisis Delphi dihasilkan 20 faktor yang digunakan sebagai faktor penentu lokasi pembangunan tower BTS di Kota Kediri. Faktor tersebut yakni jarak terhadap konsumen, jumlah penduduk yang dilayani, luas jangkauan pelayanan, kualitas layanan, banyaknya permintaan, pertumbuhan penduduk, perilaku pelanggan, sikap masyarakat, banyaknya gedung tinggi, ketersediaan lahan, ruang udara, estetika lingkungan, berada dalam wilayah jangkauan sel, jarak dengan kegiatan sekitar, perencanaan tata ruang, biaya pajak, proses perijinan, terdapat akses jalan, biaya investasi, ketersediaan energi listrik. Dari masing-masing faktor tersebut, diperoleh 3 faktor dengan bobot tertinggi, yakni ketersediaan energi listrik (0,09934), sesuai dengan rencana tata ruang (0.09646), dan proses perijinan (0.09194). Ketiga faktor ini paling besar pengaruhnya terhadap pemilihan lokasi tower BTS di Kota Kediri. Dengan demikian diperoleh kriteria utama lokasi pembangunan tower BTS di Kota Kediri adalah tersedianya energi listrik dengan daya yang memadai untuk BTS, lokasi yang harus sesuai dengan rencana tata ruang, dan lokasi yang memenuhi semua proses perizinan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa energi listrik yang memadai menjadi prioritas untuk memilih lokasi tower BTS.
Keterkaitan Karakteristik Pergerakan di Kawasan Pinggiran Terhadap Kesediaan Menggunakan BRT di Kota Palembang Dian Nur 'afalia; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.119 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24840

Abstract

Kota Palembang merupakan salah satu kota berkembang dengan permasalahan transportasi yang cukup besar. Salah satu wilayah dengan permasalahan transportasi adalah Kecamatan Alang-Alang Lebar. Kecamatan Alang-Alang Lebar berdasarkan fisik dan lokasi diidentifikasi sebagai kawasan pinnggiran Kota Palembang. Permasalahan transportasi di wilayah pinggiran adalah peningkatan penggunaan kendaraan pribadi menuju pusat Kota Palembang. Dari permasalahan tersebut terdapat potensi penggunaan BRT dari wilayah pinggiran. Untuk itu, perlu diketahui keterkaitan antara potensi penggunaan BRT dengan karakteristik masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi. Penelitian ini menggunakan metode analisa Crosstab dengan melihat keterkaitan antara karakteristik pergerakan yaitu asal pergerakan, maksud pergerakan, jarak perjalanan dan moda yang digunakan dengan kesediaan masyarakat menggunakan BRT. penelitian menunjukan bahwa  bahwa tidak ada keterkaitan antara asal pergerakan, maksud pergerakan dan moda yang digunakan dengan kesediaan masyarakat menggunakan BRT. Kesediaan menggunakan BRT memiliki keterkaitan yang signifikan dengan karakteristik lama perjalanan dari wilayah pinggiran menuju pusat kota..
Keterkaitan Karakteristik Pelajar & Perjalanannya Terhadap Kesediaan Menggunakan Bus Sekolah Di Surabaya Shofia Ermirasari; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.817 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25224

Abstract

Bangkitan dan tarikan lalu lintas tata guna lahan, khususnya pada kawasan pendidikan, merupakan salah satu kegiatan yang sering menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas. Penggunaan kendaraan pribadi sebagai moda menuju ke sekolah masih dominan di Kota Surabaya. Bus sekolah sebagai strategi Transport Demand Management (TDM) memberikan salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan. Kecenderungan para pelajar menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda menuju sekolah menunjukkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi pelajar dalam pemilihan moda menuju sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kajian yang mengidentifikasi karakteristik pelajar dan perjalanannya terhadap kesediaannya menggunakan bus sekolah di Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan metode analisis Crosstab. Dalam metode analisis Crosstab, karakteristik pelajar dan perjalanannya menuju sekolah akan disilangkan terhadap kesediaannya menggunakan bus sekolah, Dari hasil studi menunjukkan bahwa kesediaan menggunakan bus sekolah memiliki keterkaitan yang signifikan dengan kepemilikan kendaraan dengan nilai signifikansi sebesar 0,081 dan nilai keterkaitan sebesar 0,209 yang berarti memiliki keterkaitan yang rendah. Pemilihan bus sekolah sebagai angkutan menuju sekolah di Surabaya, besar dipengaruhi oleh penyediaan atribut pelayanan yang lebih baik dibanding angkutan pribadi.
Pengukuran Kesesuaian Kawasan Transit Blok M, Jakarta Terhadap Kriteria Konsep TOD (Transit Oriented Development) Muhammad Afif Arsyad; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.225 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29865

Abstract

Terletak diantara central business district Kota Jakarta, Blok M yang merupakan salah satu kawasan strategis memiliki potensi dikembangkan berdasarkan prinsip dari Transit Oriented Development (TOD). Hal ini juga didukung dari dokumen perencanaan yang menyatakan bahwa kawasan Blok M, Jakarta merupakan kawasan yang direncanakan dan dikembangkan berdasarkan standar TOD. Konsep TOD merupakan suatu pendekatan rekayasa ruang yang terfokus pengembangannya di sekitar titik transit. Ruang yang dikembangkan nantinya memiliki ciri yakni densitas yang tinggi, diversitas yang beragam serta desain kawasan yang ramah terhadap pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan analisis spatial query dan perhitungan rata-rata untuk mengukur tingkat kesesuaian kawasan transit Blok M terhadap kriteria TOD. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingkat kesesuaian kawasan transit Blok M, Jakarta berdasarkan dari kriteria minimal yang ada dalam konsep TOD hanya sebesar 85,215%. Artinya pengembangan kawasan Blok M, tingkat kesesuaiannya belum sepenuhnya memenuhi kriteria TOD. Secara keseluruhan kawasan Blok M sudah memenuhi ciri densitas yang tinggi, namun diveritas dan desain kawasan yang ramah pejalan kaki masih belum sesuai dengan konsep TOD
Pengurangan Panjang Perjalanan Siswa Ke Sekolah Melalui Rayonisasi Sekolah Dasar Di Kota Surabaya Ayu Tarviana Dewi; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.047 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18640

Abstract

Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua yang memiliki fasilitas pendidikan yang memadai. Pada tahun 2012 tercatat bahwa total pergerakan dengan maksud sekolah berada di urutan kedua dengan nilai sebesar 18,31% setelah pergerakan dengan maksud bekerja. Fasilitas pendidikan jenjang sekolah dasar seharusnya berada dalam satu neighborhood unit dengan radius pelayanan antara 400-800 m (walkable distance). Namun faktanya pemilihan sekolah tidak berdasarkan tempat tinggal atau berada di luar radius pelayanannya sehingga panjang perjalanan siswa SD menjadi lebih panjang dari yang seharusnya. Hal ini berkaitan dengan adanya fenomena pergeseran preferensi para orang tua dalam memilih fasilitas pendidikan. Fenomena SD favorit dan non favorit yang dikaitkan dengan citra dari SD tersebut akan membuat SD favorit mayoritas diisi oleh siswa yang berasal diluar wilayah yang seharusnya menerima jangkauan pelayanannya. Oleh karena itu diperlukan sebuah kajian terkait pengurangan panjang perjalanan siswa ke sekolah melalui rayonisasi sekolah dasar di Kota Surabaya. Penelitian ini bertujuan merumuskan pola rayonisasi sekolah dasar yang dapat mengurangi panjang perjalanan siswa ke sekolah di Kota Surabaya. Tujuan tersebut dicapai melalui 3 tahapan yang telah disusun sebelumnya. Tahapan pertama adalah mengidentifikasi rata-rata panjang perjalanan siswa sekolah dasar di Kota Surabaya dengan teknik analisis statistik deskriptif, kemudian tahapan kedua adalah menentukan pola rayonisasi melalui pembentukan kluster sekolah dasar di Kota Surabaya dengan teknik grouping analysis pada software ArcGIS. Tahapan terakhir adalah menghitung rata-rata pengurangan panjang perjalanan berdasarkan pola rayonisasi yang telah dihasilkan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata panjang perjalanan siswa di Kota Surabaya sebesar 1585 m sehingga panjang perjalanan siswa SD di Kota Surabaya telah melebihi jarak walkable distance yakni 800 m.  Rata-rata panjang perjalanan siswa yang melebihi jarak walkable distance terjadi di tengah kota artinya pergerakan dengan maksud bersekolah pada tingkat sekolah dasar cenderung bergerak ke tengah kota. Pada tahapan kedua jumlah kluster yang dihasilkan sebanyak 68 kluster. 68 kluster tersebut memiliki jumlah anggota dan jangkauan pelayanan yang bervariasi. Rayon yang berada di tengah Kota Surabaya cenderung memiliki jangkauan pelayanan yang lebih kecil dibandingkan dengan luas rayon yang berada di pinggiran Kota Surabaya. Rayon yang telah terbentuk terbukti optimal berdasarkan uji statistik berupa nilai Pseudo F yang meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kluster yang terbentuk. Berdasarkan hasil rayonisasi, diperoleh rata-rata pengurangan panjang perjalanan siswa yang signifikan sebesar 1094 m.
Model Probabilitas Penggunaan Moda Kereta Komuter Bagi Pekerja Ulang-Alik Sidoarjo-Surabaya di Kecamatan Waru Sovianita Natasha; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33377

Abstract

Kecamatan Waru merupakan wilayah suburban Kota Surabaya yang terkena ekspansi berupa perluasan permukiman, terutama bagi pekerja. Pergerakan ulang-alik dari Kecamatan Waru ke Kota Surabaya yang dilakukan oleh pekerja dengan menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor menyebabkan terjadinya kemacetan. Kereta Komuter Surabaya-Porong (SuPor) yang disediakan guna meminimalisir kemacetan masih belum digunakan secara efektif dan rendah peminat. Hal ini dapat terlihat dari load factor Kereta Komuter SuPor hanya 13% dan Stasiun Waru menjadi stasiun dengan jumlah penumpang terendah dibandingkan stasiun lainnya di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model probabilitas penggunaan moda kereta komuter bagi pekerja ulang-alik Sidoarjo-Surabaya di Kecamatan Waru dengan menggunakan analisis regresi logit biner. Hasil studi menunjukan bahwa probabilitas penggunaan moda kereta komuter dipengaruhi secara signifikan oleh variabel biaya, waktu, dan kemudahan mencapai tujuan.
Pemodelan Faktor – Faktor Pemilihan On-Street Parking di Kawasan Tunjungan dan Blauran Kota Surabaya Laura Andretha; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.44 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33414

Abstract

Kawasan Tunjungan dan Kawasan Blauran adalah kawasan – kawasan yang merupakan titik pusat kegiatan di Kota Surabaya dan juga memiliki parkir tepi jalan. Kedua kawasan ini mempunyai keadaan lalu lintas yang padat dengan derajat kejenuhan jalan – jalan di kawasan tersebut dalalm kategori tidak stabil serta merupakan kawasan yang termasuk dalam peraturan parkir zona dengan tarif lebih tinggi. Maka, implementasi kebijakan parkir yang telah ditetapkan tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ke pusat kota. Dalam praktiknya di berbagai kota, kebijakan parkir akan memberikan pengaruh terhadap perilaku parkir. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menyusun model dan mengetahui bagaimana faktor – faktor yang memengaruhi pemilihan on-street parking. Metode yang digunakan dalam mengembangkan model adalah analisa regresi logistik biner. Hasil dari studi menunjukkan bahwa variabel yang memengaruhi pemilihan on-street parking pada pengguna parkir kendaraan bermotor roda dua adalah pendapatan, durasi parkir, dan biaya parkir. Kemudian, pada pengguna parkir kendaraan bermotor roda empat, variabel – variabel yang memengaruhi pemilihan on-street parking adalah usia, maksud perjalanan, durasi parkir, dan jarak berjalan kaki.
Analisis Perbedaan Pola Pergerakan Berbasis Transit pada Kawasan TOD Regional di Jakarta Selatan Tanesha Novlita Putri Aden; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.46488

Abstract

Kawasan transit Blok M dan Lebak Bulus merupakan kawasan yang terletak di pusat kegiatan kota Jakarta Selatan yang direncanakan akan dikembangkan menggunakan konsep Transit Oriented Development (TOD) dengan skala pelayanan regional. Pengembangan kawasan TOD ini memiliki tujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan meningkatkan penggunaan moda transit. Penerapan konsep TOD juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan aktifitas sehari-hari yaitu tinggal, bekerja, berbelanja, rekreasi, maupun aktifitas lainnya didalam jarak yang berdekatan dengan menggunakan selain kendaraan pribadi. Aktifitas yang ada di kawasan TOD ini menimbulkan pola pergerakan transit yang memiliki 2 karakteristik, yaitu karakteristik pergerakan dan karakteristik sosio-ekonomi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis perbedaan pola pergerakan berbasis transit di kawasan TOD Regional Blok M dan Lebak Bulus dengan analisis uji perbedaan dua sampel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pola pergerakan yang signifikan antara kawasan transit Blok M dan lebak Bulus, yaitu dari segi frekuensi penggunaan moda transit, jarak menuju lokasi transit, serta pendapatan penguna moda transit.
Studi Preferensi Konsep Integrasi Angkutan Feeder Suroboyo Bus Rute Purabaya-Rajawali dengan Metode Conjoint Biyan Shandy Paramayudha; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.47704

Abstract

Salah satu permasalahan yang terjadi di Kota Surabaya adalah kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya telah mengembangkan dan merencanakan Suroboyo Bus beserta jaringan feeder untuk mendukungnya. Upaya tersebut berpotensi untuk menjawab permasalahan yang ada apabila didukung dengan penerapan konsep integrasi angkutan umum. Konsep integrasi tersebut dapat diterapkan kepada Suroboyo Bus dan layanan feeder, di mana feeder tersebut merupakan feeder yang berbasis terminal. Untuk menciptakan konsep integrasi antara Suroboyo Bus yang optimal, diperlukan studi preferensi masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini ditujukan untuk menggali preferensi masyarakat tersebut dengan menggunakan metode Conjoint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memlilih konsep integrasi yang meliputi desain stasiun/titik transfer yang mempermudah perpindahan ke angkutan umum, fasilitas pejalan kaki dengan prioritas kenyamanan, jaringan yang terhubung ke seluruh angkutan, penyediaan informasi rute secara elektronik, penyediaan informasi jadwal secara non-elektronik, pemberian identitas angkutan dengan dua pembeda tariff yang terintegrasi dengan Suroboyo Bus, keamaanan yang ditunjang dengan CCTV, kenyamanan yang ditunjang dari fasilitas di dalam angkutan, serta waktu tunggu maksimal 26 menit. Selain itu, penerapan konsep integrasi disarankan untuk memiliki prioritas dalam aspek desain stasiun/titik transfer, penyediaan informasi rute, dan waktu tungu.
Pola Pergerakan Komuting Sidoarjo-Surabaya Teddy Kurniawan Bahar; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51206

Abstract

Kota Surabaya sebagai salah satu kota metropolitan tentunya telah dikenal sebagai pusat aktivitas sosial dan ekonomi di Jawa Timur. Semakin bertambahnya jumlah populasi penduduk dan lahan yang semakin berkurang menyebabkan sulitnya mencari tempat tinggal yang layak bagi penduduk yang bekerja di Surabaya. Fenomena urbanisasi menuju kawasan pinggiran perkotaan pun mulai terjadi, salah satu yang terdampak ialah Kabupaten Sidoarjo. Adanya ketidakcocokan tempat tinggal dan tempat bekerja mengindikasikan adanya spatial mismatch yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Indikasi ini akan berdampak pada pola pergerakan komuting antara Sidoarjo menuju Surabaya. Penelitian ini akan mencari pola pergerakan komuting yang terjadi dan hubungan antara masing-masing variabel terhadap satu sama lain. Tahap analisis melalui dua tahap. Tahap pertama akan mendeskripsikan pergerakan yang terjadi dari Sidoarjo menuju Surabaya terkait tujuan perjalanan, jarak tempuh, waktu tempuh, biaya perjalanan dan moda kendaraan menggunakan analisis deskriptif. Tahap ketiga ialah menganalisa hubungan yang ada pada tiap variabel pergerakan komuting melalui analisis korelasi Pearson dan Crosstab. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat 25 kecamatan di Kota Surabaya yang menjadi tujuan bekerja pelaku komuting dari Sidoarjo. Untuk nilai jarak tempuh tertinggi berasal dari Kecamatan Sukodono, waktu tempuh tertinggi dari Kecamatan Taman, biaya perjalanan tertinggi dari Kecamatan Sedati dan moda kendaraan didominasi oleh pengguna sepeda motor. Nilai jarak tempuh berkorelasi secara positif dengan waktu tempuh dan biaya perjalanan. Sedangkan moda kendaraan hanya memiliki hubungan dengan biaya perjalanan.