Ahsanudin Attamimi
Departemen Obstetri Dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat Dan Keperawatan, UGM

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Perbandingan Luaran Maternal dan Neonatal antara Seksio Cesarea Emergensi dan Seksio Cesarea Elektif pada Kehamilan dengan Janin Presentasi Bokong Riena Reubiyana; Ahsanudin Attamimi; Eugenius Phyowai Ganap
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.63216

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan dengan janin presentasi bokong terjadi pada 3-4% dari semua kelahiran tunggal. Presentasi bokong merupakan ±17% indikasi utama dikerjakannya seksio cesarea elektif saat ini. Seksio cesarea dapat menjadi prosedur untuk menyelamatkan ibu dan bayi, tetapi juga dapat menyebabkan komplikasi untuk ibu dan bayi. Seksio cesarea elektif diyakini dapat menurunkan risiko terjadinya komplikasi maternal dan neonatal dibandingkan seksio cesarea emergensi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai luaran maternal dan neonatal antara seksio cesarea emergensi dan elektif dengan mengambil sampel pada kehamilan dengan janin presentasi bokong.Metode: Penelitian dilakukan dengan desain kohort retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif pada subjek ibu hamil dengan janin presentasi bokong yang melahirkan secara seksio cesarea selama tahun 2014-2019. Dua kelompok yang dibandingkan yaitu seksio cesarea emergensi dan elektif. Luaran penelitian adalah luaran maternal berupa kejadian infeksi dan perdarahan, sedangkan luaran neonatal adalah asfiksia dan cedera neonatal. Data dianalisis dengan uji Chi Square atau Fisher Exact, dilanjutkan uji regresi logistik.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 240 sampel, terdiri dari 105 sampel seksio cesarea emergensi dan 135 sampel seksio cesarea elektif. Dari hasil analisis bivariat, diperoleh bahwa seksio cesarea emergensi berhubungan dengan lebih tingginya kejadian nilai Apgar rendah pada menit pertama dan menit kelima dan cedera persalinan, meskipun tidak bermakna secara statistik. Analisis multivariat menunjukkan bahwa seksio cesarea emergensi berhubungan dengan terjadinya infeksi maternal (p= 0.002, OR 3.65, 95% CI 1.59– 8.40) dan perdarahan (p= 0.042, OR 2.27, 95% CI 1.06– 6.1).Kesimpulan: Seksio cesarea emergensi secara signifikan berhubungan dengan luaran buruk maternal, yaitu terjadinya komplikasi infeksi dan perdarahan, namun tidak memberikan luaran neonatal yang lebih buruk dibandingkan seksio cesarea elektif. Pemeriksaan antenatal dan pengambilan keputusan penatalaksanaan yang tepat diperlukan untuk menekan terjadinya komplikasi.Kata kunci:  kehamilan dengan presentasi bokong, seksio cesarea emergensi, seksio cesarea elektif, luaran maternal, luaran neonatal.
Hubungan antara Faktor Klinikohistopatologi dan Kualitas Hidup Pasien Kanker Endometrium Pasca Operasi di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Menggunakan Modul Kuesioner EORTC QLQ-C30 dan EN 24 Dini Mahrani; Ahsanudin Attamimi; Ardhanu Kusumanto
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.64362

Abstract

Background: According to data from the "Endometrial Cancer Report" by the World Cancer Research Fund and the American Institute for Cancer Research (WCRFI), endometrial cancer is the sixth most common malignancy in the world and is the largest cancer in female organs, after cervical cancer. This incidence is increasing every year, it is predicted to increase about 5% of new cases each year. The main prognostic factors of endometrial cancer are determined by the histological type, stage, degree, differentiation of the tumor, invasive myometrial level and increase in lympho-vascular invasion. In addition to determining the histopathological factors, the prognosis is also determined from the clinical patient. Several studies have shown certain clinical factors also improve the condition and prognosis of the disease. Prognosis of this disease with the quality of life of patients becomes an interesting topic to discuss. Besides that quality of life is also a measure of therapeutic success. The better the prognosis of a disease, the better the quality of life, the higher the success rate of therapy (Greimel, 2010).Objective: To know correlation between clinicohistopathological and quality of life in patients with endometrial cancer after undergoing surgery at Sardjito Hospital, Yogyakarta.Method: The research is analytic with cross sectional approach. Patients with endometrial cancer who have undergone total hysterectomy and bisalpingoophorectomy surgery are assessed for their quality of life through interviews and filling out questionnaires in the EORTC QLQ-C 30 and QLQ-EN 24 modules.Results and Discussion: This study, most people with endometrial cancer aged 55-65 years were 34 people (42%) and diagnosed after menopause with a range of age >55 years as many as 43 people (53.1%). This study cannot prove the hypothesis that age, parity, body mass index, type of histopathology and KGB involvement have a relationship with the quality of life of cancer patients (p >0.05). But in contrast to the stage of early cancer (OR 3.17, p=0.044 (CI 95% 1.03-9.75)) and good and moderate differentiation (OR 4.471, p=0.023 (CI 95% 1.23-16.24)) have a significant relationship with quality of life.Conclusion: Clinicohistopathological factors (cancer stage and tumor differentiation) have a correlation with the quality of life at patients with postoperative endometrial cancer in  Sardjito Hospital Keywords: Endometrial cancer; clinicohistopathological factors; quality of life
Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Endometriosis Pascaoperasi sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Hormonal Dian Novitasari; Agung Dewanto; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75116

Abstract

Latar belakang: Endometriosis merupakan penyakit yang ditandai adanya jaringan endometrium di luar cavum uterus, yang menimbulkan reaksi peradangan kronis. Gejala endometriosis paling sering adalah nyeri pelvis dan infertilitas. Endometriosis berpengaruh terhadap kualitas hidup penderitanya, terutama karena rasa nyeri yang ditimbulkannya, bisa menghambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kombinasi dari terapi operatif dan medikamentosa efektif untuk menurunkan rekurensi, mengurangi nyeri dan meningkatkan fertilitas pada pasien dengan endometriosisTujuan: Membandingkan kualitas hidup dan skor nyeri pasien pasca operasi endometriosis sebelum dan sesudah pemberian terapi hormonalMetode: Kualitas hidup pada pasien endometriosis yang telah menjalani laparoskopi ataupun laparotomi dievaluasi dengan metode kohort prospektif menggunakan kuesioner Endometriosis Health Profile-30 (EHP-30). Kuesioner diberikan sebelum terapi hormonal dan diulang lagi setelah selesai terapi hormonal. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai masing-masing domain dari kuesioner inti dan kuesioner moduler sebelum dan sesudah terapi hormonal.Hasil: Total responden adalah 73 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Terapi hormonal pada pasien endometriosis dapat memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan dengan rerata skor 29,89 (SD ± 17,80) menjadi 16,5 (SD ± 16,7) (p <0,001) sebelum mendapatkan terapi hormonal. Terdapat perbaikan pada semua domain kuesioner inti, dengan nilai yang bermakna secara statistik pada domain nyeri dengan rerata 41,73 (SD ± 27,08) menjadi 13,70 (SD ± 22,39) (p <0,001), domain kendali & ketidakberdayaan; rerata 34.21 (SD ± 25,63) menjadi 16,66 (SD ± 19,58) (p <0,001), domain kesehatan emosional rerata 29,84 (SD ± 21,18) menjadi 19,11 (SD ± 19,22) (p <0,001); dan domain dukungan sosial rerata 26,97 (SD ± 20,70) menjadi 20,30 (SD ± 22,37) (p=0,006), sedangkan pada domain citra diri tidak terdapat perbaikan secara signifikan. Pada kuesioner modular terdapat perbaikan signifikan pada domain pekerjaan dengan rerata 30,37 (SD ± 24,99) menjadi 13,57 (SD ± 18,62) p <0,001, domain hubungan dengan anak rerata 13,82 (SD ± 20,13) menjadi 9,58 (SD ± 17,08) dan nilai p=0,017; dan domain perasaan terhadap infertilitas rerata 45,96 (SD ± 29,80) menjadi 36,67 (SD ± 29,77) p=0,001, sedangkan pada domain hubungan seksual, hubungan dengan tenaga kesehatan dan perasaan terhadap terapi tidak terdapat perubahan yang signifikan.Kesimpulan: Kualitas hidup setelah pemberian terapi hormonal lebih baik bila dibandingkan sebelum pemberian terapi hormonal pada pasien endometriosis pascaoperasi
Pengalaman Ibu Hamil Berisiko Tinggi Dalam Memutuskan Tempat Persalinan Rujukan Di Puskesmas Mlati II Budi Susilawati; Djaswadi Dasuki; Ahsanudin Attamimi; Farida Kartini
JHeS (Journal of Health Studies) Vol 5, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.473 KB) | DOI: 10.31101/jhes.1668

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan berisiko tinggi dianggap sebagai ancaman serius bagi kesehatan dan kehidupan ibu hamil dan bayi. Sekitar 20 juta wanita di seluruh dunia memiliki kehamilan berisiko tinggi dan lebih dari 800 meninggal setiap hari. Semua wanita menginginkan kelahiran normal tanpa intervensi, mereka memerlukan dukungan emosional dari pasangan atau keluarga, diperlukan pendidikan antenatal, dan dukungan dari profesional kesehatan. Kehamilan risiko tinggi memiliki penyulit dalam hal fisik pada masa kehamilan sehingga kesehatan ibu dan janin menjadi terancam, begitu pula dengan kondisi psikologis. Tujuan Penelitian: Mengetahui Pengalaman Ibu Hamil Berisiko Tinggi Dalam Memutuskan Pemilihan Tempat Persalinan Rujukan Di Puskesmas Mlati II. Metode: Penelitian Kualitatif Dengan Rancangan Deskriptif-Naratif. Semi-structure interview digunakan untuk wawancara 10 ibu hamil berisiko tinggi dan dua informan pendukung. Hasil: Pengalaman ibu memilih tempat persalinan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, keluarga, teman, atau orang lain. Pemilihan tempat persalinan dipengaruhi oleh jarak antara rumah dengan rumah sakit rujukan, dipengaruhi juga oleh ketersediaan fasilitas rumah sakit yang memadai, dan dipengaruhi oleh alur pelayanan dan kepemilikan jaminan asuransi. Saran: ibu belajar lebih banyak tentang kehamilan risiko tinggi sehingga lebih siap menghadapi dan mempersiapkan keperluan termasuk memilih tempat persalinan tingkat lanjutan.
Manfaat Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) dalam Memprediksi Lama Perawatan pada Pasien Preeklamsia Berat di RSUP Dr. Sardjito Sulistianto Sulistianto; Rukmono Siswishanto; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022): In Process
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.77590

Abstract

Latar Belakang: skor MEOW sangat penting untuk menilai kondisi klinis pasien dengan adanya perubahan tanda vital selama pasien dirawat. Adanya perubahan ini akan berpengaruh terhadap lama perawatan pasien preeklamsia berat. Namun saat ini belum ada penelitian mengenai hubungan skor MEOW dengan lama perawatan pasien preeklamsia berat yang dirawat di rumah sakit.Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor MEOW dan lama perawatan pasien preeklamsia berat.Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah pasien hamil dengan diagnosis preeklamsia berat sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi di RSUP Dr. Sardjito sejak Juli 2020 sampai dengan Juni 2021 dengan mengambil data dari rekam medis.Hasil dan Pembahasan: Dari 86 subjek penelitian didapatkan 78 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan karakteristik subjek penelitian didapatkan paritas primigravida (69,2%), obesitas (51,3%) dan riwayat hipertensi (53,8%). Hal ini sesuai referensi bahwa faktor resiko preeklamsia berat yaitu primigravida, obesitas dan riwayat hipertensi. Hasil dari ROC yaitu nilai AUC 0,878 dengan p = 0,001 dan CI 95% (0,745 – 1). Penentuan nilai cut off point skor MEOW yaitu 8,5 atau 9 dengan sensitivitas 92%, spesifisitas 71% dan Youden Index tertinggi = 0,631. Lama perawatan antara pasien dengan skor MEOW ≥9 dan pasien dengan skor MEOW <9 berbeda secara signifikan (p <0,05). Skor MEOW ≥9 memiliki lama perawatan lebih lama dibandingkan skor MEOW <9. Tidak ada perbedaan bermakna antara variabel luar dan skor MEOW (p >0,05). Tidak ada perbedaan bermakna antara variabel luar dan lama perawatan (p >0,05).Kesimpulan: Pasien preeklamsia berat yang mengalami persalinan di RSUP dr. Sarjito dengan skor MEOW tinggi memiliki lama perawatan yang lebih lama dibandingkan dengan skor MEOW rendah.Kata Kunci: MEOWS, preeklamsia berat, lama perawatan.
Hubungan Onset Preeklamsia dengan Luaran Neonatus di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Harya Bayu Surawijaya; Eugenius Phyowai Ganap; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75113

Abstract

Background: Preeclampsia is one of the leading causes of death for both mother and fetus. Preeclampsia is divided into two categories of onset, for preeclampsia that begins at gestational age below 34 weeks is called early onset preeclampsia and late onset preeclampsia begins after gestational age above 34 weeks. In early-onset preeclampsia, there is an imperfect remodeling of the maternal spiral arteries, resulting in abnormal uteroplacental perfusion, causing hypoxia and acidosis in neonates which can increase incidence of IUGR, incidence of neonatal sepsis, neonatal mortality, low APGAR scores and longer hospital length of stay.Objectives: To determine the relationship between maternal and neonatal outcomes with early-onset preeclampsia and late-onset preeclampsia.Methods: This study was a retrospective cohort design and the sampling method used consecutive sampling. The research subjects were divided into two groups, the early-onset preeclampsia group and the late-onset preeclampsia group who were treated and gave birth at the RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta in 2019-2020.Results and Discussion: This study had a total sample of 235 subjects consisting of 146 subjects in the EO-PE group and 89 subjects in the LO-PE group. The two groups had a significant difference in the incidence of neonatal death, the incidence of neonatal sepsis and length of stay (p<0.05), but there was no significant difference in the incidence of IUGR (p=0.527) and the incidence of low Apgar score (p=0.771).Conclusion: There was no difference in the incidence of IUGR and low Apgar score between mothers with EO-PE and mothers with LO-PE. The incidence of neonatal sepsis and the incidence of neonatal death in mothers with EO-PE is higher than in mothers with LO-PE which was influenced by gestational age and history of preeclampsia. The length of neonatal hospital stay in mothers with EO-PE is longer than that of mothers with LO-PE, it was influenced by the onset of preeclampsia and gestational age. Keywords: Early onset preeclampsia; late onset preeclampsia; neonatal outcome; neonatal sepsis; IUGR. 
THE INFLUENCE OF HEALTH INFORMATION ON KNOWLEDGE ABAOUT PREEKLAMPSIA Tety Septiani; Sri Nabawiyati Nurul Makiyah; Ahsanudin Attamimi
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 11 (2020): JURNAL KESEHATAN-SPECIAL ISSUE KEBIDANAN
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v11i0.690

Abstract

Background: Pre-eclampsia is a very serious medical condition that can affect around 3-5% of pregnancies. More than 35,000 maternal deaths each year worldwide are caused by preeclampsia.Method: The authors identify studies that explain the effect of health information about knowledge about preeclampsia from several databases namely PubMed, ProQuest, EBSCO. Searches are limited to studies published in English and present data for the 2010-2020 period. The identified study was reviewed using PRISMA Flowchart. Studies with related quantitative designs about the effect of health information and risk factors for preeclampsia preeclampsia are selected for review.Results: as many as eight articles reviewed were found with two sub-themes, namely the factors causing preeclampsia, namely age, parity, obesity and a history of hypertension and health information about preeclampsia.Conclusion: All impacts related to the occurrence of the risk of preeclampsia can cause an increase in maternal and infant morbidity. Therefore, due to the many factors that can cause preeclampsia, it is recommended that all women, especially in developing countries, routinely check for pregnancy or integrated ANC in existing health facilities and health workers always provide information related to the risks and impacts that occur if the mother experiences preeclampsia.
Evaluation of the Application of Modified Early Obstetric Warning Score in Maternal Patients at Sardjito General Hospital in 2019-2020 Depari, Irmanda Terbelluh Sembiring; Nurdiati, Detty Siti; Attamimi, Ahsanudin
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.89103

Abstract

Background: Modified Early Obstetric Warning Score (MEOWS) is used to identify obstetric patients at risk of deterioration. MEOWS has long been used in the maternal ward of Dr. Sardjito Central General Hospital. Research in other countries found that MEOWS cards were not filled in completely and some MEOWS cards were not followed up.Objective: to determine the completeness of the MEOWS card and the suitability of the interventions carried out with the MEOWS card instructions.Methods: This study is a mixed method study (quantitative descriptive and qualitative phenomenology).Results: Out of 1285 study subjects, the proportion of complete MEOWS cards was 84.67%. The proportion of appropriate interventions was 95.05%. Appropriate intervention was associated with length of hospitalization ≥ 7 days, p value 0.043, prevalence ratio 0.456 (95% confidence interval 0.242-0.858). Reasons for staff not completing MEOWS cards and not performing appropriate interventions were management factors, lack of knowledge, compliance, vigilance, training and medical records.Conclusion: Most MEOWS cards were completed and appropriate interventions were performed. Appropriateness of MEOWS interventions is likely to reduce the prevalence of length of stay ≥ 7 days. MEOWS completion and interventions are influenced by staff management, knowledge, vigilance and compliance, which can be improved by training and practical use of medical records.