Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Kesehatan kerja pada pekerja industri tekstil yang terdiagnosis kanker akibat zat karsinogen Muzakir, Nazario Midam; Laksono, Rizky Agung; Maharani, Andi Annisa; Aini, Navisyah Dwi Qurrotul; Utari, Dyah; Fithri, Aziza Musliha
Sustainable Urban Development and Environmental Impact Journal Vol. 1 No. 1: (Februari) 2024
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/sudeij.v1i1.2024.886

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan industri yang pesat memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia, tetapi, terdapat dampak negatif yang terjadi dari perkembangan industri yang memberikan lapangan kerja, yaitu timbul penyakit akibat paparan bahan yang digunakan selama proses produksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui uraian kasus mengenai pekerja tekstil yang terdiagnosis kanker. Metode: Penelitian dilakukan secara lapangan dengan target pekerja yang telah terdiagnosa kanker. Para pekerja merupakan pekerja atau pernah bekerja di bidang industri tekstil. Temuan: Studi kasus ini memberikan wawasan tentang risiko kanker yang dihadapi oleh pekerja industri tekstil di Purwakarta pada periode 2018-2019. Mayoritas pasien yang terdiagnosa menderita kanker paru-paru adalah mereka yang terpapar bahan-bahan berbahaya di lingkungan kerja, terutama asbes dan zat-zat karsinogenik lainnya. Faktor risiko tambahan juga memengaruhi kehidupan pekerja. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperukan bentuk pencegahan untuk mengatasi persoalan pekerja di Industri teksit. Salah satu cara yang dapat dilakukan, yaitu penggunaan alat pelindung diri (APD), pemeriksaan kesehatan berkala, pendidikan dan pelatihan tenaga kerja, rotasi pekerjaan, pengawasan dan penegakan aturan, kolaborasi dengan ahli K3, serta evaluasi dan pemantauan berkelanjutan. Melalui implementasi tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat, serta mencegah risiko penyakit akibat kerja bagi pekerjanya.
PEMBERDAYAAN KELUARGA SEHAT BERANTING (BERANTAS PERNIKAHAN DINI DAN STUNTING) PADA SUKU BADUY Ritanti, Ritanti; Siregar, Tatiana; Permatasari, Indah; Utari, Dyah
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v5i1.2109

Abstract

Stunting merupakan permasalahan kekurangan gizi yang masih tetap menjadi prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia. Data survei status gizi balita tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia sudah mengalami penurunan menjadi 21,7%. Namun penurunan tersebut belum mencapai target WHO yaitu 20%.  Suku Baduy Desa Kanekes merupakan wilayah Kabupaten Lebak Banten dengan prevalensi stunting  masih tinggi yaitu berjumlah 27,30%, dan jumlah  perempuan menikah muda pada usia 19 tahun sebanyak 50,38%, Kurangnya informasi terkait stunting dan dampak dari pernikahan dini,  belum terprogram kegiatan edukasi, pendampingan serta pelayanan kesehatan berbasis keluarga. Pemberdayaan Keluarga sehat beranting (Berantas  pernikahan dini dan stunting) ini merupakan program inovasi dan memberikan solusi terhadap masalah mitra.  Tujuan PKM ini meningkatkan pelayanan kesehatan  ibu dan balita  dalam upaya mencegah penikahan dini dan mengatasi masalah stunting pada suku Baduy.  Kegiatan PKM ini dimulai pada  bulan April sampai dengan bulan bulan Juli 2024  dengan metode pelaksanaan yang meliputi 6 tahap kegiatan yaitu 1) Musyawarah masyarakat; 2) penyusunan media dan buku pedoman keluarga beranting; 3) Komunikasi, informasi dan pendidikan kesehatan  (KIE) ;  5) Supervisi dan kunjungan keluarga; 6) evaluasi kegiatan dan pengalihan tugas kepada Puskesmas. Hasil penilaian kuantitatif dengan analisa uji T  terdapat peningkatan  pengetahuan 87,5%, sikap 90 %  dan perilaku  92,5 %  dengan P value 0,000 < 0,005 (95% CI). Kesimpulan program PKM keluarga beranting efektif dilaksanakan dalam upaya mencegah pernikahan dini dan stunting pada suku Baduy. Tim PKM merekomendasikan perlu adanya pelayanan kesehatan ibu dan balita berbasis keluarga serta adanya peran aktif Puskesmas dalam kegiatan monitoring dan evaluasi program secara kontinyu dan berkesinambungan. 
Determinants of Work Fatigue in Damri Bus Drivers in The Jakarta Metropolitan Area (Jabodetabek) Basse, Dinda Mariella La; Herbawani, Chahya Kharin; Susanto, Agus Joko; Utari, Dyah
Jurnal Kesmas Jambi Vol. 9 No. 2 (2025): VOLUME 9 - NUMBER 2 - July 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jkmj.v9i2.46918

Abstract

Bus drivers are among the occupational groups at high risk of experiencing work-related fatigue, which is a major contributing factor to traffic accidents. This study aims to identify factors associated with work fatigue among urban Damri bus drivers in the Jabodetabek area. A cross-sectional design was used in this study. This study included 98 drivers who met the eligibility criteria. There were two factors that caused fatigue examined in this study, namely internal factors (age, marital status, education level, smoking habits, nutritional status, alcohol consumption, caffeine consumption, and sleep quality) and external factors (mental workload, length of service, working hours, and work stress). Data were collected using standardized instruments: the Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) to measure fatigue levels, the Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) for work stress, NASA-TLX for mental workload, and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) for sleep quality. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test. The results showed that 45.9% of respondents experienced moderate levels of work fatigue. Caffeine consumption (p=0.042) and work stress (p=0.001) were significantly associated with work fatigue. Meanwhile, factors such as age, marital status, education level, nutritional status, alcohol consumption, smoking habits, sleep quality, mental workload, working hours, and years of service were not significantly associated. Caffeine consumption and work stress were key contributors to work fatigue among drivers, while other factors showed no significant association. It is recommended that the company implement stress management programs and regulate caffeine consumption among drivers.
Work stress, employee capacity, and organizational policy: A quantitative study on the effects of age and job rotation on work ability Zahroh, Desi Apriliana; Utari, Dyah
Asian Journal of Toxicology, Environmental, and Occupational Health Vol. 3 No. 1: July (2025)
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/ajteoh.v3i1.2025.1925

Abstract

Background: Employability is the capacity possessed by every worker and is a balanced value between personal resources and work factors. Methods: This study used a cross-sectional study design with a research sample of 99 respondents obtained through simple random sampling technique. This research instrument uses The Workplace Stress Scale to measure work stress and the Work Ability Index to measure work ability. This study used chi-square test analysis and multiple logistic regression. Findings: Work ability can be affected by work stress because it disrupts individual health and has an impact on the company. This study aims to determine the relationship between work stress levels and work ability in employees of Company P in 2024. Conclusion: The results showed that the level of work stress was significantly associated with work ability (p=0.003; POR=4.209; 95% CI=1,708-10,369). The results of multivariate analysis showed that age (p=0.017; POR=0.222; 95% CI =0.065-0.761) and job rotation (p=0.000; POR=76.951; 95% CI=12.524-472.811) were confounding variables of the relationship between work stress level and work ability. Novelty/Originality of this article: In this study, the variable most related to work ability is job rotation. Companies can consider before rotating employees and facilitating training in specialized fields so that employees have skills in related fields.
An Online Survey of Social and Demographic Determinants of Stress among Workers in Jakarta Province Putri, Adella Delisa; Nurcandra, Fajaria; Utari, Dyah; Shaifuddin, Siti Norashikin Mohamad
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 14 No. 2 (2025): The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijosh.v14i2.2025.136-144

Abstract

Introduction: Stress is related to the individual's psychological, physiological, and behavioral response to stressors. Many social and demographic determinants are probable causative factors of stress through a complex path. In Jakarta Province, a significant number of workers commute from surrounding cities, potentially exacerbating stress due to long travel times, job demands, and other related factors. This study aimed to determine social and demographic factors contributing to stress among workers in Jakarta Province. Methods: A cross-sectional online survey was conducted between October and December 2023 among 200 workers aged 15–65 years. Data were collected using a self-administered questionnaire via Google Form, distributed through snowball sampling on social media. The survey included the Perceived Stress Scale (PSS-10), Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), Social Capital Scale, UCLA Loneliness Scale, and Social Network Index (SNI). A backward stepwise linear regression was performed to identify significant predictors of stress. Results: This study found that the mean stress score among workers was 19.39, which indicated a moderate stress level. The model showed social support (ß=-0.13), social capital (ß=-0.90), age (ß=-0.07), income (ß=0.00), distance (ß=0.19) as predictors of stress among workers and also obtained an R-Square value 50.4%. Conclusion: Social support, social capital, age, income, and commuting distance significantly influence workers' stress levels in Jakarta Province. Enhancing workplace social support systems and promoting stronger social networks may help mitigate stress. Employers and policymakers should consider interventions such as flexible work arrangements and peer support programs to improve employee well-being
Ultraviolet Exposure and Photokeratitis Complaints among Informal Welding Workers in Depok, West Java, Indonesia Yustheresani, Maria K I J; Nurcandra, Fajaria; Fitri, Azizah Musliha; Putri, Annisa Ika; Utari, Dyah
Kesmas Vol. 15, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the photokeratitis risk factors is acute reversible radiation of ultraviolet (UV) rays, which injure the cornea's epithelial tissue. Informal welding workers are susceptible populations to UV rays exposure. This study aimed to confirm the influence of UV radiation exposure on photokeratitis complaints in welding workers in Cimanggis, Depok, West Java. A cross-sectional study was conducted from February to June 2019 and used to select 100 welding workers purposively. A semi-structured questionnaire was used to determine photokeratitis complaints, age, education level, eye protection, safety knowledge, and work period; the UV radiation measured by A UV meter. Data were analyzed using a logistic regression test. We found the proportion of photokeratitis to be 84.0%, with 76.0% of UV radiation exceeding the Threshold Limit Values (TLV). The logistic regression test showed a significant effect of UV radiation on photokeratitis after controlling confounding variables (education level, eye protection, safety knowledge, and welding distance) (p-value = 0.006; AdjOR = 7.236; 95% CI: 1.74–30.07). It can be concluded that UV radiation, more than TLV, constitutes the primary risk factor for photokeratitis complaints. Risks for photokeratitis were influenced by low education level, poor eye protection, limited safety knowledge, and welding distance ≤ 45 cm.
Analisis Implementasi Sistem Proteksi Aktif, Sarana Penyelamatan Jiwa, dan Pengorganisasian Sebagai Bagian dari Upaya Penanggulangan Kebakaran di Gedung Y Pusat X Tahun 2018 Ramadhani, Dina Amalia; Utari, Dyah; Maharani, Fandita Tonyka
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 1, Februari 2019
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.286 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v11i1.11

Abstract

Latar Belakang: Faktor keamanan terutama bahaya kebakaran menjadi masalah utama yang dipertimbangkan oleh orang-orang yang bekerja di dalam dan di sekitar gedung. Laboratorium, insinerator, kabel, panel listrik, panel operasi, dan terletak di area rawan ledakan membuat Gedung Y berpotensi kebakaran yang tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian sistem perlindungan aktif dan pengaturan fasilitas keselamatan di Gedung Y Central X Tangerang Selatan berdasarkan peraturan dan standar yang telah diterapkan di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dengan kertas observasi, kertas wawancara, dan juga dokumen internal Central X untuk menganalisis tingkat kesesuaian sistem perlindungan aktif dan pengaturan fasilitas keselamatan. Data yang dikumpulkan dibandingkan dengan regulasi dan standar kesesuaian yang ada untuk melihat tingkat kompatibilitas. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem perlindungan aktif dan pengaturan fasilitas keselamatan di Gedung Y Central X memiliki 8 komponen dalam kategori baik, 2 komponen dalam kategori adil, dan 6 komponen dalam kategori buruk. Kesimpulan: Central X harus melengkapi komponen yang tidak sesuai seperti tinggi pemasangan gantung alat pemadam kebakaran, menyediakan fasilitas keluar yang jelas untuk keadaan darurat, mengatur kunci sprinkler, menyediakan sprinkler alternatif, melakukan inspeksi, pemeliharaan, dan juga menguji dokumen hasil. Background: Safety factor especially the fire hazard become the main problem considered by people who working inside and around the building. Laboratories, incinerators, cables, electrical panels, operation panels and located in the explosion-prone area make Building Y high potential of fire that can lead to detriments. The purpose of this research is to analyze conformity active protection system and safety facilities arrangement at Building Y Central X Tangerang Selatan based on the regulations and standards that have been applied in Indonesia. Methods: This research used descriptive study design with qualitative approach, collecting data with observation paper, interview paper, and also Central X internal document to analyze the conformity level of active protection system and safety facilities arrangement. Collected data was compared with the existing conformity regulation and standard to see compatibility level. Result: The result of this research indicated that active protection system and safety facilities arrangement in Building Y Central X have 8 components in good category, 2 components in fair category, and 6 components in poor category. Conclusion: Central X should complete components that not correspond such as fire-extinguisher hanged installation height, provide clear exit facilities for emergency, set sprinkler wrench, provide alternative sprinkler, make inspection, maintenance, and also testing results documents.
Analisis Implementasi Sistem Proteksi Aktif, Sarana Penyelamatan Jiwa dan Pengorganisasian sebagai Bagian dari Upaya Mitigasi Kebakaran di Mal Cinere Depok Tahun 2018 Emiliyanto, Oktaviyana; Maharani, Fandita Tonyka; Utari, Dyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 1, Februari 2019
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.188 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v11i1.16

Abstract

Latar belakang: Cinere Mall Depok adalah salah satu pusat perbelanjaan yang berlokasi di Kota Depok. Banyaknya pengunjung yang datang setiap hari membuat manajemen gedung perlu memperhatikan faktor keamanan bagi setiap pengunjung yang mengalami kondisi darurat, termasuk bahaya kebakaran. Penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi sistem perlindungan aktif, fasilitas penyelamat jiwa, dan pengorganisasian sebagai bagian dari upaya mitigasi kebakaran di Mall Cinere Depok. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Tekniknya adalah data yang dikumpulkan dengan observasi langsung menggunakan daftar periksa dan ulasan dokumen yang tersedia. Data dikumpulkan kemudian dibandingkan dengan kesesuaiannya dengan Menteri Pekerjaan Umum. 26 / PRT / M / 2008, Keputusan Menteri Pertanian No. 20 / PRT / M / 2009, dan Standar Internasional adalah NFPA 101. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mall of Cinere memiliki 50% dari sistem perlindungan aktif, 51 , 8% dari fasilitas penyelamatan nyawa, dan 29,2% dari pengorganisasian, yang menunjukkan bahwa komponen ketiga termasuk kurang (K) yang tidak cocok sama sekali dengan persyaratan standar referensi. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini, saran yang diberikan adalah bahwa pengelola gedung perlu menyediakan sarana sistem perlindungan aktif seperti detektor asap, detektor panas, dan alarm kebakaran; fasilitas penyelamat seperti pintu darurat dan tangga darurat; serta untuk mengatur kebakaran. Background: Mall of Cinere Depok is one of the shopping centers located in Depok City. The many visitors who come every day make the building management needs to pay attention to the safety factor for every visitor to the emergency condition, including the danger of fire. This study was to analyze the implementation of an active protection system, lifesaving facilities, and organizing as part of fire mitigation efforts in Mall of Cinere Depok. Methods: This study used descriptive study design qualitative. The techniques is data collected with direct observation using checklist and document review available. The data was collected then compared to its suitability with the Minister of Public Works. 26/PRT/M/2008, Ministry of Agriculture Decree No. 20/PRT/M/2009, and the International Standard is NFPA 101.Results: The results of this study indicated that Mall of Cinere has 50% of an active protection system, 51,8% of lifesaving facilities, and 29,2% of organizing, which shows that the third component including less (K) that does not suitable at all with the requirements of the reference standard.Conclusions: From the results of this study, the suggestion given is that the building manager needs to provide the means of active protection systems such as smoke detectors, heat detectors and fire alarms; lifesaving facilities such as emergency exits and emergency stairs; as well as to organize fires.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gejala Skabies pada Santriwati di Pondok Pesantren X Tahun 2018 Nur’aini, Rika; Utari, Dyah; Buntara, Arga
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 2 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 2, Mei 2019
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.883 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v11i2.24

Abstract

Latar Belakang: Kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau kudis Sarcoptes. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2014, kudis memiliki jumlah kasus yang tinggi di dunia yaitu 130 juta orang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, kebersihan pribadi dan kepadatan rumah tangga dengan gejala kudis di kalangan siswa perempuan di X Islamic Boarding School pada tahun 2018.Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Subjek penelitian ini adalah siswa perempuan Madrasah Aliyah di X Islamic Boarding School pada tahun 2018.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan 80% siswa perempuan mengalami gejala kudis. Berdasarkan hasil uji statistik, ada hubungan yang signifikan antara kepadatan rumah tangga dan gejala skabies (p-value = 0,017).Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan kebersihan pribadi dengan gejala scabies. Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan bahwa pondok pesantren untuk memberikan konseling kesehatan dan kebersihan bekerja sama dengan pusat kesehatan masyarakat, menyediakan fasilitas kesehatan, dan mengurangi orang di setiap kamar. Background: Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabies mites. According to the World Health Organization (WHO), in 2014, scabies has a high case number in the world which was 130 million people. This study was conducted to determine the relation between the level of knowledge, personal hygiene and household density with scabies symptoms among female students at X Islamic Boarding School in 2018.Methods: This research is a quantitative analytical study with a cross-sectional design. The data of this study were analyzed using a Chi-Square test. The subjects of this study were female students of Madrasah Aliyah at X Islamic Boarding School in 2018.Result: The Results show 80% of female students experience symptoms of scabies. Based on statistical test results, there is a significant relationship between the household density and symptoms of scabies (p-value = 0.017).Conclusion: There is no relationship between level of knowledge and personal hygiene with symptoms of scabies. Based on the results of the research, it is recommended that islamic boarding school to provide health and hygiene counseling in collaboration with community health centers, provides health facilities, and reduce people in each room.
ANALISIS PENERAPAN SISTEM PROTEKSI AKTIF, SARANA PENYELAMATAN JIWA DAN PENGORGANISASIAN DI GEDUNG FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA TAHUN 2018 Maharani, Fandita Tonyka; Yulita, Alfina; Utari, Dyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 1 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 1, Februari 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.679 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v12i1.57

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Data Departemen Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta memiliki 780 gedung bertingkat dan 222 gedung yang belum memenuhi persyaratan keamanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi sistem perlindungan aktif, fasilitas penyelamatan hidup, dan pengorganisasian di gedung Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dan pendekatan kualitatif dengan observasi langsung, review dokumen, wawancara mendalam, dan checklist. Hasil penelitian ini dibandingkan kesesuaiannya dengan Peraturan Menteri PU No. 26 / PRT / M / 2008, Peraturan Menteri No. 20 / PRT / M / 2009 dan NFPA 101 sebagai perbandingan untuk titik perakitan. Hasil: Hasil penelitian ini menemukan bahwa Gedung Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta belum memiliki pengorganisasian api yang sesuai dengan standar. Sistem perlindungan aktif yang tidak terpenuhi adalah alarm kebakaran, sprinkler, detektor kebakaran, sistem pipa tegak dan hidran. Fasilitas penyelamatan jiwa yang tidak terpenuhi adalah pintu darurat, arah keluar, tangga darurat, dan penerangan darurat. Kesimpulan: kesimpulan dari penelitian diperlukan prioritas untuk menyediakan pengorganisasian api, sistem perlindungan aktif, dan fasilitas penyelamatan jiwa yang belum memenuhi peraturan dan melakukan perawatan, inspeksi, dan uji coba untuk hal-hal yang terpenuhi. Kata kunci: Kebakaran, Sistem Proteksi Kebakaran Aktif, Fasilitas Penghematan Langsung ABSTRACT Background: Jakarta Dept. of Fire and Rescue Services Department data have 780 multi-storey buildings and 222 buildings that have not met the security requirements. The purpose of this research is to analyze implementation of active protection system, facility of life saving, and organizing in Faculty of Computer Science building University of Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Methods: This research used descriptive study design and qualitative approach with direct observation, document review, indepth interviews, and checklist. Result: The result of this research are compared its comformity with Peraturan Menteri PU No. 26/PRT/M/2008, Peraturan Menteri No. 20/PRT/M/2009 and NFPA 101 as comparison for assembly point. Result of this research are found that Faculty of Computer Science Building University of Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta yet to have organizing of fire that match with the standard. Active protection system that unfulfilled are fire alarm, sprinkler, fire detector, standpipe system and hydrant. Facility of life saving that unfulfilled are emergency door, exit direction, emergency stair, and emergency lighting. Conclusion: From this research then is required to provide organizing of fire, active protection system, and facility of life saving that not yet fill the regulations and do maintenance, inspection, and trials for things fulfilled. Keyword: Fire, Active Fire Protection System, Facility of Live Saving