Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Nickel mining on small islands and the conservation mandate: A regulatory review and policy analysis based on the Raja Ampat case study Zahar, Wahyudi; Rosyid, Fadhila Achmadi
Journal of Engineering Researcher and Lecturer Vol. 4 No. 3 (2025): Regular Issue
Publisher : Researcher and Lecturer Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58712/jerel.v4i3.195

Abstract

Indonesia plays a strategic role in global mineral supply, but the expansion of mining into coastal–small-island areas demand governance that balances down streaming objectives with the conservation mandate. This article presents a regulatory review and policy analysis illustrated by the Raja Ampat case. The policy framework examined includes Government Regulation (PP) No. 25 of 2024, Ministry of Energy and Mineral Resources Regulation (Permen ESDM) No. 15 of 2024, and Ministerial Decree (Kepmen ESDM) No. 177.K/MB.01/MEM.B/2024. The analysis shows that: (i) licensing and enforcement instruments have been strengthened, as reflected in corrective actions against non-compliant permits; (ii) in small-island contexts with high conservation value, the principal risks stem from sedimentation and declining water quality, which affect coral-reef ecosystems and fisheries–tourism livelihoods; and (iii) the effectiveness of regulations is highly determined by consistency of implementation, data traceability, and public participation. Policy recommendations include indicator-based enforcement (quarterly inspections and an RKAB compliance dashboard), a sediment-focused “AMDAL+” environmental impact assessment for coastal–reef settings, synchronizing a “small-island/geopark” filter in WIUP/WIUPK designation, supply-chain transparency, and strengthening local economic alternatives that are compatible with conservation. The findings affirm that a balance between economic growth and ecosystem sustainability can be achieved through a combination of stringent licensing screening, adaptive monitoring, and transparent governance.
Potensi Logam Tanah Jarang pada Fly Ash dan Bottom Ash Endapan Batubara Peringkat Rendah Formasi Muara Enim Zahar, Wahyudi; Yulanda, Yudi Arista; Wiratama, Jarot; El Hakim, Muhammad
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/wffpht91

Abstract

Logam tanah jarang (LTJ) merupakan komoditas strategis saat ini seiring dengan perkembangan teknologi. Penggunaan LTJ banyak diaplikasikan pada industri pertahanan, kesehatan, mobil listrik, turbin, handphone, laptop, dan teknologi maju lainnya. Keterdapatan LTJ pada umumnya berasosiasi sebagai mineral-mineral aksesoris pada batuan berkomposisi granitoids seperti pada monasit, xenotim, allanit, titanit, dan zircon. Akan tetapi berdasarkan beberapa penelitian ditemukan adanya pengkayaan LTJ pada abu sisa pembakaran PLTU FABA (fly ash dan bottom ash). Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterdapan LTJ pada kondisi batubara Peringkat Rendah di Formasi Muara Enim pada endapan insitu dan pengkayaan pada FABA. Sampel batubara diambil secara grab sampling pada lokasi tambang sedangkan sampel FABA diambil secara grab sampling di PLTU Mulut Tambang. Pengujian Laboratorium dilakukan melalui Uji XRF untuk melihat kandungan oksida mineral dan Laboratorium BRIN untuk dilakukan analisis ICP OES. Hasil analisis XRF menunjukkan elemen oksida utama penyusun batubara pada endapan batubara insitu terdiri atas Fe2O3, MgO, dan SO3. Hasil analisis ICP-OES memperlihatkan terjadi pengkayaan konsentrasi LTJ pada FABA. Pengkayaan paling besar terjadi pada unsur Cerium (Ce) dimana pada Fly Ash terjadi peningkatan 19 kali menjadi 40,12 Ppm dan pada Bottom Ash 17 kali menjadi 37,15 Ppm. Selanjutnya pada Lantanum (La) terjadi pengkayaan 27 kali pada fly ash menjadi 19,02 Ppm dan 24 kali pada bottom ash menjadi 16,86 Ppm. Secara umum pengkayaan terjadi lebih besar pada fly ash dibandingkan dengan bottom ash.