Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KONSTRUKSI IDENTITAS DIRI DAN PENGALAMAN KOMUNIKASI PASANGAN SUAMI ISTRI PENYANDANG TUNANETRA DI KOTA BANDUNG Ghassani, Rizqi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.914 KB)

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami dan menemukan makna yang telah dikonstruksi oleh pasangan suami istri penyandang tunanetra yaitu mengenai identitas diri mereka sebagai penyandang tunanetra, motif pasangan suami istri penyandang tunanetra menikah, serta untuk mengungkap perilaku komunikasi keluarga penyandang tunanetra baik dengan pasangan, anak, keluarga, lingkungan masyarakat dan pekerjaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi dengan pendekatan kualitatif tentang pola komunikasi dan konsep diri para penyandang tunanetra. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri penyandang tunanetra di Kota Bandung dengan klasifikasi kebutaan yang beragam. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan studi komunikasi kepada keenam informan. Penelitian ini menggunakan Teori Identitas Diri, Teori Interaksi Simbolik dan Teori Konstruksi Sosial Atas Realitas. Hasil dari penelitian ini adalah para penyandang tunanetra dalam memaknai dirinya sebagai penyandang tunanetra dipengaruhi oleh berbagai kerangka pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki serta proses kebutaan yang terjadi sehingga membuat sebuah pemaknaan diri sebagai seorang yang pasrah, patut dikasihani, tidak berguna, kurang percaya diri, kecewa, trauma dan harus memiliki semangat lebih dibanding manusia yang memiliki penglihatan normal lainnya. Dalam membesarkan anak-anak mereka yang memiliki penglihatan normal, para pasangan suami istri penyandang tunanetra memasangkan gelang kaki krincing kepada anak mereka dan mengikat tangan anak mereka dengan tangannya dengan tujuan agar tidak kehilangan jejak saat pengasuhan di rumah. Meski memiliki kendala dalam penglihatan tetapi para penyandang tunanetra dalam penelitian ini memiliki kelebihan dalam pemaksimalan indera-indera lainnya. Mereka memiliki kepekaan terhadap suara, indera peraba, penciuman, serta felling yang kuat dalam menjalani kehidupan.
Komunikasi Publik Program GPII Putri Jawa Barat melalui Media Sosial Instagram Ghassani, Rizqi
Buana Komunikasi (Jurnal Penelitian dan Studi Ilmu Komunikasi) Vol 5 No 1 (2024): Juni
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USB YPKP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32897/buanakomunikasi.2024.5.1.3478

Abstract

Perkembangan teknologi dalam berbagai sektor menjadi salah satu tantangan dalam publikasi kegiatan Gerakan Pemuda Islam Indonesia Putri Jawa Barat (GPII Putri Jabar). Sehingga dalam menjalankan program kerja yang direncanakan dalam Musyawarah Kerja harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat terutama kebutuhan dalam mencari informasi dan aktualisasi diri. Adapun media sosial yang menjadi platform utama dalam publikasi kegiatan GPII Putri adalah Media Sosial Instagram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Adapun hasil dari penelitian ini, GPII Putri Jawa Barat menggunakan komunikasi publik dengan memperhatikan empat faktor; mengenali sasaran komunikasi, pemilihan media komunikasi, pengkajian tujuan pesan komunikasi dan peranan komunikator dalam komunikasi sehingga tujuan strategi komunikasi dapat tercapai dengan cara menerapkan tujuan to secure understanding, to establish acceptance, to motivate action sehingga publikasi berbagai pesan melalu media Instagram dapat tersampaikan secara efektif.
STRATEGI PUBLIC RELATIONS (PR) MOMIS BAKERY DALAM MEMVIRALKAN PRODUK ANDALANNYA Ghassani, Rizqi; Fitriawati, Diny
KOMUNIKA BANGSA Vol. 1 No. 2 (2024): Edisi 2
Publisher : UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maximum use of the internet will have an impact on the success of marketing a product. Even though the product in question is still relatively new, accuracy in utilizing the vastness of the internet can provide maximum profits for product sales to occupy the top position. The ability to do this can be obtained by using features that are spread through social media applications that are scattered throughout the internet. As the backbone that unites communication media, both personal and public, the internet must be utilized optimally for various purposes. One of them, business goals. As was done by Momis Bakery which went viral with public interest in the products it makes. On that basis, this research was carried out with the aim of uncovering viral phenomena as a public relations strategy for marketing Momis Bakery products on social media. As a means, this research uses qualitative research methods with interpretive descriptive research which seeks to uncover the background of the phenomenon behind the virality that occurs. The research results prove that the use of media combined with skills in carrying out public relations functions helps elevate Momis Bakery to the top position. Keywords: Internet, public relations, viral, social media, products
DIFUSI INOVASI PUBLIC RELATIONS (PR) DALAM MEMANFAATKAN TEKNOLOGI TERAPAN DI PT PUTERA MULYA TERANG INDAH Nurdansyach, Faisal Fachic; Ghassani, Rizqi
KOMUNIKA BANGSA Vol. 2 No. 1 (2024): Edisi 3
Publisher : UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The existence of a public relations division in an agency, one of which is within a company, is indeed the main point for carrying out one of the programs assigned by the company in terms of providing important information regarding developments, introducing new products and introducing new innovations to audiences such as the wider community, employees the company, therefore stakeholders can receive information conveyed directly or in the field regarding information by attending meetings or being invited directly, the role of public relations is very much considered by institutions, agencies and organizations that do have public relations in order to create good relationships , being harmonious and having chemistry are indeed the main factors in an institution, besides that the role of public relations is able to overcome or minimize problems in companies and other institutions which create sustainable relationships, public relations is also an art and social science that can be used to analyze trends , advise employees and carry out planned programs regarding activities that have the nature of serving, both the interests of organizations or institutions as well as the public interest, apart from that the relationship between community companies has needs that continue to develop and are sustainable.
TARI TOPENG KACIREBONAN TRADISI KESENIAN BANGSA YANG HARUS DILESTARIKAN Ghassani, Rizqi; Raditiyanto, Satria; Purwadi
JURNAL KEBANGSAAN RI Vol. 1 No. 2 (2024): JURNAL KEBANGSAAN RI
Publisher : LEMBAGA PUSAT KAJIAN KEBANGSAAN/PUSKAB UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari topeng kacirebonan adalah salah satu peninggalan tradisi kebudayaan nenek moyang kita semenjak abad ke 12 di era kerajaan Majapahit, Pada saat tersebut tari topeng mulai diperkenalkan kepada keluarga kerajaan-kerajaan di daerah Majapahit dan sampai ke Demak. Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Tari topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Penulis dalam artikel kebudayaan ini membatasi metode penelitian artikel ini dalam kajian teori kebudayaan analisis Text berdasarkan teori kebudayaan Prof. Mudjahirin Thohir dan permasalahannya tentang seputar pencarian makna dari simbol pada tari kacirebonan dengan menggunakan teori yang terkait serta bagaimana symbol-symbol itu di narasikan secara empiris terbatas pada tari topeng Cirebon. Kata kunci: Tari Topeng Kacirebonan, Kajian Teori Kebudayaan Analisis Text, Makna symbol.
Memperkuat Kerukunan Warga Desa Rancamanyar Melalui Keterampilan Komunikasi Fitriawati, Diny; Sabarudin, Didin; Ghassani, Rizqi; Bintang, Gilang; Suminar, Erna
Jurnal Sosial & Abdimas Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Sosial & Abdimas
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/jsa.v7i1.1736

Abstract

Kerawanan yang menyebabkan instabilitas sosial potensial terjadi pada masyarakat transisi. Ciri transisi tergambar jelas pada masyarakat desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Desa yang tengah berubah menuju wujud sebuah kota ini menyimpan berbagai potensi membahayakan. Di antaranya, gangguan pada kerukunan dan kenyamanan lingkungan. Sebagai masyarakat transisi, kesulitan akan dialami ketika harus berubah ke arah suasana baru. Karena menuntut masyarakat untuk mengikuti arus perubahan dan meninggalkan adat dan kebiasaan yang telah lama terbentuk. Di dalam perubahan menuju kebiasaan baru ini terdapat hal paling mendasar, yakni, komunikasi. Ini berkenaan dengan bertebarannya simbol-simbol baru sebagai pembawa perubahan yang harus mendapat pemaknaan yang tepat dari masyarakat. Kemajuan sangat pesat serta merta mengubah kultur dan kebiasaan serta mengubah pola komunikasi yang sudah terbentuk. Menghadapi perubahan tersebut, warga harus memiliki keterampilan komunikasi, baik komunikasi praktis maupun kemampuan memaknai simbol-simbol yang bertebaran di tengah perubahan yang terjadi. Berkenaan dengan itu, dosen Ilmu Komunikasi bersama dengan mahasiswa Ilkom UKRI melaksanakan pengabdian di desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Tujuannya, untuk memberikan pemahaman dan keterampilan komunikasi kepada kader dan aktivis masyarakat desa agar mampu memperkuat kerukunan di tengah beragamnya simbol-simbol yang bertebaran sebagai konsekuensi dari heterogenitas penduduk. Agar mencapai tujuan, PKM menggunakan metode ceramah dengan disertai diskusi. Hasilnya, masyarakat desa Rancamanyar berkomitmen memahami realitas perubahan dengan menerapkan sisi keilmuan komunikasi agar terpelihara kerukunan di antara sesama warga masyarakat.
MEDIA MENGUNGKAP NASAB PARA CALON PRESIDEN TAHUN 2024 : (RELASI NASAB DENGAN POLITIK IDENTITAS) Lusiawati, Ira; Fitriawati, Diny; Ghassani, Rizqi
JURNAL KEBANGSAAN RI Vol. 1 No. 1 (2023): JURNAL KEBANGSAAN RI
Publisher : LEMBAGA PUSAT KAJIAN KEBANGSAAN/PUSKAB UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/jkri.v1i1.3355

Abstract

The mass media carried out massive coverage regarding the declaration of the presidential candidates (candidates) for the Republic of Indonesia in 2024. This style of reporting on the presidential candidates not only communicates the achievements that have been achieved for each presidential candidate, but also reveals more about their lineage or lineage. The method used by the media has a big impact on the public in making choices, considering that lineage or lineage gives confidence to the presidential candidates to get support from potential voters. Likewise, prospective voters will get a complete reference regarding the profiles of the presidential candidates they will choose. Moreover, one of the functions of the media, namely, to inform, is very involved in the campaign process for each presidential candidate by reviewing more deeply about various matters including the background on the heroic ethos, and figures of the national Islamic movement. This can be a reinforcement to convince voters, especially from Muslims as the majority voter. Based on these conditions, this study aims to determine the process of disclosing lineage or lineage with respect to general election contestation (election). To explain this, the method used is descriptive qualitative with the type of media content analysis. The findings in this study are the campaign process which presents the symbols of identity politics through lineage to become reinforcement in the course of contestation. Ethnic and religious ancestry that is bound to the presidential candidates, of course as the inclusion of symbols that are part of identity politics.
GERABAH SITIWINANGUN KEKAYAAN BANGSA ZAMAN PRASEJARAH YANG TAK LEKANG DI MAKAN USIA Raditiyanto, Satria; Ghassani, Rizqi
JURNAL KEBANGSAAN RI Vol. 1 No. 1 (2023): JURNAL KEBANGSAAN RI
Publisher : LEMBAGA PUSAT KAJIAN KEBANGSAAN/PUSKAB UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/jkri.v1i1.3368

Abstract

No much people knows that’s a certain in the village at West Java Province Region with names the Sitiwinangun Village, Palimanan, Cirebon regency have the unique handicraft with the names Sitiwinangun handicrafts or Sitiwinangun traditional art ceramics have already started from the prehistory period till now. The Sitiwinangun traditional art ceramics its most popular into the several regions in Indonesia, even famously into China, Japan, Malaysia, Singapore, Thailand, Korea, and many other country in the world. The motive and unique the Sitiwinangun ceramics it’s very famous, and many Indonesian collectors likes to be collected. But, the results of Sitiwinangun ceramics have different qualities and quantities, and this handicraft have the unique aesthetics values too. It seems, for create the best qualities of Sitiwinangun traditional art ceramics must be have the several traditional ritualism. Because of the best qualities product, the traditional Sitiwinangun art ceramics become of the sources of the Indonesian incomes. This research is suitable with aesthetics values, promotion about the Sitiwinangun village, and surrounding, as well as the Sitiwinangun traditional art ceramics as one of the local tourist, and foreign countries tourist gifts from Cirebon, West Java province, Indonesia.
TARI TOPENG KACIREBONAN TRADISI KESENIAN BANGSA YANG HARUS DILESTARIKAN Ghassani, Rizqi; Raditiyanto, Satria; Purwadi
JURNAL KEBANGSAAN RI Vol. 1 No. 2 (2024): JURNAL KEBANGSAAN RI
Publisher : LEMBAGA PUSAT KAJIAN KEBANGSAAN/PUSKAB UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/jkri.v1i2.3406

Abstract

Tari topeng kacirebonan adalah salah satu peninggalan tradisi kebudayaan nenek moyang kita semenjak abad ke 12 di era kerajaan Majapahit, Pada saat tersebut tari topeng mulai diperkenalkan kepada keluarga kerajaan-kerajaan di daerah Majapahit dan sampai ke Demak. Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Tari topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Penulis dalam artikel kebudayaan ini membatasi metode penelitian artikel ini dalam kajian teori kebudayaan analisis Text berdasarkan teori kebudayaan Prof. Mudjahirin Thohir dan permasalahannya tentang seputar pencarian makna dari simbol pada tari kacirebonan dengan menggunakan teori yang terkait serta bagaimana symbol-symbol itu di narasikan secara empiris terbatas pada tari topeng Cirebon. Kata kunci: Tari Topeng Kacirebonan, Kajian Teori Kebudayaan Analisis Text, Makna symbol.
THE SCEPTRE (KEKUASAAN) DAN THE SPECTRE (HANTU): DUA WAJAH POPULISME DALAM DEMOKRASI (LIBERAL) Sabarudin, Didin; Ghassani, Rizqi
JURNAL KEBANGSAAN RI Vol. 2 No. 2 (2025): Edisi 4
Publisher : LEMBAGA PUSAT KAJIAN KEBANGSAAN/PUSKAB UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/jkri.v2i2.4039

Abstract

The phenomenon of populism emerged in contemporary politics in the era of global democracy, including Indonesia, with the trigger being the economic and political crisis. Populism has a positive meaning in (liberal) democracy by placing antagonistic discourse to fight for the values ​​of justice, equality, prosperity, and fairness for the populus which reveals the corruption of the other, the political and business elite in the sceptre (power) of the oligarchy. Populist actors move dynamically and flexibly in the name of the populus as the spectre of the oligarchy by carrying out propaganda of resistance against the sceptre which is corrupt, oligarchic, and oppressive to the people. They fight for the improvement of the people's fate and play an antagonistic role against the oligarchic elite, corruption, globalization with its neo-liberalism. However, populism has a negative meaning as an effort to find a vehicle and entry ticket as a new player in the oligarchy, so that populism becomes rhetoric for efforts to seize power because it was born as part of the oligarchy vortex. That is the purpose of this writing with a critical study as a political philosophy approach using a qualitative explanatory method to examine the changes in the term populism since its emergence as a form of opposition to oligarchic power in (liberal) democracy whose boundaries are no longer clear. Populism can be a transformative force in Indonesia with an antagonistic role against the increasingly strong oligarchic power. However, it failed as an antagonistic anti-status quo and emancipatory force because it also perpetuated the sceptre of corrupt and greedy oligarchy, even forming a final identity as a shadow democratic power, instead of becoming the spectre of oligarchic power.