Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbedaan efektifitas pemberian teh hijau dan bawang hitam (garlic) terhadap kadar gula darah pasien DM Herawati, Ade Tika; Rahayu, Sri Mulyati; Jamiyanti, Anggi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i2.471

Abstract

Background: Increased blood sugar levels due to impaired glucose absorption due to insulin deficiency or reduced cell sensitivity to glucose absorption are the main symptoms in DM patients. The fluctuating increase and decrease in blood sugar depends on several factors, one of which is food consumption.  Various efforts are made to reduce blood sugar levels, such as adjusting diet, exercising, doing physical activity, consuming anti-DM drugs, and controlling blood sugar regularly. Diet management is done by reducing the amount of sweet foods, carbohydrates, or foods high in glucose. Apart from that, consuming food or herbal medicines such as consuming green tea and consuming black onions (Garlic) can reduce the blood sugar levels of DM patients. Purpose: To determine the effectiveness of giving green tea and black garlic in reducing blood sugar levels in DM patients. Method: This research was a Quasi-experimental with a control group which was carried out on two groups, namely model A group which was given green tea and model B group which was given black onions regularly for 1 month. Participants in this study were DM patients in the working area of ​​the Panyileukan Community Health Center who were actively prolanist. The intervention of giving green tea was carried out twice a day in the morning and evening, while the intervention was giving 2 cloves of black onion twice a day for 1 month. Data analysis using SPSS with Paired T-Test. Results: The average blood sugar level in model A group before giving green tea was 125.7 mg/dl and in model B group given black onion (Garlic) was 155.1 mg/dl. After being given the intervention, blood sugar levels decreased, in model A group the average blood sugar level was 118.3 mg/dl and in model B group it was 131.4 mg/dl. Based on the results of the analysis carried out on the two groups, it was found that blood sugar levels decreased. The average reduction in model A group was 7.4 mg/dl and in model B group was 23.7. Conclusion: Giving green tea and black garlic can reduce blood sugar levels in DM patients. However, of the two interventions, giving black garlic was more effective in reducing blood sugar levels in DM patients than giving green tea. Suggestion: DM sufferers are advised to consume black garlic as an additional alternative to lower blood sugar levels.   Keywords: Black Garlic; Blood Sugar Levels; Green Tea.   Pendahuluan: Peningkatan kadar Gula darah akibat terganggunya penyerapan glukosa akibat kekurangan insulin atau berkurangnya kepekaan sel terhadap penyerapan glukosa merupakan gejala utama pada pasien DM. Peningkatan dan penurunan gula darah secara fluktuatif tergantung dari beberapa faktor, salah satunya adalah konsumsi makanan.  Berbagai Upaya dilakukan untuk menurunkan kadar gula darah tersebut seperti pengaturan diet, olahraga , melakukan aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan anti DM, dan kontrol gula darah secara rutin. Pengaturan diet dilakukan dengan mengurangi jumlah makanan manis, karbohidrat, atau makanan tinggi glukosa. Selain itu, mengkonsumsi makanan atau obat-obatan herbal seperti mengkonsumsi teh hijau dan mengkonsumsi bawang hitam (Garlic) dalam mengurangi kadar gula darah pasien DM. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas pemberian teh hijau dan bawang hitam dalam penurunan kadar gula darah pasien DM. Metode: Penelitian ini adalah Quasi eksperiment dengan grup kontrol yang dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok model A dengan pemberian teh hijau dan kelompok model B pemberian bawang hitam secara teratur selama 1 bulan. Partisipan pada penelitian ini adalah pasien DM yang berada di wilayah kerja Puskesmas Panyileukan yang aktif prolanis. Intervensi pemberian teh hijau dilakukan 2x sehari pagi dan sore hari, sedangkan intervensi pemberian bawang  hitam 2x sehari sebanyak 2 siung selama 1 bulan. Analisa data menggunakan SPSS dengan pengujian Paired T-Test.   Hasil: Rata-rata kadar gula darah pada kelompok model A sebelum dilakukan pemberian teh hijau adalah 125.7 mg/dl dan pada kelompok model B yang diberikan bawang hitam (Garlic) adalah 155.1 mg/dl. Setelah diberikan intervensi terjadi penurunan kadar gula darah, kelompok model A rata-rata kadar gula darah sebesar 118.3 mg/dl dan pada Kelompok model B adalah 131.4 mg/dl. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada kedua kelompok didapatkan penurunan kadar gula darah. Rata-rata penurunan pada kelompok model A sebesar 7.4 mg/dl dan pada kelompok model B sebesar 23.7. Simpulan: Pemberian teh hijau dan bawang hitam dapat menurunkan kadar gula darah pasien DM. Namun dari kedua intervensi tersebut, pemberian bawang hitam lebih efektif menurunkan kadar gula darah pada pasien DM dari pada pemberian teh hijau. Saran: Penderita DM disarankan untuk mengkonsumsi bawang hitam sebagai alternatif tambahan untuk menurunkan kadar gula darah.   Kata Kunci : Kadar Gula Darah; Teh Hijau; Bawang Hitam
THE RELATIONSHIP OF SOCIAL SUPPORT WITH ACADEMIC BURNOUT EVENTS IN FINAL-LEVEL STUDENTS Nurmansyah, Andri; Yani, Fifi Siti Fauziah; Jamiyanti, Anggi
REAL in Nursing Journal Vol 7, No 2 (2024): REAL in Nursing Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/rnj.v7i2.3115

Abstract

Background: Final year students are having a tough time, because there are many assignments and obligations to complete a thesis. At this time social support is really needed, usually students spend more time with their peers because social support from peers makes someone feel like they have friends to share the same interests with. Students who lack peer social support are at risk of experiencing academic burnout. This research aims to determine the relationship between peer social support and academic burnout in final year students at Bandung regional universities. Method: This research uses quantitative methods with correlational techniques. Subjects totaling 90 students were taken using the Simple Random Sampling. Data collection methods used the Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) questionnaire, and peer social support questionnaires. Results: The research results showed that 68.9% of students had a low level of social support and 54.4% of students had a high level of academic burnout. The correlation test using Spearman Rank obtained a sig value of 0.017 <0.05. Conclusion there is a relationship between peer social support and the incidence of academic burnout in final year students at Bandung regional universities. It is hoped that future researchers can analyze other factors that can cause academic burnout.
Kesiapsiagaan Siswa Sekolah Dasar Dalam Menghadapi Bencana Gempa Imam, Haerul; Jamiyanti, Anggi; Rahayu, Sri Mulyati; Irawan, Susan; Helena, Denni Fransiska
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 3 No. 4 (2025): Bulan Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v3i4.219

Abstract

Indonesia merupakan negara yang rawan gempa bumi karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif. SDN 052 Cisaranten Wetan, yang terletak di wilayah Gedebage dekat Sesar Lembang, termasuk dalam kawasan dengan risiko tinggi terhadap bencana gempa. Namun, kesiapsiagaan bencana di sekolah ini masih rendah, ditandai dengan minimnya edukasi dan pelatihan kebencanaan kepada siswa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menghadapi bencana gempa bumi melalui edukasi dan simulasi tanggap darurat. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, simulasi evakuasi, dan pelatihan pertolongan pertama sederhana (balut bidai). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan siswa berdasarkan perbandingan pretest dan posttest (p < 0,05), serta antusiasme tinggi selama pelatihan berlangsung. Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara pihak sekolah dan tenaga pendidik dalam membentuk budaya sadar bencana. Edukasi kebencanaan berbasis sekolah terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan siswa dan dapat dijadikan model program berkelanjutan untuk menciptakan sekolah yang tangguh bencana.
Cegah Stunting dengan Penanganan yang Tepat pada Masyarakat Dusun Barujati Nurmansyah, Andri; Sarinengsih, Yuyun; Jamiyanti, Anggi; Lengga, Vivop Marti; Agustin, Dania Nur; W, Dwi Alifia; A, Tarisha Yulia; S, Natasya Dwi; E, Rulaa Sheiza; S, Della Puspita; Rizkia, Thursiena; Kurniawan, Renaldhi; Fauziah, Eva; Herliyuandi, Fajri; C, Alisya Ayu; Rema, Madhuri; Mulyani, Siti; Widyastuti, Widyastuti; Nurizky, Lintang; Nuraeni, Gina; Hisyam, Moch; Suwandi, Aldo; Yuniar, Resa; Aisyah, Siti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i12.17558

Abstract

ABSTRAK Kasus stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan anak terbesar di Indonesia, bahkan angka penurunan pada tahun 2024 masih jauh dari target yang diharapkan yaitu sebesar 14%. Kekurangan gizi adalah salah satu faktornya, yang tidak hanya dialami oleh anak tersebut melainkan dipengaruhi oleh gizi calon ibu sejak remaja, ibu hamil, maupun setelah melahirkan. Oleh karena itu, pengetahuan untuk mencegah kejadian stunting menjadi penting. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden terhadap intervensi pencegahan stunting di masyarakat Dusun Barujati Kabupaten Bandung. Studi ini menggunakan one group pretest-posttest design, dengan intervensi berupa penyuluhan pada responden yang merupakan tokoh masyarakat, dan masyarakat umum berjumlah 17 responden. Adapun instrumen yang digunakan yaitu kuesioner yang diberikan sebelum dan setelah intervensi. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum dan setelah intervensi meningkat secara signifikan yaitu mean 91-97. Hal ini terjadi  penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan melalui penyebarluasan pesan kesehatan yang bertujuan untuk menanamkan dan meyakinkan sasaran. Intervensi penyuluhan cegah stunting dengan penanganan yang tepat berhasil meningkatkan pengetahuan responden  dalam mencegah stunting dengan penanganan yang tepat. Dibutuhkan kerutinan dan keberlanjutan intervensi agar menjadi salah satu upaya dalam menurunkan kasus stunting di Indonesia. Kata Kunci: Balita, Gizi, Pencegahan Stunting  ABSTRACT The issue of stunting remains one of the biggest child health problems in Indonesia, and even the projected decrease in 2024 is still far from the expected target of 14%. Malnutrition is one of the factors, which not only affects the child but is also influenced by the nutrition of the prospective mother since adolescence, during pregnancy, and after childbirth. Therefore, knowledge to prevent stunting is important. This article aims to assess the level of knowledge among respondents regarding stunting prevention interventions in the Barujati hamlet of Bandung Regency. This study uses a one group pretest-posttest design, with an intervention in the form of counselling for respondents who are community leaders and the general public, totaling 17 respondents. The instrument used is a questionnaire that is administered before and after the intervention. The study results show that the respondents' knowledge level significantly increased before and after the intervention, with a mean of 91-97. This happens because counselling can enhance knowledge through the dissemination of health messages aimed at instilling and convincing the target audience. The intervention of counselling to prevent stunting with appropriate handling successfully increased the respondents' knowledge in preventing stunting with the right measures. It requires routine and sustainable interventions to be one of the efforts in reducing stunting cases in Indonesia. Keywords: Toddler, Nutrition, Stunting prevention