Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

The Effect of Ultrasound and Core Stability Exercise on Increasing Lower Back Functionality in Adolescents Pertiwi, Jasmine Kartiko; Ghufroni, Afif
Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan INTEREST: Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 13 Number 1 May 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/interest.v13i1.589

Abstract

Background: Myogenic low back pain is a disorder characterized by pain in the lower back. Low back pain can have an impact on impaired functional ability. Some of the factors causing functional disorders are physiological factors, poor body posture, and unergonomic work postures. Adolescents are a group that is vulnerable to experiencing functional decline in the lower back due to pain in the lower back as a result of the demands of activity during the learning process, by spending most time sitting, and having busy learning schedules, which make physical activity tend to be low, which can result in decreased lower back functionality. The aim of the study is to determine the effect of ultrasound and core stability exercise on functional abilities in sufferers of myogenic low back pain in adolescents. Methods: The research design was pre-experimental with a one-group pre-and post-test design. From a total population of around 100, after simple random sampling, 57 subjects were obtained with measurements using the Oswestry Disability Index (ODI). Results: The results of the normality test data analysis using the Kolmogorov-Smirnov test, ODI pre-test 0.072, and ODI post-test 0.157, and for hypothesis testing using the paired sample t-test P 0.000, so that there is a significant difference. Conclusion: The clinical implications could be the influence of providing ultrasound and core stability exercises on improving lower back function in adolescents. So the hypothesis is accepted.
PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE MENGGUNAKAN INSTRUMENT ASSISTED SOFT TISSUE MOBILIZATION (IASTM) TERHADAP PENINGKATAN EKSTENSIBILITAS HAMSTRING Wahyono, Yulianto; Ghufroni, Afif; Putri Juniar, Josephine Ayunda
PHYSIO MOVE JOURNAL Vol 3, No 2 (2024): Physio Move Journal
Publisher : Prodi Fisioterapi UFDK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/pmj.v3i2.3157

Abstract

Latar Belakang: mahasiswa cenderung dituntut untuk mengikuti mata kuliah dengan duduk di kelas dalam waktu yang cukup lama. Duduk dalam waktu yang lama secara berulang tanpa diimbangi olahraga rutin dapat mengakibatkan menurunnya ekstensibilitas otot khususnya hamstring. Untuk meningkatkan ekstensibilitas hamstring dapat menggunakan instrument assisted soft tissue mobilization (IASTM). Instrumen ini menghasilkan tekanan mekanik yang dapat merusak jaringan parut dan mengurangi perlengketan pada fascia sehingga ekstensibilitas otot dapat meningkat. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pemberian myofascial release menggunakan IASTM terhadap peningkatan ekstensibilitas hamstring pada mahasiswa. Metode: penelitian ini menggunakan one group with control dimana sebanyak 20 subjek dibagi menjadi kelompok perlakuan yang diberi myofascial release menggunakan IASTM terdiri dari 11 orang dan kelompok kontrol terdiri dari 9 orang. Penelitian dilakukana pada bulan September 2023. Ekstensibilitas hamstring diukur menggunakan goniometer dengan cara active knee extension test (AKE) dan diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil: berdasarkan hasil uji statistik sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan didapat hasil p = 0,016 (p<0,05) yang berarti ada beda pengaruh. Sedangkan pada kelompok kontrol didapat hasil p = 0,564 (p>0,05) yang bearti tidak ada beda. Uji beda sesudah perlakuan dilakukan pada kedua kelompok dengan hasil p = 0,012 (p<0,05) yang berarti ada beda. Kesimpulan: myofascial release menggunakan IASTM berpengaruh terhadap peningkatan ekstensibilitas hamstring.Kata kunci: Myofascial release, IASTM, ekstensibilitas hamstring
PERAN FISIOTERAPI DALAM UPAYA PREVENTIF RESIKO KEJADIAN JATUH PADA LANSIA MENGGUNAKAN TANDEM WALKING EXERCISE Ghufroni, Afif; Widiarti, Afrianti Wahyu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Fisioterapi dan Kesehatan Indonesia Vol 4 No 01 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Fisioterapi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : IFI cabang Kota Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59946/jpmfki.2025.389

Abstract

Latar belakang: lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Proses penuaan merupakan suatu proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Gangguan keseimbangan merupakan masalah yang sering ditemui pada lansia. Gangguan keseimbangan lansia dapat meningkatkan resiko jatuh dan mengakibatkan cidera. Tandem walking exercise yang dapat digunakan untuk meningkatkan keseimbangan lansia. Tujuan: tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang permasalahan dan resiko penurunan keseimbangan lansia. Serta meningkatkan skill kemampuan melalui latihan tandem walking exercise untuk meningkatkan keseimbangan lansia. Metode: metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini dengan penyuluhan dan pemberdayaan kader kesehatan. Hasil: terdapat peningkatan pemahanan dan skill masyarakat dan kader kesehatan dalam meningkatkan keseimbngan lansia menggunakan latihan tandem walking exercise. Kesimpulan: tandem walking exercise dapat diberikan kepada masyarakat dalam upaya preventive terhadap resiko jatuh lansia.
PELATIHAN NECK CAILLIET EXERCISE DALAM PENURUNAN NYERI LEHER AKIBAT MYOFASCIAL PAIN SYNDROME PADA KADER KESEHATAN DESA TOHUDAN Wahyu Widiarti, Afrianti; Ghufroni, Afif
Jurnal Pengabdian Masyarakat Fisioterapi dan Kesehatan Indonesia Vol 3 No 01 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Fisioterapi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : IFI cabang Kota Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59946/jpmfki.2024.318

Abstract

Latar belakang: Nyeri leher adalah rasa tidak nyeman atau tidak menyenangkan yang dirasakan oleh individu pada bagian leher belakang, yang menandakan bahwa otot, ligament, sendi mengalami masalah. Nyeri leher sering ditimbulkan karena posisi statis yang lama, trauma langsung atau beban berlebih pada otot menyebabkan spasme otot daerah sekitar leher seperti otot upper trapezius. Neck calliet exercise dapat mengurangi nyeri, meningkatkan luas gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan kemampuan fungsional leher. Metode Pendekatan : Penyuluhan tentang nyeri leher myofacial syndrome serta identifikasi kasus. Pelatihan penanganan nyeri leher myofacial syndrome menggunakan neck cailliet exercise pada kader kesehatan desa Tohudan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan skill keder kesehatan serta masyarakat tentang identifikasi nyeri leher myofacia syndrome dan penanganannya secara sederhana menggunakan neck cailliet exercise dalam pengurangan nyeri. Manfaat: Pengetahuan dan skill masyarakat meningkat dalam identifikasi nyeri leher myofacia syndrome dan penanganannya secara sederhana menggunakan neck cailliet exercise untuk mengurangi nyeri. Tempat dan Waktu : Di Desa Tohudan Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah pada bulan Februari s/d September 2023. Target Luaran : Para Kader kesehatan di Desa Tohudan diharapkan mampu mengidentifikasi nyeri leher myofacial syndrome dan penanganan secara sederhana nyeri leher menggunakan neck cailliet exercise serta menerapkan kepada masyarakat.
Beda Pengaruh Post Isometric Relaxation dan Stretching Exercise terhadap Penurunan Nyeri Leher Non Spesifik : Studi Kasus Ananta, Diella Khaerani; Haritsah, Nurul Fithriati; Ghufroni, Afif
Jurnal Terapi Wicara dan Bahasa Vol. 4 No. 1 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59686/jtwb.v4i1.219

Abstract

Background: Non-ergonomic work positions and monotonous postures, when maintained for extended periods, can have detrimental effects on workers, leading to muscle tension in the neck and shoulders, which may result in neck pain. Non specific neck pain refers to pain that can be provoked by static neck postures over long durations, neck movements, and tenderness upon palpation of cervical muscles without accompanying pathological conditions. Physiotherapy interventions that can be applied to reduce non-specific neck pain include post-isometric relaxation and stretching exercises. Objectives: To determine which intervention is more effective between post-isometric relaxation and stretching exercises in reducing non-specific neck pain. Methods: An experimental study with a two-group pre-and-post test design was conducted over two weeks in September 2024. Subjects were workers in a garment factory who met the inclusion criteria. A total of 52 subjects were randomly divided into two groups. Group I (n=27) received treatment through post isometric relaxation, while Group II (n=25) received treatment through stretching exercises. The Visual Analog Scale (VAS) was used to measure the reduction in neck pain. Results: Based on the results of the pre-post test statistical test of groups I and II, a value of p = 0.000 (p< 0.05) was obtained, which means that there is an effect of the pre-post test statistical test of groups I and II. For the post-test statistics of groups I and II, a value of p = 0.000 (p < 0.05) This indicates a difference in effect, with a mean difference of 26.51 in the PIR group and 14.2 in the stretching exercise group.Conclusion: Post-isometric relaxation is more effective in reducing pain in non-specific neck pain. Keywords: Non-specific neck pain, Post isometric relaxation, Stretching exercise, Visual Analogue Scale (VAS).
The Effect of Ultrasound and Core Stability Exercise on Increasing Lower Back Functionality in Adolescents Pertiwi, Jasmine Kartiko; Ghufroni, Afif
Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan INTEREST: Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 13 Number 1 May 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/interest.v13i1.589

Abstract

Background: Myogenic low back pain is a disorder characterized by pain in the lower back. Low back pain can have an impact on impaired functional ability. Some of the factors causing functional disorders are physiological factors, poor body posture, and unergonomic work postures. Adolescents are a group that is vulnerable to experiencing functional decline in the lower back due to pain in the lower back as a result of the demands of activity during the learning process, by spending most time sitting, and having busy learning schedules, which make physical activity tend to be low, which can result in decreased lower back functionality. The aim of the study is to determine the effect of ultrasound and core stability exercise on functional abilities in sufferers of myogenic low back pain in adolescents. Methods: The research design was pre-experimental with a one-group pre-and post-test design. From a total population of around 100, after simple random sampling, 57 subjects were obtained with measurements using the Oswestry Disability Index (ODI). Results: The results of the normality test data analysis using the Kolmogorov-Smirnov test, ODI pre-test 0.072, and ODI post-test 0.157, and for hypothesis testing using the paired sample t-test P 0.000, so that there is a significant difference. Conclusion: The clinical implications could be the influence of providing ultrasound and core stability exercises on improving lower back function in adolescents. So the hypothesis is accepted.
MANFAAT ULTRASOUND DAN MOBILISASI SARAF PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME: STUDI KASUS Tri Atun Solekah; Ghufroni, Afif; Kusuma, Herdianty
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 3 No. 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v3i3.84

Abstract

Latar belakang: CTS merupakan cedera akibat kompresi saraf medianus yang menyebabkan entrapment neuropati. Gejala yang sering dirasakan penderita CTS yaitu berupa nyeri menjalar yang mengenai persarafan saraf medianus pada pergelangan tangan. Selain itu penderita juga merasakan kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan setengah jari manis yang dirasakan diarea permukaan palmar tangan.Tujuan: untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada kasus CTS dengan modalitas US dan mobilisasi saraf Metode: Metode yang digunakan pada studi kasus pada pasien dengan diagnosa CTS dextra. Terapi diberikan sebanyak tiga kali dengan kombinasi modalitas US dan ULTT 1 Hasil: Hasil evaluasi didapatkan adanya penurunan nyeri dengan skala VAS pada nyeri tekan awalnya 4,3 menjadi 3,2 dan nyeri gerak awalnya 5,3 menjadi 4,5 pada sisi dextra, peningkatan lingkup gerak sendi pada bidang sagital dari T1 S: 62°-0-70° menjadi T3 S: 65°-0-75° dan pada bidang frontal dari T1 F: 16°-0-30° menjadi T3 F: 20°-0-30°, peningkatan kekuatan otot dorsal fleksi, palmar fleksi dan radial deviasi dari T1 dengan nilai 4 menjadi T3 dengan nilai 5 tetapi masih disertai nyeri, dan pengukuran kemampuan fungsional menggunakan skala WHDI dengan skor awal 28% menjadi 20% pada sisi dextra Kesimpulan: Pemberian terapi US dan ULTT 1 yang telah dilakukan sebanyak 3 kali memberikan hasil terdapat adanya penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kemampuan aktivitas fungsional pergelangan tangan.
Efektivitas Balance Exercise terhadap Keseimbangan pada Lansia Ariani, Fitri; Ghufroni, Afif; Astuti, Dwi Nur
Jurnal Nasional Fisioterapi Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64974/jnf.v4i1.99

Abstract

Latar Belakang: Gangguan keseimbangan merupakan masalah umum pada lansia yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko jatuh, penurunan kemandirian, dan kualitas hidup. Balance exercise direkomendasikan sebagai intervensi fisioterapi untuk meningkatkan kontrol postural dan mencegah risiko jatuh pada lansia. Tujuan: Mengetahui efektivitas balance exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia.. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pretest–posttest control group design. Subjek penelitian berjumlah 34 lansia yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Intervensi balance exercise diberikan selama 3 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu. Keseimbangan diukur menggunakan Berg Balance Scale (BBS) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Terdapat peningkatan skor keseimbangan yang bermakna setelah pemberian balance exercise (p < 0,05). Kesimpulan: Balance exercise efektif meningkatkan keseimbangan pada lansia dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi fisioterapi dalam program pencegahan risiko jatuh di komunitas.
UpayaPromotif dan Preventif Diabetes Melitus pada Kader Posyandu dan Masyarakat Kusumawati, Yoni Rustiana; Setiawan, Setiawan; Ghufroni, Afif; Wardani, Ulfah Eka; Utomo, Budi
Jurnal Pengabdian Olahraga Masyarakat (JPOM) Vol 7, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jpom.v7i1.27075

Abstract

Pembatasan aktivitas diluar rumah mengakibatkan penurunan kapasitas fisik masyarakat tidak terkecuali penderita diabetes mellitus. Penderita DIABETES MELITUS terbukti rentan terhadap infeksi penyakit, terutama yang disebabkan oleh bakteri dan virus yang mempengaruhi saluran nafas bawah. Dibalik mekanisme yang tidak diketahui saat ini, kadar glukosa tinggi memiliki peran yang cukup relevan berkaitan dengan komplikasi terkait diabetes kronis. Sebagaimana diketahui, kadar glukosa yang tinggi ini bertanggung jawab atas gangguan fungsi antibakteri neutrophil. Mikroangiopatik tampaknya terjadi di saluran pernapasan penderita DM, sehingga menghambat pertukaran gas di paru-paru. Beberapa laporan juga memperlihatkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap infeksi saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh mikroorganisme atipikal dan episode penumonia parah pada penderita diabetes mellitus. Untuk itu perlu adanya upaya lebih lanjut dalam mencegah kerentanan resiko bagi penderita diabetes mellitus. Metode Pendekatan: Penyuluhan dan Pemeriksaan rutin penderita diabetes mellitus. Tempat dan waktu: Di Kelurahan Tegalgiri, Nogosari, Boyolali pada bulan April – Agustus 2025. Target luaran: Termonitor kesehatan penderita diabetes mellitus.