Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Global Strategis

Papuan Nationalism Within The Framework of Indonesian Nationalism Ani Widyani Soetjipto; Muhammad Iqbal Yunazwardi
Global Strategis Vol. 15 No. 1 (2021): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.15.1.2021.25-50

Abstract

Kekerasan, diskriminasi, dan rasisme masih menjadi isu besar yang dihadapi masyarakat Papua sejak Indonesia merdeka dan bergabungnya Papua ke dalam wilayah Indonesia. Analisis fenomena ini dapat ditarik ke berbagai macam aspek. Salah satu aspek penting yang menentukan eksistensi sebuah negara adalah aspek nasionalisme. Dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi nasionalisme Papua tetap hadir dan hidup, sekalipun nasionalisme Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam menjaga pilar berbangsa dan bernegara Indonesia. Tulisan ini berusaha mendiskusikan kembali bagaimana posisi nasionalisme Indonesia terhadap masyarakat Papua dan sebaliknya. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah, apakah identitas bangsa Papua merupakan bagian dari identitas kebangsaan Indonesia? atau kepapuaan justru bagian yang terpisah dari nasionalisme Indonesia? Dengan menggunakan pisau analisis nasionalisme dari Indonesianis Benedict Anderson, artikel ini membahas bagaimana diskursus nasionalisme yang berkembang mampu menjawab tantangan nasionalisme ganda yang terjadi di Indonesia dalam isu Papua. Upaya ini juga akan mempertegas pertanyaan penting dalam penelitian ini, yaitu bagaimanakah membangun ide Papua dalam kerangka nasionalisme Indonesia.Kata-kata kunci: Nasionalisme Indonesia, Nasionalisme Papua, Benedict Anderson, Nasionalisme, identitasViolence, discrimination and racism have remained to be major issues faced by Papuans ever since the independence of Indonesia and the inclusion of Papua in Indonesia’s territory until today. This phenomenon can be seen through various aspects. One of those is the determinant aspect of a country’s existence: nationalism. Within the framework of the unitary state of the Republic of Indonesia, the existence of Papuan nationalism is undeniably still present and alive, even though Indonesian nationalism is the central one in maintaining the pillars of the Indonesian nation and state. This article discusses how Indonesian nationalism positions Papuan people, and vice versa. Furthermore, this article questions whether the Papuan identity is a part of Indonesia’s. The discussion of this article focuses on the developing nationalism discourse, in the hope to overcome the ‘double-nationalism’ in Indonesia when it comes to Papua’s issue, by using Benedict Anderson’s concept of nationalism. Finally, this article addresses a crucial question, which is how to develop the Papuan idea within the framework of Indonesian nationalism.Keywords: Indonesian Nationalism, Papuan Nationalism, Benedict Anderson, Nationalism, identity 
China’s Pragmatic Appropriation of Global South Narrative Fachrurreza, Ahmad Mujaddid; Ningsih, Sabda; Yunazwardi, Muhammad Iqbal
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.23-46

Abstract

The revival of Global South studies in International Relations signifies a major transformation in contemporary global dynamics. This article addresses the question of how China appropriates the Global South narrative and how this shift reflects both coloniality of power and heterarchy of power. Using a discourse analysis approach, the study examines official speeches, policy documents, and global initiatives such as the Belt and Road Initiative (BRI), BRICS, and the G77+China. The findings demonstrate that China employs South-South solidarity rhetoric to position itself as the leader of the Global South, yet in practice reproduces coloniality by creating new forms of dependency. Furthermore, the contemporary Global South reveals a heterarchical structure, where emerging powers such as China dominate smaller states. This indicates a shift in the meaning of the Global South: from the Bandung Spirit’s emancipatory ethos of anti-imperialism toward a pragmatic economic-political bloc driven by national interests. Thus, the revival of the Global South is paradoxical: it offers new opportunities for multipolarity among developing countries, while simultaneously undermining the emancipatory ideals of solidarity and equality that once defined the Bandung Spirit. Keywords: Global South; Bandung Spirit; China; Coloniality of Power; Heterarchy of Power Kebangkitan kembali kajian Global South dalam studi Hubungan Internasional menandai transformasi penting dalam dinamika global kontemporer. Artikel ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana China mengapropriasi wacana Global South dan bagaimana pergeseran makna ini mencerminkan kolonialitas dan heterarki kuasa. Dengan menggunakan metode analisis wacana, penelitian ini menelaah pidato resmi, dokumen kebijakan, serta inisiatif global seperti Belt and Road Initiative (BRI), BRICS, dan G77+China. Temuan pada penelitian menunjukkan bahwa China menggunakan retorika solidaritas selatan untuk memosisikan dirinya sebagai pemimpin Global South, namun praktiknya mereproduksi logika kolonialitas dengan menciptakan relasi ketergantungan baru. Selain itu, Global South kontemporer memperlihatkan struktur heterarki emerging powers seperti China menempati posisi dominan atas negara-negara kecil. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran makna Global South: dari spirit emansipatoris Bandung yang menolak imperialisme, menuju blok ekonomi-politik pragmatis yang sarat kepentingan nasional China. Dengan demikian, kebangkitan Global South bersifat paradoksal: membuka ruang multipolaritas baru bagi negara-negara berkembang, tetapi sekaligus mengikis nilai-nilai emansipasi dan kesetaraan yang menjadi fondasi Bandung Spirit. Kata-kata Kunci: Global South; Bandung Spirit; China; Kolonialitas Kekuasaan; Heterarki Kekuasaan