Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Perubahan Upacara Sayur matua pada Masyarakat Simalungun di Desa Saribu Dolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun Situmorang, Daniel Adjinegara; Hutajulu, Rithaony; Gulo, Hubari
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 8, No 2 (2025): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jehss.v8i2.2853

Abstract

This study aims to analyze changes in the implementation of the Sayur Matua death ceremony in the Simalungun community in Saribu Dolok Village, Silimakuta District, Simalungun Regency. The method used is a qualitative approach with an in-depth interview technique with one key informant, namely Mr. Simarmata, a community leader who understands local traditions. The results of the study show that the implementation of the Sayur Matua ceremony has undergone various changes, both in terms of structure, symbols, and meaning. These changes are influenced by several main factors, including modernization, the entry of foreign culture, and shifts in social values among the younger generation. Traditional elements such as Gonrang Sipitu-pitu are still retained, although in a simpler form and not as complete as before. These findings show that there is a dynamic between cultural preservation and the need to adapt to the times. This research is expected to be a contribution to the study of local culture, as well as a consideration in efforts to preserve intangible cultural heritage, especially in the context of the Simalungun indigenous people.
Pelestarian Seni Jaran Kepang oleh Sanggar Wahyu Satrio Putro di Kota Binjai Tarigan, Yohana Amerisa Br; Dewi, Heristina; Gulo, Hubari
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.938

Abstract

This study examines the preservation of the Jaran Kepang art form by Sanggar Wahyu Satrio Putro in Binjai City using a qualitative approach. The objectives of the research include: (1) adaptation and innovation without compromising traditional values, and (2) passing down Jaran Kepang to younger generations. Jaran Kepang is a traditional Javanese art that portrays the skills of horseback warriors through dynamic and captivating dance movements, accompanied by gamelan music. Although this art form has existed since the Majapahit Kingdom, its development outside Java, including in Binjai City, North Sumatra, reflects a cultural transformation. The study applies a qualitative method through non-participant observation, interviews, video recordings, and audio documentation. The findings reveal that the preservation of Jaran Kepang by Sanggar Wahyu Satrio Putro is not merely an act of safeguarding cultural heritage, but also a strategic effort to maintain the relevance of traditional arts in the era of globalization.
Representasi Iman dan Budaya dalam Jalan Salib dan Jumat Agung di GKPA Sibadoar Sinaga, Ester; Fadlin, Fadlin; Gulo, Hubari
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.933

Abstract

This study examines the representation of faith and culture in the celebration of the Stations of the Cross and Good Friday at GKPA Sibadoar, Sipirok District, South Tapanuli Regency. Good Friday is an important day for Christians to commemorate the crucifixion and death of Jesus Christ. This research aims to describe the manifestation of faith and culture in the Good Friday worship and the Stations of the Cross performance at GKPA Sibadoar. The study uses a qualitative approach with Koentjaraningrat’s Religious Ceremony Theory to analyze the worship, and Milton Singer’s Theory to describe the cultural performance. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and audio-video documentation. The results show that the Good Friday service at GKPA Sibadoar is conducted solemnly and simply, emphasizing Scripture readings, prayers, and reflections on Christ’s suffering, thus strengthening the congregation’s solidarity. The theatrical performance of the Stations of the Cross involving church youth serves as a medium for transmitting faith and expressing local culture. Furthermore, the hymns sung during worship feature strophic melodic patterns, predominantly stepwise intervals, and hanging contours that support the contemplative atmosphere. This study reveals a harmonious integration between religious and cultural values in the celebration of the Stations of the Cross and Good Friday at GKPA Sibadoar, which strengthens the congregation’s faith while preserving local culture
KOSMOLOGI BUNYI : SIMBOLISME TRILOGI BANUA DALAM ENSAMBEL GONDANG SIPOTANG PADA MASYARAKAT PARBARINGIN Roventus Simamora, Swingly; Rithaony, Rithaony; Gulo, Hubari
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 2 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i2.2026.655-660

Abstract

Musik dalam tradisi kepercayaan Batak Toba tidak sekadar berfungsi sebagai estetika hiburan, melainkan sebagai teknologi spiritual yang memetakan tatanan alam semesta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbolisme kosmologis dalam ensambel Gondang Sapotang yang digunakan pada ritual Ulaon Gondang Saborginoleh komunitas Parbaringin Isumbaon di Desa Lobu Rappa, Kabupaten Asahan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi, penelitian ini membedah struktur organologi dan pola musikal berdasarkan konsep "Trilogi Banua" (Tiga Dunia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gondang Sapotang berfungsi sebagai "kosmogram bunyi" yang merepresentasikan struktur mikrokosmos dan makrokosmos. Secara spesifik, bunyi Ogung yang siklis merepresentasikan Banua Toru (Dunia Bawah) sebagai fondasi bumi, ritme Tagading merepresentasikan dinamika Banua Tonga (Dunia Tengah/Manusia), dan melodi Sarunemerepresentasikan suara Banua Ginjang (Dunia Atas/Ilahi). Selain itu, ditemukan adanya eskalasi tempo (accelerando) dalam repertoar yang menyimbolkan pendakian spiritual untuk mencapai transendensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi penganut Parbaringin, memainkan musik adalah upaya merawat keseimbangan kosmis dan harmonisasi hubungan antara manusia, alam, dan pencipta.
Makna Teks Nyanyian Liturgis Chanting Passio di Gereja Katolik Kabanjahe Resdina Juita Aritonang; Torang Naiborhu; Hubari Gulo
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.934

Abstract

Penelitian ini mengkaji Tentang Tujuan penelitian ini antara lain untuk (1) Mendeskripsikan jalannya ibadah Jumat Agung di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Kabanjahe, (2) Menganalisis makna teks. Bagi Gereja Katolik nyanyian ini merupakan sebuah nyanyian yang ikonik karena dibawakan setiap perayaan Jumat Agung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jalannya ibadah Jumat Agung menggunakan teori Upacara Keagamaan Koentjaraningrat makna teks nyanyian Chanting Passio menggunakan teori Analisis Makna Teks oleh Ferdinan de Sausere dan teori Analisis Struktur Melodi oleh Bruno Nettl untuk menganalisis struktur melodi lagu Chanting Passio di Paroki Santa Perawan Maria. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pengamatan, wawancara, serta merekam dalam format audio dan video. Hasil dari penelitian ini menunjukkan  bahwa Penyajian ibadah Jumat Agung di Gereja Katolik Kabanjahe dilaksanakan dengan khidmat dan sederhana. Pada saat ibadah, pelantunan Chanting Passio merupakan liturgi inti yang menceritakan Kisah Sengsara Yesus Kristus. Berfungsi sebagai media yang menghantar umat untuk masuk dalam penderitaan Yesus Kristus. Selain itu, lagu-lagu yang dinyanyikan dalam kebaktian menunjukkan makna teks dan struktur melodi, yang secara musikal mendukung suasana duka dalam ibadah. Hal ini menunjukkan perpaduan harmonis antara nilai keagamaan dan budaya dalam kehidupan umat Katolik.
Pembentukan Identitas Budaya Remaja Melalui Komunitas Dance Cover DreamWalker di Medan Cahyani Indah Ramadhani; Heristina Dewi; Hubari Gulo
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.939

Abstract

Budaya populer Korea (K-Pop) telah membentuk berbagai praktik budaya remaja di Indonesia, salah satunya melalui komunitas dance cover. DreamWalker adalah komunitas dance cover K-Pop di Kota Medan yang menjadi ruang ekspresi dan interaksi sosial bagi remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan reduksi data, penyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DreamWalker menjadi medium pembentukan identitas budaya remaja melalui representasi tubuh, ekspresi emosional, serta negosiasi nilai global dan lokal. Identitas terbentuk melalui unsur wiraga (teknik), wirama (keselarasan), dan wirasa (emosi) dalam praktik tari, serta diperkuat melalui pengalaman kolektif fan performa budaya. DreamWalker berperan sebagai agen budaya yang memfasilitasi pembentukan identitas hibrida remaja dalam konteks globalisasi, dengan menggabungkan simbol K-Pop dan nilai lokal Kota Medan melalui praktik pertunjukan yang reflektif. 
Makna Denotatif dan Konotatif Pantun Lagu Tanjung Katung Nayla Nayla Azzahra; Rithaony Hutajulu; Hubari Gulo
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.1144

Abstract

This study examines the meaning of pantun texts in the song Tanjung Katung performed by Orkes Melayu Lebah Begantong. It aims to identify and analyze denotative and connotative meanings and to understand their function in performance contexts. The study employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach using observation, interviews, and documentation. Data analysis is based on Ferdinand de Saussure’s semiotic theory. The findings reveal that denotatively, pantun depict daily life, nature, and social situations, while connotatively, they express symbolic meanings such as gratitude, respect, humor, and social interaction. The improvisational delivery makes meanings dynamic and context-dependent. Thus, pantun functions not only as aesthetic elements but also as a medium of social communication, reflecting Malay cultural values.
Inovasi Metode Pembelajaran Sulim Batak Toba Terhadap Para Penyandang Disabilitas Netra di Panti Asuhan Karya Murni Medan Agustinus Tamsar; Fadlin Fadlin; Hubari Gulo
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.945

Abstract

Penelitian ini mengkaji inovasi dan kreatifitas seorang guru musik tunanetera dalam memberikan metode pembelajaran Sulim Batak Toba terhadap para penyandang disabilitas netra di kota medan Jl. Karya Wisata No 06 medan Johor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data observasi lapangan, studi Pustaka, dan wawancara narasumber bersmaa saudara Yohanes Dirja Berutu, S.Sn. Teori yang digunakan adalah teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Sumiati dan Asra, serta teori Learning bye  musik  yang di kemukakan oleh E Edwin Gordon. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa inovasi dari guru musik di Panti Asuhan Karya Murni terdapat pada konsep pelaksanaan pembelajaran yang dibagi menjadi lima fase yakni: fase perkenalan instrumen musik, fase teknik dasar permainan, fase memainkan lagu, fase improvisasi, dan fase finishing, yang dikombinasikan dengan empat metode pembelajaran yakni: metode ceramah, medemonstrasi, penugasan, dan metode kooperatif. Sedangkan kreatifitasnya terdapat pada metode kontemporer yang belum pernah diterapkan oleh guru musik lain yakni dengan memanfaatkan kemasan botol aqua yang sudah kosong ketika belajar meniup Sulim Batak Toba.Kata Kunci: Metode Belajar Sulim, Disabilitas Netra, Inovasi Guru Musik
Representasi Identitas Budaya Nias melalui Analisis Musikal dan Lirik Lagu Populer Ciptaan Man Harefa Kristiyani Feranola Laia; Heristina Dewi; Hubari Gulo
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.949

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur musikal dan makna tekstual tiga lagu populer Nias ciptaan Man Harefa, yaitu Tano Niha Ni’omasioda, Hulo Omasio, dan Yae Wangandorogu. Lagu-lagu ini dipilih karena merepresentasikan identitas budaya dan nilai spiritual masyarakat Nias, baik di kampung halaman maupun di perantauan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis dan semiotik. Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap rekaman lagu, transkripsi notasi musik, wawancara dengan narasumber utama, serta penyebaran kuesioner kepada masyarakat Nias. Analisis musikal dilakukan berdasarkan teori struktur melodi William P. Malm, sedangkan analisis makna lirik menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga lagu memiliki struktur melodi yang sederhana namun ekspresif, dengan pola kontur naik-turun yang mencerminkan nuansa emosional. Secara tekstual, lirik lagu memuat simbolisme lokal yang kuat dan mengangkat tema cinta tanah air, kerinduan, serta harapan spiritual. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa lagu-lagu Man Harefa tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya, penguatan identitas, dan refleksi nilai-nilai sosial masyarakat Nias.
Kajian Etnomusikologis terhadap Fungsi Sosial dan Budaya Sigu lewuö pada Masyarakat Nias Hubari Gulo; Yeni Cecilia Fa’omasi Hulu; Agnesti Sinaga
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/mebang.v6i1.231

Abstract

This study examines the social and cultural functions of sigu lewuö, a traditional bamboo flute of the Nias community, through an ethnomusicological approach. The research was conducted in Gunungsitoli and South Nias using qualitative methods, including observation, in-depth interviews with local musicians and community leaders, and literature review. The findings reveal that sigu lewuö has experienced a significant transformation in both meaning and function within contemporary Nias society. Originally associated with mourning rituals and ceremonial contexts, the instrument is now widely used as a medium of entertainment, artistic performance, and cultural preservation. In addition, sigu lewuö serves as an accompaniment to traditional songs, a form of artistic expression, and a symbol of ethnic identity among younger generations. This transformation reflects the adaptive strategies of the Nias community in maintaining and revitalizing traditional cultural practices amid ongoing social, cultural, and technological changes.