Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

EVALUASI PEMANFAATAN LAHAN DAN TATA BANGUNAN PADA SUB KAWASAN HARMONI, JAKARTA PUSAT Suteja, Mekar Sari; Ariaji, Priscilla Epifania; Thessalonia M., Sharon Esther; Pranata, Lidya Zoraya; Susanto, Alvina Daniella
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (IN PRESS)
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/v86yv942

Abstract

Kawasan Harmoni merupakan salah satu kawasan strategis di Jakarta Pusat yang mengalami transformasi signifikan dalam aspek pemanfaatan lahan dan penataan bangunan, terutama setelah diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) No. 31 Tahun 2022 sebagai pengganti Peraturan Daerah (Perda) No. 1 Tahun 2014. Penelitian ini bertujuan agar dapat menganalisis dinamika perubahan fungsi lahan dan bentuk bangunan di Kawasan Harmoni, serta mengkaji relevansi dan urgensi penyusunan Panduan Rancang Kota (PRK) sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yang adaptif terhadap perkembangan perkotaan. Penelitian dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur, pengamatan di lapangan, dan analisis kebijakan spasial. Fokus kajian diarahkan pada zona perencanaan P1 dan P2 yang menjadi representasi area dengan potensi perubahan tertinggi akibat pengaruh pembangunan infrastruktur strategis seperti MRT fase 2 serta pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran fungsi lahan dari hunian menuju komersial yang signifikan, serta perubahan bentuk, massa, dan skala bangunan yang cenderung berkembang secara vertikal dan padat. Transformasi ini terjadi dalam rentang waktu antara implementasi Perda No. 1 Tahun 2014 hingga diberlakukannya Pergub No. 31 Tahun 2022. Temuan tersebut memberikan kontribusi penting sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kebijakan tata ruang dan rancang kota di Kawasan Harmoni, yang diharapkan dapat dituangkan dalam penyusunan Panduan Rancang Kota Kawasan Harmoni guna mendukung pengendalian pemanfaatan ruang yang berkelanjutan dan responsif terhadap dinamika perkotaan.
PENERAPAN KONSEP CO LIVING PERMACULTURE DALAM REDESAIN RUSUN HARUM TEBET Jiu, Brian Putra; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37064

Abstract

The Tebet subdistrict is a densely populated residential area with a population density of 20,000 people per km², driving high demand for vertical housing. The Harum Tebet public housing complex, established in 1997 for low-income communities, now faces challenges in the form of building degradation, minimal communal spaces that create isolation, and a lack of green areas. This study aims to redesign the flats by responding to the lack of effective space to increase social interaction and green open space (RTH) through a conceptual approach of Co-Living and permaculture. The research method uses surveys and observations to identify residents' needs. The analysis results show that the site has significant open space potential that can be converted into a productive landscape. This allows for the implementation of vertical farming, communal gardens, and composting and rainwater management systems without drastic structural changes. This redesign is expected to create an eco-communal housing model that improves space quality, social interaction, and environmental sustainability, thereby setting a relevant precedent for the revitalization of other similar flats. Keywords: Co-Living; communal space; permaculture; public housing; regenerative architecture Abstrak Kecamatan Tebet merupakan kawasan residensial padat dengan tingkat kepadatan mencapai 20.000 jiwa per km² , mendorong tingginya permintaan hunian vertikal. Rusunawa Harum Tebet, didirikan pada tahun 1997 untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) , kini menghadapi tantangan berupa degradasi bangunan , ruang komunal minim yang menciptakan keterasingan , serta kurangnya area hijau. Studi ini bertujuan untuk meredesain rusun dengan merespons kurangnya efektivitas ruang untuk meningkatkan interaksi sosial serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) melalui pendekatan konseptual Co-Living dan permakultur. Metode penelitian menggunakan survei dan observasi untuk mengidentifikasi kebutuhan warga. Hasil analisis menunjukkan bahwa tapak memiliki potensi ruang terbuka signifikan yang dapat diubah menjadi lanskap produktif. Hal ini memungkinkan implementasi vertical farming, kebun komunal, dan sistem pengelolaan kompos serta air hujan tanpa perubahan struktur drastis. Redesain ini diharapkan dapat menciptakan model hunian eko-komunal yang meningkatkan kualitas ruang, interaksi sosial, dan keberlanjutan lingkungan , sehingga dapat menjadi preseden relevan untuk revitalisasi rusun serupa lainnya.
PENDEKATAN DESAIN REGENERATIF PADA FASILITAS PENGELOLAAN AIR SEBAGAI URBAN EDU ECO TOURISM DI WADUK SUNTER BARAT Natasya, Angelita; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37065

Abstract

West Sunter Reservoir plays a vital role as flood control infrastructure and a blue open space in North Jakarta. However, this area is experiencing significant ecological degradation due to domestic wastewater pollution and urbanization pressures, which limit its function as a provider of clean water and a viable public space. Conventional architectural approaches focusing solely on mitigating negative impacts are deemed insufficient to address the complexity of this ecosystem damage; strategies capable of restoring (regenerating) natural systems while reviving social interactions are required. This research aims to formulate a design for a water management facility based on urban edu-eco tourism by integrating two theoretical approaches: regenerative architecture and landscape urbanism. The research employs a qualitative descriptive method, which includes in-depth site analysis regarding water quality and spatial conditions, literature studies, and design synthesis. The design results demonstrate that regenerative architecture principles can be implemented through building systems that actively purify water using natural technologies such as floating treatment wetlands, constructed wetlands, and green roofs. Meanwhile, the landscape urbanism approach serves to blur the boundaries between building mass and the landscape through organic pedestrian circulation and publicly accessible green roofs. The integration of these two approaches yields a hybrid infrastructure typology that not only restores the water quality of West Sunter Reservoir but also functions as an environmental education facility, strengthening the relationship between urban society and its water ecosystem. Keywords:  landscape urbanism; regenerative architecture; Sunter Barat Reservoir; urban edu-eco tourism; water treatment Abstrak Waduk Sunter Barat memegang peranan vital sebagai infrastruktur pengendali banjir dan ruang terbuka biru di Jakarta Utara. Namun, kawasan ini mengalami degradasi ekologis signifikan akibat pencemaran air limbah domestik dan tekanan urbanisasi yang membatasi fungsinya sebagai penyedia air bersih maupun ruang publik yang layak. Pendekatan arsitektur konvensional yang hanya berfokus pada mitigasi dampak negatif dinilai tidak lagi cukup untuk mengatasi kompleksitas kerusakan ekosistem tersebut; diperlukan strategi yang mampu memulihkan (regenerasi) sistem alam sekaligus menghidupkan kembali interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan merumuskan desain fasilitas pengelolaan air berbasis urban edu-eco tourism dengan mengintegrasikan dua pendekatan teoritis: arsitektur regeneratif dan landscape urbanism. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif yang meliputi analisis tapak mendalam terhadap kualitas air dan kondisi spasial, studi literatur, serta sintesis desain. Hasil perancangan menunjukkan bahwa prinsip arsitektur regeneratif dapat diimplementasikan melalui sistem bangunan yang bekerja aktif membersihkan air menggunakan teknologi alami seperti floating treatment wetland, constructed wetland, dan green roof. Sementara itu, pendekatan landscape urbanism berperan dalam meleburkan batas antara massa bangunan dan lanskap melalui sirkulasi pedestrian yang organik dan atap hijau yang dapat diakses publik. Integrasi kedua pendekatan ini menghasilkan tipologi bangunan infrastruktur hibrida yang tidak hanya memulihkan kualitas air Waduk Sunter Barat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang memperkuat hubungan antara masyarakat urban dan ekosistem airnya.