Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Nationalism of Santri Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta : Nasionalisme Santri Muallimin Muhammadiyah Yogakarta Barakah, Fadlan; Ikromatoun, Siti; Amin, Khairul; Halik; Nusuary, Firdaus Mirza
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 9 No 2 (2023)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.9.2.203-218

Abstract

Nasionalisme adalah syarat penting bagi warga negara untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara, termasuk di Indonesia. Masa depan Indonesia sebagai bangsa juga bergantung pada generasi muda, salah satunya adalah santri Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Artikel ini mengkaji pandangan nasionalisme santri Muallimin, yang merupakan sekolah kader Muhammadiyah. Di masa depan, santri Muallimin akan menduduki posisi-posisi penting di Muhammadiyah dari tingkat ranting sampai pusat. Metode yang digunakan adalah fenomenologi, yaitu metode yang berbasis pada pengalaman subjektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri Muallimin memiliki pemahaman nasionalisme yang baik, yang berasal dari pemahaman mandiri mereka dan pelajaran agama Islam yang mereka peroleh di Muallimin. Santri Muallimin dapat menjelaskan konsep nasionalisme dan dasar-dasar ajaran islam dalam pandangan nasionalisme mereka. Nasionalisme santri Muallimin adalah nasionalisme religius, yaitu nasionalisme yang diperkuat oleh ajaran islam yang santri Muallimin dapatkan dari proses pembelajaran di Muallimin.
Manifest, Latent, and Dysfunctional Roles of Tuha Peut in Family Conflict Resolution: A Case Study from Gampong Reudeup, Aceh, Indonesia Nusuary, Firdaus Mirza; Zikriah, Zikriah
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 3 No. 2 (2024): July-December
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sinthop.v3i2.7504

Abstract

This study investigates the role of Tuha Peut in resolving family conflicts in Gampong Reudeup, Panteraja Subdistrict, Pidie Jaya District, within the framework of Robert K. Merton’s structural-functional theory. As a customary institution at the village level, Tuha Peut is formally mandated to maintain social order through deliberation, mediation, and legal oversight. Using a qualitative case study approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and document analysis. Thematic analysis was conducted to identify the manifest, latent, and dysfunctional roles of Tuha Peut in conflict resolution. The findings reveal that Tuha Peut performs manifest functions as a mediator and decision-maker in resolving domestic disputes, while its latent functions include reinforcing communal values and informal cohesion mechanisms. However, the study also identifies structural dysfunctions, particularly related to gender representation. Several female informants expressed discomfort engaging with Tuha Peut directly, often relying instead on informal female figures such as Ibu Ros to mediate access. This phenomenon suggests a gap between formal institutional structures and the lived experiences of community members. The study concludes that while Tuha Peut contributes significantly to social stability, its legitimacy and effectiveness are contingent upon its capacity to evolve. Institutional reforms—especially gender inclusion and the recognition of informal mediators—are essential to ensuring that Tuha Peut fulfills not only its legal mandate but also its social responsibilities in an inclusive and representative manner.
Hijaber Vapers di Kota Syariat: Identitas, Stigma, dan Simbol Sosial Barakah, Fadlan; Almunawar, Zacky; Nisak, Cut Lusi Chairun; Nusuary, Firdaus Mirza; Fatia, Dara
Regalia: Jurnal Riset Gender dan Anak Vol 4 No 1 (2025): Juli, 2025
Publisher : Pusat Penelitian Pemberdayaan Perempuan, Gender, dan Anak UMRAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jga.v3i2.7126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi diri perempuan berhijab pengguna vape (hijaber vapers) di Kota Banda Aceh dalam konteks sosial yang sarat nilai religius dan norma patriarkal. Fenomena ini menarik karena memperlihatkan ketegangan simbolik antara citra religius yang melekat pada hijab dan gaya hidup modern yang diasosiasikan dengan penggunaan vape. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan teori interaksi simbolik dari George Herbert Mead sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap perempuan berhijab berusia 18–25 tahun yang aktif menggunakan vape. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hijaber vapers memaknai vaping sebagai ekspresi kebebasan, pencitraan diri, dan bentuk resistensi simbolik terhadap ekspektasi sosial. Meskipun menghadapi stigma dan tekanan sosial, mereka menegosiasikan identitasnya melalui pemisahan makna antara religiusitas dan gaya hidup personal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa representasi diri hijaber vapers dibentuk dalam ruang tarik-menarik antara agensi individu dan kontrol sosial, sekaligus membuka ruang baru bagi redefinisi identitas perempuan dalam masyarakat religius.
Habitus dan Modal Sosial dalam Pengelolaan BUMG Blang Krueng Kota Banda Aceh Rizki, Muhammad; Khairulyadi, Khairulyadi; Nusuary, Firdaus Mirza
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.32587

Abstract

This study aims to analyze how habitus and social capital contribute to the success of BUMG Blang Krueng as a business unit, enabling it to achieve the title of the best BUMG at the national level in 2016. This study utilizes qualitative research methods. The data in this article were collected through observation, interviews, and documentation. The study indicates that there is a relationship between structure and agency in BUMG management. BUMG managers demonstrate creative habitus in planning, democratic habitus in organizing, sympathetic habitus in actuating, and firmness in controlling. In terms of social capital, BUMG Blang Krueng has established good relationships with universities, namely USK and UIN Ar-Raniry. This study confirms that habitus has an influence on various management functions and that social capital plays a significant role in the success of BUMG management.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana habitus dan modal sosial berkontribusi terhadap kesuksesan BUMG Blang Krueng sehingga dapat meraih gelar sebagai BUMG terbaik di tingkat nasional pada tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data dalam artikel ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kajian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara struktur dan agen dalam manajemen BUMG. Manajer BUMG menunjukkan Habitus kreatif dalam perencanaan (planning), Habitus demokratis dalam pengorganisasian (organizing), Habitus simpatik dalam penggerakan (actuating), dan ketegasan dalam pengendalian (controlling). Dalam hal modal sosial, BUMG Blang Krueng menjalin hubungan yang baik dengan universitas, yaitu USK dan UIN Ar-Raniry. Kajian ini menegaskan bahwa habitus memiliki pengaruh dalam berbagai fungsi manajemen dan modal sosial berperan peting dalam kesuksesan pengelolaan BUMG.
Analisis Tindakan Sosial Orang Tua Terhadap Penetapan Mahar Yani, Putri; Nurdin, Ibnu Phonna; Zulfan, Zulfan; Nusuary, Firdaus Mirza; Bukhari, Bukhari
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/05vz8b08

Abstract

Acehnese wedding traditions place the dowry or jeulame as a symbol of honor, self-respect, and a form of responsibility from the man to the woman. However, in Gampong Ladang Tuha 1, there are no customary rules that specifically regulate the value of the dowry, so its determination is more influenced by family customs, social status, and the education level of the prospective bride. On the other hand, the annual surge in gold prices and differences in community economic conditions create a dilemma between following family customs, unwritten standards in society, or adapting to current social and economic conditions. This study aims to analyze the types of social actions of parents in determining the dowry in Gampong Ladang Tuha I based on Max Weber's theory of social action, which divides actions into four types: instrumental rationality actions, value-based actions, affective actions, and traditional actions. The research method used is a qualitative case study approach. Data were obtained through in-depth interviews, observation, and documentation techniques with ten informants, consisting of the Keuchik, four parents, and six young couples. The results show that there is a diversity of types of social actions of parents in determining the dowry. Some parents exhibit instrumental rationality, for example, setting a dowry based on the family's economic situation. Others base their actions on value rationality, such as setting a dowry based on educational background or religious values. Affective behavior is seen in parents who set a low dowry out of affection for their future daughter-in-law, while traditional behavior occurs when parents follow family customs without considering the family's economic situation.