Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PEMBANGUNAN SOSIAL UNTUK KETAHANAN AIR DI DESA PULAU MARINGKIK KECAMATAN KERUAK KABUPATEN LOMBOK TIMUR SUPRATMAN, SUPRATMAN; ILHAMALIMY , RIDHO RAFQI; SEPTIKA, BAIQ HERDINA; WULANDARI, YAYANG ERRY
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v4i4.4126

Abstract

Pulau Maringkik Village, with an area of about 45 hectares, is located in the middle of the Indian Ocean, 4 km from the mainland of Lombok Island. This village faces serious challenges, including water and food shortages, as well as high disaster vulnerability due to natural factors such as coastal abrasion, climate change, and the threat of high tides from the Alas Strait and the Indian Ocean. This research aims to analyze social development to increase water security in the village. The approach used is a qualitative method with data collection through interviews, observations, and documentation, as well as data analysis through reduction, presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that the people of Pulau Maringkik Village have succeeded in creating innovations that are suitable for their geographical and social context, which allows them to survive despite facing water limitations. In addition, the response from the local government of East Lombok Regency and the village government of Pulau Maringkik Village showed a commitment to reduce its vulnerability to water shortage disasters. However, these efforts have not been maximized and still require continuous monitoring, evaluation, and support involving various stakeholders. The study concludes that stronger collaboration between the community and the government is critical in improving water security in Maringkik Island Village and reducing its vulnerability to disasters. ABSTRAKDesa Pulau Maringkik, dengan luas sekitar 45 hektar, terletak di tengah laut Samudra Hindia, berjarak 4 km dari daratan Pulau Lombok. Desa ini menghadapi tantangan serius, termasuk keterbatasan air dan pangan, serta kerentanan bencana yang tinggi akibat faktor alam seperti abrasi pantai, perubahan iklim, dan ancaman air pasang dari Selat Alas dan Samudra Hindia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembangunan sosial untuk meningkatkan ketahanan air di desa tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta analisis data melalui reduksi data, penyajian data (display data), dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pulau Maringkik berhasil menciptakan inovasi yang sesuai dengan konteks geografis dan sosial mereka, yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup meskipun menghadapi keterbatasan air. Selain itu, respon dari pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur dan pemerintahan desa Pulau Maringkik menunjukkan komitmen untuk mengurangi kerentanannya terhadap bencana kekurangan air. Meskipun demikian, upaya ini belum maksimal dan masih memerlukan pengawasan, evaluasi, serta dukungan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi yang lebih kuat antara masyarakat dan pemerintah sangat penting dalam meningkatkan ketahanan air di Desa Pulau Maringkik dan mengurangi kerentanannya terhadap bencana.
Pembekalan Magang Program MBKM Bagi Mahasiswa Program Studi Manajemen Tentang Etika Dalam Interaksi Sosial Sukarni, Sri; Wulandari, Yayang Erry; Kartikaningrum, Sari; Aryani, Menik
Bakti Sekawan : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/bakwan.v5i1.767

Abstract

Program magang sebagai proses pembelajaran yang membekali mahasiswa dengan pengalaman kerja atau praktik secara langsung dan melatih mahasiswa untuk memiliki pengetahuan spesifik terhadap bidang keahlian tertentu yang sesuai dengan minat dan kondisi serta situasi di dunia kerja secara nyata. Dalam lingkungan kerja, seseorang diharapkan mempunyai etika yang merupakan serangkaian nilai atau norma yang dipegang erat oleh setiap orang. Beberapa mahasiswa mungkin belum memahami sepenuhnya prinsip-prinsip etika dalam interaksi sosial, terutama dalam konteks profesional di tempat kerja. Oleh karena itu pembekalan magang bagi mahasiswa Program Studi Manajemen dengan memberikan materi tentang Etika dalam Interaksi Sosial perlu dilaksanakan. Metode pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap persiapan, disiapkan materi yang berkaitan dengan tema. Pada tahap pelaksanaan, para pelaksana menyampaiakn materi tentang Etika dalam Interaksi Sosial. Pada tahap evaluasi, pelaksana  memberikan sesi tanya-jawab untuk mengetahui pemahaman mereka tentang materi yang telah disampaikan dan hasil jawaban mereka dianalisis. Hasil dari pembekalan ini menunjukkan bahwa pembekalan magang tentang Etika dalam Interaksi Sosial penting karena memberikan pemahaman perilaku yang sesuai dalam lingkungan kerja, serta membantu membangun hubungan yang baik dengan rekan kerja. Disamping itu, membantu mahasiswa untuk sukses dalam pekerjaan dan karier mereka di masa yang akan datang melalui komunikasi yang efektif dan perilaku yang etis. Dapat disimpulkan bahwa melalui pembekalan magang mahasiswa Program Studi Manajemen tentang Etika dalam Interaksi Sosial adalah mahasiswa magang memiliki pengetahuan tentang Etika dalam berinteraksi di tempat magang.
Empowering MSMEs through English Learning Training to Improve Digital Communication Competence Setianingsih, Tri; Imansyah, Imansyah; Kamarudin, Kamarudin; Wulandari, Yayang Erry; Utama, I Made Permadi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/zckzw465

Abstract

The limited English proficiency of most Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) became the background for this community service program. This activity aims to improve the quality of human resources, particularly in mastering English as a global language as well as digital communication competence, among young MSME entrepreneurs. Jatisela Village, located in Gunungsari District, is a developing area with many MSME players and is close to Senggigi Beach, a well-known tourist destination visited by both domestic and international tourists. Unlike conventional language training, this program combines LSP-based English learning with peer mentoring and digital artifact production to address the specific needs of rural MSMEs. The implementation involved several stages, including surveys, task distribution, execution, and monitoring. The activities included material sharing, practice sessions, and discussions. A pre-test was conducted before the training, and a post-test afterward to measure participants’ progress. Continuous monitoring was carried out by the team. The pre-test results showed that only 30% of the 20 participating MSME entrepreneurs were able to communicate in English, both orally and in writing, with foreign tourists, while 70% were unable to do so.The training employed a diffusion method focused on English conversation for buying and selling offers to improve digital marketing skills. The sessions combined lectures, question-and-answer discussions, hands-on practice, and finally, a post-test and evaluation. The post-test results showed an improvement of 40%, with 70% of participants becoming more confident and capable of communicating in English both orally and in writing, while 30% still required further guidance. The evaluation results indicated that nearly 100% of participants were satisfied with the program.