Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Decision of Implementing Uzlah and Gerbat Techniques in Islamic Boarding School as Preparedness Response for Covid-19 Pandemic Arifin, Samsul; Zaini, Akhmad
Unnes Journal of Public Health Vol 9 No 2 (2020): Unnes Journal of Public Health
Publisher : Universitas Negeri Semarang (UNNES) in cooperation with Association of Indonesian Public Health Experts (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ujph.v9i2.38107

Abstract

The purpose of this study is to describe the decision making and implementation of the uzlah and gerbat techniques by the Salafiyah Syafi'iyah Islamic Boarding School from Sukorejo Situbondo as an educational institution supported by 12,247 boarding students, for preventing Covid-19 transmission. This was a qualitative research using ethnography and hermeneutics data analysis. The outcome was to consider the decision to apply the uzlah and gerbat techniques, because both techniques are historical, theological, and follow the government's recommendations in deciding the distribution of Covid-19. While the implementation, among others: 1) uzlah technique: students are expelled from the Islamic boarding school complex and activated by outsiders. 2) gerbat technique, namely the reading of prayers to avoid a plague. In approving the transmission of Covid-19, Islamic boarding schools balance the technique of uzlah and gerbat, harmonize the lahiriyah (visible) and batiniyah (invisible) approaches.
FAMILY-BASED CORRUPTION PREVENTION THROUGH PESANTREN VALUES Arifin, Samsul; Baharun, Mokhammad; Saputra, Rahmat
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i1.11657

Abstract

Pesantren (Islamic boarding school) has a great potential for family-based corruption prevention. This study aims to determine the values of pesantren and portraits of sakinah family personalities in the texts of “Zadu Az-Zaujayn” and “Syair Madura” in relation to the prevention of corruption. It uses an ethnographic-hermeneutic qualitative approach. The research concludes that the value of pesantren associated with the prevention of corruption lies in the expression "Mondhuk entar ngabdi bhen ngaji (the intention of going to pesantren is to learn and to serve)" and “Mon ngecok jerum e pondok mon mole ka romana ngecok jheren (if you steal a needle in pesantren, you will steal a horse once you get back home)". Through the values, students are accustomed to serving people and being careful of taking others’ belongings. Meanwhile, the values of sakinah family within the text are wara’ (being cautious and able to self-control), zuhud (living a simple life and prioritizing others’ need), and patient (being tender and dare to face difficulties); qona'ah (accepting life as it is), ridha (accepting the provisions of God); and self-presentation. This research is vital to develop to achieve sakinah families free of corruption.Pondok pesantren memiliki potensi besar dalam mencegah korupsi berbasis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan nilai-nilai pesantren dan potret kepribadian keluarga sakinah dalam teks kitab “Zadu Az-Zaujayn” dan “Syair Madura” terkait pencegahan korupsi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif tipe etnografi-hermeneutik.  Hasil penelitian: nilai-nilai pesantren yang terkait dengan pencegahan korupsi yaitu  “Mondhuk entar ngabdi dan ngaji (mondok untuk mengabdi dan mengaji)”. Santri juga menghindari ngecok (mencuri):“Mon ngecok jerum e pondok mon mole ka romana ngecok jheren, (kalau mencuri sebuah jarum di pondok, pulangnya akan mencuri seekor kuda)”. Dengan kedua nilai tersebut, santri akan terbiasa melayani orang lain dan menjauhi mengambil hak milik orang lain. Sedang kepribadian pasangan suami-istri sakinah yaitu mampu mengendalikan diri: yaitu wara’ (hati-hati dan mampu mengendalikan diri), zuhud (hidup sederhana dan lebih mementingkan kepentingan orang lain), dan sabar (lapang dada dan berani menghadapi kesulitan-kesulitan); penerimaan hidup apa adanya: qona’ah (menerima kenyataan yang ada), ridha (ketenangan hati menerima ketentuan-ketentuan dari Allah); dan presentasi diri. Penelitian ini penting untuk dikembangkan, agar tercipta keluarga sakinah yang bebas dari korupsi.
PENGEMBANGAN SELF-CONCEPT KHAIRA UMMAH SANTRI PEREMPUAN MENYONGSONG ERA SOCIETY 5.0 PERSPEKTIF PENGEMBANGAN KARIER Samsul Arifin
Hisbah: Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam Vol 17, No 1 (2020): Juni
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/hisbah.2020.171-04

Abstract

Masyarakat 5.0 akan mengarahkan penggunaan teknologi 4.0 yang berpusat kepada manusia sehingga kehidupan manusia menjadi lebih makmur dan bermakna. Untuk itu, diperlukan pemahaman tentang diri. Diri termasuk sesuatu yang paling penting dan mendasar dalam kajian psikologi; karena mengungkap bagaimana individu berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk mengembangan  konsep diri ideal santri putri dari  Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Metode pendekatan service-learning (SL); yang bertitik tolak dari aplikasi ilmu pengetahuan yang dipelajari di dalam kelas untuk diterapkan dalam dunia nyata dan dirancang bersama komunitas santri. Hasil: pengembangan konsep diri ideal santri adalah sebagai generasi khaira ummah yang berkarakter ”Pelopor” (pemimpin di jalan Allah dan pemimpin bersama umat untuk membangun peradaban). Untuk mengimplementasi generasi khaira ummah, santri mengembangkan skema diri yaitu bagaimana santri berpikir tentang kualitas personalnya yang menyeimbangkan kualitas keterampilan (shalahiyyah) dengan integritas (shalih). Di antaranya: alim (menguasai dan mengamalkan ilmu); jujur dan giat (as-shidq); kasih sayang (rahmah); mampu mengendalikan diri (wara, zuhud, dan sabar); sederhana dan bersahaja (qonaah, ridha, dan ikhlas); tawadhu’ dan wawas diri (jaga penampilan, ucapan, dan hati); dan komunikatif. Self-concept santri yang bermuatan ibadah dan membangun peradaban, termasuk memikirkan perekonomian umat; sejalan dengan developmental self-concept theory.
Dakwah Inklusif di Kalangan Bajingan: Membedah Komitmen Bekas Bajingan dalam Membangun Peradaban, Perspektif Psikologi Sosial Samsul Arifin; Akhmad Zaini
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.418 KB) | DOI: 10.14421/jd.2018.19102

Abstract

Beberapa tulisan tentang bajingan atau blater selama ini mengulas tentang kemampuannya dalam mengelola kekuasaan sehingga menempati strata atas di masyarakat dan salah satu penentu utama dalam politik lokal. Tulisan ini berisi tentang dakwah kiai kepada kalangan bajingan dan membedah komitmen dakwah bekas bajingan, terutama dalam membangun peradaban dalam perspektif psikologi sosial. Tujuan penelitian ini ialah mengungkap dan mendeskripsikan komitmen bekas bajingan dalam membangun peradaban di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif tipe etnografi-hermeneutik. Data berasal dari dokumen dan fieldnotes. Langkah-langkah analisis data: data reduction, data display, dan conclusion drawing. Hasil penelitian: para anggota Pelopor tersebut pertama, memiliki komitmen moral, yaitu perasaan berkewajiban menjadi anggota Pelopor karena panggilan keagamaan dan sosial. Kedua, memiliki komitmen personal yaitu daya tarik untuk menjadi anggota Pelopor. Karena menjadi anggota Pelopor dianggap memberikan manfaat (barokah), sesuai dengan harapan dan kepentingannya serta mereka diberi garansi sehidup-semati. Ketiga, komitmen karena “investasi”, yaitu karena wadah Pelopor memiliki keterliban emosional dengan mereka. Mereka masuk menjadi anggota Pelopor karena bapak-kakeknya juga anggota Pelopor.
DAKWAH TRANSFORMATIF MELALUI KONSELING: Potret Kualitas Kepribadian Konselor Perspektif Konseling At-Tawazun Samsul Arifin; Akhmad Zaini
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2946.189 KB) | DOI: 10.14421/jd.2014.15107

Abstract

Konseling termasuk ilmu terapan, karena itu pencarian kearifan lokal (local wisdom) sangat penting. Konseling yang selama ini didominasi teori-teori dari Barat, dalam aplikasi di lapangan kerap mengalami hambatan; sebab banyak yang kurang sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Beberapa pakar konseling akhirnya memberikan tawaran agar konseling memberikan ruang kepada nilai-nilai budaya lokal. Salah satu pendekatan konseling yang berbasis budaya Indonesia, yaitu konseling yang digali dari nilai-nilai tradisi pesantren. Salah satu penemuan peneliti adalah penemuan model konseling dengan pendekatan at-tawazun, keseimbangan (balance principle counseling approach).Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif tipe etnografi-hermeneutik. Data berasal dari dokumen dan fieldnotes. Langkah-langkah analisis data: data reduction, data display, dan conclusion drawing. Konseling berbasis pesantren menggunakan pendekatan keseimbangan (at-tawazun) dari berbagai unsur dan berorientasi kepada kemaslahatan. Konstruk at-tawazun -pada konteks profil kualitas kepribadian konselor- adanya keselarasan antara kualitas shalahiyyah (kecakapan keilmuan dan ketrampilan) dengan integritas shalih (kekuatan budi pekerti).
Jejaring Ibu Nyai Pesantren Untuk Penguatan Kampanye Kesehatan Masyarakat Samsul Arifin
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 2 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i2.3850

Abstract

Ibu Nyai (female scholars from pesantren) have high social capital in a paternalistic society, but their existence has yet to be studied. This paper aims to describe the potences of Ibu Nyai, concern for healthy lifestyles, and the network of Ibu Nyai pesantren which can be used for education related to the public health. The research method used a qualitative hermeneutic-ethnographic approach. This research indicate that first, Ibu Nyai has a great potential and plays an important role to the decision-making of female students. Second, Ibu Nyai cares about a healthy and hygiene lifestyle with a strong religious rationalization. Ibu Nyai plays as a role model for female students in developing health care. Third, Ibu Nyai has a very close social network to both physical and inner relationships among her fellows. Thus, the district health office have to strengthen cooperation with the pesantren to provide a better public health education. Abstrak Ibu nyai memiliki modal sosial (social capital) yang tinggi pada masyarakat paternalistik namun keberadaan mereka masih banyak yang belum diungkap. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi, kepedulian terhadap pola hidup sehat, dan jejaring ibu nyai pesantren yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi terkait kesehatan masyarakat. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif hermeneutik-etnografi. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa pertama, ibu nyai mempunyai potensi yang besar dan berperan penting dalam pengambil keputusan para santriwati. Kedua, ibu nyai memiliki kepedulian terhadap pola hidup sehat dan bersih dengan rasionalisasi keagamaan yang kuat. Ibu nyai berperan sebagai teladan bagi santriwati dalam menumbuhkembangkan kepedulian kesehatan. Ketiga, ibu nyai mempunyai jejaring sosial (social of network) yang sangat erat, meliputi hubungan lahiriyah dan batiniyah dengan para pengikutnya. Dinas kesehatan diharapkan menjalin kerjasama yang lebih baik dengan kalangan pesantren untuk memberikan edukasi kesehatan masyarakat.
A PORTRAIT OF THE SAKINAH FAMILY IN MANUSCRIPT TEXTS BY WOMEN SCHOLARS FROM THE PESANTREN Samsul Arifin; Ummi Khairiyah; Minhaji Minhaji
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 15(1), 2019
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3121.997 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v15i1.13441

Abstract

Abstract. The formation of the personality characteristics of a married couple is very important and decisive inthinking and acting in building a sakinah household. Sakinah will appear in the calmness of the heart and the clarity of their minds. The scholars, including women scholars from the pesantren have written about it. The purpose of this paper is to uncover and describe the ideal quality of the personality of a married couple in the eyes of women scholars from the pesantren. This article is interesting, because so far many books on household written by male scholars, not female scholars, so it tends to be paternalistic. This paper is useful for the development of Marriage Counseling science based on local pesantren wisdom. The focus of this paper is the portrait of the quality of the personality of a married couple in reaching a sakinah family in the book Zadu Az-Zaujayn (a reinterpretation of the book of Uqud al-Lujjayn ) by Ibu Nyai Zainiyah As'ad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo from the perspective of marriage counseling. This research method uses Gadamer's hermeneutic approach. The results showed, married couples should have the quality of personality that has knowledge (about some rights and obligations, fiqh of women, and the ability to educate children), gracefully when bitter experiences (sabar), affection, acceptance of life as is (ridha and ikhlas), and create a good impression of their partner (self presentation). The focus of marriage counseling adhered to by the pesantren is directed at the improvement and development of the quality of the personality of a married couple rather than the problems in the marriage itself. If a married couple has a good personality then problems in a marriage can be solved by themselves. That personality will radiate in thinking and acting in everyday life to create a sakinah family.Abstrak. Pembentukan karakteristik kepribadian pasangan menikah sangat penting dan menentukan dalam berpikir dan bertindak dalam membangun rumah tangga sakinah. Sakinah akan muncul dalam ketenangan hati dan kejernihan pikiran mereka. Para cendekiawan, termasuk cendekiawan perempuan dari pesantren telah menulis tentang itu. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengungkap dan menggambarkan kualitas ideal kepribadian pasangan yang sudah menikah di mata ulama perempuan dari pesantren. Artikel ini menarik, karena selama ini banyak buku tentang rumah tangga yang ditulis oleh sarjana laki-laki, bukan sarjana perempuan, sehingga cenderung paternalistik. Makalah ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu Konseling Perkawinan berdasarkan kearifan lokal pesantren. Fokus dari makalah ini adalah potret kualitas kepribadian pasangan yang sudah menikah dalam mencapai keluarga sakinah dalam buku Zadu Az-Zaujayn (reinterpretasi buku Uqud al-Lujjayn) oleh Ibu Nyai Zainiyah As'ad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo dari perspektif konseling perkawinan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik Gadamer. Hasil penelitian menunjukkan, pasangan suami istri harus memiliki kualitas kepribadian yang memiliki pengetahuan (tentang beberapa hak dan kewajiban, fiqh perempuan, dan kemampuan untuk mendidik anak), anggun ketika pengalaman pahit (sabar), kasih sayang, penerimaan hidup apa adanya ( ridha dan ikhlas), dan menciptakan kesan yang baik tentang pasangan mereka (presentasi diri). Fokus konseling perkawinan yang dianut oleh pesantren diarahkan pada peningkatan dan pengembangan kualitas kepribadian pasangan menikah daripada masalah dalam pernikahan itu sendiri. Jika pasangan menikah memiliki kepribadian yang baik maka masalah dalam perkawinan dapat diselesaikan sendiri. Kepribadian itu akan terpancar dalam pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan keluarga sakinah.
DINAMIKA ‘NGAJI ONLINE’ RAMADHAN DI MASA PAGEBLUK COVID-19 PADA KOMUNITAS PESANTREN Samsul Arifin
Jurnal Kependudukan Indonesia 2020: Edisi Spesial: Demografi dan COVID-19 di Indonesia
Publisher : Research Centre for Population, Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jki.v0i0.538

Abstract

This paper reveals the dynamics of the changing therapeutic relationship of the kiai with students (santri) in learning (ngaji) from face-to-face to online models in the time of COVID-19. The research method is ethnographic-hermeneutic. In the face-to-face learning system, therapeutics occur because of the warm relationship by looking directly at the kiai's face which makes the students feel calm. In the “Ngaji Online” the therapeutic system switches to environmental settings that make students feel safe and comfortable. In the “Ngaji Online” system, the warmth of relationships begins to weaken. However, this weakness can be covered up because the spiritual relationship between the kiai and the students still feels strong. This spiritual relationship is the key to therapeutic for the Islamic boarding school.
KONSELING INDIGENOUS BERBASIS PESANTREN: Teknik Pengubahan Tingkah Laku Kalangan Pesantren Samsul Arifin
LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan Vol. 7 No. 1 (2013): JUNI
Publisher : LP2M Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.393 KB)

Abstract

Sanctions in Islamic Boarding Schools (Pesantren) are known as ta'zir. Ta'zir belongs to one of behavioral alteration techniques in boarding school style. Counseling unearthed from the values of boarding school need to be studied to develop counseling model based on the culture of Indonesia. This research is important-especially for counselors in educational institutions based on Islamic boarding schools so that they know the traditions related to guidance and counseling. This study is focused on the values of the pesantren which can be absorbed in guidance and counseling. It is a technique in changing counselee behavior. The results of this study are; ta'zir  which is applied in Islamic boarding school aims to turn students into good behavior. Among Ta'zir principles in boarding schools are educational (ta'dib), noticing the social situation and the condition of the perpetrator (i'tibar ahwal an-nas), and being carried out gradually (at-tadrij). The three characteristics of ta'zir imply that the ta'zir is done without violence. Such a ta'zir is similar to the concept of punishment (in the behavioral counseling).
KONSELING BERBASIS PESANTREN UNTUK MEMPERKOKOH KARAKTER PELAJAR DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI Samsul Arifin
LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan Vol. 8 No. 1 (2014): JUNI
Publisher : LP2M Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.156 KB)

Abstract

Education, not only about learning but also about student development. The student development is counseling; a science that helps people to overcome problems and promote own potential (growth and development) for the better One of the attitudes required in building a civilization in globalization era is moderation. Boarding school applied  moderate mindset, which is known as fikrah tawassuthiyyah; tawazun (balanced) and i'tidal (moderate).This paper describes the values of pesantren that can be absorbed in counseling techniques to change behavior. The research method use a qualitative approach type-hermeneutic ethnography. The data comes from documents and fieldnotes. The data analysis is data reduction, data display, and conclusion drawing.The results, the values that can be adapted is "at-tawazun" (balance). Balancing between external and internal, punishment and counseling, interaction student-teacher (counselor-counselee), and the other equilibrium values. At-tawazun accordance with the paradigm of thinking, social attitudes, and pondok pesantren.