Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan gangguan pendengaran dengan kualitas hidup pada lansia Suharti, Sri; Wulan, Sarinah Sri
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 1 No. 2 (2024): Edition April 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v1i2.1250

Abstract

Background: Hearing loss is a common health problem among older adults. Hearing loss can lead to social isolation, depression, and withdrawal from life activities, which can impact quality of life. The four domains of quality of life are defined as subjective perception or experience, behavior, potential capacity, and state of being. Purpose: To determine the relationship between hearing impairment and quality of life in the elderly at the UPTD PSLU Tresna Werdha Natar, South Lampung. Results: Quality of life was good as many as 14 respondents (58.3%), and 10 respondents (41.7%). From the correlation test, it was found that the p-value was 0.050 (0.05), which means that there is a tendency that the elderly with hearing loss have a poor quality of life. Method: Quantitative research using cross-sectional design with 24 elderly respondents using purposive sampling technique, data collection tool using a questionnaire in the form of a favorable scale of 1-5, this research variable uses two variables. Results: Fourteen respondents (58.3%) reported good quality of life, while 10 respondents (41.7%) reported poor quality of life. The correlation test yielded a p-value of 0.050 (0.05), indicating a tendency for elderly people with hearing impairment to have a poorer quality of life. Conclusion: There is a relationship between hearing impairment and quality of life in elderly people at the UPTD PSLU Tresna Werdha Natar, South Lampung.   Keywords: Elderly; Hearing Loss; Quality of Life.   Pendahuluan: Gangguan pendengaran adalah salah satu masalah kesehatan yang umum dijumpai pada lansia. Hilangnya pendengaran dapat menyebabkan terjadinya isolasi sosial, depresi dan menarik diri dari aktivitas hidup yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Empat domain kualitas hidup diartikan sebaga isuatu persepsi  atau pengalaman subjektif, perilaku, kapasitas potensial dan status keberadaan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan gangguan pendengaran dan kualitas hidup pada lansia di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar Lampung Selatan. Metode: Penelitian kuantitatif desain crosssectional dengan jumlah responden 24 lansia dengan teknik sampel teknikpurposive sampling, alat pengambilan data dengan kuesioner berbentuk favorable dengan skala 1-5, variable penelitian ini menggunakan dua variable. Hasil: Kualitas hidup baik sebanyak 14 responden (58,3%), dan pengetahuan hidup buruk sebanyak 10 responden (41,7%). Dari uji korelasi didapatkan nilai p-value 0,050 (0,05), yang artinya terdapat kecenderungan bahwa lansia yang memiliki gangguan pendengaran memiliki kualitas hidup yang kurang baik. Simpulan: Terdapat hubungan antara gangguan pendengaran dan kualitas hidup pada lansia di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar Lampung Selatan.   Kata Kunci: Gangguan Pendengaran; Kualitas Hidup; Lansia.
Penerapan teknik pernapasan buteyko terhadap frekuensi napas pada penderita asma Pangesti, Dimas Ning; Andoko, Andoko; Wulan, Sarinah Sri
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 1 No. 2 (2024): Edition April 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v1i2.1251

Abstract

Background: Asthma is a condition in which the airways narrow due to hyperactivity to certain spaces. Asthma attacks cause sufferers to experience difficulty breathing or shortness of breath. Purpose: To determine the effect of Buteyko breathing techniques on respiratory rate in asthma patients in the Bandar Jaya inpatient community health center. Method: A pre-experimental, one-group pretest-posttest study with a sample size of 27 respondents. Results: The Buteyko breathing technique significantly reduced shortness of breath in 27 respondents. The average respiratory rate was 27 breaths per minute before and 22 breaths per minute after application. Conclusion: The application of the Buteyko breathing technique in asthma patients is determined by stress and physical activity. Recommendation: Buteyko breathing technique training can be used as a standard non-pharmacological nursing intervention for all clients with asthma.   Keywords: Asthma; Breathing Technique; Buteyko.   Pendahuluan: Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap ruangan tertentu. Serangan asma yang terjadi menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan bernapas atau sesak napas. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penerapan  teknik pernapasan buteyko terhadap  frekuensi napas terhadap penderita asma di wilayah kerja puskesmas rawat inap  Bandar jaya. Metode: Penelitian pre experimental one group pretest-postest dengan jumlah sampel 27 responden.  Hasil: Teknik pernapasan buteyko dapat mengurangi frekuensi sesak napas secara signitifikan pada  27 responden  sebelum di lakukan  teknik pernapasan  buteyko rata-rata frekwensi napas  27 x/menit dan sesudah di lakukan penerapan  teknik pernapasan buteyko rata-rata frekuensi napas  22x/menit. Simpulan: Penerapan teknik pernapasan buteyko pada pasien asma di tentukan oleh faktor strees dan aktifitas fisik.  Saran: Latihan teknik pernapasan buteyko dapat dijadikan standar tindakan keperawatan non farmakologi kepada semua klien yang menderita asma.   Kata Kunci: Asma; Buteyko; Teknik pernapasan.
Survey perilaku hidup bersih dan sehat anak usia dini di era pandemi covid-19 Suharti, Sri; Wulan, Sarinah Sri; Fauziah, Edita Izni
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 1 No. 2 (2024): Edition April 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v1i2.1253

Abstract

Background: The prevalence of Covid-19 in Indonesia is 927,380 cases. The Covid-19 pandemic can be prevented with PHBS. Clean and healthy living behavior (PHBS) is an activity or activity of living things that can be observed directly or indirectly by outsiders. Purpose: To determine the description of clean and healthy living behavior of early childhood during the Covid-19 pandemic in Purwodadi Village, Gisting District, Tanggamus Regency. Method: This descriptive study involved 30 parents of children aged 4-6 years old, selected using a total sampling technique. Results: The study showed that 90%, or 27 respondents, demonstrated good hygiene and healthy living behaviors, while 10%, or 3 respondents, demonstrated adequate hygiene and healthy living behaviors. The description of hygiene and healthy living behaviors among early childhood children during the COVID-19 pandemic in Purwodadi Village, Gisting District, Tanggamus Regency in 2021 was categorized as good. Conclusion: This study can be continued with a larger number of respondents and can be conducted directly with early childhood respondents.   Keywords: Clean and Healthy Living Behavior; Covid-19 Pandemic; Early Childhood.   Pendahuluan: Prevalensi Covid-19 di Indonesia 927.380 kasus,pandemi Covid-19 bisa di cegah dengan PHBS.Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah suatu kegiatan atau aktivitas mahluk hidup yang dapat di amati secara langsung maupun tidak langsung yang dapat diamati oleh pihak luar. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat anak usia dini di era pandemi Covid-19 di Desa Purwodadi Kecamtan Gisting Kabupaten Tanggamus. Metode: Penelitian jenis deskriptif dengan responden berjumlah 30 orang tua yang memiliki anak usia dini 4-6 tahun yang di ambil menggunakan tekhnik total sampling. Hasil: Penelitian menunjukkan 90% atau 27 responden menunjukan baik perilaku hidup bersih dan sehat sedangkan 10% atau 3 responden menunjukan perilaku hidup bersih dan sehat cukup. Gambaran perilaku hidup bersih dan sehat anak usia dini di era pandemi Covid-9 di Desa Purwodadi Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus tahun 2021 dalam kategori baik. Simpulan: Penelitian ini bisa dilanjutkan dengan responden yang lebih banyak dan bisa dilakukan dengan responden anak usia dini secara langsung.   Kata Kunci: Anak Usia Dini; Pandemi Covid-19; Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat.
Massage efleruangge terhadap sensasi proteksi pada pasien diabetes millitus tipe II Wulan, Sarinah Sri; Pangesti, Dimas Ning
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 1 No. 2 (2024): Edition April 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v1i2.1254

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that requires long-term treatment. The prevalence of diabetes mellitus increases annually, and if left untreated, it can lead to complications, including neuropathy. Neuropathy is damage to peripheral nerves that results in numbness and impaired sensory sensitivity in organs. This neuropathy can be minimized with pharmacological techniques, such as efleruangge massage, a hand-based therapy that manipulates muscles and other soft tissues to improve health. Purpose: To determine foot sensitivity before and after efleruangge massage. Method: A descriptive study was conducted with two respondents who received efleruangge massage for one week. Result: There were changes before and after efleruangge massage. Respondent I had 2 points of sensitivity on the left extremity; 3 points on the right extremity; and 5 points on the right extremity. Respondent II had 2 points on the left extremity; 3 points on the right extremity; and 3 points on the left extremity; and 4 points on the right extremity. Conclusion: There were changes in foot sensitivity before and after efleruangge massage. It is recommended that efleruangge massage be combined with a diabetes diet, regular exercise, and regular doctor consultations.   Keywords: Diabetes Millitus; Massage Efleruangge; Sensation Of Protection.                                                                                                    Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit kronik yang memerlukan waktu perawatan lama bahwa prevalensi diabetes militus setiap tahun nya semakin meningkat jika tidak di tangani akan menimbulkan komplikasi salah satunya neuropati, neuropati adalah kerusakan saraf-saraf perifer yang mengakibatkan baal/gangguan sensitifitas sensoris pada organ. Neuropati ini bisa di minimalisir dengan tekhnik farmokologi yaitu dengan memberikan massage efleruangge merupakan terapi dengan menggunakan tangan dimana otot dan jaringan lunak lain tubuh dimanupulasi untuk meningkatkan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui sensitifitas kaki sebelum dan sesudah di lakukan massage efleruangge. Metode: yang digunakan deskriptif dengan dua responden yang di lakukan massage efleruangge selama 1 minggu. Hasil: Ada perubahan antara sebelum dan sesudah di lakukan massage efleruangge, responden I exstermitas kiri sensitifitas 2 titik exstermitas kanan sensitifitas 3 titik setelahnya exstermitas kiri sensitifitas 3 titik yang ter deteksi exstermitas kanan sensitifitas 5 titik yang ter deteksi. pada responden II exstermitas kiri 2 titik exstermitas kanan sensitifitas 3 titik setelahnya exstermitas kiri sensitifitas 3 titik exstermitas kanan sensitifitas 4 titik yang ter deteksi. Simpulan: ada perubahan sensitifitas pada kaki sebelum dan sesudah di lakukan massage efleruangge. Saran menerapkan massage efleruangge hendaknya di barengi dengan diit DM dan olahraga rutin serta konsultasi dokter secara rutin.   Kata kunci: Diabetes Millitus; Massage Efleruangge; Sensasi Proteksi.
Pengaruh rebusan daun kelor (moringa olifiera) terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi Wulan, Sarinah Sri; Pangesti, Dimas Ning; suharti, sri; Nurani, Rahmawati Dian; Khomsah, Ida Yatun
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 2 (2023): October Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i2.377

Abstract

Background: Hypertension is one of the main causes of premature death throughout the world. The prevalence of hypertension at world level is 22% of the 8 billion total world population. Hypertension develops from year to year and causes many complications. Efforts to control hypertension can be carried out using pharmacological and non-pharmacological methods, one of which is non-pharmacological efforts such as using boiled Moringa leaves. This plant contains calcium, potassium and magnesium which can lower blood pressure. Calcium plays a role in maintaining blood pressure in normal conditions, potassium functions to reduce blood pressure and magnesium functions to contribute to the smooth muscle of blood vessels. Purpose: To determine the effect of boiled Moringa leaves (moringa olifiera) on blood pressure in hypertension sufferers. Method: using a pre-experimental method with a one group pretest-posttest approach. The total sample was 18 respondents. Results: From the Wilcoxon Statistical Test, a p-value <.001 was obtained. Conclusion: There is an effect of boiled Moringa leaves on blood pressure in hypertension sufferers in the Kemiling Bandar Lampung Community Health Center working area. Keywords: Blood Pressure; Hypertension Sufferers; Moringa Leaf Decoction Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini diseluruh dunia. Prevelensi hipertensi ditingkat dunia sebesar 22% dari 8 milyar total populasi penduduk dunia. Penyakit hipertensi berkembang dari tahun ketahun dan menyebabkan banyak komplikasi. Upaya penanggulangan hipetensi dapat dilakukan dengan cara farmakologis dan non-farmakologis salah satu upaya non farmakologis seperti menggunakan rebusan daun kelor. Tanaman ini memiliki kandungan kalsium, potasium dan magnesium yang dapat menurunkan tekanan darah. Kalsium berperan memelihara tekanan darah dalam kondisi normal, potasium berfungsi menurunkan tekanan darah dan magnesium berfungsidapat berkontribusi terhadap otot polos pembuluh darah. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh rebusan daun kelor (moringa olifiera) terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: menggunakan metode pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-postest. Jumlah sampel sebanyak 18 responden. Hasil: Dari Uji Statistic Wilcoxon di dapatkan nilai p-value  <,001. Simpulan: Terdapat pengaruh rebusan daun kelor terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Kemiling Bandar Lampung.