Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Social And Economics Research

STRATEGI WALI NAGARI KAMPUNG TANGAH KECAMATAN LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM DALAM MENSUKSESKAN PROGRAM GERAKAN MASYARAKAT MAGRIB MENGAJI Netrivianti; Sayid Anshar
Journal of Social and Economics Research Vol 2 No 2 (2020): JSER, December 2020
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.682 KB) | DOI: 10.54783/jser.v2i2.18

Abstract

Seiring dengan semakain berkembangnya kemajuan zaman, tradisi atau kegiatan mengaji dikalangan masyarakat khususnya di Nagari Kampung Tangah Kecamatan Lubuk Basung mulai mengalami pergeseran, yang dulunya anak-anak atau masyarakat lebih sering ke Surau, Masjid ataupun Mushalla kini banyak menghabiskan waktu di warnet atau bermain Gadget, sehingga menghilangkan tradisi keagamaan yang begitu lekat dengan masyarakat Nagari Kampung Tangah. Tujuan dari penelitian, untuk mengetahui bagaiamana strategin Masyarakat Magrib Mengaji. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sementara teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan berdasarkan kriteria dan melalukan observasi langsung terhadap objek dan subjek penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, strategi Wali Nagari kampung Tangah dalam mensukseskan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji diantaranya adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat, mengaktifkan semua Masjid atau Mushalla yang ada di Nagari Kampung Tangah, Mengaktifkan kembali TPA/MDA yang selama ini sudah mati, memberikan tunjangan kepada garin dan guru mengaji. Kendala yang ditemui yaitu masih kurangnya partisipasi masyarakat, sulitnya mencari garin muda, sulit mencari tenaga pengajar atau guru mengaji dan pencairan dana tunjangan guru mengaji dan garin yang bermasalah. Untuk mengatasi kendala tersebut ada juga upaya yang dilakukan pertama, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, mencarikan garin dan guru mengaji serta memperbaiki system atau cara pendataan guru mengaji dan garin agar tidak terjadi lagi kesalahan saat dana itu disalurkan.
PERAN NINIK MAMAK DALAM SISTEM PEMERINTAHAN LOKAL DI KANAGARIAN TIKU SELATAN, TANJUNG MUTIARA, KABUPATEN AGAM Netrivianti
Journal of Social and Economics Research Vol 3 No 1 (2021): JSER, June 2021
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.983 KB) | DOI: 10.54783/jser.v3i1.19

Abstract

Peran ninik mamak dalam nagari tidak sedominan pada masa sebelum tahun 1980-an, di mana KAN (Kerapatan Adat Nagari) tidak menentukan lagi dalam pemerintahan nagari, tugas KAN hanya mengurus masalah sako dan pusako artinya mengurus masalah- masalah yang berkaitan dengan adat dan harta pusaka. Pemerintahan Nagari dominan ditentukan oleh wali nagari dan perangkatnya. Ninik mamak hanya dijadikan mitra oleh pemerintahan sehingga untuk menentukan arah kebijakan politik, ekonomi dan pembangunan nagari lebih menjadi wewenang wali nagari dan perangkatnya, sehingga peran ninik mamak mulai terpinggirkan. Adapun tujuan penelitian, untuk mengetahui peran ninik mamak dalam sistem pemerintahan lokal di Kenagarian Tiku Selatan, Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sementara teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan berdasarkan kriteria dan melakukan observasi langsung terhadap objek peneliti. Populasi yang digunakan adalah semua yang terlibat dalam pemerintahan lokal dan tokoh-tokoh masyarakat dan sampel penelitian sebanyak 14 orang berdasarkan teknik purposive sampling (berdasarkan kriteria). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa nagari tiku selatan mempunyai 28 orang ninik mamak. Secara historis susunan eksekutifnya disebut dengan Basa Nan Barampek yakni Datua Rangkayo Basa, Datuak Rangkayo Kaciak, Datuak Rangkayo Bungsu, dan Datuak Rajo Dilia. Basa Nan Barampek memiliki kekuasan penuh dalam nagari baik dari segi ekonomi, sosial maupun politik, namun pasca reformasi Ninik mamak disetarakan dengan anak kemanakan dalam ruang politik. Kekuasaan dalam nagari lebih dominan dipegang oleh wali nagari dan perangkatnya, sehingga ninikmamak hanya sebagai mitra wali nagari dalam pelaksanaan pemerintahannya.