Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Masker Medika

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDISITIS DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SITI AISYAH KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2017. Soewito, Bambang
Masker Medika Vol 5 No 2 (2017): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apendiksitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendisitis diperkirakan ikut serta dalm system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun, pengangkatan apendiks tidak menimbulkan efek fungsi system imun yang jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor pengetahuan, pendidikan, umur dan ekonomi secara simultan dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau tahun 2017. Desain penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien appendisitis yang dirawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau tahun pada saat penelitian dilakukan yang diperkiraan berjumlah 139 orang. Berdasarkan Uji statistik dengan metode Chi-Square di dapatkan hasil yang didapatkan yaitu ada hubungan antara faktor pengetahuan secara parsial dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,002. Tidak ada hubungan antara faktor pendidikan secara parsial dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,543. Ada hubungan antara faktor umur secara p arsialdengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,046. Ada hubungan antara faktor ekonomi secara parsial dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,030. Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau, khususnya bagi perawat untuk meningkatkan kinerja perawat dalam mencegah atau mengurangi kecemasan pasien sebelum dilakukan operasi apendisitis.
HUBUNGAN PERILAKU PENCEGAHAN DIARE DAN KEPEMILIKAN JAMBAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA KELUARGA DI DESA SADARKARYA KECAMATAN PURWODADI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2015 Soewito, Bambang
Masker Medika Vol 4 No 2 (2016): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah kesehatan berbasis lingkungan seperti kepemilikan jamban, SPAL dll disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memadai, baik kualitas maupun kuantitasnya serta perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah, mengakibatkan penyakit-penyakit seperti diare, ISPA, TB paru, malaria dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku pencegahan diare dan kepemilikan jamban sehat dengan kejadian diare pada keluarga, penelitian ini dilaksanakan dari tanggal dari tanggal 26 Juli 2008 sampai 6 Agustus 2008 di Desa Sadarkarya Kecamatan Purwodadi Kabupaten Musi Rawas yang terdiri dari lima dusun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang ada di desa sadarkarya yang berjumlah 503 kepala keluarga dan didapat sampel dengan menggunakan rumus Arikunto 1997 sebanyak 70 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 keluarga yang pernah mengalami diare ada14 keluarga (20,0 %) dan tidak pernah mengalami diare 56 keluarga (80,0 %).Dari 70 Keluarga yang memiliki jamban 17 kaluarga (24,3 %) dan tidak memiliki jamban 53 keluarga (75,7 %). Dari 70 keluarga perilaku keluarga yang baik 16 keluarga (22,9 %) dan yang tidak baik 54 keluarga (77,1 %). Dari hasil uji Fisher’s Exact Test dapat simpulkan bahwa perilaku pencegahan diare dan kepemilikan jamban sehat tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian diare, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya sampel yang digunakan tidak mewakili populasi karena menggunakan rumus penyimpangan 10 % yang seharusnya untuk penelitian masyarakat 5 %, dapat juga disebabkan oleh kuesioner yang belum di uji. Diharapkan kepada masyarakat untuk memperhatikan pentingnya kepemilikan jamban sehat serta mengusahakan kepemilikan jamban leher angsa yang menggunakan septic tank di rumahnya serta menerapkan perilaku sehat untuk mencegah timbulnya penyakit diare.
ANALISIS KECEMASAN PADA PASIEN PREOPERASI APENDISITIS DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SITI AISYAH KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2019 Soewito, Bambang; Sulaiman, Sulaiman
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.383

Abstract

Latar BelakangApendiksitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendisitis diperkirakan ikut serta dalm system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun, pengangkatan apendiks tidak menimbulkan efek fungsi system imun yang jelas. Tujuan dari penelitian: untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, pendidikan, umur dan ekonomi secara simultan dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis di ruangrawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau tahun 2019. Desain penelitian: Desain penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien appendisitis yang dirawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau tahun 2019 pada saat penelitian dilakukan yang diperkiraan berjumlah 127 orang. Hasil Penelitian: Berdaarkan Uji statistik dengan metode ChiSquare di dapatkan hasil yang didapatkan yaitu ada hubungan antara pengetahuan secara parsial dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,00. Ada hubungan antara pendidikan dengan kecemasan pada pasien pre operasiappendisitis dengan ρ-value = 0,019.Ada hubungan antara umur dengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,003.Ada hubungan antara faktor ekonomidengan kecemasan pada pasien pre operasi appendisitis dengan ρ-value = 0,002. Dan hasil uji statistik multivariat diperoleh variabel yang berhubungan bermakna adalah umur (5,135) dan ekonomi (0,148).Dan variabel yang paling dominan berhubungan bermakna adalah variabel umur. Kesimpulan: Saran kepada pihakRumah Sakit Umum Daerah Siti Aisyah Kota Lubuklinggau, khususnya bagi perawat untuk meningkatkan kinerja perawat dalam mencegah atau mengurangi kecemasan pasien sebelum dilakukan operasi apendisitis. Background: Appendixitis is inflammation of the appendix periformis, and is the most common cause of acute abdomen. The term appendicitis which is known in ordinary people is less precise because the appendix is actually a cecum. Appendicitis is thought to participate in the sectoral immune system in the digestive tract. However, removal of the appendix does not cause a clear effect of immune system function. The purposes of this study: The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge, education, age and economy simultaneously with anxiety in patients with preoperative appendicitis in the inpatient area of the Siti Aisyah Regional Hospital in Lubuklinggau City in 2019. Research methods The design of this research is quantitative which uses analytic survey method with cross sectional approach. The population in this study were all appendicitis patients who were treated in the Inpatient Room of the Siti Aisyah Regional Hospital in Lubuklinggau City the year at the time of the study which was estimated at 127 people. The results: Based on statistical tests using the Chi-Square method the results obtained are that there is a relationship between knowledge partially with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.00. There is a relationship between partial education with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.019. There is a relationship between age partially with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.003. There is a relationship between economic factors partially with anxiety in patients with preoperative appendicitis with ρ-value = 0.002. And the results of multivariate statistical tests obtained variables that weresignificantly associated simultaneously were age (5,135) and economy (0.148). And the most dominant variable related significantly is the age variable. Conclusion: Suggestions to the Siti Aisyah Regional General Hospital Lubuklinggau, especially for nurses to improve the performance of nurses in preventing or reducing patient anxiety before appendicitis surgery.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ATHRITIS RHEUMATOID PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA KATI KABUPATEN MUSI RAWAS Aprilyadi, Nadi; Soewito, Bambang
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.390

Abstract

Arthritis Rheumatoid paling banyak ditemui dan biasanya dari faktor, genetik, jenis kelamin, infeksi, berat badan/obesitas, usia, selain ini faktor lain yang mempengaruhi terhadap penyakit Arthritis Rheumatoid adalah tingkat pengetahuan penyakit sendiri memang masih sangat kurang, baik pada masyarakat awam maupun kalangan medis (Mansjoer, 2011).Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Arthritis Rheumatoid pada lansia diwilayah kerja Puskesmas MuaraKati tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Adapun responden ini adalah Pengambilan sampel dilakukan secara Accidental Sampling yaitu semua lansia yang berkunjung ke poliklinik Puskesmas Muara Kati tahun 2018 yang berjumlah 339 orang dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau terjadi. Sebagian besar responden berjenis kelamin terhadap kejadian AthritisRheumatoid pada lansia diperoleh hasil tertinggi yaitu kategori laki-laki berjumlah 54 (63.5%) orang. Sebagian besar Usia lansia yang mempunyai penyakit Athritis Rheumatoid pada lansia diperoleh hasil tertinggi yaitu usia pertengahan berjumlah 47 (55.3%) responden. Dari responden pengetahuan terhadap kejadian Athritis Rheumatoid pada lansia diperoleh hasil tertinggi yaitu kategori baik berjumlah 36 (42.4%) orang. Kejadian Athritis Rheumatoid pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Muara Kati di peroleh hasil tertinggi yaitu responden yang menderita AthritisRheumatoid sebanyak 51 (60.0%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin terhadap kejadian Athritis Rheumatoid pada lansia diwilayah kerja Puskesmas Muara KatiTahun 2018. Hasil penelitian ini dapat di jadikan untuk mengembangkan pendidikan tentang cara mendeteksi gejala dari penyakit rematik pada lansia dapat di jadikan bahan pertimbangandalam pemberian penyuluhan kesehatan pada lansia, terutama penyuluhan tentang penyakit yang menyerang usia lanjut. Rheumatoid arthritis or achy rheumatic pain is also a degenerative disease that causes damage to cartilage (cartilage) of the joints and adjacent bones, accompanied by proliferation of bone and soft tissue in and around the affected area (Priyanto, 2009). The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of Rheumatoid Arthritis in the elderly in the work area of Muara Kati Health Center in 2018. This study used an Analytical Survey method with a Cross Sectional approach. The respondents were all elderly who visited the Muara Kati Puskesmas clinic in 2018, totaling 339 people. Most of the respondents who were sex with the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly obtained the highest results, namely the male category totaling 54 (63.5%) people. Most of the age of the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly obtained the highest results, namely middle age, amounting to 47 (55.3%) respondents. Nearly the majority of respondents knowledge of the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly obtained the highest results in the good category totaling 36 (42.4%) people. Most of the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly in the working area of the Muara Kati Health Center was obtained the highest results, respondents who suffered from Rheumatoid Athritis were 51 (60.0%). There is no significant relationship between sex with the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly in the work area of Muara Kati Health Center in 2018. There is a significant relationship between age and the incidence of Rheumatoid Athritis in the work area of Muara Kati Health Center in 2018. There is a significant relationship between knowledge of events Rheumatoid Athritis in the working area of the Muara Kati Health Center in 2018.