Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Hubungan Resiliensi dengan Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi Ni Kadek Widya Antari; Desak Made Ari Dwi Jayanti; Anak Agung Sri Sanjiwani
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 11, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.11.2.2023.293-304

Abstract

Penderita kanker payudara memiliki kecendrungan mengalami kecemasan, upaya menurunkan tingkat kecemasan pada pasien kanker adalah dengan cara meningkatkan peran diri melalui resiliensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan tingkat kecemasan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Penelitian dilakukan di Poliklinik Kemoterapi RSUP Sanglah Denpasar, jumlah sampel 77 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Metode penelitian menggunakan analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Alat ukur Connor Davidson-Resilience Scale (CD-RISC) untuk resiliensi dan Zung Self Rating Anxiety Scale (ZSAS) untuk tingkat kecemasan yang telah dilakukan uji validitas. Hasil: sebagian besar responden berada pada kategori resiliensi tinggi sebanyak 47 orang (61%) dan kecemasan ringan sebanyak 54 orang (70,1%). Hasil uji Rank Spearman diperoleh nilai  p value 0,000 (p <ɑ ), yang berarti ada hubungan yang signifikan antara resiliensi dengan tingkat kecemasan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi dengan nilai r hitung sebesar 0,635 (tingkat hubungan yang kuat dan arah hubungan negatif). Semakin tinggi resiliensi yang dimiliki oleh pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi maka semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami.
The Ilustation of Physical Health and Scizofrenia Patients’ Independence in Performing Personal Hygiene at Bali Province’s Mental Hospital Desak Made Ari Dwi Jayanti; Dewa Putu Arwidiana
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 7 No 2 (2020): MAY 2020
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v7i2.539

Abstract

Not only mental problem do the schizophrenia patients suffer, but also physical problems. a quantitative descriptive with a cross-sectional approach model was hired in this research. This research employed 113 schizophrenia patients at the psykiatric hospital in Bali Province as samples with simple random technique. The instrument used to measure independence in performing personal hygiene was an observation sheet with Gordon's assessment scale and physical health assessment used an observation sheet, sphigmomanometer, scales and a meter to measure height. The results showed from the physical health assessment of the Body Mass Index in the most schizophrenia patients with a normal weight were 83 persons (73.5%), the thin patients were 12 persons (10.6%), More Body Weight were 5 persons (4.4%), obesity were 13 persons (11.5%), without concomitant diseases were 104 persons (92%), hypertension patient were 9 persons (8%). Independence in performing self-care were 69 respondents (61.1%) in the category of needing help, the majority of respondents were 79 respondents (69.9%), the category of needing assistance, self-care eating were 94 respondents (83.2%,) the category of needing help, toileting were 70 respondents (62.0%), Independence in performing personal hygiene was at 64 respondents (56.6%)
Peningkatan Kesehatan Jiwa ODGJ dengan Konsep Kearifan Lokal Budaya Bali (Ngayah) I Dewa Gede Candra Dharma; Anak Agung Ayu Eka Cahyani; Desak Made Ari Dwi Jayanti; Silvia Ni Nyoman Sintari; Hendro Wahyudi
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 2 No 1 (2023): Juni
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v2i1.105

Abstract

Layanan kesehatan mental yang dikelola oleh komunitas cukup penting untuk pemulihan pasien dengan gangguan jiwa di komunitas. Berdasarkan hasil penelitian Dharma et al., 2022 di Rumah Berdaya Kota Denpasar didapatkan salah satu tema dalam penelitian tersebut yaitu Ngayah Membantu Proses Pemulihan penderita skiziorenia di Rumah Berdaya. Adapun tujuan dari pengabdian masyarakat ini yatiu untuk meningkatkan pengetahuan Penderita Skizofrenia, keluarga dan petugas di Rumah Berdaya Denpasar terkait Budaya Ngayah sebagai salah satu proses yang dapat membantu pemulihan skizofrenia. Metode yang digunakan; Pengukuran tingkat pengetahuan penderita skizofrenia, keluarga, dan petugas di Rumah Berdaya tentang Budaya Ngayah sebagai salah satu proses yang dapat membantu pemulihan penderita skizofrenia. Penyuluhan kepada Penderita skizofrenia, keluarga, dan tentang Budaya Ngayah. Evaluasi terkait pemahaman Penderita skizofrenia, keluarga, dan petugas tentang Budaya Ngayah. Hasil pengabdian masayarakat berdasarkan kuesioner yang dibagikan sebelum dan sesudah pelaksanaan terdapat perbedaan hasil dimana ada peningkatan pemahaman terhadap konsep Ngayah membantu proses pemulihan penderita skizofrenia. Pemberian edukasi tentang konsep Ngayah merupakan salah satu alternatif yang dapat diberikan untuk mengingkatkan pengetahuan terkait proses pemulihan penderita skizofrenia. Budaya Bali Ngayah yang merupakan salah satu kearifan lokal untuk membantu penderita skizofrenia bisa kembali bermasyarakat.
PSIKOEDUKASI KELUARGA MAMPU MERUBAH PERAN KELUARGA SEBAGAI CAREGIVER PADA PASIEN SKIZOFRENIA Desak Made Ari Dwi Jayanti; Ni Luh Putu Ekawati; Ni Ketut Ayu Mirayanti
Jurnal Keperawatan Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkep.v16i1.1884

Abstract

Peran keluarga sebagai caregiver pada pasien skizofrenia menjadi hal utama untuk mencegah kekambuhan serta penting untuk keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap peran keluarga sebagai caregiver pada pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Experiment. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah Sampel 44 responden. Pengumpulan data kuesioner peran keluarga sebagai caregiver pasien skizofrenia. Selanjutnya data diolah dan dianalisis dengan menggunakan Uji Wilcoxon Sing Rank Test pada data inter kelompok, dan uji Mann Whitney Test pada analisis data antar kelompok. Hasil penelitian pada uji inter kelompok diperoleh nilai p value 0,002 pada kelompok perlakuan dan p value 0,317 pada kelompok kontrol. Sedangkan pada uji antar kelompok pada post test p value = 0,000, ini menunjukkan ada pengaruh pemberian psikoedukasi keluarga terhadap peran keluarga sebagai caregiver pada pasien skizofrenia. Melalui pemberian psikoedukasi yang terdiri dari komponen edukasi, keterampilan, komponen emosional, dan komponen sosial dapat merubah perilaku keluarga dalam merawat pasien sehingga peran keluarga sebagai caregiver mengalami perubahan dan mampu membentuk family support group.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Perkembangan Motorik Halus dengan Perkembangan Motorik Halus Anak Prasekolah Ni Made Desi Ari Parmiti; I Gusti Ayu Putu Satya Laksmi; Desak Made Ari Dwi Jayanti
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i6.12352

Abstract

ABSTRACT Fine motor is the child's ability to perform movements involving small muscles. One of the factors affecting the fine motor development of the child is the knowledge of the parents (mother). The purpose of this study was to determine the relationship between the level of maternal knowledge about fine motor development and fine motor development in preschool-age children in TK Negeri Susut Kaja. Thisenelitian is quantitatively correlational with the cross sectional approach.  The population in this study was all students and mothers of students at TK Negeri Susut Kaja, the sample consisted of 33 students and 33 mothers using the total sampling technique, data analysis using spearman rank tests. The instruments in this study were a knowledge level questionnaire and a PPP sheet.  The results of most maternal knowledge are sufficient, namely as many as 15 people (45.5%), as many as 16 children (48.5%)  with appropriate development. The results of the spearman rank test, namely (0.005) p0.05 and the correlation value coefficient (r) = 0.473. It can be concluded that there is a sufficient relationship between maternal knowledge and the fine motor development of preschoolers. Keywords: Preschoolers, Fine Motor Development, Knowledge  ABSTRAK Motorik halus adalah kemampuan anak dalam melakukan gerakan yang melibatkan otot kecil. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik halus anak adalah pengetahuan orang tua (ibu). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan motorik halus terhadap perkembangan motorik halus pada anak usia prasekolah di TK Negeri Susut Kaja. Penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa dan ibu siswa di TK Negeri Susut Kaja, sampel terdiri dari 33 siswa dan 33 ibu menggunakan teknik total sampling, analisa data menggunakan uji rank spearman. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner tingkat pengetahuan dan lembar KPSP.  Hasil sebagian besar pengetahuan ibu cukup yaitu sebanyak 15 orang (45,5%), sebanyak 16 anak (48,5%)  dengan perkembangan sesuai. Hasil uji rank spearman yaitu (0,005) p0,05 dan nilai korelasi koefisien (r)=0,473. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dan perkembangan motorik halus anak prasekolah. Kata Kunci: Prasekolah, Perkembangan Motorik Halus, Pengetahuan
Hubungan karakteristik caregiver dengan tingkat kecemasan caregiver yang memiliki orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) Kadek Dwi Anggita Aprilia Putri; Ni Made Nopita Wati Wati; Desak Made Ari Dwi Jayanti
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 2 No. 2 (2025): April Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v2i2.1311

Abstract

Background: The burden of caring for family members with mental disorders often triggers anxiety in caregivers, the intensity of which is influenced by caregiver characteristics. Purpose: To determine the correlation between caregiver’s characteristics and anxiety level in caregivers of individuals with mental disorders. Method: The research design used a descriptive with a cross-sectional approach model. The population of this study amounted to 155 people using purposive sampling, with a sample size of 123 people. The research instrument used a family characteristics questionnaire and the STAI-T Questionnaire. Data analysis using Spearman rank correlation test and Chi-Square test. Results: The results showed that the age of respondents was early adulthood (26–35 years) 45 respondents (36.5%), female 78 respondents (63.4%), high school/vocational high school education 75 respondents (61%), and worked as private employees 68 respondents (55.3%). The anxiety level of the respondents was in moderate anxiety as many as 53 respondents (43.1%). The results showed there was a relationship between age (p=0.013), gender (p=0.046), and occupation (p=0.019) with anxiety level, and there was no relationship between education and anxiety level (p=0.617). Conclusion: The results showed that caregiver characteristics such as age, gender, and occupation are factors that can affect caregiver anxiety levels.   Keywords: Caregiver Characteristics; Anxiety Level; Mental Disorders.   Pendahuluan: Beban merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa seringkali memicu kecemasan pada caregiver, yang intensitasnya dipengaruhi oleh berbagai karakteristik dari caregiver. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan karakteristik caregiver dengan tingkat kecemasan caregiver yang memiliki orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan model pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah caregiver yang memiliki orang dengan gangguan jiwa sebanyak 155 orang. Teknik sampling menggunakan non-probability sampling yaitu purposive sampling, dengan jumlah sampel 123 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner karakteristik keluarga dan State Trait Anxiety Inventory-Trait (STAI-T). Analisis data menggunakan uji korelasi rank Spearman dan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian didapatkan karakteristik usia responden berada pada usia dewasa awal (26–35 tahun) sebanyak 45 responden (36.5%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 78 responden (63.4%), berpendidikan SMA/SMK sebanyak 75 responden (61%), dan bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 68 responden (55.3%). Tingkat kecemasan responden sebagian besar mengalami kecemasan sedang dengan jumlah 53 responden (43.1%). Terdapat hubungan antara usia (p=0.013), jenis kelamin (p=0.046), pekerjaan (p=0.019) dengan tingkat kecemasan. Tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan (p=0.617). Simpulan: Sebagian besar caregiver mengalami kecemasan sedang. Beberapa karakteristik caregiver seperti usia, jenis kelamin, dan pekerjaan merupakan faktor yang dapat memengaruhi tingkat kecemasan caregiver selama merawat penderita gangguan jiwa. Diharapkan puskesmas dapat berperan aktif dalam membangun jaringan dukungan komunitas demi memudahkan keluarga untuk berkomunikasi mengenai kesulitan yang dihadapi sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan.   Kata Kunci: Karakteristik Caregiver; Tingkat Kecemasan: Gangguan Jiwa.