Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Meningkatkan Literasi TIK bagi Guru SD Labschool UPI Serang melalui Pelatihan Pemrograman Scratch Arifin, Willdan Aprizal; Lestari, Della Ayu; Apriansyah, Muhamad Renaldi; Rahardjo, Cakra; Azhari, Dhea Rahma
Jurnal Komunitas : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Institut Ilmu Sosial dan Manajemen Stiami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31334/jks.v6i2.1939

Abstract

Dalam upaya untuk meningkatkan literasi TIK bagi guru-guru SD Labshool UPI Serang, tim pengabdian kepada masyarakan program studi sistem infromasi kelautan melaksanan kegiatan pelatihan pemrograman scratch. Pemrograman Scratch merupakan bahasa pemrograman visual yang diadaptasi dari metode pembelajaran creative learning cycle yang dijanjikan dapat mendukung pembelajaran abad 21. Kegiatan diawali dengan persiapan yang cukup baik, yang kemudian dilanjutkan ke tahapan pelaksanaan. Peserta cukup antusias dalam mengikuti kegiatan ini karena dapat secara langsung mencoba membuat program menggunakan bahasa pemrograman scratch yang dinilai cukup mudah digunakan. Studi kasus yang terapkan pada pelatihan ini adalah membuat permainan sederhana tentang memilah sampah organik dan unorganik. Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan ini, tim pengabdian kepada masyarakan program studi sistem informasi kelautan akan melakukan pendampingan secara berkala terkait pembuatan program menggunakan bahasa pemrograman scratch ini.Dalam upaya untuk meningkatkan literasi TIK bagi guru-guru SD Labshool UPI Serang, tim pengabdian kepada masyarakan program studi sistem infromasi kelautan melaksanan kegiatan pelatihan pemrograman scratch. Pemrograman Scratch merupakan bahasa pemrograman visual yang diadaptasi dari metode pembelajaran creative learning cycle yang dijanjikan dapat mendukung pembelajaran abad 21. Kegiatan diawali dengan persiapan yang cukup baik, yang kemudian dilanjutkan ke tahapan pelaksanaan. Peserta cukup antusias dalam mengikuti kegiatan ini karena dapat secara langsung mencoba membuat program menggunakan bahasa pemrograman scratch yang dinilai cukup mudah digunakan. Studi kasus yang terapkan pada pelatihan ini adalah membuat permainan sederhana tentang memilah sampah organik dan unorganik. Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan ini, tim pengabdian kepada masyarakan program studi sistem informasi kelautan akan melakukan pendampingan secara berkala terkait pembuatan program menggunakan bahasa pemrograman scratch ini.
Penginderaan Jauh Dan Terintegrasi Berbasis GIS Analisis Perubahan Mangrove Dan Dampak Lingkungannya Di Desa Bedono Wilujeung, Alya Dina; Prasetyo, Aji; rahardjo, cakra; Lukman, Lukman
Prosiding Sains Nasional dan Teknologi Vol 11, No 1 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 11 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/psnst.v1i1.4936

Abstract

Mangrove merupakan ekosistem utama yang mendukung aktivitas kehidupan wilayah pesisir. Manfaat dari hutan mangrove tentunya sebagai penyeimbang siklus biologis di lingkungan pesisir seperti tempat pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground), dan sarang dari berbagai hewan. Namun, meningkatnya pertumbuhan masyarakat di kawasan pesisir khususnya pada daerah hutan mangrove, karena kebutuhan primer akan tempat tinggal harus terpenuhi maka masyarakat pesisir memanfaatkan areal hutan untuk pembangunan. Salah satu desa yang mengalami peningkatan pertumbuhan adalah Desa Bedono yang terletak di Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah. Sehingga terjadinya perubahan luasan mangrove di Desa Bedono. Untuk mengetahui berapa besar penyebab dan dampak adanya perubahan luasan mangrove ini perlu adanya informasi terkait luasan mangrove dan dampak lingkungan di Desa Bedono sebagai pendukung kebijakan pembangunan. Metode yang digunakan menggunakan penginderaan jauh. Melalui peranti lunak (software) yang digunakan untuk proses pengolahan dan interpretasi data adalah: ArcMap versi 10.7.1, Google Earth Engine dan Microsoft Excel 365. satelit Landsat 8 dengan Path 120/Row 65 pada tanggal 19 Agustus 2016 dan Path 120/Row 65 pada tanggal 7 April 2021. Hasilnya didapat luas mangrove di Desa Bedono pada 2016 sebesar 235.58 Ha dan pada 2021 sebesar 168.47 Ha.Kata kunci: Desa Bedono, Mangrove, Penginderaan Jauh, Lingkungan
Coral Reef Status after the 2018 Sunda Strait Tsunami Using the CPCe Program: A Case Study of Tanjung Lesung Banten Anzani, Luthfi; Minsaris, La Ode Alam; Wilujeung, Alya Dina; Rahardjo, Cakra; Hasidu, La Ode Fajar; Nugroho, Fajar
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 28 No. 1 (2023): February
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Tsunami that swept the Tanjung Lesung coast in 2018 caused Anak Krakatau to collapse in Sunda Strait which hit the coastal areas of Banten and Lampung. Tanjung Lesung is one of the worst areas affected. Tsunami in Tanjung Lesung has taken lives, damaged infrastructure, and caused terrible natural damage. One of the damages affecting residents' lives in the Tanjung Lesung coastal community is exposure to the marine ecosystem. The main ecosystem that has the highest productivity level is the coral reef. Coral biota is the main benthic biota of reefs that are directly affected by earthquakes and tsunamis. However, until now there has been no data on the status of coral reefs after the 2018 Sunda Strait tsunami. Therefore, researchers feel the urgency of this research is high enough to determine the condition of coral reefs after the Sunda Strait tsunami in Tanjung Lesung. There are 3 research stations for data collection before the tsunami, and we conduct research in those 3 stations again after the tsunami. Then we added 3 research stations again, so there are 6 research stations. Observation of coral reefs uses the Line Intercept Transect (LIT) method. The line transect is made by stretching a roll meter with a scale parallel to the coastline along 25 meters with three replications with an interval of about 0-5 meters between replications so the total observed transect was 75 meters. The deterioration of coral reef conditions at three research stations (1-3) proved that the tsunami waves affected the damage to coral reefs. This has an impact on the diversity of coral reef species inhabitants that have decreased. Disturbance form coral-damaged structure and composition changes of the base substrate as habitat can have an impact on reef fish and coral reef inhabitants. So that this research is expected to be a reference for policymakers in determining rehabilitation steps for areas affected by the 2018 Sunda Strait tsunami.
Coral Reef Status after the 2018 Sunda Strait Tsunami Using the CPCe Program: A Case Study of Tanjung Lesung Banten Anzani, Luthfi; Minsaris, La Ode Alam; Wilujeung, Alya Dina; Rahardjo, Cakra; Hasidu, La Ode Fajar; Nugroho, Fajar
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 28 No. 1 (2023): February
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Tsunami that swept the Tanjung Lesung coast in 2018 caused Anak Krakatau to collapse in Sunda Strait which hit the coastal areas of Banten and Lampung. Tanjung Lesung is one of the worst areas affected. Tsunami in Tanjung Lesung has taken lives, damaged infrastructure, and caused terrible natural damage. One of the damages affecting residents' lives in the Tanjung Lesung coastal community is exposure to the marine ecosystem. The main ecosystem that has the highest productivity level is the coral reef. Coral biota is the main benthic biota of reefs that are directly affected by earthquakes and tsunamis. However, until now there has been no data on the status of coral reefs after the 2018 Sunda Strait tsunami. Therefore, researchers feel the urgency of this research is high enough to determine the condition of coral reefs after the Sunda Strait tsunami in Tanjung Lesung. There are 3 research stations for data collection before the tsunami, and we conduct research in those 3 stations again after the tsunami. Then we added 3 research stations again, so there are 6 research stations. Observation of coral reefs uses the Line Intercept Transect (LIT) method. The line transect is made by stretching a roll meter with a scale parallel to the coastline along 25 meters with three replications with an interval of about 0-5 meters between replications so the total observed transect was 75 meters. The deterioration of coral reef conditions at three research stations (1-3) proved that the tsunami waves affected the damage to coral reefs. This has an impact on the diversity of coral reef species inhabitants that have decreased. Disturbance form coral-damaged structure and composition changes of the base substrate as habitat can have an impact on reef fish and coral reef inhabitants. So that this research is expected to be a reference for policymakers in determining rehabilitation steps for areas affected by the 2018 Sunda Strait tsunami.
Coral Reef Status after the 2018 Sunda Strait Tsunami Using the CPCe Program: A Case Study of Tanjung Lesung Banten Anzani, Luthfi; Minsaris, La Ode Alam; Wilujeung, Alya Dina; Rahardjo, Cakra; Hasidu, La Ode Fajar; Nugroho, Fajar
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 28 No. 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Tsunami that swept the Tanjung Lesung coast in 2018 caused Anak Krakatau to collapse in Sunda Strait which hit the coastal areas of Banten and Lampung. Tanjung Lesung is one of the worst areas affected. Tsunami in Tanjung Lesung has taken lives, damaged infrastructure, and caused terrible natural damage. One of the damages affecting residents' lives in the Tanjung Lesung coastal community is exposure to the marine ecosystem. The main ecosystem that has the highest productivity level is the coral reef. Coral biota is the main benthic biota of reefs that are directly affected by earthquakes and tsunamis. However, until now there has been no data on the status of coral reefs after the 2018 Sunda Strait tsunami. Therefore, researchers feel the urgency of this research is high enough to determine the condition of coral reefs after the Sunda Strait tsunami in Tanjung Lesung. There are 3 research stations for data collection before the tsunami, and we conduct research in those 3 stations again after the tsunami. Then we added 3 research stations again, so there are 6 research stations. Observation of coral reefs uses the Line Intercept Transect (LIT) method. The line transect is made by stretching a roll meter with a scale parallel to the coastline along 25 meters with three replications with an interval of about 0-5 meters between replications so the total observed transect was 75 meters. The deterioration of coral reef conditions at three research stations (1-3) proved that the tsunami waves affected the damage to coral reefs. This has an impact on the diversity of coral reef species inhabitants that have decreased. Disturbance form coral-damaged structure and composition changes of the base substrate as habitat can have an impact on reef fish and coral reef inhabitants. So that this research is expected to be a reference for policymakers in determining rehabilitation steps for areas affected by the 2018 Sunda Strait tsunami.
Coral Reef Status after the 2018 Sunda Strait Tsunami Using the CPCe Program: A Case Study of Tanjung Lesung Banten Anzani, Luthfi; Minsaris, La Ode Alam; Wilujeung, Alya Dina; Rahardjo, Cakra; Hasidu, La Ode Fajar; Nugroho, Fajar
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 28 No. 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Tsunami that swept the Tanjung Lesung coast in 2018 caused Anak Krakatau to collapse in Sunda Strait which hit the coastal areas of Banten and Lampung. Tanjung Lesung is one of the worst areas affected. Tsunami in Tanjung Lesung has taken lives, damaged infrastructure, and caused terrible natural damage. One of the damages affecting residents' lives in the Tanjung Lesung coastal community is exposure to the marine ecosystem. The main ecosystem that has the highest productivity level is the coral reef. Coral biota is the main benthic biota of reefs that are directly affected by earthquakes and tsunamis. However, until now there has been no data on the status of coral reefs after the 2018 Sunda Strait tsunami. Therefore, researchers feel the urgency of this research is high enough to determine the condition of coral reefs after the Sunda Strait tsunami in Tanjung Lesung. There are 3 research stations for data collection before the tsunami, and we conduct research in those 3 stations again after the tsunami. Then we added 3 research stations again, so there are 6 research stations. Observation of coral reefs uses the Line Intercept Transect (LIT) method. The line transect is made by stretching a roll meter with a scale parallel to the coastline along 25 meters with three replications with an interval of about 0-5 meters between replications so the total observed transect was 75 meters. The deterioration of coral reef conditions at three research stations (1-3) proved that the tsunami waves affected the damage to coral reefs. This has an impact on the diversity of coral reef species inhabitants that have decreased. Disturbance form coral-damaged structure and composition changes of the base substrate as habitat can have an impact on reef fish and coral reef inhabitants. So that this research is expected to be a reference for policymakers in determining rehabilitation steps for areas affected by the 2018 Sunda Strait tsunami.
Mekanisme Pengumpulan Data Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu Rosalia, Ayang Armelita; Anzhani, Luthfi; Minsaris, La Ode Alam; Tirtana, Denta; Lukman, Lukman; Malik, Abdul; Rahardjo, Cakra
Baselang Vol 4, No 1: APRIL 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v4i1.135

Abstract

Pendataan hasil tangkapan merupakan salah satu aktivitas untuk mengetahui jumlah dan jenis ikan hasil tangkapan dari suatu kapal perikanan. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan data yang  realistik terkait hasil tangkapan yang didaratkan sehingga data yang  didapatkan dapat digunakan oleh Pelabuhan Perikanan sebagai  pembanding logbook yang diserahkan oleh pihak kapal, sehingga didapatkan data produktivitas yang akurat. Optimalisasi kinerja petugas pendataan akan meningkatkan  efektivitas, struktur dan tugas organisasi pelaksana pendataan. Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini akan menganalisis bagaimana kinerja sistem pendataan hasil tangkapan ikan yang didaratkan di PPN Karangantu dan merekomendasikan saran tindakan perbaikan sistem pendataan hasil tangkapan ikan di PPN Karangantu. Hasil penelitian yang didapatkan adalah pada tahap analisis sudah dilakukan wawancara dengan nelayan, enumerator dan syahbandar PPN Karangantu. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang digunakan di PPN Karangantu adalah sudah sesuai dengan SOP yang berlaku secara nasional yaitu Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Direktorat Pelabuhan Perikanan, dengan pengadopsian dan modifikasi SOP sehingga terjadi penyesuaian SOP yang diberlakukan di PPN Karangantu. Ditemukan beberapa kekurangan pada sistem pendataan yang sudah diterapkan di PPN Karangantu beberapa di antaranya yaitu terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendata ke lokasi-lokasi pendataan hasil tangkapan yang didaratkan di luar Tempat Pendaratan Ikan (TPI). Potensi atau saran untuk efisiensi pendataan hasil tangkap di PPN Karangantu adalah adanya aplikasi yang dapat mengidentifikasi jenis ikan untuk entry pendataan yang diikuti hasil penimbangan berkaitan dengan efisiensi waktu sehingga dapat mengurangi delay.
Penanaman Mangrove di Pulau Tunda Provinsi Banten Untuk Pengembangan Potensi Berkelanjutan Anzani, Luthfi; Lestari, Della Ayu; Ahmad, Kiffah Kayyisah; Putri, Kiran Aulia; Rahardjo, Cakra; Apriansyah, Muhamad Renaldi
ABDIMASKU : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : LPPM UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v6i2.1025

Abstract

Mangrove merupakan ekosistem penting dalam sebuah pesisir dan wilayah kepulauan. Ekosistem mangrove ini memberikan dampak langsung kepada masyarakat sekitar. Di pulau yang memiliki tingkat pasang-surut yang tinggi tentunya memiliki dan menjaga ekosistem mangrove dengan benar menjadikan ekosistem mangrove sebagai pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Pulau Tunda merupakan salah satu pulau di Kabupaten Serang yang memiliki banyak ekosistem mangrove. Tetapi masih terdapat beberapa tempat yang memiliki nilai kerapatan hutan mangrove yang kecil. Pada pengabdian kepada masyarakat ini memiliki kegiatan yaitu menanam mangrove bersama warga sekitar pulau Tunda. Kegiatan tersebut bertempat di titik yang memiliki nilai kerapatan mangrove yang kecil dan berbatasan langsung dengan lingkungan masyarakat sekitar. Diharapkan penanaman mangrove ini membantu untuk mengatasi degradasi kawasan hutan mangrove yang kemudian berdampak langsung kepada masyarakat sekitar.