Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Perancangan dan Pengembangan Aplikasi MyP3K: Aplikasi Informasi Kesehatan Berbasis Database Penyakit, Pemeriksaan, dan Pengobatan Widodo, Nicolaus Sri; Syafaat, Mohamad; Lukitasari, Nurraya; Safari, Wulan Fitriani
Jurnal Rekayasa Teknologi Informasi (JURTI) Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa Teknologi Informasi (JURTI)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jurti.v10i1.22881

Abstract

Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara penyampaian edukasi kesehatan, dari metode konvensional menuju pendekatan digital yang lebih interaktif. Meskipun akses terhadap informasi kesehatan semakin luas, masyarakat masih menghadapi tantangan akibat fragmentasi data—informasi tentang penyakit, pemeriksaan medis, dan panduan pengobatan tersebar dan sulit diakses secara terpadu. Hal ini berdampak pada rendahnya literasi kesehatan dan pengambilan keputusan medis yang kurang tepat. Integrasi informasi Kesehatan penting untuk membangun pemahaman yang menyeluruh dan meningkatkan pengambilan keputusan kesehatan secara mandiri serta membantu masyarakat lebih mandiri dalam memahami kondisi kesehatannya, mendorong pencegahan dini, serta mendukung transformasi digital di sektor kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan aplikasi “MyP3K” (Penyakit, Pemeriksaan, dan PengobatanKu), sebuah aplikasi mobile berbasis android yang mengintegrasikan informasi penyakit, rekomendasi pemeriksaan medis, dan panduan pengobatan dalam satu platform edukatif yang mudah dipahami masyarakat awam.. Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap yaitu pengumpulan informasi Kesehatan, Perancangan Sistem dan Desain Aplikasi, Implementasi, Pengembangan, pengujian dan evaluasi Aplikasi, serta penerapan ke Masyarakat dan evaluasi edukasi Penelitian sudah berhasil membuat aplikasi MyP3K” (Penyakit, Pemeriksaan, dan PengobatanKu). Aplikasi MyP3K dapat menjadi platform edukatif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan berdampak pada pengambilan keputusan medis yang tepat
EVALUASI ANGKA KAPANG KHAMIR JAMU BERAS KENCUR SEDIAN CAIR DI SEKITAR STASIUN KALIBATA JAKARTA Wulan Fitriani Safari; Nia Agustin; Shalsabilla Valerina Riantonia
JURNAL BIOSENSE Vol 9 No 3 (2026): Edisi Juli 2026
Publisher : Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v9i3.8515

Abstract

Jamu beras kencur merupakan minuman tradisional yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan dibuat dari campuran beras, kencur, jahe, serta air. Kualitas mikrobiologis jamu dapat dipengaruhi oleh kualitas bahan baku, kebersihan pekerja, proses pengolahan, dan kondisi lingkungan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu mikrobiologis jamu beras kencur yang dijual di sekitar Stasiun Kalibata, Jakarta berdasarkan parameter Angka Kapang dan Khamir (AKK) serta menilai kesesuaiannya dengan standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 32 Tahun 2019. Sebanyak lima sampel jamu beras kencur diperoleh dari pedagang di sekitar Stasiun Kalibata, Jakarta. Pengujian AKK dilakukan mengacu pada SNI 21527-1:2012. Sampel diencerkan secara berseri hingga pengenceran 10⁻⁷ menggunakan Buffered Peptone Water. Sebanyak 1 mL dari setiap pengenceran diinokulasikan ke dalam media Dichloran Rose Bengal Chloramphenicol Agar (DRBC), kemudian diinkubasi selama 5 hari. Koloni kapang dan khamir yang tumbuh dihitung untuk menentukan nilai AKK masing-masing sampel. Hasil pengujian menunjukkan nilai AKK pada sampel A, B, C, D, dan E berturut-turut sebesar 5,14 × 10⁵; 6,9 × 10⁴; 1,28 × 10⁴; 1,23 × 10⁶; dan 3,27 × 10³ koloni/mL. Seluruh sampel memiliki nilai AKK yang melebihi batas maksimum yang ditetapkan BPOM, yaitu 10³ koloni/mL. Dengan demikian, seluruh sampel dinyatakan tidak memenuhi persyaratan mutu mikrobiologis. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan higiene dan sanitasi dalam produksi dan penjualan jamu beras kencur untuk menjamin keamanan produk bagi konsumen. Abstract Jamu beras kencur is a traditional Indonesian beverage widely consumed by the community and prepared from a mixture of rice, aromatic ginger (Kaempferia galanga), ginger, and water. The microbiological quality of herbal drinks can be affected by the quality of raw materials, worker hygiene, processing practices, and environmental conditions during production. This study aimed to evaluate the microbiological quality of beras kencur herbal drinks based on the Yeast and Mold Count (YMC) parameter and to assess their compliance with the standards established by the Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Regulation No. 32 of 2019. Five beras kencur samples were collected from vendors operating around Kalibata Station, Jakarta. YMC analysis was conducted in accordance with SNI 21527-1:2012 using Buffered Peptone Water as the diluent and Dichloran Rose Bengal Chloramphenicol Agar (DRBC) as the culture medium. Serial dilutions were prepared up to 10⁻⁷ using BPW. One milliliter of each dilution was inoculated onto DRBC medium and incubated for 5 days. The resulting yeast and mold colonies were counted to determine the YMC value of each sample. The YMC values of samples A, B, C, D, and E were 5.14 × 10⁵, 6.9 × 10⁴, 1.28 × 10⁴, 1.23 × 10⁶, and 3.27 × 10³ Colony/mL, respectively. All samples exceeded the maximum limit established by BPOM (10³ Colony/mL) and were therefore classified as non-compliant with microbiological quality requirements. These findings indicate the need for improved hygiene and sanitation practices during the production and distribution of jamu beras kencur to ensure consumer safety.
Bacterial Contamination of Medical Masks Across Different Wear Durations in Campus Setting Wulan Fitriani Safari; Achmadi; Intan Kurniawati Pramitaningrum; Silvi Almadhita Saphira; Amar Rizqi Kusuma; Sheila Camelia
Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol. 13 No. 2 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/florea.v13i2.24519

Abstract

Medical masks play an important role in minimizing infection risk; however, they may also act as reservoirs for bacterial contamination. Mask wear duration is a key factor influencing microbial accumulation. While previous studies have focused on healthcare, industrial, or community settings, limited attention has been given to campus environments, where prolonged mask use is common among students and staff. This study aimed to evaluate bacterial contamination on disposable medical masks across different wear durations in a campus setting. This study involved 10 student who wore disposable medical masks for 0 (control), 3, and 6 hours under campus conditions. Bacterial contamination was assessed using the Plate Count Agar (PCA) method following serial dilution, and results were expressed as CFU/cm². Data were analyzed using using the Kruskal–Wallis test. The results showed a progressive increase in bacterial contamination with longer mask wear duration, from 0 hours (0 ± 0 CFU/cm²), to 3 hours (34.8 ± 28.04 CFU/cm²), and sharply at 6 hours (7297.59 ± 9552.08 CFU/cm²). Significant differences were observed between wear durations. In conclusion, extended mask wear duration may increase the risk of bacterial accumulation; therefore, appropriate mask replacement practices are recommended to support personal hygiene and health protection
Hubungan Antara Kadar HbA1c dengan Kadar Trigliserida terhadap Pasien Prolanis Diabetes Melitus Tipe 2 di Laboratorium Klinik Kimia Farma Depok Riantika Lutfiana Putri; Desi Aryani; Wulan Fitriani Safari
Jaringan Laboratorium Medis Vol 6 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlm.v6i2.12189

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a group of metabolic disorders characterized by elevated blood glucose levels resulting from abnormalities in insulin secretion, insulin action, or both. Patients with Type 2 DM are at a higher risk of developing cardiovascular diseases, often indicated by dyslipidemia, which is characterized by elevated triglyceride levels, increased Low-Density Lipoprotein (LDL) levels, and decreased High-Density Lipoprotein (HDL) levels. This study employs an analytical observational design. The data obtained shows that controlled and uncontrolled HbA1c levels with normal triglyceride levels were found in 24.7% of the patients, while 75.3% had high triglyceride levels. The data were further analyzed using the Statistical Package for the Social Sciences 25 (SPSS 25) with a non-parametric test, specifically the Chi-Square continuity correction test, with a significance level of p < 0.05. The Chi-Square test results indicated that H0 was rejected and Ha was accepted, with a p-value of < 0.036 for the relationship between HbA1c and triglycerides. These results suggest a correlation between HbA1c levels and triglyceride levels in Prolanis Type 2 DM patients at Kimia Farma Clinical Laboratory in Depok. These findings can serve as an evaluation material for Prolanis DM Type 2 patients to control their glycemic levels by routinely monitoring their HbA1c and triglyceride levels.