Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Living Qur’an dalam Tradisi Batumbang di Kuburan Pada Masyarakat Desa Satiruk Kotawaringin Timur Ramadhan, Nafi Nur; Dasuki, Akhmad; Munirah, Munirah
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 8 No 4 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v8i4.4986

Abstract

The practice of religious traditions and rituals in graveyards often causes controversy because some people consider them to be elements of shirk. However, these traditions remain alive, as seen in the batumbang ritual in Satiruk Village. This study aims to analyze how the Qur'an is brought to life and applied in local culture through the batumbang tradition`, as well as to understand the integration of Islamic teachings in local cultural practices. This study uses the living Qur'an theory and Emile Durkheim's Cultural Paradigm theory as its analytical framework. The method used is qualitative with a field research approach that includes observation, in-depth interviews, and document analysis. The results show that the batumbang tradition serves as an expression of the community's gratitude for the fulfillment of their vows by combining Islamic teachings, such as the recitation of Surah Al-Fatihah and Surah Yasin, with local cultural practices. In the context of Durkheim's Cultural Paradigm theory, this ritual reflects four main pillars, namely sacredness as seen in the ritual at the grave of a religious figure, role classification in the ritual, rites reflected in the recitation of Surah Yasin, and solidarity formed through togetherness in prayer and food sharing. The batumbang tradition also reflects the application of the living Qur'an, in which the teachings of the Qur'an are translated into social practices that strengthen social bonds and religious understanding among the local community. This study concludes that the batumbang tradition illustrates the synergy between Islamic teachings and local culture, which reinforce each other.
Analisis Living Qur’an pada  Tradisi Banyu Pelungsur dalam Persalinan Muslipah; Dasuki, Akhmad; El Bilad, Cecep Zakarias; Afriansyah, Ade
Syams Vol 5 No 1 (2024): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/x7d3nz96

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali proses penggunaan, pemaknaan serta diperolehnya ayat yang dijadikan sebagai bacaan dalam tradisi Banyu Pelungsur. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan metode deskriptif analisis. Pendekatan dalam penelitian ini adalah fenomenologi dengan menggunakan Teori Resepsi Ahmad Rafiq. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Adapun lokasi penelitian ini berada di Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, dengan jumlah subjek 14 bidan kampung yang masuk dalam syarat dan kriteria penelitian. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa bidan kampung mengobati pelancar persalinan mengunakan ayat Al-Qur’an dengan alternatif air sebagai pengobatan. Selanjutnya, ayat yang digunakan dalam bacaan pelancar persalinan dengan membaca surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Ayat kursi, At-Takasur, Al-Fil, do’a Nabi Yunus yang ditelan Ikan Nun yang terdapat dalam surah Al-Anbiya dan do’a siti Maryam pada saat melahirkan Nabi Isa AS. Dalam tradisi Banyu Pelungsur ini terdapat resepsi fungsional dimana ayat tersebut berfungsi sebagai pelancar persalinan. Tradisi ini berasal turun-temurun dari orang tua, guru dan ustadz.  
Kajian Q.S. An-Nur ayat 27 dalam Tafsir al-Misbah: Relevansinya terhadap Etika Komunikasi Digital Awalia, Dina; Dasuki, Akhmad; Masruroh, Umi; Rusdeana, Rusdeana; Jainah, Jainah; Rahmatunnaimah, Rahmatunnaimah
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.13853

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mengubah pola komunikasi modern dan memunculkan berbagai tantangan etis, terutama terkait privasi dan kesantunan dalam interaksi daring. Dalam perspektif Islam, etika komunikasi tidak hanya terbatas pada interaksi tatap muka, tetapi berakar pada ajaran Al-Qur’an yang menekankan adab serta penghormatan terhadap batasan pribadi. Penelitian ini menganalisis Q.S. An-Nur ayat 27 berdasarkan Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab serta mengeksplorasi relevansinya terhadap etika komunikasi digital. Menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, data dianalisis melalui analisis isi dalam kerangka adabi al-ijtima’i (sastra-sosial). Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai Qur’ani tentang isti’dzān (meminta izin) dan salam (ungkapan penghormatan) merupakan etika sosial universal yang tetap relevan dalam ruang interaksi digital. Nilai-nilai ini mendorong perilaku daring yang santun, empatik, dan menghormati privasi. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada perluasan penerapan tafsir adabi al-ijtima’i ke dalam konteks digital kontemporer. Secara praktis, penelitian ini menawarkan panduan etis berbasis Al-Qur’an untuk membangun komunikasi yang penuh hormat dan harmonis pada platform digital modern.
Kebebasan Beragama sebagai Pilar Moderasi: Analisis QS. Al-Baqarah 2:256 dalam Tafsir Al-Majid An-Nur Mahda, Mahda; Afifah, Nor; Sa’adah, Nismah; Jannah, Nisa Ghina Raudatul; Dasuki, Akhmad; Mahfuzh, Taufik Warman
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i2.645

Abstract

Religious freedom in Indonesia plays a vital role in preserving social harmony and peace among people of diverse faiths. Although the Constitution guarantees every citizen the right to choose and practice their religion, challenges often emerge in reality, including social tensions arising from religious differences. This study examines Hasbi Ash-Shiddieqy’s interpretation of QS. Al-Baqarah verse 256 in Tafsir Al-Majid an-Nur as a basis for understanding the Islamic concept of religious freedom. It also explores how his perspective aligns with the human rights principles recognized in Indonesia. Employing a qualitative descriptive method through a library research approach, this study analyzes both the tafsir text and relevant scholarly works. The findings reveal that Hasbi Ash-Shiddieqy underscores the Qur’anic notion that religion must not be imposed, as genuine faith originates from personal conviction and inner awareness rather than external coercion. His interpretation links religious freedom with the value of moderation, which advocates tolerance, respect for diversity, and the pursuit of social harmony in a plural society. Ultimately, Hasbi’s thought reinforces Islam’s image as an inclusive religion that upholds individual freedom in faith, serving as a crucial pillar in fostering a just, peaceful, and respectful community.