Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Production and exchange of meaning in instagram beauty influencer visual content in Indonesia: a social semiotic analysis Ariani Kusumo Wardhani; Hanisa Hassan; Irfandi Musnur
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v21i2.4748

Abstract

The development of technology aligns with the evolution of information media, which is increasingly dynamic in contemporary times. Instagram serves as a social media platform employed by beauty influencers to disseminate information pertaining to beauty. Visual content showcasing diverse beauty reviews captivates a substantial female audience, resulting in millions of followers on Instagram. This study aims to interpret the conveyed meanings by Indonesian female beauty influencers, such as Tasya Farasya, Kesha Ratuliu, and Hanggini. The qualitative methodology employs social semiotic theory to extract meanings embedded in the text or discourse presented by each influencer, considering social and cultural perspectives. This research adopts a constructivist paradigm, emphasizing the production and exchange of meanings. The study analyzes the meaning behind the messages conveyed by each beauty influencer on social media. The images portrayed by Tasya Farasya, Kesha Ratuliu, and Hanggini exhibit distinct representations both interactively and compositionally. The interactive metaphoric function is evident in the endurance of their image, showcased through visually appealing content on Instagram photos. This results in the creation of a multimodal visual composition in the photos.
RELASI VISUAL PADA KONTEN YOUTUBE ANDRA ALODITA DAN MEILINDA KORNELLIA MELALUI KAJIAN SEMIOTIKA Wardhani, Ariani Kusumo; Musnur, Irfandi; Hassan, Hanisa
PANGGUNG Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2906

Abstract

Media Youtube dan konten visual merupakan dua diksi yang melahirkan fenomena-fenomena baru dalam kajian tanda. Kehadiran media tersebut membongkar ketatnya produksi visual yang terlihat pada media televisi (konvensional). Menarikya, media Youtube kini membuka wahana baru dalam penciptaan relasi visual yang lebih longgar. Kebebasan ini menciptakan beragam kreatifitas dalam produksi visual. Tawaran baru bermunculan melalui tampilan visual keseharian dari para Vlogger maupun influencer. Khususnya pada beautyinfluencer, produksi promosi melalui youtube tidak lagi menyuguhkan kompleksitas desain ala iklan televisi, namun visualisasi keseharian para influencer menggunakan skincare menarik banyak pengunjung maya. Persitiwa ini menjadi sebuah wacana yang sangat menarik untuk didiskusikan. Untuk itu, kehadiran penelitian ini mencoba mengungkap bagaiman relasi visual tersebut dapat terjadi melalui kajian semiotika intertekstual. Objek materi dalam kajian ini adalah dua beauty influencer perempuan Indonesia yakni Andra Alodita dan Meilinda Kornellia. Pendekatan jenis peneltian dilakukan melalui paradigma kualitatif dengan metode studi kasus. Melalui metode tersebut, data diperoleh dengan teknik observasi, literasi, pustaka dan analisa konten visual pada video Youtube. Selanjutnya pembahasan mendalam dilakukan melalui kajian semiotika intertekstual Charles Sanders Peirce. Pembacaan semiotika melalui Pierce membongkar persoalanpersoalan dalam kehadiran relasi tanda-tanda baru yang lahir dari para beauty influencer melalui media Youtube. Hal ini berimplikasi pada tawaran-tawaran baru dalam dunia kreatifitas periklanan yang lebih bebas. Keywords: beauty influencer, semiotika intertekstual, YouTube, Relasi Visual.
RELASI VISUAL PADA KONTEN YOUTUBE ANDRA ALODITA DAN MEILINDA KORNELLIA MELALUI KAJIAN SEMIOTIKA Ariani Kusumo Wardhani; Irfandi Musnur; Hanisa Hassan
PANGGUNG Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2906

Abstract

Media Youtube dan konten visual merupakan dua diksi yang melahirkan fenomena-fenomena baru dalam kajian tanda. Kehadiran media tersebut membongkar ketatnya produksi visual yang terlihat pada media televisi (konvensional). Menarikya, media Youtube kini membuka wahana baru dalam penciptaan relasi visual yang lebih longgar. Kebebasan ini menciptakan beragam kreatifitas dalam produksi visual. Tawaran baru bermunculan melalui tampilan visual “keseharian” dari para Vlogger maupun influencer. Khususnya pada “ beautyinfluencer”, produksi promosi melalui youtube tidak lagi menyuguhkan kompleksitas desain ala iklan televisi, namun visualisasi keseharian para influencer menggunakan skincare menarik banyak pengunjung maya. Persitiwa ini menjadi sebuah wacana yang sangat menarik untuk didiskusikan. Untuk itu, kehadiran penelitian ini mencoba mengungkap bagaiman relasi visual tersebut dapat terjadi melalui kajian semiotika intertekstual. Objek materi dalam kajian ini adalah dua beauty influencer perempuan Indonesia yakni Andra Alodita dan Meilinda Kornellia. Pendekatan jenis peneltian dilakukan melalui paradigma kualitatif dengan metode studi kasus. Melalui metode tersebut, data diperoleh dengan teknik observasi, literasi, pustaka dan analisa konten visual pada video Youtube. Selanjutnya pembahasan mendalam dilakukan melalui kajian semiotika intertekstual Charles Sanders Peirce. Pembacaan semiotika melalui Pierce membongkar persoalanpersoalan dalam kehadiran relasi tanda-tanda baru yang lahir dari para beauty influencer melalui media Youtube. Hal ini berimplikasi pada tawaran-tawaran baru dalam dunia kreatifitas periklanan yang lebih bebas. Keywords: beauty influencer, semiotika intertekstual, YouTube, Relasi Visual.
The Empowerment of Kembangan Utara Community in Increasing the Value of Soap Products Made from Waste Cooking Oil Through Visual Branding Wardhani, Ariani Kusumo; Ulita, Novena; Malihah, Fadhila Dhia
Jurnal Abdi Masyarakat (JAM) Vol 10, No 2 (2025): JAM (Jurnal Abdi Masyarakat) - Maret 2025
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jam.v10i2.30258

Abstract

Waste Cooking Oil (WCO) is a prevalent form of household waste in Indonesia, often mismanaged due to a lack of awareness and infrastructure. In the densely populated area of RW 06 Kembangan Utara, Jakarta, improper waste disposal exacerbates environmental issues. However, repurposing WCO into soap offers renewed benefits and utility. Despite this, the association of the product with WCO creates a stigma that hinders its acceptance and economic viability. This community empowerment initiative aimed to address these challenges by enhancing the perceived value of soap products through visual branding strategies. Conducted over 12 sessions, the program engaged the RW 06 Kembangan Utara community in six systematic stages, providing education on WCO processing, product development, and branding. As a result, the community not only gained awareness about sustainable waste management but also acquired skills in creating visually appealing packaging to market their soap products effectively. The initiative serves as a foundation for fostering environmental responsibility and economic empowerment, encouraging the community to continue this small but impactful step toward a healthier and more sustainable future.
Production and exchange of meaning in instagram beauty influencer visual content in Indonesia: a social semiotic analysis Wardhani, Ariani Kusumo; Hassan, Hanisa; Musnur, Irfandi
Gelar: Jurnal Seni Budaya Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v21i2.4748

Abstract

The development of technology aligns with the evolution of information media, which is increasingly dynamic in contemporary times. Instagram serves as a social media platform employed by beauty influencers to disseminate information pertaining to beauty. Visual content showcasing diverse beauty reviews captivates a substantial female audience, resulting in millions of followers on Instagram. This study aims to interpret the conveyed meanings by Indonesian female beauty influencers, such as Tasya Farasya, Kesha Ratuliu, and Hanggini. The qualitative methodology employs social semiotic theory to extract meanings embedded in the text or discourse presented by each influencer, considering social and cultural perspectives. This research adopts a constructivist paradigm, emphasizing the production and exchange of meanings. The study analyzes the meaning behind the messages conveyed by each beauty influencer on social media. The images portrayed by Tasya Farasya, Kesha Ratuliu, and Hanggini exhibit distinct representations both interactively and compositionally. The interactive metaphoric function is evident in the endurance of their image, showcased through visually appealing content on Instagram photos. This results in the creation of a multimodal visual composition in the photos.
RELASI VISUAL PADA KONTEN YOUTUBE ANDRA ALODITA DAN MEILINDA KORNELLIA MELALUI KAJIAN SEMIOTIKA Wardhani, Ariani Kusumo; Musnur, Irfandi; Hassan, Hanisa
PANGGUNG Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2906

Abstract

Media Youtube dan konten visual merupakan dua diksi yang melahirkan fenomena-fenomena baru dalam kajian tanda. Kehadiran media tersebut membongkar ketatnya produksi visual yang terlihat pada media televisi (konvensional). Menarikya, media Youtube kini membuka wahana baru dalam penciptaan relasi visual yang lebih longgar. Kebebasan ini menciptakan beragam kreatifitas dalam produksi visual. Tawaran baru bermunculan melalui tampilan visual “keseharian” dari para Vlogger maupun influencer. Khususnya pada “ beautyinfluencer”, produksi promosi melalui youtube tidak lagi menyuguhkan kompleksitas desain ala iklan televisi, namun visualisasi keseharian para influencer menggunakan skincare menarik banyak pengunjung maya. Persitiwa ini menjadi sebuah wacana yang sangat menarik untuk didiskusikan. Untuk itu, kehadiran penelitian ini mencoba mengungkap bagaiman relasi visual tersebut dapat terjadi melalui kajian semiotika intertekstual. Objek materi dalam kajian ini adalah dua beauty influencer perempuan Indonesia yakni Andra Alodita dan Meilinda Kornellia. Pendekatan jenis peneltian dilakukan melalui paradigma kualitatif dengan metode studi kasus. Melalui metode tersebut, data diperoleh dengan teknik observasi, literasi, pustaka dan analisa konten visual pada video Youtube. Selanjutnya pembahasan mendalam dilakukan melalui kajian semiotika intertekstual Charles Sanders Peirce. Pembacaan semiotika melalui Pierce membongkar persoalanpersoalan dalam kehadiran relasi tanda-tanda baru yang lahir dari para beauty influencer melalui media Youtube. Hal ini berimplikasi pada tawaran-tawaran baru dalam dunia kreatifitas periklanan yang lebih bebas. Keywords: beauty influencer, semiotika intertekstual, YouTube, Relasi Visual.
Perspektif Perempuan Urban di Jakarta pada Perubahan Majalah Digital Ariani Wardhani
Deskomvis: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa dan Media Vol. 1 No. 1 (2020): DESKOMVIS: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa dan Media
Publisher : Asosiasi Program Studi Desain Komunikasi Visual Indonesia (Asprodi DKV)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38010/deskomvis.v1i1.3

Abstract

Penelitian ini membahas tentang persepsi perempuan terhadap penggunaan majalah digital yang sudah cukup lama beredar. Tidak semua para perempuan Indonesia mau menerima perubahan penggunaan majalah digital, namun semua itu ada penyebabnya dikarenakan mereka masih merasa nyaman dalam membaca majalah cetak. Penggunaan antara majalah cetak ke digital selain banyak mengandung unsur pergeseran budaya juga menghasilkan persepsi yang berbeda. Setiap pembaca memiliki proses menerima rangsangan atau data dari berbagai sumber sebelum menghasilkan persepsi dalam sesuatu. Kebanyakan data yang diperoleh dari panca indera dari pembaca, sehingga dapat mempelajari sebelum mencerna dari melihat, merasakan, mencium, mendengar, atau menyentuhnya. Ketika diadakannya focus group discussion setiap individu pembaca perempuan memiliki faktor-faktor sebelum mempersepsikan ketika membaca majalah cetak dan digital. Penelitian ini mencari tentang persepsi perempuan urban terutama di Jakarta dalam membaca majalah digital, sehingga hasil dari penelitian ini dapat berguna bagi kemajuan majalah digital di Indonesia.