Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Saluran Islamisasi di Palembang APRIANA APRIANA; HERYATI HERYATI; NURHAYATI DINA; HUDAIDAH HUDAIDAH
Raudhah - Proud To Be Professional مجلد 7 عدد 2 (2022): Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah-DESEMBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48094/raudhah.v7i2.216

Abstract

Researchers in this study raise issues regarding channels of Islamization in South Sumatra. The method used is the historical method. Including the type of research library research. Data collection was obtained through a literature study by looking for references related to this research. After the data has been collected, an analysis is carried out including the stages of verification, interpretation and historiography. The results of this study indicate that Islamization channels in the South Sumatra region, especially Palembang, include: trade, marriage, Sufism, politics and education. Trade is the channel of the earliest Islamization carried out. This was very possible because along with the busy trade traffic in Palembang from the 7th to the 16th century AD, so that there were marriages between Muslim merchants and local residents. The next channel of Islamization in Palembang is through Sufism. Sufism in Palembang is also a media that plays a role in shaping the social life of Palembang people. This is proven by the existence of texts of Sufism teachings. In the political field, the Islamization of the power elite occurred, where marriages between Arabs and the children of local authorities took place for political purposes. Meanwhile, in the field of education during the Palembang Darussalam Sultanate, Islamic development occurred in the field of science. As a center for the study of religion and literature, the activities of religious studies are quite developed and advanced. Religious educational institutions are managed by religious bureaucrats through recitation at mosques and at the homes of religious officials. Therefore, in Palembang there were no pesantren like in Java
PERANAN MURIEL STUART WALKER (SURABAYA SUE) DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI SURABAYA 1945-1949, SUATU SUMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN Fadhilah, Adinda Rizki; Dina, Nurhayati; Rusdiana, Yusinta Tia
Danadyaksa Historica Vol 4, No 2 (2024): Danadyaksa Historica
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jdh.v4i2.9027

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk mengetahui peranan  Surabaya Sue dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya 1945-1949 suatu sumbangan media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) peranan Muriel Stuart Walker (Surabaya Sue) dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya 1945-1949, (2) dampak dari peranan Muriel Stuart Walker (Surabaya Sue) dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia bagi kehidupan politik masyarakat di Surabaya 1945-1949, (3) bentuk sumbangan dari materi peranan Muriel Stuart Walker (Surabaya Sue) dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya 1945-1949 dalam pembelajaran sejarah. Metode : metode historiografi. Jenis Penelitian : kajian pustaka. Penulis menggunakan Pendekatan geografi, sosiologi, antropologi, politik dan militer. Penulis juga menggunakan Teknik Pengumpulan Data : studi kepustakaan dan dokumentasi. Teknik Analisis Data : kritik sumber (verifikasi), interpretasi, historiografi. Kesimpulan : (1) Peranan Surabaya Sue dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya 1945-1949 yakni dimulai ketika Surabaya Sue diangkat anak oleh keluarga kerajaan Klungkung, Bali, lalu pindah ke Surabaya dan bergabung dengan Radio Pemberontakan yang dibentuk oleh Bung Tomo bertugas untuk menyiarkan radio dalam bahasa Inggris supaya dunia mengetahui keadaan Indonesia pada saat itu, pindah ke Yogyakarta dan bekerja di Kementerian Pertahanan, membuat konsep pidato berbahasa Inggris untuk Soekarno, ditugaskan oleh Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin untuk menemui tentara Inggris berkebangsaan Australia untuk dibebaskan dari penjara, mendatangi Kedutaan Australia di Singapura untuk mengumpul dokumen yang akan dibawa ke Australia, bertugas ke Australia untuk melakukan propaganda dan memboikot Belanda, menjadi pembicara dalam Konferensi pers media masa Luar Negeri, melakukan kampanye menggalang Solidaritas Internasional bagi Indonesia, mengirim telegram pada Perdana Menteri Australia untuk mengajukan persoalan Indonesia ke depan sidang perserikatan bangsa-bangsa (PBB). (2) peranan Surabaya Sue memberikan dorongan moral bagi para pejuang kemerdekaan di Jawa Timur sebagai penyiar radio, Surabaya Sue menjelaskan pada Dunia Internasional kondisi Indonesia yang masih dijajah kembali oleh Belanda sampai melakukan Agresi Militer di Indonesia, dengan berbagai upaya hingga persoalan Indonesia masuk dalam agenda rapat Dewan Keamanan PBB, maka dibentuklah KTN, adanya perjanjian Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar sehingga akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 atas upaya yang telah dilakukan oleh Surabaya Sue, maka pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputera Nararya pada tahun 1998. (3) bentuk sumbangan dari materi peranan Surabaya Sue dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya 1945-1949 dalam Pembelajaran Sejarah yakni sumbangan media pembelajaran berupa poster berbingkai yang ditujukan untuk mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional. Poster tersebut berisikan tentang awal mula kedatangannya ke Indonesia, menjadi tawanan Jepang, hingga tugas-tugas yang diberikan kepadanya seperti menulis pidato pertama Soekarno dalam bahasa Inggris sampai akhir hanyatnya dikremasi dan abunya ditebar di Pulau Bali. 
The Role of Local Culture in Shaping Social Justice Practices in Multicultural Societies Sukarni, Sukarni; Nurhayati, Dina; Hasan, Arifin
Journal Social Humanity Perspective Vol. 2 No. 3 (2024): Journal Social Humanity Perspective
Publisher : Journal Social Humanity Perspective

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71435/639165

Abstract

This paper analyses how local culture helps to instigate social justice in the multicultural societies with special concern on the intersection of culture systems with the contemporary system of governance. Although the traditional body of management thought tends to view justice in terms of universalized principles, this study shows how justice is defined and practiced in diversified ways, relative to cultures. The qualitative research methodology is based on interviews, observations, and the study of documents, which were used to answer the question of how local traditions, norms, and practices affect the perceptions of fairness, legitimacy, and inclusion in various communities. Results indicate the local culture is both an advantage and an obstacle in the execution of justice. On the one hand, it gives a sense of legitimacy and creates trust by culturally resonant practices of consensus-building, dialogue, and restorative practices. On the contrary, cultural traditions can reproduce exclusions or contradict international standards of equity and rights. The paper also finds the convergence of cultural and modern systems of justice in the form of hybrid modes of governance whereby organizations and societies can negotiate the tensions between tradition and universality. The management implications are far reaching: leaders and institutions need to transcend procedural justice systems to culturally infused and reflexive and participatory practices. This study has made contributions on the management research by not only contributing to the body of research on justice as a culturally mediated concept but also offers implications that can be of great use to policymakers and organizations aiming to work in a culture sensitive and ethical manner. Finally, the paper suggests that there is a need to shift management practices towards dialogical, hybrid and inclusive visions of justice which acknowledge the constitutive practice of culture in determining sustainable social outcomes.
PERANAN YOSAPHAT SUDARSO DALAM UPAYA MEMPERSATUKAN IRIAN BARAT DENGAN NKRI PADA 1950-1963 SUATU SUMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH INDONESIA MASA KEMERDEKAAN Dina, Nurhayati; Ramadhan, Nur; Kigi, Susanti Alviani
Danadyaksa Historica Vol 5, No 2 (2025): Danadyaksa Historica
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jdh.v5i2.10588

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk mengetahui Peranan Yosaphat Sudarso Dalam Upaya Mempersatukan Irian Barat Dengan NKRI Pada 1950-1963 Suatu Sumbangan Media Pembelajaran Sejarah Indonesia Masa Kemerdekaan. Pembahasan ini adalah untuk mengetahui : (1) Latar Belakang Yosaphat Sudarso dalam upaya Mempersatukan Irian Barat dengan NKRI Pada 1950-1963 (2) peranan Yosaphat Sudarso dalam upaya mempersatukan Irian Barat dengan NKRI Pada 1950-1963, (3) dampak peranan Yosaphat Sudarso dalam upaya mempersatukan Irian Barat dengan NKRI Pada 1950-1963, (4) sumbangan media pembelajaran Sejarah Indonesia Masa Kemerdekaan. Metode: historis. Jenis Penelitian: kajian pustaka. Penulis menggunakan Pendekatan geografi, sosiologi, politik dan militer. Penulis juga menggunakan Teknik Pengumpulan Data: studi kepustakaan dan dokumentasi. Teknik Analis Data: kritik sumber (verifikasi), interpretasi dan historiografi, Kesimpulan (1). Latar Belakang Yosaphat Sudarso dalam Upaya Mempersatukan Irian Barat dengan NKRI Pada 1950-1963 Yosaphat Sudarso ingin mempersatukan Irian Barat dengan NKRI karena Yosaphat Sudarso sebagai seorang anggota militer yang setia kepada bangsa dan negara, Yosaphat Sudarso merasa bahwa Irian Barat adalah bagian integral dari NKRI yang harus dipertahankan. Pada saat Indonesia baru merdeka, Belanda masih menguasai Irian Barat (Papua), meskipun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. (2) Peranan Yosaphat Sudarso dalam upaya mempersatukan Irian Barat dengan NKRI Pada 1950-1963, yakni dimulai ketika Yosaphat Soedarso, menumpas pemberontakan Andi Azis di Makassar, menjadi komandan korvet Banteng menumpas gerakan rakyat Maluku Selatan, menempuh pendidikan di negeri Belanda, diangkatnya Yos sebagai Deputy I KSAL, pucaknya ketika Yos ikut terlibat dalam pembebasan Irian Barat dari kekuasaan Belanda, dibentuklah Komando Mandala yang bersifat gabungan dari unsur Angkatan Darat, laut dan udara dalam operasi pertempuran laut Aru. (3) dampak dari peranan Yosaphat Sudarso dapat mendorong opini publik nasional dan internasional dan juga membantu memperkuat tekanan terhadap Belanda. Kematian sang perwira dianggap sebagai simbol pengorbanan demi persatuan bangsa, turut memperkuat diplomasi Indonesia menuju kesepakatan New York atau perjanjian New York yang ditandatangani pada bulan Agustus 1962, dan pada tahun 1963 kembalinya Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. (4) bentuk sumbangan dari materi peranan Yosaphat Sudarso dalam upaya mempersatukan Irian Barat dengan NKRI pada 1950-1963 dalam pembelajaran sejarah yakni sumbangan media pembelajaran berupa poster berbingkai yang ditunjuk untuk mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Kemerdekaan. Poster tersebut berisikan tentang Latar Belakang Yosaphat Sudarso dalam upaya mempersatukan Irian Barat dengan NKRI, biografi Yosaphat Sudarso, Peranan Yospahat Sudarso dan dampak peranan Yosaphat Sudarso.
Patterns of Interaction and Integration of Palembang’s Arab-Malay Culture Apriana; Nurhayati Dina; Fatmah
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.84

Abstract

Researchers in this study raised issues regarding the pattern of interaction and integration of the Arab-Malay Palembang culture. The purpose of this study is to explain the pattern of interaction and integration of Arab-Malay culture in Palembang. The method used in this research is the historical method. The results of this study indicate that the patterns of interaction and integration of ArabMalay Palembang culture include two patterns. Researchers divide into two patterns, namely on the one hand there has been a perpetuation of culture and on the other hand there has been a process of assimilation of elements of Malay culture into Arabic culture in Palembang. The perpetuation of Arab culture in Palembang can be seen from the marriage system, in reality Arab men may marry Malay women but on the other hand Arab women cannot marry Malays. This tradition still continues today. It can be seen from the mingling of the two cultures and perspectives on the existing culture, the architectural form of the house, communication tools, cooking and drinks, rituals/ceremonials, as well as values and attitudes, and so on.