Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KINERJA AKUSTIK DAN TERMAL DINDING BATA GEOPOLYMER CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE (GCLC): KINERJA AKUSTIK DAN TERMAL DINDING BATA GEOPOLYMER CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE (GCLC) Yuuwono, Abito Bamban; Rakhmanty, Febrione Putri; Kukuh Kurniawan Dwi Sungkono
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 30 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jtsa.v30i2.4799

Abstract

The rapid growth of the construction industry in Indonesia has led to a surge in cement production, a process that is energy-intensive and releases significant amounts of CO2. To mitigate the environmental impact of cement, geopolymer materials have emerged as a sustainable alternative. Given their role as spatial dividers, walls play a crucial role in a building's thermal and acoustic performance. Effective thermal performance can reduce the energy consumption required for air conditioning, while good acoustic performance enhances occupant comfort. This study compared the thermal and acoustic performance of lightweight concrete bricks (using cement as the primary material) with geopolymer bricks (utilizing fly ash). Two simulated rooms with distinct wall materials were constructed, and their temperature and acoustic properties were simultaneously measured. The thermal testing revealed that geopolymer bricks exhibited superior acoustic performance compared to lightweight bricks. Acoustic testing indicated that both brick types performed well acoustically. However, the acoustic performance of lightweight bricks peaked in hot weather, while geopolymer bricks demonstrated better acoustic performance at lower temperatures.
PUSAT REHABILITASI SOSIAL ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ) BERBASIS RUANG TERAPEUTIK DI KABUPATEN SUKOHARJO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN Pratama, Dendi Gian Fridel Candika; Rakhmanty, Febrione Putri
Journal of Architecture Cultural and Tourism Studies Vol 3 No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jacts.v3i2.5457

Abstract

Kabupaten Sukoharjo mengalami peningkatan jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dari tahun ke tahun, sementara fasilitas pelayanan kesehatan jiwa masih terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini menuntut adanya fasilitas rehabilitasi yang lebih terintegrasi dan berfokus pada pemulihan pasien secara holistik. Penelitian ini merumuskan konsep pusat rehabilitasi sosial ODGJ berbasis ruang terapeutik dengan menerapkan pendekatan arsitektur berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi analisis tapak untuk menentukan lokasi strategis, analisis kebutuhan ruang, penyusunan zonasi sesuai fungsi, serta perencanaan utilitas yang mendukung aktivitas rehabilitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip terapeutik seperti care in community, integrasi dengan unsur alam, pencahayaan alami, serta desain domestik yang hangat mampu meningkatkan kenyamanan psikologis dan mempercepat proses penyembuhan pasien. Selain itu, penerapan arsitektur berkelanjutan berkontribusi terhadap efisiensi energi, sirkulasi udara yang sehat, dan kualitas lingkungan yang lebih baik. Konsep ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi penyembuhan pasien, tetapi juga menjadi model fasilitas rehabilitasi yang ramah lingkungan, hemat energi, dan dapat diterapkan di daerah lain dengan permasalahan serupa.
VERTICAL URBAN FARMING CENTER YANG INOVATIF DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN GREEN ARCHITECTURE Wijaya, Rizki Adi; Rakhmanty, Febrione Putri
Journal of Architecture Cultural and Tourism Studies Vol 2 No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jacts.v2i2.4009

Abstract

Kota Surakarta merupakan daerah perkotaan yang memiliki sedikit lahan pertanian. Sebagai daerah perkotaan tidak cukup memiliki lahan penghasil pangan, sehingga sangat tergantung pada daerah sekitar melalui mata rantai perdagangan bahan pangan. Kegiatan Vertical Urban Farming dengan sistem hidroponik merupakan solusi dari permasalahan kurangnya lahan pertanian di Surakarta dengan memanfaatkan ruang terbuka yang tidak efisien di lahan terbuka hijau. Di sisi lain Vertical Urban Farming ini mempunyai perkembangan suatu media/alat yang dapat digunakan dengan lebih efisiensi guna memproses serta mengendalikan suatu masalah, dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi ini akan membuat hemat tenaga kerja dan yang hemat modal. Untuk itu, diperlukannya pembangunan Vertical Urban Farming Center yang inovatif di Surakarta. Permasalahan adalah desain seperti apa yang sesuai untuk fungsi bangunan sebagai penanaman hidroponik, penelitian, edukasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif analisis-sintesis. Vertical Urban Farming Center dengan Pendekatan Green Architecture sebagai upaya mencapai desain hijau, arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan dengan penggunaan energi, air, dan material yang lebih efisien dalam konstruksi.
ANALISIS PENGARUH ELEMEN RUANG LUAR TERHADAP KUALITAS TAMAN GANESHA SUKOWATI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA URBAN Atika Candra Yulia; Tri Hartanto; Febrione Putri Rakhmanty
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol. 16 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v16i1.11269

Abstract

Taman Ganesha Sukowati merupakan ruang terbuka hijau yang merupakan alih fungsi dari area pertanian menjadi taman kota seiring dengan perkembangan kawasan urban di Kabupaten Sragen. Dalam pengembangan tata kota, posisi Taman Ganesha Sukowati saat ini berada dalam satu area aglomerasi perkotaan di zona kantor pemerintahan daerah terpadu yang bertujuan untuk efisiensi layanan publik. Daya tarik utama Taman Ganesha Sukowati terletak pada telaga buatan dan vegetasi, dilengkapi dengan sarana aktivitas masyarakat berupa jalur pejalan kaki yang bisa berfungsi sebagai jogging track, beberapa titik penempatan iconic sculpture, area bermain anak, gazebo, bangku, beberapa kandang binatang yang dapat dimanfaatkan sebagai hiburan sekaligus edukasi keluarga, serta area ruang baca yang dikelola oleh perpustakaan daerah, yang dilengkapi dengan beberapa fasilitas ruang publik standar seperti sarana kebersihan dan ibadah. Dengan demikian terdapat keragaman aktivitas yang dapat ditampung oleh keberadaan Taman Ganesha Sukowati yang lebih dari sekedar taman. Penelitian memfokuskan pada aspek penerapan elemen ruang luar sebagai bagian pembentuk ruang terbuka hijau pada ruang publik yang menentukan kualitas daya tarik sebagai obyek wisata urban yang dimiliki Kabupaten Sragen sehingga bisa memberi manfaat pada peningkatan kualitas hidup komunitas, citra kota dan ekologi.
WELLNESS TOURISM CENTER BERBASIS ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR SEBAGAI RESPONS ATAS KETERBATASAN AKOMODASI WISATA KESEHATAN DI SURAKARTA Ardiyansyah, Rizqy; Rakhmanty, Febrione Putri
Journal of Architecture Cultural and Tourism Studies Vol 4 No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jacts.v4i1.5497

Abstract

Perkembangan wellness tourism di Indonesia menunjukkan potensi yang signifikan, dengan Kota Surakarta ditetapkan sebagai salah satu kota percontohan pengembangan wisata kesehatan. Namun, ketersediaan fasilitas akomodasi yang secara khusus mendukung aktivitas wellness masih terbatas dan belum terintegrasi dalam satu kawasan. Penelitian ini bertujuan merancang Wellness Tourism Center di Surakarta dengan pendekatan arsitektur Neo-Vernakular sebagai solusi terhadap kebutuhan fasilitas wisata kesehatan yang mengakomodasi aspek fisik, mental, dan budaya lokal. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui survei lapangan, studi literatur, serta analisis aspek manusia, lingkungan, dan tapak sebagai dasar penyusunan konsep perancangan. Hasil perancangan menghasilkan kawasan terpadu yang mengintegrasikan fasilitas akomodasi, ruang yoga dan meditasi, pusat jamu, terapi herbal, cottage, area detoksifikasi, serta ruang pendukung lainnya. Konsep arsitektur Neo-Vernakular diterapkan melalui reinterpretasi elemen arsitektur tradisional Jawa yang dipadukan dengan teknologi dan kenyamanan modern, sehingga menciptakan lingkungan yang mendukung proses relaksasi dan pemulihan kesehatan. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pariwisata kesehatan Surakarta, memperkuat identitas budaya lokal, serta menjadi model pengembangan fasilitas wellness tourism yang berkelanjutan.