Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Farmaka

REVIEW : BERBAGAI AKTIVITAS FARMAKOLOGI TANAMAN JOMBANG (Taraxacum officinale Webb.) NUR AZIZAH ALI; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.127 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22316

Abstract

ABSTRAKJombang (Taraxacum officinale Webb.) yang dikenal dengan dandelion  merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai tanaman herbal. Tanaman ini tersebar di daerah subtropis dan tropis termasuk Indonesia.  Tanaman jombang sudah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai rempah maupun untuk pengobatan yang khasiatnya sebagai antioksidan, mengobati penyakit hati, gangguan pencernaan dan gatal-gatal yang sudah digunakan secara empirik. Khasiat tersebut dapat terjadi karena terdapat kandungan senyawa utama seperti asam fenolat dan asam sikorat yang memiliki aktivitas farmakalogi dalam tanaman  jombang. Review artikel ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang aktivitas farmakologi tanaman jombang. Dari sumber data yang ditelaah, tanaman jombang memiliki aktivitas antioksidan, antifibrosis, hepatoprotektif, antijamur, antibakteri, antiinflamasi, antiinfluenza, antidepresan, antiproliferatif, dan meningkatkan pengosongan lambung. Dari berbagai aktivitas farmakologi tersebut, aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiproliferasi dari tanaman jombang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.Kata Kunci: jombang, Taraxacum officinale, pengobatan, aktivitas, farmakologi ABSTRACTJombang (Taraxacum officinale Webb.) what is known as dandelion is a plant that is often used as an herbal plant. This plant is spread in subtropical and tropical regions including Indonesia. Jombang plants have been widely used by the community as a spice for the treatment of its efficacy as an antioxidant, treatment of liver disease, digestive disorders and rubbing that have been used by empiricists. This property can occur because there are main ingredients such as phenolic acid and cycoric acid which have pharmacalogical activity in jombang plants. The review of this article was made with the aim to provide information about the pharmacological activity of jombang plants. From the sources of the data studied, the jombang plant has antioxidant activity, antifibrosis, hepatoprotective, antifungal, antimicroba, anti-inflammatory, antiinfluenza, antidepressant, antiproliferative, and increases gastric emptying. Of the various pharmacological activities, antioxidant, antimicrobe and antiproliferation of the jombang plant need to be further developed.Keywords: jombang, Taraxacum officinale treatment, activity, pharmacology
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK BERBAGAI SPESIES TUMBUHAN MANGROVE NIA KURNIASIH; Eli Halimah
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2570.56 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22265

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang prevalensinya cukup tinggi. Indonesia memiliki lautan yang luas yang didalamnya terdapat keanekaragaman hayati yang bermacam-macam salah satunya adalah tanaman mangrove yang memiliki berbagai macam spesies. Tanaman mangrove atau bakau dikenal sebagai tanaman yang hidup di area pesisir pantai dan digunakan sebagai tanaman yang menjaga area pantai agar tidak terjadi proses abrasi akibat ombak dari laut. Tanaman ini memiliki banyak manfaat seperti pencegah dan penyaring alami, tempat sumber makanan bagi biota laut, kayunya sebagai bahan bakar, serta sudah banyak digunakan secara empirik sebagai tanaman obat tradisional dan salah satunya sebagai antibakteri. Review artikel ini dilakukan untuk pengumpulan informasi mengenai aktivitas antibakteri dari beberapa jenis tanaman mangrove. Aktivitas antibakteri ini dilihat dari nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan diameter zona hambat. Hasil pengujian antibakteri yang diperoleh berdasarkan parameter diameter zona hambat, spesies mangrove yang memiliki aktivitas antibakteri kuat (diameter zona hambat >20mm) yaitu ekstrak air eksokarp Bruguiera gymnorrhiza terhadap bakteri Delftia sp. menghasilkan zona hambat sebesar 23±0,55mm, ekstrak air batang Nypa fructicans terhadap bakteri Bacillus subtilis menghasilkan zona hambat 22,16±0,76mm, sedangkan ekstrak air daunnya terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumonia masing-masing menghasilkan zona hambat sebesar 20,33±0,95mm dan 20,03±1,08mm, serta ekstrak metanol daun Ricinus communis terhadap Staphylococcus aureus menghasilkan zona hambat sebesar 20,7mm. Tanaman mangrove mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri.Kata Kunci : Mangrove, infeksi, antibakteri
Terapi untuk Bell’s Palsy Berdasarkan Tingkat Keparahan Chintami Nurkholbiah; Eli Halimah
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.905 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10807

Abstract

Bell’s palsy adalah kelumpuhan akut yang terjadi pada bagian saraf wajah yang tidak diketahui penyebabnya.  Tujuan dari penulisan review ini yaitu untuk mengetahui terapi pada kasus Bell’s  palsy berdasarkan Guideline dan tingkat keparahan. Metode yang digunakan yaitu dengan  mencari beberapa jurnal ilmiah dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan  topik yang akan dibahas dalam  tulisan ini. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi untuk Bell’s palsy dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berati lebih efektif ketika diberi terapi kombinasi yaitu obat kortikosteroid dengan obat antiviral dibandingkan dengan terapi tunggal yaitu pemberian obat kortikosteroid atau obat antiviral. Dan untuk terapi tunggal, pemberian obat kortikosteroid lebih baik dibandingkan dengan terapi obat antiviral saja.Kata kunci: Bell’s palsy, kortikosteroid, antiviral
REVIEW ARTIKEL: METODE DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TRANSFERSOM SEBAGAI PEMBAWA RUTE PENGHANTARAN TRANSDERMAL ALIFIA SYIFA PEBRIANTI; Eli Halimah
Farmaka Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i2.27726

Abstract

Transfersom merupakan salah satu vesikel pembawa yang pada komponennya ditambahkan surfaktan sehingga memiliki sifat yang ultra-fleksibel dan elastis. Dengan menggunakan transfersom, obat  dapat berpenetrasi lebih baik ke dalam kulit meskipun terdapat penghalang dari lapisan kulit stratum korneum. Tujuan dari review ini adalah untuk menjelaskan metode apa saja yang dapat digunakan dalam pembuatan transfersom. Dalam membuat review artikel ini digunakan jurnal dan artikel hasil penelusuran di internet melalui website NCBI (dengan kategori yang dipilih adalah PubMed), science direct, dan google scholar yang telah dipublikasi dalam 10 tahun terakhir. Dari hasil pencarian, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk membuat transfersom, yaitu: thin film hydration/rotary evaporation-sonication, vortexing-sonication, reverse phase evaporation, injeksi etanol, protransfersome-transfersome, dan microfluids. Dari metode-metode tersebut, masing-masing metode memiliki karakteristik, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing dalam pembuatan transfersom sehingga pemilihan metode untuk pembuatan transfersom yang dapat digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Metode thin film hydration sejauh ini paling banyak digunakan untuk mengembangkan transfersom dalam skala laboratorium.
IDENTIFIKASI PERSENTASE KELENGKAPAN RESEP DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG ALFIA NURSETIANI; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.26204

Abstract

ABSTRAKSemakin meningkatnya angka kesakitan dan penggunaan obat di rumah sakit, maka semakin bertambah pula angka permasalahan terkait obat jika penggunaannya tidak tepat. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya permasalahan terkait obat adalah dengan melakukan pengkajian resep. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pada aspek manakah yang memiliki persentase ketidaklengkapan atau kesalahan peresepan yang paling besar. Identifikasi kelengkapan resep tersebut dilakukan menggunakan metode observasi dengan aspek administrasi, aspek farmasetik, dan aspek klinis pada 60 resep yang terdiri dari 30 resep rawat jalan dan 30 resep rawat inap di salah satu rumah sakit di kota Bandung. Dari hasil penelitian didapatkan hasil persentase kesalahan peresepan pada aspek administrasi sebesar 19.44%, aspek farmasetik sebesar 20%, dan aspek klinis sebesar 16% pada 30 resep rawat jalan, sedangkan pada 30 resep rawat inap persentase kesalahan peresepan pada aspek administrasi sebesar 16.39%, aspek farmasetik sebesar 23.33%, dan aspek klinis sebesar 14.67%. Persentase ketidaklengkapan atau kesalahan peresepan terbesar terdapat pada aspek farmasetik, yaitu stabilitas obat dengan persentase sebesar 100%.Kata Kunci : Standar pelayanan kefarmasian, pengkajian resep, kelengkapan resep ABSTRACTThe increasing number of morbidity and drug use in hospitals, make the number of problems related to drugs has been increasing too. One way to prevent drug-related problems is to do a prescription screening. This research was conducted to find out which aspects had the greatest percentage of incompleteness or prescribing errors. Identification of the completeness of the prescription was carried out using observational methods with administrative aspects, pharmaceutical aspects, and clinical aspects in 60 prescriptions consisting of 30 outpatient prescriptions and 30 inpatient prescriptions at one of hospital in Bandung city. From the research results obtained the percentage of prescribing errors in administrative aspects of 19.44%, pharmaceutical aspects of 20%, and clinical aspects of 16% in 30 outpatient prescriptions, while in 30 prescriptions for prescription errors in administrative aspects was 16.39%, aspects pharmacetics at 23.33%, and clinical aspects at 14.67%. The biggest percentage of incompleteness or prescription errors is found in the pharmaceutical aspect, namely the stability of the drug with a percentage of 100%.Keywords : Pharmaceutical service standards, prescription screening, completeness of the prescription
Pengaruh Konseling Farmasi Terhadap Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Terapi Hemodialisis di RSUD Cibabat Faizatun Maulida; Eli Halimah; Sri Hartini; Budhi Prihartanto
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42268

Abstract

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah masalah kesehatan di seluruh dunia dengan peningkatan prevalensi penyakit, biaya pengobatan, morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pasien gagal ginjal kronis (GGK) dengan terapi hemodialisis membutuhkan terapi jangka panjang dan seumur hidup. Hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konseling terhadap kualitas hidup pasien GGK dengan terapi hemodialisis di RSUD Cibabat kota Cimahi yang dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2019. Penelitian ini menggunakan pre experimental study one group pre test and post test design. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 62 sampel. Kualitas hidup akan diukur dengan menggunakan kuisioner EQ5D5L sebelum dan setelah konseling. Nilai utilitas sebelum konseling 0,75±0,18 dan setelah konseling 0,82±0,18. Sementara untuk perubahan skor EQ5D Visual Analog Scale (VAS) sebelum konseling adalah 3,74±10,21 dan setelah konseling 69,19±11,53. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan nilai utilitas dan skor EQ5D VAS pasien hemodialisis sebelum dan setelah konseling menunjukkan perbedaan yang bermakna secara signifikan (p<0,05).