Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Netnografi Digital Slang: Dinamika dan Faktor Viralitas Tren Bahasa Gen Z di Platform X Silvi; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01, Maret 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.42112

Abstract

The development of social media has transformed the ways in which young generations form and use language in digital spaces. Platform X represents one example of this dynamic, as it demonstrates diserve, creative, and context-sensitive language practices. This study aims to describe the forms of slang language variations used by Gen Z on platform X and to explain the factors that encourage the emergence of these slang variations as trends from digital sosiolinguistic perspective. The research employes as a descriptive qualitative method with a netnographic approach. The data sources consist of post and interactions by Gen Z users on platform X that contain slang expression. Data collections techniques include social media observation and documentation. The findings reveal that slang language variations used by Gen Z on platform X involve the creation of new terms. The variations are influenced by several factors, including social identity, linguistic creativity, and the distinctive characteristics of digital communication. The findings indicate that slang language on platform X functions not only as a communication tool but also as a means expressing identity and reinforcing social membership among Gen Z.
ANALISIS POLA KESALAHAN MORFOLOGIS PADA SISWA DISGRAFIA KELAS IX SMPN 4 TAROGONG KIDUL DALAM PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK Halimah, Siti; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.42572

Abstract

This study aims to describe the patterns of morphological errors in the written language of a ninth-grade student at SMPN 4 Tarogong Kidul who is indicated to experience dysgraphia from a psycholinguistic perspective. The study was motivated by the observed discrepancy between the student's oral and written language abilities. Although the student demonstrates coherent and communicative oral expression, consistent and recurring morphological errors appear in written production. A descriptive qualitative approach with a single case study design was employed. Data were collected from the student's written works, including worksheets, class notes, and essay assignments, and were supported by classroom observation and interviews with the teacher and the student. Data were analyzed using Miles and Huberman's interactive model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that morphological errors are the most dominant type, including phoneme omission, grapheme substitution, distortion of derived words, affixation errors (meN-, peN-, -an, kan), and inconsistency in complex word formation. These errors appear systematically and repeatedly across different writing tasks. From a psycholinguistic perspective, the errors indicate disruption at the translating stage of Hayes and Flower's writing process model, where linguistic ideas are converted into graphemic symbols. The student tends to rely more on the phonological route than on stable orthographic representations in the mental lexicon, suggesting weak morphological awareness and limitations in working memory capacity. The results suggest that the observed errors are not merely carelessness but reflect cognitive constraints in written language processing. This study contributes to applied psycholinguistic research and provides pedagogical implications for developing adaptive and inclusive writing instruction at the junior secondary level. Keywords: dysgraphia, morphological errors, psycholinguistics, writing process, affixation.
Representasi Heterogenitas Agama dan Budaya dalam Narasi Cinta Lintas Iman: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film Komang Nurfadhila, Salsabila; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ks48dm90

Abstract

Indonesia sebagai masyarakat majemuk memiliki keberagaman agama dan budaya yang kerap memunculkan dinamika sosial, termasuk dalam relasi cinta lintas iman. Film sebagai teks budaya tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membangun makna dan ideologi mengenai perbedaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi heterogenitas agama dan budaya dalam narasi cinta lintas iman pada film Komang melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika pada tiga tingkat signifikasi, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Unit analisis meliputi adegan, dialog, ekspresi tokoh, kostum, serta simbol visual yang merepresentasikan perbedaan agama dan budaya. Data diperoleh melalui observasi berulang dan dokumentasi terhadap adegan-adegan yang menampilkan konflik serta negosiasi lintas iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, perbedaan agama direpresentasikan melalui adegan ritual ibadah yang dilakukan secara terpisah, seperti sembahyang di pura dan doa di tempat ibadah berbeda, serta dialog keluarga yang menegaskan adanya “perbedaan keyakinan.” Melalui adegan ritual dan dialog yang tegang, film ini menunjukkan konflik nilai antara agama Hindu dan Islam. Pada tingkat konotasi, visualisasi ruang ibadah yang terpisah dan ekspresi ragu tokoh mengonotasikan jarak emosional serta tekanan sosial. Pada tingkat mitos, film membangun ideologi bahwa hubungan lintas iman merupakan relasi yang sarat ujian dan pengorbanan, sehingga perbedaan agama dan budaya dipresentasikan sebagai batas yang seolah-olah alamiah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film berperan sebagai arena produksi makna yang menaturalisasi ideologi tertentu tentang toleransi dan batas-batasnya. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya pembacaan kritis terhadap representasi keberagaman dalam media guna memahami konstruksi wacana multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia.
Analisis Perubahan Makna Kata Pada Kolom Komentar Warganet Di Akun Instagram El Rumi Nurfadilla, Zira; Haryadi, Ardi Mulyana; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/h29aw028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk serta kecenderungan perubahan makna kata yang digunakan warganet dalam kolom komentar akun Instagram @elrumiofficial sebagai representasi dinamika bahasa Indonesia di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan teori perubahan makna menurut Abdul Chaer. Data penelitian berupa komentar warganet yang diambil dari delapan unggahan Instagram El Rumi pada periode Juli hingga Desember 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan membandingkan makna leksikal berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan makna kontekstual yang muncul dalam praktik komunikasi warganet. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 51 data komentar yang mengandung perubahan makna, dengan 21 kata yang mengalami perubahan makna. Jenis perubahan makna yang ditemukan meliputi perubahan makna meluas dan ameliorasi, dengan perubahan makna meluas sebagai bentuk yang paling dominan. Perubahan makna meluas tampak pada penggunaan kosakata secara metaforis dan simbolik untuk mengekspresikan dukungan dan afeksi, sedangkan perubahan makna ameliorasi ditandai oleh pergeseran konotasi dari makna negatif menuju makna yang bernilai positif dalam konteks interaksi digital. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor emosional, psikologis, serta budaya komunikasi digital yang ekspresif dan kreatif. Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial berperan sebagai ruang produktif terjadinya inovasi semantik, sehingga memperkaya kajian perubahan makna dalam konteks komunikasi digital kontemporer serta menegaskan relevansi teori perubahan makna menurut Chaer dalam konteks komunikasi digital.
Analisis Perubahan Makna Kata Pada Kolom Komentar Warganet Di Akun Instagram El Rumi Nurfadilla, Zira; Haryadi, Ardi Mulyana; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/h29aw028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk serta kecenderungan perubahan makna kata yang digunakan warganet dalam kolom komentar akun Instagram @elrumiofficial sebagai representasi dinamika bahasa Indonesia di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan teori perubahan makna menurut Abdul Chaer. Data penelitian berupa komentar warganet yang diambil dari delapan unggahan Instagram El Rumi pada periode Juli hingga Desember 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan membandingkan makna leksikal berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan makna kontekstual yang muncul dalam praktik komunikasi warganet. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 51 data komentar yang mengandung perubahan makna, dengan 21 kata yang mengalami perubahan makna. Jenis perubahan makna yang ditemukan meliputi perubahan makna meluas dan ameliorasi, dengan perubahan makna meluas sebagai bentuk yang paling dominan. Perubahan makna meluas tampak pada penggunaan kosakata secara metaforis dan simbolik untuk mengekspresikan dukungan dan afeksi, sedangkan perubahan makna ameliorasi ditandai oleh pergeseran konotasi dari makna negatif menuju makna yang bernilai positif dalam konteks interaksi digital. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor emosional, psikologis, serta budaya komunikasi digital yang ekspresif dan kreatif. Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial berperan sebagai ruang produktif terjadinya inovasi semantik, sehingga memperkaya kajian perubahan makna dalam konteks komunikasi digital kontemporer serta menegaskan relevansi teori perubahan makna menurut Chaer dalam konteks komunikasi digital.
Representasi Heterogenitas Agama dan Budaya dalam Narasi Cinta Lintas Iman: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film Komang Nurfadhila, Salsabila; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ks48dm90

Abstract

Indonesia sebagai masyarakat majemuk memiliki keberagaman agama dan budaya yang kerap memunculkan dinamika sosial, termasuk dalam relasi cinta lintas iman. Film sebagai teks budaya tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membangun makna dan ideologi mengenai perbedaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi heterogenitas agama dan budaya dalam narasi cinta lintas iman pada film Komang melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika pada tiga tingkat signifikasi, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Unit analisis meliputi adegan, dialog, ekspresi tokoh, kostum, serta simbol visual yang merepresentasikan perbedaan agama dan budaya. Data diperoleh melalui observasi berulang dan dokumentasi terhadap adegan-adegan yang menampilkan konflik serta negosiasi lintas iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, perbedaan agama direpresentasikan melalui adegan ritual ibadah yang dilakukan secara terpisah, seperti sembahyang di pura dan doa di tempat ibadah berbeda, serta dialog keluarga yang menegaskan adanya “perbedaan keyakinan.” Melalui adegan ritual dan dialog yang tegang, film ini menunjukkan konflik nilai antara agama Hindu dan Islam. Pada tingkat konotasi, visualisasi ruang ibadah yang terpisah dan ekspresi ragu tokoh mengonotasikan jarak emosional serta tekanan sosial. Pada tingkat mitos, film membangun ideologi bahwa hubungan lintas iman merupakan relasi yang sarat ujian dan pengorbanan, sehingga perbedaan agama dan budaya dipresentasikan sebagai batas yang seolah-olah alamiah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film berperan sebagai arena produksi makna yang menaturalisasi ideologi tertentu tentang toleransi dan batas-batasnya. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya pembacaan kritis terhadap representasi keberagaman dalam media guna memahami konstruksi wacana multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia.
Kajian Feminisme terhadap Keterbatasan KebebasanPerempuan dalam NovelDi Bawah Lindungan Ka'bah Karya Hamka Khotimah, Deti Alia; Hamdani, Agus; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/b0frss43

Abstract

Karya sastra merupakan salah satu medium yang digunakan untuk merepresentasikan fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat. Novel Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka yang diterbitkan pada tahun 2017 dan terdiri atas 91 halaman mengangkat kisah cinta tragis antara Zainab dan Hamid yang kandas akibat kuatnya norma dan budaya dalam masyarakat Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterbatasan kebebasan perempuan yang tergambar dalam novel tersebut melalui perspektif feminisme liberal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumenter melalui membaca secara intensif dan berulang-ulang serta mencatat bagian-bagian teks yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan pembacaan heuristik untuk memahami makna literal teks dan pembacaan hermeneutik untuk menafsirkan makna yang lebih mendalam berdasarkan konteks sosial dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam novel ini mengalami berbagai bentuk pembatasan yang dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya patriarkal. Keterbatasan tersebut tampak pada rendahnya akses pendidikan bagi perempuan serta dominasi keluarga dalam menentukan pasangan hidup. Dengan demikian, novel Di Bawah Lindungan Ka'bah tidak hanya merepresentasikan kisah romansa, tetapi juga secara tegas merefleksikan ketimpangan relasi gender dalam masyarakat Minangkabau serta relevan sebagai objek kajian feminisme liberal dalam memahami isu kesetaraan gender dalam karya sastra.
Representasi Identitas Budaya Jawa dalam Surat-Surat R.A. Kartini: Analisis Teks dan Konteks Sosial Khoerunnisa, Nisa; Suherman, Encep; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/dbp4rg09

Abstract

Karya sastra merupakan media yang merepresentasikan kehidupan sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Surat-surat R.A. Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa abad ke-19, khususnya terkait tata krama, peran gender, sistem sosial, dan posisi perempuan dalam lingkungan budaya Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas budaya Jawa dalam surat-surat R.A. Kartini melalui kajian teks dan konteks sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumenter melalui pembacaan intensif dan pencatatan kutipan yang relevan dari 15 surat utama Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang edisi 2019. Analisis data dilakukan melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik untuk memahami makna teks secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas budaya Jawa direpresentasikan melalui tata krama, hubungan sosial, sistem hierarki, dan konstruksi gender dalam masyarakat Jawa masa kolonial. Kartini tidak hanya menggambarkan budaya Jawa secara deskriptif, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap praktik sosial yang membatasi hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan kebebasan menentukan pilihan hidup. Selain itu, Kartini mengkritik sistem sosial yang bersifat hierarkis dan praktik budaya yang menempatkan kelompok tertentu pada posisi yang lebih dominan dibanding kelompok lainnya. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya konstruksi sosial patriarkal yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat serta adanya ketimpangan sosial yang dipertahankan melalui struktur hierarki masyarakat Jawa. Namun, di sisi lain Kartini juga memperlihatkan bentuk perlawanan dan kesadaran kritis terhadap ketidakadilan sosial tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa surat-surat Kartini tidak hanya berfungsi sebagai dokumen sastra dan budaya, tetapi juga sebagai refleksi kritis terhadap kondisi sosial masyarakat Jawa abad ke-19.
REPRESENTASI KONFLIK BATIN DALAM FILM “TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA”: ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA DAN KAJIAN SOSIAL Nurhayati, Ade Irma; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.53908

Abstract

This study aims to analyze the representation of inner conflict in the film Tuhan Izinkan Aku Berdosa directed by Hanung Bramantyo (2024) using literary psychology and social perspectives. The research employs a qualitative content analysis approach by examining film dialogues and key visual scenes. Theoretically, this study integrates Sigmund Freud's psychoanalytic theory regarding id, ego, and superego conflict; Abraham Maslow's hierarchy of needs theory; and Stuart Hall's representation theory. The findings indicate that the main character, Kiran, experiences three major forms of inner conflict: (1) internal conflict between idealism and reality driven by superego-id tension; (2) interpersonal conflict with family and religious figures stemming from frustrated belongingness needs; and (3) social conflict related to patriarchal norms and religious institutional disillusionment. These conflicts emerge from an identity crisis, social pressure, and failed support systems. The film's representation of inner conflict fosters audience empathy, critical reflection, and social discourse on mental health, gender equality, and religious freedom. This study concludes that film functions as an effective medium for conveying complex psychological and social issues.Keywords: inner conflict, literary psychology, film representation, social study, psychoanalysis