Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : journal of authentic research

Representasi Heterogenitas Agama dan Budaya dalam Narasi Cinta Lintas Iman: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film Komang Nurfadhila, Salsabila; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ks48dm90

Abstract

Indonesia sebagai masyarakat majemuk memiliki keberagaman agama dan budaya yang kerap memunculkan dinamika sosial, termasuk dalam relasi cinta lintas iman. Film sebagai teks budaya tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membangun makna dan ideologi mengenai perbedaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi heterogenitas agama dan budaya dalam narasi cinta lintas iman pada film Komang melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika pada tiga tingkat signifikasi, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Unit analisis meliputi adegan, dialog, ekspresi tokoh, kostum, serta simbol visual yang merepresentasikan perbedaan agama dan budaya. Data diperoleh melalui observasi berulang dan dokumentasi terhadap adegan-adegan yang menampilkan konflik serta negosiasi lintas iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, perbedaan agama direpresentasikan melalui adegan ritual ibadah yang dilakukan secara terpisah, seperti sembahyang di pura dan doa di tempat ibadah berbeda, serta dialog keluarga yang menegaskan adanya “perbedaan keyakinan.” Melalui adegan ritual dan dialog yang tegang, film ini menunjukkan konflik nilai antara agama Hindu dan Islam. Pada tingkat konotasi, visualisasi ruang ibadah yang terpisah dan ekspresi ragu tokoh mengonotasikan jarak emosional serta tekanan sosial. Pada tingkat mitos, film membangun ideologi bahwa hubungan lintas iman merupakan relasi yang sarat ujian dan pengorbanan, sehingga perbedaan agama dan budaya dipresentasikan sebagai batas yang seolah-olah alamiah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film berperan sebagai arena produksi makna yang menaturalisasi ideologi tertentu tentang toleransi dan batas-batasnya. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya pembacaan kritis terhadap representasi keberagaman dalam media guna memahami konstruksi wacana multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia.
Analisis Perubahan Makna Kata Pada Kolom Komentar Warganet Di Akun Instagram El Rumi Nurfadilla, Zira; Haryadi, Ardi Mulyana; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/h29aw028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk serta kecenderungan perubahan makna kata yang digunakan warganet dalam kolom komentar akun Instagram @elrumiofficial sebagai representasi dinamika bahasa Indonesia di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan teori perubahan makna menurut Abdul Chaer. Data penelitian berupa komentar warganet yang diambil dari delapan unggahan Instagram El Rumi pada periode Juli hingga Desember 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan membandingkan makna leksikal berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan makna kontekstual yang muncul dalam praktik komunikasi warganet. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 51 data komentar yang mengandung perubahan makna, dengan 21 kata yang mengalami perubahan makna. Jenis perubahan makna yang ditemukan meliputi perubahan makna meluas dan ameliorasi, dengan perubahan makna meluas sebagai bentuk yang paling dominan. Perubahan makna meluas tampak pada penggunaan kosakata secara metaforis dan simbolik untuk mengekspresikan dukungan dan afeksi, sedangkan perubahan makna ameliorasi ditandai oleh pergeseran konotasi dari makna negatif menuju makna yang bernilai positif dalam konteks interaksi digital. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor emosional, psikologis, serta budaya komunikasi digital yang ekspresif dan kreatif. Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial berperan sebagai ruang produktif terjadinya inovasi semantik, sehingga memperkaya kajian perubahan makna dalam konteks komunikasi digital kontemporer serta menegaskan relevansi teori perubahan makna menurut Chaer dalam konteks komunikasi digital.
Analisis Perubahan Makna Kata Pada Kolom Komentar Warganet Di Akun Instagram El Rumi Nurfadilla, Zira; Haryadi, Ardi Mulyana; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/h29aw028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk serta kecenderungan perubahan makna kata yang digunakan warganet dalam kolom komentar akun Instagram @elrumiofficial sebagai representasi dinamika bahasa Indonesia di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan teori perubahan makna menurut Abdul Chaer. Data penelitian berupa komentar warganet yang diambil dari delapan unggahan Instagram El Rumi pada periode Juli hingga Desember 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan membandingkan makna leksikal berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan makna kontekstual yang muncul dalam praktik komunikasi warganet. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 51 data komentar yang mengandung perubahan makna, dengan 21 kata yang mengalami perubahan makna. Jenis perubahan makna yang ditemukan meliputi perubahan makna meluas dan ameliorasi, dengan perubahan makna meluas sebagai bentuk yang paling dominan. Perubahan makna meluas tampak pada penggunaan kosakata secara metaforis dan simbolik untuk mengekspresikan dukungan dan afeksi, sedangkan perubahan makna ameliorasi ditandai oleh pergeseran konotasi dari makna negatif menuju makna yang bernilai positif dalam konteks interaksi digital. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor emosional, psikologis, serta budaya komunikasi digital yang ekspresif dan kreatif. Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial berperan sebagai ruang produktif terjadinya inovasi semantik, sehingga memperkaya kajian perubahan makna dalam konteks komunikasi digital kontemporer serta menegaskan relevansi teori perubahan makna menurut Chaer dalam konteks komunikasi digital.
Representasi Heterogenitas Agama dan Budaya dalam Narasi Cinta Lintas Iman: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film Komang Nurfadhila, Salsabila; Hasanah, Ninah; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ks48dm90

Abstract

Indonesia sebagai masyarakat majemuk memiliki keberagaman agama dan budaya yang kerap memunculkan dinamika sosial, termasuk dalam relasi cinta lintas iman. Film sebagai teks budaya tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membangun makna dan ideologi mengenai perbedaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi heterogenitas agama dan budaya dalam narasi cinta lintas iman pada film Komang melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika pada tiga tingkat signifikasi, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Unit analisis meliputi adegan, dialog, ekspresi tokoh, kostum, serta simbol visual yang merepresentasikan perbedaan agama dan budaya. Data diperoleh melalui observasi berulang dan dokumentasi terhadap adegan-adegan yang menampilkan konflik serta negosiasi lintas iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, perbedaan agama direpresentasikan melalui adegan ritual ibadah yang dilakukan secara terpisah, seperti sembahyang di pura dan doa di tempat ibadah berbeda, serta dialog keluarga yang menegaskan adanya “perbedaan keyakinan.” Melalui adegan ritual dan dialog yang tegang, film ini menunjukkan konflik nilai antara agama Hindu dan Islam. Pada tingkat konotasi, visualisasi ruang ibadah yang terpisah dan ekspresi ragu tokoh mengonotasikan jarak emosional serta tekanan sosial. Pada tingkat mitos, film membangun ideologi bahwa hubungan lintas iman merupakan relasi yang sarat ujian dan pengorbanan, sehingga perbedaan agama dan budaya dipresentasikan sebagai batas yang seolah-olah alamiah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film berperan sebagai arena produksi makna yang menaturalisasi ideologi tertentu tentang toleransi dan batas-batasnya. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya pembacaan kritis terhadap representasi keberagaman dalam media guna memahami konstruksi wacana multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia.
Kajian Feminisme terhadap Keterbatasan KebebasanPerempuan dalam NovelDi Bawah Lindungan Ka'bah Karya Hamka Khotimah, Deti Alia; Hamdani, Agus; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/b0frss43

Abstract

Karya sastra merupakan salah satu medium yang digunakan untuk merepresentasikan fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat. Novel Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka yang diterbitkan pada tahun 2017 dan terdiri atas 91 halaman mengangkat kisah cinta tragis antara Zainab dan Hamid yang kandas akibat kuatnya norma dan budaya dalam masyarakat Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterbatasan kebebasan perempuan yang tergambar dalam novel tersebut melalui perspektif feminisme liberal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumenter melalui membaca secara intensif dan berulang-ulang serta mencatat bagian-bagian teks yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan pembacaan heuristik untuk memahami makna literal teks dan pembacaan hermeneutik untuk menafsirkan makna yang lebih mendalam berdasarkan konteks sosial dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam novel ini mengalami berbagai bentuk pembatasan yang dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya patriarkal. Keterbatasan tersebut tampak pada rendahnya akses pendidikan bagi perempuan serta dominasi keluarga dalam menentukan pasangan hidup. Dengan demikian, novel Di Bawah Lindungan Ka'bah tidak hanya merepresentasikan kisah romansa, tetapi juga secara tegas merefleksikan ketimpangan relasi gender dalam masyarakat Minangkabau serta relevan sebagai objek kajian feminisme liberal dalam memahami isu kesetaraan gender dalam karya sastra.
Representasi Identitas Budaya Jawa dalam Surat-Surat R.A. Kartini: Analisis Teks dan Konteks Sosial Khoerunnisa, Nisa; Suherman, Encep; Loekman, Arief
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/dbp4rg09

Abstract

Karya sastra merupakan media yang merepresentasikan kehidupan sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Surat-surat R.A. Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa abad ke-19, khususnya terkait tata krama, peran gender, sistem sosial, dan posisi perempuan dalam lingkungan budaya Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas budaya Jawa dalam surat-surat R.A. Kartini melalui kajian teks dan konteks sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumenter melalui pembacaan intensif dan pencatatan kutipan yang relevan dari 15 surat utama Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang edisi 2019. Analisis data dilakukan melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik untuk memahami makna teks secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas budaya Jawa direpresentasikan melalui tata krama, hubungan sosial, sistem hierarki, dan konstruksi gender dalam masyarakat Jawa masa kolonial. Kartini tidak hanya menggambarkan budaya Jawa secara deskriptif, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap praktik sosial yang membatasi hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan kebebasan menentukan pilihan hidup. Selain itu, Kartini mengkritik sistem sosial yang bersifat hierarkis dan praktik budaya yang menempatkan kelompok tertentu pada posisi yang lebih dominan dibanding kelompok lainnya. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya konstruksi sosial patriarkal yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat serta adanya ketimpangan sosial yang dipertahankan melalui struktur hierarki masyarakat Jawa. Namun, di sisi lain Kartini juga memperlihatkan bentuk perlawanan dan kesadaran kritis terhadap ketidakadilan sosial tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa surat-surat Kartini tidak hanya berfungsi sebagai dokumen sastra dan budaya, tetapi juga sebagai refleksi kritis terhadap kondisi sosial masyarakat Jawa abad ke-19.