Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Hubungan antara Meaning in Life dan Career Anxiety pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Bekasi Amelia Indarti; Erik Saut H. Hutahaean; Ferdy Muzzamil
JURNAL PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL (JUPENDIS) Vol. 4 No. 1 (2026): Januari : JURNAL PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54066/jupendis.v4i1.3713

Abstract

This study aims to determine the relationship between meaning in life and career anxiety among final-year students in Bekasi City. This study involved 164 respondents who were final-year students, both those domiciled and studying in Bekasi City and those domiciled in Bekasi City and studying in the Greater Jakarta area. The study used a quantitative approach with a non-probability sampling technique through a purposive sampling method. Data collection was carried out using two measuring instruments, namely the meaning in life scale and the career anxiety scale arranged in the form of a Likert scale. Data analysis was carried out with the help of JASP software version 0.19.3.0. A correlation test was used to examine the relationship between the two research variables. The results of the analysis showed a significance value (p > 0.05), which indicated that there was no significant relationship between meaning in life and career anxiety in final-year students. This finding suggests that students' career anxiety levels are not always influenced by their sense of meaning in life.
Emotional Intelligence and Self-Control at Spread of Hoax News on Student Gadget Users Wawan Agung Prastiyo; Ferdy Muzzamil; Arfian
Linguanusa : Social Humanities, Education and Linguistic Vol. 1 No. 2 (2023): Linguanusa : August 2023
Publisher : Insight School Academy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63605/ln.v1i2.19

Abstract

Gadgets are technological products that can present various news media, social networks, entertainment, etc. Gadget users with low self-control tend to be easily exposed to hoax news, while a hoax itself is information engineered to cover up accurate information. Self-control can be influenced by one's emotional intelligence to determine and adapt to managing all forms of communication. Research This aims to know if emotional intelligence influences self-control on the spread of hoax news gadget users at " X " University students. This research method uses a quantitative approach, with data collection methods by giving a Likert scale to the research sample. The data collection technique used is purposive sampling, with samples research as many as 200 students. Data were analyzed using SPSS version 22 with a regression test. The results of this study indicate that the output R² (R Square) is 0.639, which means that emotional intelligence has a 63.9% influence on self-control in the spread of hoax news by gadget users at "X" University students. The conclusion of this study is intelligence emotions affect controlthemselves in the space of hoax news user gadgets student University "X." The higher the emotional intelligence , the higher the self-control.
Hubungan Literasi Finansial dengan Kesejahteraan Finansial di Kalangan Generasi Z Masyarakat Kelurahan Kalibaru Kota Bekasi Alina Alifah; Ferdy Muzzamil; Rizma Afian Azhiim
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 6 (2026): Januari
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18217656

Abstract

This study aims to examine the relationship between financial literacy and financial well-being among Generation Z in Kalibaru Village, Bekasi City. Rapid digitalization and increasing access to financial services have created both opportunities and challenges for young people in managing their finances. This research employed a quantitative correlational design with 348 respondents selected through accidental sampling. Financial literacy was measured using a scale adapted from Lusardi and Mitchell, while financial well-being was assessed using the Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) Financial Well-Being Scale. Data were analyzed using Spearman’s rho correlation test. The results indicated a significant positive relationship between financial literacy and financial well-being (rₛ = 0.709; p 0.001). These findings suggest that higher financial literacy is associated with higher perceived financial well-being among Generation Z. This study highlights the importance of financial literacy education in enhancing economic and psychological well-being among young people.
Hubungan antara Perceived Anonymity dengan Cyber Aggression pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial X Raihan Pamungkas; Erik Saut Hatoguan Hutahaean; Ferdy Muzzamil
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.335

Abstract

Cyber aggression menjadi sebuah permasalahan yang sering ditemukan dalam interaksi online di media sosial akibat hilangnya hambatan perilaku daring yang dipengaruhi oleh faktor psikologis berupa persepsi anonimitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara perceived anonymity dengan cyber aggression pada dewasa awal pengguna media sosial X. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan 175 responden berusia 18-25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi skala Cyber Aggression Types Questionnaire (CATQ) dan skala Perceived Anonymity. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi sederhana Spearman’s rho (p < 0.05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan secara statistik, meskipun kekuatan hubungannya tergolong lemah (r = 0.1567; p = 0.038). Hasil ini menyatakan bahwa semakin tinggi persepsi anonimitas yang dimiliki pengguna, maka semakin tinggi kecenderungannya untuk terlibat dalam perilaku cyber aggression. Namun, lemahnya korelasi mengindikasikan bahwa pengguna cenderung jarang terlibat melakukan perilaku agresif siber di media sosial X. Dengan demikian, cyber aggression yang dapat dijelaskan oleh perceived anonymity hanya memberikan efek kecil dan sebagai salah satu variasi diantara faktor lainnya.
Pengaruh Social Comparison terhadap Body Dissatisfaction pada Remaja Akhir Pengguna Tiktok yang Mengalami Self Objectification Dialia Putrina Sepha; Erik Saut Hatoguan Hutahaean; Ferdy Muzzamil
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 4 (2026): May: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/gcrhw003

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh social comparison terhadap body dissatisfaction pada remaja akhir pengguna TikTok yang mengalami self-objectification. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan regresi linear sederhana. Populasi penelitian adalah remaja akhir berusia 18–22 tahun di Kecamatan Tambun Selatan yang aktif menggunakan TikTok dan terpapar fenomena self-objectification. Sampel berjumlah 134 responden yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Body Dissatisfaction yang diadaptasi dari Cooper et al. (1987) dengan reliabilitas 0,936, dan skala Social Comparison berdasarkan INCOM (Gibbons & Buunk, 1999) dengan reliabilitas 0,742. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan JASP 0.19.3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social comparison berpengaruh positif dan signifikan terhadap body dissatisfaction (F = 77,527; p < 0,001), dengan nilai R Square sebesar 0,370. Artinya, social comparison menjelaskan 37,0% variasi body dissatisfaction pada responden. Kategorisasi variabel menunjukkan bahwa 89,55% responden memiliki tingkat social comparison tinggi dan 82,09% mengalami body dissatisfaction tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan konten visual di TikTok yang memperkuat self-objectification secara nyata mendorong proses perbandingan sosial yang pada akhirnya meningkatkan ketidakpuasan tubuh pada remaja akhir.
Pengaruh Generalized Anxiety terhadap Fear of Missing Out (FoMO) pada Generasi Z Rahma Kurnia; Erik Saut H. Hutahaean; Ferdy Muzzamil
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 4 (2026): May: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/esvj7221

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan penggunaan media sosial pada Generasi Z dan memunculkan berbagai permasalahan psikologis, salah satunya Fear of Missing Out (FoMO). Salah satu faktor yang diduga memengaruhi FoMO adalah generalized anxiety. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh generalized anxiety terhadap Fear of Missing Out (FoMO) pada Generasi Z di Kota Bekasi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan regresi linear sederhana. Sampel penelitian berjumlah 152 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Generalized Anxiety dan skala Fear of Missing Out (FoMO). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, korelasi Spearman’s rho, dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara generalized anxiety dan FoMO (r = 0,628; p < 0,001). Hasil regresi juga menunjukkan bahwa generalized anxiety berpengaruh signifikan terhadap FoMO (F = 74,36; p < 0,001) dengan kontribusi sebesar 33,1% (R² = 0,331). Koefisien regresi sebesar 2,053 menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat generalized anxiety, semakin tinggi pula tingkat FoMO yang dimiliki individu. Temuan ini menunjukkan bahwa generalized anxiety merupakan salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan Fear of Missing Out pada Generasi Z. 
Hubungan antara Self-regulation dengan Academic Engagement pada Mahasiswa di Kabupaten Bekasi Siti Nurmala; Erik Saut H. Hutahaean; Ferdy Muzzamil
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 4 (2026): May: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/ezqr8f45

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi, namun di sisi lain memunculkan fenomena digital distraction yang berpotensi menurunkan keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas akademik. Salah satu faktor yang diduga berperan penting dalam mengatasi persoalan tersebut adalah self-regulation, yaitu kemampuan individu mengelola pikiran, emosi, dan perilaku secara aktif untuk mencapai tujuan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-regulation dengan academic engagement pada mahasiswa di Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 150 mahasiswa aktif yang berdomisili di Kabupaten Bekasi, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala self-regulation dan skala academic engagement yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman's rho dengan bantuan aplikasi JASP. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-regulation dengan academic engagement (ρ = 0,730, p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri yang dimiliki mahasiswa, semakin tinggi pula keterlibatan akademik yang ditunjukkan, baik dari aspek perilaku, emosional, maupun kognitif. Hasil penelitian ini memperkuat temuan-temuan sebelumnya sekaligus relevan dengan konteks maraknya distraksi digital di kalangan mahasiswa saat ini. Penelitian ini merekomendasikan agar perguruan tinggi merancang program penguatan keterampilan regulasi diri guna meningkatkan keterlibatan akademik mahasiswa secara berkelanjutan.
Hubungan antara Deficient Self Regulation dengan Perceived Social Exclusion pada Remaja yang Mengalami Herd Behavior di Bekasi Helta Puspasari; Ferdy Muzzamil
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 4 (2026): May: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/6932wc93

Abstract

Remaja merupakan kelompok yang rentan mengikuti perilaku atau keputusan kelompok tanpa pertimbangan yang matang (herd behavior). Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kemampuan regulasi diri yang belum berkembang secara optimal sehingga remaja lebih mudah mengikuti tekanan teman sebaya. Pada kondisi tersebut, remaja berpotensi mengalami perceived social exclusion, yaitu pengalaman subjektif ketika individu merasa diabaikan, ditolak, atau tidak dilibatkan dalam lingkungan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara deficient self-regulation dengan perceived social exclusion pada remaja yang mengalami herd behavior di Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 152 remaja berusia 10–21 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri atas Skala Perceived Social Exclusion yang dimodifikasi dari Ostracism Experience Scale for Adolescents (OES-A) dan Skala Deficient Self-Regulation yang disusun berdasarkan teori Bandura. Kedua instrumen memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,870. Data dianalisis menggunakan aplikasi JASP melalui uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji korelasi Spearman. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal (p < 0,001), sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara deficient self-regulation dengan perceived social exclusion (ρ = 0,611; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi deficient self-regulation, semakin tinggi pula perceived social exclusion yang dirasakan remaja yang mengalami herd behavior. Penelitian ini menegaskan pentingnya kemampuan regulasi diri dalam membantu remaja menghadapi tekanan sosial serta mengurangi kecenderungan munculnya persepsi pengucilan sosial.
Hubungan Appearance-Based Rejection Sensitivity dengan Embodiment Positif pada Perempuan Dewasa Awal Cinta Perindu; Erik Saut H. Hutahaean; Ferdy Muzzamil
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 4 (2026): May: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/tb8va392

Abstract

Appearance-based Rejection Sensitivity merupakan kecenderungan individu untuk secara cemas mengantisipasi penolakan berdasarkan penampilan fisik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara Appearance-based Rejection Sensitivity dengan positive embodiment pada perempuan dewasa awal di Kota Bekasi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 134 perempuan dewasa awal yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Appearance-based Rejection Sensitivity dan Skala Positive Embodiment, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Appearance-based Rejection Sensitivity dan positive embodiment (rho = 0,679; p < 0,001). Arah hubungan ini tidak sejalan dengan asumsi teoritis yang umumnya mengharapkan hubungan negatif antara kedua variabel. Temuan ini mengindikasikan bahwa perempuan dewasa awal dengan relasi tubuh yang positif tetap dapat mengalami kekhawatiran terhadap penilaian orang lain terkait penampilan, sehingga positive embodiment dan Appearance-based Rejection Sensitivity perlu dipahami sebagai dua dimensi psikologis yang berbeda dan tidak saling meniadakan. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji variabel mediator, seperti regulasi emosi atau self-compassion, yang mungkin menjelaskan mekanisme di balik hubungan kedua variabel ini.