Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERANCANGAN DESAIN UI (USER INTERFACE) LANDING PAGE MATASEHATKU DENGAN METODE DESIGN THINKING Habiba, Putri Ghanim Septia; Doringin, Ferry; Simarmata, Murni Marlina
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7209

Abstract

Excessive use of gadgets has led to a significant increase in cases of asthenopia and visual impairment. Lack of awareness and access to preventive care methods means eye health problems are increasingly growing in society. Therefore, a MataSehatKu landing page was developed which can help users get to know and download the MataSehatKu application. The MataSehatKU landing page displays an explanation and mockup of the MataSehatKU mobile-based application which provides features such as eye exercises, independent eye examinations for initial screening, graphs of refractive errors over time, and education about healthy lifestyles for the eyes, which are designed to reduce risk. visual impairment. The design of the MataSehatKU landing page was carried out using the design think method which consists of the stages empathize, define, ideate, prototype and test. The initial stage is to collect primary and secondary data through observation, questionnaires, competitor analysis, and literature studies for analysis. Data related to problems faced by users is used as a basis for forming feature design solutions and prototypes. The prototype is then tested on users to evaluate the obstacles and problems faced, so that improvements can be made. This development resulted in a UI design for the MataSehatKU landing page which provides optimal experience and convenience for users in achieving their goals with a SUS value of 84.6 and UEQ obtained on an attractiveness scale of 1.51 is at an above average level, a clarity scale of 1.69 is at an above average level, an efficiency scale of 1.74 is at a good level, an accuracy scale of 1.81 is at an excellent level, a stimulation scale of 1.03 is at an above average level, a novelty scale of 0.78 is at an above average level.  ABSTRAKPenggunaan gadget yang berlebihan telah menyebabkan peningkatan signifikan pada kasus astenopia dan gangguan penglihatan. Kurangnya kesadaran dan akses terhadap metode perawatan preventif membuat masalah kesehatan mata semakin berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, dikembangkan landing page MataSehatKu yang dapat membantu pengguna untuk mengenal dan mengunduh aplikasi MataSehatKu. Landing page MataSehatKu menampilkan penjelasan dan mockup aplikasi berbasis mobile MataSehatKU yang menyediakan fitur-fitur seperti latihan mata, pemeriksaan mata mandiri untuk screening awal, grafik kelainan refraksi dari waktu ke waktu, dan edukasi tentang pola hidup sehat untuk mata, yang dirancang untuk mengurangi risiko gangguan penglihatan. Perancangan landing page MataSehatKu dilakukan dengan metode design thinking yang terdiri dari tahapan emphatize, define, ideate, prototype, dan test. Tahap awal adalah mengumpulkan data primer dan sekunder melalui observasi, kuesioner, analisa kompetitor, dan studi literatur untuk kemudian dianalisis. Data terkait masalah yang dihadapi pengguna digunakan sebagai dasar dalam pembentukan solusi perancangan fitur dan prototype. Prototype kemudian diujicobakan kepada pengguna untuk mengevaluasi hambatan dan masalah yang dihadapi, sehingga dilakukan perbaikan. Pengembagan ini menghasilkan desain UI landing page MataSehatKu yang memberikan pengalaman dan kemudahan optimal bagi pengguna dalam mencapai tujuannya dengan nilai SUS 84,6 dan UEQ diperoleh skala daya tarik sebesar 1,51 berada pada tingkatan di atas rata-rata, skala kejelasan sebesar 1,69 berada pada tingkatan di atas rata-rata, skala efisiensi sebesar 1,74 berada pada tingkatan baik, skala ketepatan sebesar 1,81 berada pada tingkatan luar biasa, skala stimulasi sebesar 1,03 berada pada tingkatan di atas rata-rata, skala kebaruan sebesar 0,78 berada pada tingkatan di atas rata-rata.
EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK PROGRAM KULIAH REFRAKSI-OPTISI, DARI SUDUT PANDANG ANALISA KEBUTUHAN Simarmata, Murni Marlina
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 7 No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v7i1.8344

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi metode dan materi perkuliahan bahasa Inggris di akademi Refraksi dan Optisi. Sebagai lembaga pendidikan kejuruan, pada umumnya akademi-akademi Refraksi dan Optisi menerapkan pendekatan ESP (English for Spesific Purposes) untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa terhadap Bahasa Inggris praktis dan terapan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa penerapan metode ESP dapat memberi hasil maksimal hanya jika para peserta didik telah memiliki pengetahuan memadai tentang dasar-dasar Bahasa Inggris sebagaimana dikemukaka oleh Kennedy dan Bolitho (1984). Hal ini terbukti dari hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa kurangnya penguasaan kosa kata, tenses dan grammar merupakan hambatan utama bagi mahasiswa dalam mencerna materi-materi Bahasa Inggris yang diajarkan dengan pendekatan ESP di ARO GAPOPIN (Akademi Refraksi Optisi Gabungan Pengusaha Optik Indonesia) Pondok Aren, Tangerang. Setelah melakukan analisa kebutuhan, penulis kemudian menyarankan pentingnya mahasiswa mengikuti mata kuliah General English sebelum mengikuti mata kuliah bahasa Inggris dengan pendekatan ESP. Penelitian ini mengumpulkan data melalui kuesioner dan wawancara yang kemudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif dalam pembahasan.
HUBUNGAN PELAYANAN FACE FITTNG KACAMATA TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN DI OPTIK AL-KASUM BLITAR Tanduran, Tanduran; Simarmata, Murni Marlina; Budiana, Mohamad Wahyu
Jurnal Mata Optik Vol. 6 No. 3 (2025): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v6i3.281

Abstract

Pelayanan face fitting kacamata memegang peranan penting dalam membentuk loyalitas konsumen. Penyesuaian frame yang sesuai dengan bentuk wajah tidak hanya meningkatkan kenyamanan fisik, tetapi juga kepercayaan diri pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pelayanan face fitting dengan loyalitas konsumen di Optik Al-Kasum Blitar. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara semi-terstruktur kepada 10 konsumen yang telah menerima layanan face fitting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden merasa puas dengan pelayanan yang diterima, dan menyatakan bahwa pelayanan tersebut berpengaruh terhadap keputusan mereka untuk tetap menjadi pelanggan dan merekomendasikan optik kepada orang lain. Komunikasi efektif, pendekatan yang personal, dan perhatian terhadap preferensi konsumen menjadi faktor penting dalam meningkatkan loyalitas.
ANALISIS FAKTOR DEMOGRAFIS YANG MEMPENGARUHI PERAN OPTOMETRIS DALAM PELAYANAN KESEHATAN MATA DI INDONESIA. Simarmata, Murni Marlina; Silaban , Stepanus; Maryani, Febri; Nugraha, Opep Cahya
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.303

Abstract

Optometris memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan mata, terutama dalam pemeriksaan penglihatan dan deteksi gangguan refraksi pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia, lama praktik, dan tempat kerja dengan peran optometris dalam pelayanan kesehatan mata di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada optometris di Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 97 orang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji independent t-test dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia produktif, memiliki lama praktik 0–5 tahun, dan bekerja di optik sebagai tempat praktik utama. Faktor usia, lama praktik, dan tempat kerja menunjukkan keterkaitan dengan peran optometris dalam pelayanan kesehatan mata. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara peran preventif dan dampak pelayanan kesehatan mata, yang mengindikasikan bahwa peningkatan peran preventif optometris berkontribusi besar terhadap penurunan beban gangguan penglihatan dan peningkatan akses layanan kesehatan mata. Sementara itu, hasil uji independent t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam peran preventif antara optometris pria dan perempuan (p > 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran preventif optometris merupakan faktor kunci dalam meningkatkan dampak pelayanan kesehatan mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kompetensi melalui pendidikan berkelanjutan serta penguatan peran optometris di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan mata di Indonesia.
ANALISIS YURIDIS EMPIRIS OPTOMETRY DISPUTES DAN MALPRAKTIK OPTOMETRI DI INDONESIA Riono, YV Agung; Simarmata, Murni Marlina; Efendi , Zakaria; Doringin , Ferry
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Mata Optik
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/9z208w14

Abstract

This research conducts a normative and empirical legal analysis of optometry disputes and malpractice in Indonesia, framed through the IRAC method (Issue, Rule, Application, Conclusion) and contrasted with global practices. The Issue is whether optometrists, as formally recognized health professionals under Health Law No. 17 of 2023, may incur criminal liability for malpractice, and how such liability differs from civil optometry disputes. The Rule derives from Indonesian statutes, Health Law 2023, Consumer Protection Law 1999, KUHP 2025, and KUHAP 2026, which establish criminal sanctions for negligence causing serious injury or death, while consumer law governs disputes over service quality. The Application reveals that most Indonesian cases are optometry disputes, involving refractive errors that rarely result in blindness or death, and are resolved through civil remedies under consumer protection. Malpractice liability arises only when negligence leads to severe outcomes, requiring expert testimony and prior review by the Professional Discipline Council of Health (Majelis Disiplin Profesi Kesehatan). In comparative perspective, jurisdictions such as the United States and the United Kingdom emphasize civil liability and professional disciplinary mechanisms, reserving criminal sanctions for egregious negligence. Indonesia’s dualistic framework, criminal liability for malpractice and civil remedies for disputes, which reflects both global trends and local statutory innovations. The Conclusion underscores the strategic role of professional organizations (IROPIN) and business associations (GAPOPIN) in prevention through standard-setting, advocacy, and mediation. Strengthening these mechanisms is essential to harmonize Indonesian practice with international norms, ensuring accountability, consumer protection, and professional integrity.
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA DURASI PENGGUNAAN GADGET TERHADAP TINGKAT KEPARAHAN MIOPIA Aulia, Zidni Rahma; Septia Habiba, Putri Ghanim; Nugraha, Opep Cahya; Simarmata, Murni Marlina
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Mata Optik
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/ed460s87

Abstract

This study aimed to analyze the relationship between the duration of gadget use and the incidence of myopia among university students. Methods: This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population consisted of university students, and respondents were selected using a purposive sampling technique. Data on gadget use duration were collected using a structured questionnaire, while myopia status was determined through visual examination and refractive assessment. The collected data were analyzed using appropriate statistical tests to determine the relationship between the duration of gadget use and the incidence of myopia at a significance level of 5%. Results and Discussion: The findings demonstrated a significant relationship between the duration of gadget use and the incidence of myopia among university students. Respondents with longer daily gadget use were more likely to experience myopia than those with shorter durations of use. Prolonged exposure to near-work activities through digital devices is considered to increase accommodative demand and visual stress, which may contribute to the development and progression of myopia. These findings support previous evidence indicating that excessive digital device use is an important environmental risk factor for myopia in young adults. Conclusion: The duration of gadget use is significantly associated with the incidence of myopia among university students. Promoting healthy digital device use, limiting prolonged screen exposure, and encouraging regular visual breaks are recommended to reduce the risk of myopia and maintain visual health among students.