Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Kulit Siwalan (Borassus Flabellifer) Sebagai Pewarna Alami untuk Produk Intimates (Bra Mastektomi) Ananda Putri Rohalida; Kahfiati Kahdar; Yan Yan Sunarya
Syntax Idea Vol 4 No 1 (2022): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v4i1.1735

Abstract

Siwalan banyak tersebar di penjuru Indonesia, seperti Bali, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur. Siwalan memiliki banyak manfaat dari buah, daun, hingga serat sabutnya. Namun kulit siwalan masih kurang pemanfaatannya. Intimates fashion berbasis eco-fashion dengan menggunakan pewarna alam masih belum berkembang terutama pada pembuatan bra mastektomi, padahal peluang ini masih sangat besar mengingat tingginya jumlah kanker payudara di Indonesia. Angka penderita kanker payudara di Indonesia telah mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk. Pemanfaatan limbah kulit siwalan sebagai pewarna alam untuk produk bra mastektomi ini merupakan pemenuhan kebutuhan bra masektomi dengan memberikan variasi warna dan inovasi yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini disusun menggunakan metode campuran. Metode lebih mengarah kepada metode kualitatif didukung dengan eksperimen yang merupakan bagian dari metode kuantitatif. Tujuan penelitian ini antara lain: (a) Menghasilkan pewarna alam melalui eksperimen dari ekstrak kulit siwalan pada kain tencel yang paling diminati calon pelanggan; (b)Menghasilkan mastektomi bra yang berbasis eco fashion melalui observasi desain intimates fashion 2023 dan preferensi warna menggunakan ekstrak kulit siwalan oleh calon pelanggan. Kebaruan pada penelitian ini antara lain: (a) Menjadikan produk tekstil dengan pewarnaan alami yang berasal dari kulit siwalan; (b) Memfungsikan material yang telah diberi pewaranaan menjadi produk mastektomi bra. Hal menghasilkan kesimpulan, yaitu: (a) Dihasilkannya produk tekstil dengan pewarna alam berasal dari kulit siwalan; (b) Hasil tersebut akan menjadi inovasi dalam bidang fashion yang lebih ramah lingkungan, masktektomi bra berbahan dasar kain tencel yang telah diwarnai akan sangat berfungsi dengan baik dan memiliki warna cantik yang ramah lingkungan
NILAI FEMININITAS INDONESIA DALAM DESAIN BUSANA KEBAYA IBU NEGARA Suciati Suciati; Agus Sachari; Kahfiati Kahdar
RITME Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Busana Kebaya Ibu Negara, salah satu costume yang merepresentasikan jatidiri (nilai femininitas) perempuan Indonesia. Tugas Ibu Negara bersama istri para menteri di antaranya menjalankan kegiatan pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan lingkungan hidup, mendampingi Presiden/suaminya (dalam dan luar negeri), dan kegiatan sosial. Busana Ibu Negara mengikuti beberapa aturan khusus, di antaranya Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1987 tentang protokol yang salahsatunya mengatur penataan Busana Nasional (pada acara resmi dan nonresmi). Busana Kebaya Ibu Negara dewasa ini dipengaruhi peran fashion stylist atau personal stylist, dan  cenderung di dominasi busana bergaya  Eropa dan Timur Tengah. Busana Kebaya Ibu Negara diharapkan dapat menjadi pengendali dan panutan bagi perempuan Indonesia dalam berbusana yang mempertahankan nilai femininitas perempuan Indonesia. Busana Kebaya adalah penanda  yang merepresentasikan petanda identitas kolektif dari tata nilai dan prilaku sosio-kultural komunitas pemakainya, di samping model dan bentuk serta fungsinya yang mencerminkan nilai-nilai femininitas perempuan Indonesia. Dewasa ini busana perempuan Indonesia telah berkembang mengikuti tren busana global dan lebih banyak menampilkan sisi sensualitas, selera pasar, dan kepentingan industri fashion tanpa memperhatikan nilai-nilai edukasi dan budaya Indonesia khususnya nilai femininitas perempuan. Kajian ini menggunakan kajian transformasi budaya  dan perubahan system nilai pada Busana Kebaya Ibu Negara Indonesia Negara.  Busana Kebaya sebagai salah satu identitas`nasional dalam era globalisasi dewasa ini berkembang menjadi special costume dengan citarasa lokal (meprepresentasikan budaya etnik Nusantara).
STANDARDISASI DESAIN SERAGAM SEKOLAH SISWA TAMAN KANAK-KANAK Runi Andanari; Kahfiati Kahdar; Slamet Riyadi
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.9

Abstract

ABSTRAK        Pendidikan formal di Indonesia identik dengan kebutuhan seragam dan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah. Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan pendidikan awal jalur formal juga telah menerapkan aturan berseragam bagi siswanya meski belum tercantum dalam peraturan pemerintah. Seragam siswa TK yang termasuk dalam kategori busana anak memiliki karakteristik desain khusus agar sesuai dengan fisiologis dan aktivitas anak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik desain seragam sekolah yang ideal dan sesuai dengan aktivitas sehingga dapat menjadi rekomendasi standar seragam siswa TK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi. Penelitian ini melihat seragam sekolah dari aspek pengguna dan konsumen untuk mendapatkan rekomendasi desain yang memenuhi kedua aspek tersebut. Observasi dilakukan pada 3 (tiga) sekolah TK di Bandung untuk mendapatkan data aktivitas dari aspek pengguna. Data preferensi dari aspek konsumen (orang tua siswa) diambil menggunakan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa preferensi desain seragam sekolah berdasarkan konsumen sebagian besar dapat memenuhi standar desain untuk seragam sekolah TK dan menyetujui penerapan aturan wajib berseragam sekolah TK.
COLOUR MAPPING OF NATURAL DYES IN BATIK PESISIRAN OF BATIK BATANG FROM BATANG REGENCY Kahfiati Kahdar; Chandra Tresnadi; Tyar Ratuannisa
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.1.13

Abstract

Tren dalam desain dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti peristiwa dunia, situasi ekonomi, pengaruh sub-kultur, perubahan sosial bahkan dapat muncul sebagai respons terhadap kondisi lingkungan alam secara global. Salah satu bentuk tren sebagai respons atas kondisi lingkungan alam adalah munculnya gerakan sustainable design, dalam tekstil gerakan ini ditemukan pula menjelma dalam bentuk eco-textile yang direalisasikan dengan penggunaan bahan utama dan bahan pendukung teknik pembuatan tekstil yang minim dampak terhadap lingkungan.Batik pesisiran merupakan salah satu tekstil tradisi di Indonesia yang memiliki nilai estetis tinggi, dua di antara aspek pembentuknya adalah ragam hias dan warna. Warna pada batik saat ini sebagian besar dihasilkan dari pewarna sintetis yang dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan manusianya. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan mengkonversi skema warna sintetis batik ke skema pewarna alami dengan harapan dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan pengrajin di Kabupaten Batang yang terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah dalam menghasilkan desain dan kain batik ramah lingkungan. 
Pengembangan Teknik Jahit Celup (Tritik) dengan Pola Geometris Bintan Titisari; Kahfiati Kahdar; Intan Rizky Mutiaz
Journal of Visual Art and Design Vol. 6 No. 2 (2014): ITB Journal of Visual Art and Design
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/itbj.vad.2014.6.2.4

Abstract

Teknik jahit celup biasa dikenal dengan istilah tritik, yang berarti titik, merupakan teknik tekstil kelompok celup rintang. Tritik adalah cara menghias kain putih dengan menjahit jelujur lalu ditarik kemudian dicelup dan motif terbentuk setelah benang dilepaskan. Teknik tritik digunakan untuk membuat kain sasirangan, kain tradisional Kalimantan Selatan, Indonesia. Proses menjahit pada tritik dikerjakan secara tradisional tanpa ketentuan yang jelas, sehingga pengembangan desain motif belum maksimal. Melihat kondisi tersebut, penelitian  ini menggunakan pola geometris pada teknik tritik untuk melihat kemungkinan dihasilkan motif berbeda. Dengan  metode eksperimen kualitatif didapat ketentuan mengenai aturan jahitan yang diaplikasikan pada pembuatan pola geometris. Penggunaan pola geometris menghasilkan motif lebih teratur dengan tetap terkesan samar sebagai ciri khas tritik. Pewarnaan bertahap dan pengaturan jarak menghasilkan efek ilusi optik (kedalaman, arah, dan gerak). Motif tersebut diaplikasikan pada produk fashion dengan menonjolkan efek ilusi optik untuk menghasilkan siluet pada pakaian wanita.Kata kunci: geometri; jahit celup rintang; pola; sasirangan; tritik.Resist stitch-dyeing, also known locally as tritik (lit. dots), is resist dye textile weaving technique. Tritik is a method to embellish white cloth by tacking, which is then dyed and removed. The motif is formed after the thread is removed. Tritik methods and techniques are less popular compared to batik or dyed ikat. It is, however, used in making sasirangan cloth, a traditional cloth from South Kalimantan, Indonesia. The stitching has always been done traditionally due to the lack of clear convention on stitching as a resist-media. Thus, development of motif designs is not in full capacity. Taking into consideration the above, this study is carried out to create new geometric patterns using tritik techniques. Qualitative experiment methods are used to obtain ideal stitching parameters, which could later be applied in creating geometric patterns. The use of geometric patterns creates more organized motifs but still showing blurry impression, a distinctive feature of tritik. The combination of gradual colouring and evenly-spaced tacking creates optical illusions on motifs (depth, direction, and motion). The motifs may be applied to fashion products by accentuating optical illusions to create silhouettes on women's clothing. Keywords: geometric; pattern; resist stitch dyeing; sasirangan; tritik.
Combining Korean Traditional Patterns and Batik Cirebon Banji Pattern in Daily Hanbok Myung-Gong Park; Hafiz Aziz Ahmad; Kahfiati Kahdar
Journal of Visual Art and Design Vol. 11 No. 1 (2019): Journal of Visual Art and Design
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.vad.2019.11.1.5

Abstract

The interest towards Korean culture has risen through the popularity of K-wave and thus artefacts related to Korea are gaining more interest as well. Hanbok, the Korean traditional costume is also increasingly popular, with people renting and wearing hanbok while visiting Korean traditional places. The popularity of hanbok led to the creation of daily hanbok, a modern interpretation of the traditional hanbok, which is easier and more comfortable to wear for the young generation while still retaining the beauty of the original costume. Cirebon, a coastal region in Indonesia, has a rich local cultural tradition influenced by Chinese culture. One of these influences can be observed in Cirebon's batik, which uses Chinese influenced motifs, such as Cirebon's banji pattern. Because there are similarities between Chinese and Korean culture, several Korean motifs are also found in banji patterns, such as the swastika, known as wan in China and man in Korea. This study tried to combine the traditional patterns from Korea and Cirebon's banji pattern and implemented the result in a daily hanbok that can be worn by young people from Indonesia and Korea as a symbol of the close and harmonious relations between Indonesia and Korea.
Studi Komparasi Partisipasi Dalam Proses Perancangan Material Terbarukan Eka Arifianty Puspita; Kahfiati Kahdar
JURNAL RUPA Vol 6 No 2 (2021): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v6i2.3788

Abstract

The participation approach has long been recognized in sustainable design projects. Some recent material innovations strive for demonstrating community participation in their design process to achieve a sustainable outcome. However, the terminology of participation can be perceived and implemented differently for actors involved in the process. Responding to the diverse understanding of participation, this paper tries to examine the implementation of participation in the making of two well-known renewable materials innovations, namely Totomoxtle and Pinatex. The methodology used in this research is a comparative descriptive which is analyzed through literature and comparative studies by referring to the ladder of participation theory by Arnstein, the form of participation by White, and the participation in design by Lee. Based on the analysis, there are different levels of participation held by actors and also various forms of participation occur in the design process. Moreover, the comparative studies also show that the actors who occupy a similar level of participation do not directly comprise a similar form and function of participation. However, the diverse forms and levels of participation in sustainable innovation establish a different type of relation and space for interaction between designers and other actors involved.
Pemanfaatan Limbah Biji Alpukat (Persea americana Mill) untuk Produk Modest Couture Adhindha Firdausa Ratnasari; Kahfiati Kahdar; Imam Santosa
JURNAL RUPA Vol 4 No 1 (2019): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v4i1.2172

Abstract

Indonesia is one of the countries that has a major contribution to the total production of avocados (Persea americana Mill) in the world with a total production of 334,047 tons (5.64%) in 2017. So far, only the flesh of avocados are used for consumption, this causes waste from avocado seeds to accumulate with low utilization. In fact, avocado seed extract contains tannin which can be used as natural dyes for textile. This research aims to utilize avocado seed extract for coloring and creating motifs on silk fabric, as well to apply them in creating modest couture products. Modest couture is one of modest fashion markets which is couture. The consumers spend around US$ 270 billion in 2017 and it is estimated to reach US$361 billion in 2023, so it is expected that the use of avocado seed waste can be used regularly on a broad market, especially in Indonesia. In this study, the emphasis is on the different colors and motifs that can be produced through natural dyes from avocado seed extract, then proceed with designing the modest couture product according to the couture fashion criteria and the observation results of the existing couture products.
Eksplorasi Ekstrak Pewarna Alami Sebagai Bahan Pewarna Organik Untuk Tekstil Cetak Syahida Nisa Abdurahman; Kahfiati Kahdar
JURNAL RUPA Vol 6 No 2 (2021): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v6i2.3792

Abstract

Environmental conservation and sustainable living were a movement that directed people to return to using eco-friendly materials, especially in creating textile products. One solution to the problem is to reduce textile waste made from synthetic materials by creating organic inks that can be an alternative ink in the textile printing process. This study used a qualitative approach and experimental methods through the exploratory phase of the extract solution of several natural dyes added with the thickener alginate, guar gum, and tapioca flour. The organic ink has been applied to textiles made from 100% cotton using a screen printing technique with a post-mordanting fixation process. This experiment aimed to determine the optimal results of the dye paste solution (organic ink) on absorption, fabric color, fading test, visual and texture results. The experimental results prove that color printing using eco-friendly materials with screen printing techniques can be applied to textiles. Each extract solution, thickening agent, and mordant substance on the fixation process have different absorption with the result that has been made varying colors and visual results on the textile surface.
KARAKTER VISUAL BUSANA KEBAYA INGGIT GARNASIH SEBAGAI ISTRI DAN PEJUANG PEREMPUAN INDONESIA Suciati Suciati; Agus Sachari; Kahfiati Kahdar
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v1i2.415

Abstract

Perempuan sebagai istri pendamping suami sangatlah memegang peranan penting. Istri hendaknya mampu memainkan perannya sebagai pendamping suami, guru, mitra perjuangan sekaligus kekasih. karakter keibuan dari perempuan sebagai istri merupakan sosok ibu yang memberikan kehidupan penyejuk jiwa suami dan anggota keluarga. Peranan istri pendamping suami dapat menopang keberhasilan suami menjalankan perannnya sebagai kepala keluarga dan anggota masyarakat. Keikhlasan, kesabaran, keteguhan dan ketelatenan istri mendampingi suami tercermin pula pada sosoknya dalam berpenampilan yang memberikan karakter visual sebagai perempuan yang mandiri, tegar, bersahaja dan berwibawa. Karakter tersebut nampak pada penampilan Inggit Garnasih sebagai seorang istri dan pejuang perintis Kemerdekaan Indonesia. Kebaya dan kain panjang sebagai busana yang dipakai dalam keseharian mendampingi perjuangan suami telah memberikan pengalaman nyata sosok perempuan yang berkarakter keibuan, penuh cinta kasih, pekerja keras, dan sabar dalam menjalani kehidupan.Kata Kunci: Karakter Visual, Busana Kebaya, Inggit Garnasih