Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGEMBANGAN BENANG SISA TENUN MAJALAYA MENJADI BENANG PAKAN TAMBAH Yulvi Arliesa; Kahfiati Kahdar
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 38, No 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v38i1.6589

Abstract

Majalaya merupakan salah satu daerah penghasil tenun di Indonesia. Dalam proses pembuatan tenun terdapat limbah tekstil berupa benang sisa yang tidak bisa digunakan kembali dan kemudian dibuang. Sistem produksi tekstil tersebut merupakan sistem linear, yaitu sistem yang berujung pada pembuangan pada masa akhir pakai suatu produk sehingga menyebabkan banyaknya limbah, Perlu dilakukan peralihan dari sistem yang semula linear ke sistem sirkular untuk mengurangi limbah dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menerapkan sistem sirkular adalah dengan melakukan upcycling. Metode yang digunakan adalah melakukan eksperimen untuk mengolah limbah benang tenun Majalaya menjadi benang pakan tambah supaya bisa digunakan kembali dalam proses tenun. Penelitian ini menunjukkan bawa limbah benang  masih bisa dimanfaatkan kembali melalui beberapa tahap pengolahan dan sistem sirkular memungkinkan untuk diaplikasikan dalam industri tekstil meskipun dalam bentuk dan teknologi yang sederhana.
PERBANDINGAN BUSANA TOKOH SRI KRESNA PADA RELIEF KRESNAYANA CANDI WISNU PRAMBANAN DAN CANDI INDUK PANATARAN Waridah Muthi’ah; Agus Sachari; Kahfiati Kahdar
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol 5 No 1 (2014): MAKNA : Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v5i1.873

Abstract

Kresna, hero and deity of Mahabharata legend, played major role as one example of morality and wisdom in Javanese traditional art and literature. Related with his status and identity as avatar of Vishnu, his traditional portrayal in India based on canon such as Manasara and Silpasastra. In Classical Java, he has been portrayed in Kresnayana reliefs on Vishnu Temple, Prambanan Complex and Main Temple, Panataran Complex. In those reliefs, his images were not strictly followed the canon, especially in costumes. Kresna’s appearance on Prambanan Temple showed different details in costumes, headgear, and accessories in comparison with Panataran Temple. Reliefs in Prambanan looked more similar with Krishna’s images influenced by 7th and 8th century Pallava art, in both carving style and costumes wore by the character, while reliefs in Panataran showed some indigenous characteristics. This research focused to compare Kresna’s portrayal diachronically in those temple, by using descriptive, comparative, and historical methods. It concluded that transformation of Kresna’s image went parallel with transmigration of power center to East Java, which followed by the development of macrocosmos-microcosmos parallels, as indicated by the depiction of king as deity and the culmination of Vishnu’s worships. The variations of Kresna’s image not only brought diversity based on local influence, but also engendered new system, which later developed into the basis of traditional Javanese art and king’s apparels
Karakteristik Visual Busana Kebaya Ibu Negara Indonesia S Suciati; Agus Sachari; Kahfiati Kahdar; Achmad Syarif
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.32

Abstract

Busana Ibu Negara mempresentasikan citra perempuan Indonesia. Busana Kebaya Ibu Negara merupakan Busana Nasional yang keberadaannya sebagai salah satu identitas visual yang memiliki karakteristik tertentu sebagai identitas visual nasional. Tujuan penelitian ini, mendeskripsikan secara visual karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara sebagai busana nasional. Metode penelitian historis (latar belakang budaya, pendidikan, dan lingkungan pergaulan) digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara Indonesia. Kajian ini menunjukkan adanya karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara yang meliputi hair do, make up, busana bagian atas (kebaya nasional), busana bagian bawah (kain panjang/kain tradisional daerah Indonesia), beserta pemakaian aksessories dan millincriesnya. Karakteristik Busana Kebaya Ibu Negara meliputi karakteristik bentuk fisik, ragam hias, bahan, ukuran, dan cara pakai. Kesimpulan dari kajian ini adalah adanya pengelompokkan jenis busana kebaya dari berbagai busanakebaya yang popular di Indonesia, dan adanya ciri-ciri tertentu pada busana kebaya untuk Ibu Negara yang umumnya menunjukkan Busana Nasional perempuan Indonesia.
Shifting of Batik Clothing Style as Response to Fashion Trends in Indonesia Tyar Ratuannisa; Imam Santosa; Kahfiati Kahdar; Achmad Syarief
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1044

Abstract

Fashion style refers to the way of wearing certain categories of clothing related to the concept of taste that refers to a person’s preferences or tendencies towards a particular style. In Indonesia, clothing does not only function as a body covering but also as a person’s style. One way is to use traditional cloth is by wearing batik.Batik clothing, which initially took the form of non -sewn cloth, such as a long cloth, became a sewn cloth like a sarong that functions as a subordinate, evolved with the changing fashion trends prevailing in Indonesia. At the beginning of the development of batik in Indonesia, in the 18th century, batik as a women’s main clothing was limited to the form of kain panjang and sarong. However, in the following century, the use of batik clothing became increasingly diverse as material for dresses, tunics, and blouses.This research uses a historical approach in observing batik fashion by utilizing documentation of fashion magazines and women’s magazines in Indonesia. The change and diversity of batik clothing in Indonesian women’s clothing styles are influenced by changes and developments in the role of Indonesian women themselves, ranging from those that are only doing domestic activities, but also going to school, and working in the public. However, fashion trend factors are also a parameter of change in batik clothing, which result in adaptive and flexible batik clothing.
ANALISIS PERSEPSI KONSUMEN UNTUK STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK SARUNG DI IKM SARUNG MAJALAYA Irfandhani Fauzi; Kahfiati Kahdar; Slamet Riyadi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.389 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6164

Abstract

AbstractThe Majalaya textile industry, at Bandung Regency, is a textile centre prepared by the government as a national textile centre to meet clothing needs. This industry was able to develop and experience its heyday in the 1960s. At that time, this region was able to produce 40% of the total fabric production in Indonesia. Sarong, as its main product, was very popular throughout Indonesia and several other countries in Asia. But thecrisis that occurred in 1998 had a major impact on the textile industry in Majalaya. Many textile entrepreneurs are forced to close their production sites because of the declining purchasing power of the people and also the increasing cost of raw material for production. Only a handful of Majalaya sarong entrepreneurs have survived until now. In the midst of their efforts to survive, the problem that occurs at this time is the onslaught of imported textiles that flooded the market which impacted the sale ofMajalaya sarongs falling dramatically.These problems must be overcome with the aim of returning the Majalaya textile industry as the people’s economic power. Design in relation to this is aimed at producing products that are interested in consumers. Design is an important aspect of product development, also as one of the main criteria in the product selection process by buyers. To produce an interesting product it is necessaryto analyze consumer perceptions. The purpose is to know what aspects that affect consumer interest in buying products. These can be applied as a strategy for developing a product of Majalaya sarong. The survey method using a questionnaire to Majalaya sarong consumers can be done to determine consumer perceptions of Majalaya sarong products. By analyzing consumer perceptions, producers can develop a Majalaya sarongproduct design strategy that suits consumer interest. Abstrak Industri tekstil Majalaya, di Kabupaten Bandung, merupakan sentra tekstil yang disiapkan pemerintah sebagai pusat tekstil nasional guna memenuhi kebutuhan sandang. Industri ini mampu berkembang dan mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1960-an. Saat itu, wilayah ini mampu memproduksi 40% dari total produksi kain di Indonesia. Sarung, sebagai produk utamanya, sangat popular di seluruh Indonesia serta beberapa Negara di Asia. Namun krisis yang terjadi pada tahun 1998 berdampak besar bagi industri tekstil di Majalaya. Banyak pengusaha tekstil yang terpaksa menutup tempat produksinya karena daya beli masyarakat yang menurun dan juga kenaikan biaya bahan baku produksi. Hanya segelintir pengusaha sarung Majalaya yang masih bertahan menjalankan usahanya hingga sekarang. Di tengah usahanya untuk bertahan, permasalahan yang juga dialami pengusaha tekstil Majalaya saat ini adalah gempuran tekstil impor yang membanjiri pasar yang mengakibatkan penjualan sarung Majalaya turun drastis.Permasalahan yang dialami industri tekstil Majalaya tersebut harus diatasi dengan tujuan untuk mengembalikan industri tekstil Majalaya sebagai penggerak ekonomi rakyat. Peran desain dalam kaitannya dengan hal ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang diminati masyarakat. Desain merupakan aspek yang penting bagi pengembangan produk, juga sebagai salah satu kriteria utama dalam proses pemilihan produk oleh pembeli. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan produk yang diminati adalah dengan menganalisis persepsi konsumen. Hal ini dilakukan karena tujuan dari analisis persepsi konsumen adalah untuk mengetahui aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi minat konsumen untuk membeli produk. Aspek-aspek tersebut dapat diterapkan sebagai strategi untuk pengembangan produk sarung Majalaya. Metode survey dengan menggunakan kuisioner kepada konsumen sarung Majalaya dapat dilakukan untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap produk sarung Majalaya. Dengan menganalisis persepsi konsumen, maka produsen dapat membuat strategi desain produk sarung Majalaya yang sesuai dengan minat konsumen.
Adaptasi Desain Perhiasan Tradisional Suku Sasak dalam Perhiasan Mutiara Bergaya Kontemporer Nadya Putri Utami; Kahfiati Kahdar
Jurnal sosial dan sains Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4677.237 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v2i2.347

Abstract

Latar Belakang : Perhiasan merupakan wujud budaya fisik yang telah digunakan sejak zaman prasejarah dengan tujuan untuk mendukung dan memperindah penampilan pengguna yang ketika digunakan akan menambah afirmasi diri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan adaptasi perhiasan tradisional Suku Sasak dalam perhiasan mutiara bergaya kontemporer dengan menggunakan metode ATUMICS dan menghasilkan visualisasi dalam bentuk desain dan produk terhadap adaptasi desain perhiasan tradisional Suku Sasak dalam perhiasan mutiara bergaya kontemporer. Metode: Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi, studi literatur, eksplorasi prototipe perhiasan kontemporer dengan inspirasi dari perhiasan tradisional Lombok, dokumentasi, analisis, dan pengumpulan data. Hasil: Eksplorasi pada budaya, lebih spesifiknya lagi perhiasan tradisional suku Sasak sebagai inspirasi untuk desain perhiasan kontemporer, akan membantu mengangkat kembali budaya Indonesia dengan menampilkan wajah baru perhiasan tradisional dengan gaya yang lebih kontemporer. Hal ini didukung dengan hasil uji minat masyarakat terhadap desain perhiasan yang menunjukkan bahwa minat akan perhiasan kontemporer lebih tinggi. Kesimpulan: Desain perhiasan mutiara kontemporer dengan adaptasi dari perhiasan tradisional Suku Sasak divisualisasikan dengan penggabungan unsur tradisional dan unsur kontemporer.
PENGAPLIKASIAN TEKNIK MAKRAME PADA BUSANA LINGERIE SEBAGAI REPRESENTASI EKSPRESI DIRI Allegra Qothrunnadaa Arifah Hafshoh; Kahfiati Kahdar
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jsrr.v7i1.18996

Abstract

The stigma related to lingerie in Indonesia is still focused on the perception of naughty clothing, rather than as a form of intimate and feminine expression, so local brand lingerie production is still not prominent. This research aims to investigate how much macrame techniques in lingerie design can meet the needs of self-expression and fashion innovation. This research uses design and development methods. Research data was taken from websites, scientific journals, e-books, reference books, Google forms, and direct observation. The research results show that integrating macrame techniques in lingerie design can fulfill the desire for femininity, producing aesthetic and functional products. This research concludes that lingerie design with this approach attracts market interest and creates new economic opportunities in the Indonesian market, elevating the concept of self-expression and femininity to a higher level.  
Shaping Visual Personality: the Role of Character Make-up and Body Shape in Visualizing Warrior Characters in Indonesia Silat Film Puspitasari, Feny; Piliang, Yasraf Amir; Kahdar, Kahfiati; Waskita, Dana
East Asian Journal of Multidisciplinary Research Vol. 3 No. 6 (2024): June 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/eajmr.v3i6.9265

Abstract

The warrior character is an important element in the storyline and a narrative developer in silat films. The warrior is the main character with distinctive characteristics in Silat's stories, especially the visual character. Talent is supported by make-up with a body shape that tends to be static to differentiate the role. This research explores the relationship between character make-up, body shape, and character, including stereotypes of warrior characters in silat films. This research used content analysis with a physiognomy theory approach to read the characters in the characters' make-up. In addition, somatotype theory is used to analyze characters based on body shape. A case study was conducted on the Indonesian Silat film Wiro Sableng (2018), focusing on the main hero, heroine, and villain characters and representing three body types.
A NEGOTIATING GENDER AND CULTURE: A SEMIOTIC ANALYSIS OF ANGGINI'S COSTUME IN WIRO SABLENG 1995 AND 2018 Puspitasari, Feny; Piliang, Yasraf Amir; Kahdar, Kahfiati; Waskita, Dana
Home Economics Journal Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hej.v9i2.80463

Abstract

Different cinematic contexts reflect filmmakers' varied perspectives and intentions, shaping the visual ideologies presented on screen. One principal means by which filmmakers articulate such ideologies is through costume design. Costumes function not merely as clothing but as symbolic artefacts that convey social, cultural, and ideological meanings. They play a vital role in shaping audience perceptions of characters and their roles while revealing more profound insights into identity, values, and worldviews. Previous research has highlighted how costumes contribute to character identity, particularly in terms of status, role, and psychological attributes. This study employs Roland Barthes’ semiotic theory and content analysis to explore the denotative and connotative meanings of costumes. The aim is to deepen the understanding of costume as a visual medium and to examine its ideological function, particularly in character representation. The analysis focuses on the character Anggini in the Wiro Sableng series (1995) and the movie (2018). Findings indicate that Anggini’s costume in the 1995 series reflects traditional cultural values, emphasising modesty, elegance, and femininity. In contrast, the 2018 film's costumes portray female strength more explicitly, influenced by Western aesthetics and the film’s multinational context. A structural costume pattern for female warrior characters typically consists of traditional female attire on the upper body, accompanied by male or unisex garments below for enhanced agility, and functional footwear for combat. These findings offer practical insights for emerging costume or fashion designers working with female warrior archetypes in Indonesian cinema.
PENGEMBANGAN BENANG SISA TENUN MAJALAYA MENJADI BENANG PAKAN TAMBAH Arliesa, Yulvi; Kahdar, Kahfiati
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v38i1.6589

Abstract

Majalaya merupakan salah satu daerah penghasil tenun di Indonesia. Dalam proses pembuatan tenun terdapat limbah tekstil berupa benang sisa yang tidak bisa digunakan kembali dan kemudian dibuang. Sistem produksi tekstil tersebut merupakan sistem linear, yaitu sistem yang berujung pada pembuangan pada masa akhir pakai suatu produk sehingga menyebabkan banyaknya limbah, Perlu dilakukan peralihan dari sistem yang semula linear ke sistem sirkular untuk mengurangi limbah dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menerapkan sistem sirkular adalah dengan melakukan upcycling. Metode yang digunakan adalah melakukan eksperimen untuk mengolah limbah benang tenun Majalaya menjadi benang pakan tambah supaya bisa digunakan kembali dalam proses tenun. Penelitian ini menunjukkan bawa limbah benang  masih bisa dimanfaatkan kembali melalui beberapa tahap pengolahan dan sistem sirkular memungkinkan untuk diaplikasikan dalam industri tekstil meskipun dalam bentuk dan teknologi yang sederhana.