Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Model Evaluasi William N Dunn Pada Program Pembinaan Kemandirian Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pematangsiantar Siahaan, Argendo; Warih, Wido Cepaka
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang bagaimana pelaksanaan program pembinaan kemandirian bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pematangsiantar. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja kendala dan hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan, serta memberikan saran dan rekomendasi terhadap kendala yang ada agar program pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIA Pematangsiantar semakin lebih baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori evaluasi oleh William N. Dunn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pematangsiantar telah berjalan dengan baik. Antusiasme peserta dan kualitas dan tingkat produksi dari kegiatan menunjukkan bahwa program ini memberikan dampak positif terhadap pengembangan potensi narapidana. Namun, pelaksanaan program menghadapi kendala dalam aspek pemasaran dan ketersediaan fasilitas. Kolaborasi terhadap pihak luar dalam bidang pemasaran hasil karya warga binaan masih kurang maksimal sehingga daya serap produk hasil kemandirian oleh warga binaan kurang maksimal. Ketersediaan ruang dan fasilitas dalam melakukan kegiatan kemandirian masih memerlukan dukungan yang lebih besar agar kegiatan dapat menyerap partisipasi warga binaan dalam jumlah yang lebih banyak dan memaksimalkan hasil produksi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyarankan agar fasilitas dan variasi pelatihan dapat ditingkatkan, serta melakukan upaya peningkatan dalam bidang pemasaran hasil karya warga binaan seperti melakukan kegiatan pameran produk karya warga binaan di lingkungan masyarakat agar produk kegiatan kemandirian dapat tersalurkan dan dikenali oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan daya serap terhadap produk karya warga binaan, meningkatkan semangat dan motivasi bagi warga binaan serta tercapainya tujuan dari program pembinaan kemandirian itu sendiri.
IMPLEMENTATION OF SOCIAL REHABILITATION PROGRAM POLICY FOR NARCOTICS INMATE (CASE STUDY PURWOKERTO CLASS IIB NARCOTICS PRISON) Warih, Wido Cepaka; Setiawan, Eka Fitri
Journal of Social Politics and Governance (JSPG) Vol. 6 No. 1 (2024): Journal of Social Politics and Governance (June)
Publisher : Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/jspg.v6i1.1619

Abstract

The aim of this research is to examine the implementation of policies regarding social rehabilitation activities for narcotics inmates in prison by taking the research focus at the Purwokerto Class IIB Narcotics Prison. Social rehabilitation is a process of integrated recovery activities, both physical, mental, and social, so that former narcotics addicts can return to carrying out social functions in community life. This study uses a qualitative research approach. The aim of descriptive qualitative research is to create systematic, factual, and accurate information about the facts and characteristics of a particular population or region. The focus of this research is to look at the implementation of social rehabilitation carried out in prisons. Data sources used include interviews, previous research literature, and literature studies. The research results show that the implementation of the social rehabilitation program for narcotics prisoners is effective in terms of the policy/program content dimension and the implementation context dimension. The implications of this research are to provide an overview of whether the social rehabilitation program for narcotics prisoners implemented in correctional institutions is effective or not from a policy perspective.
Analisis Konflik Kebijakan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Tahun 2019 S, Ariski; Warih, Wido Cepaka; Syugiarto, Syugiarto
Jurnal ADMINISTRATOR Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55100/administrator.v6i1.85

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan aktor dan dinamika konflik kebijakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, serta untuk mengetahui resolusi konflik dalam kebijakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi pustaka atau studi literatur, dengan menggunakan rujukan utama yang berasal dari penelitian-penelitian terdahulu terkait konflik kebijakan yang dielaborasikan dengan permasalahan kenaikan BPJS Kesehatan yang terjadi pada tahun 2019. Dinamika konflik dilihat dengan menggunakan sekam solomon trap yang bertujuan untuk memberikan solusi terkait konflik kebijakan tersebut. Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa konflik kebijakan seringkali terjadi disebabkan oleh pemerintah yang selalu terjebak dalam Solomon trap. Pada kasus BPJS Kesehatan ini, Solusi yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu dengan menerapkan Perpres Nomor 75 Tahun 2019 namun dengan skema kenaikan iuran secara berjenjang. Selain itu adanya skema kenaikan BPJS yang disesuaikan dengan golongan kelas sehingga memudahkan masyarakat kurang mampu yang memilih kelas 3
Organizational Change: Unveiling the Butterfly Effect Warih, Wido Cepaka
Journal of Correctional Management Vol 2 No 2 (2025): Journal of Correctional Management (JCM)
Publisher : Polteknik Pengayoman Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52472/jcm.v2i2.612

Abstract

Dalam dunia yang terus berubah, organisasi tidak hanya dihadapkan pada kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga untuk memahami dan mengelola dinamika yang melibatkan setiap langkahnya. Konsep perubahan dalam suatu organisasi tidak lagi dipandang sebagai fenomena statis, melainkan sebagai suatu ekosistem yang dinamis dan saling terkait. Konsep Efek Kupu-kupu menyoroti gagasan bahwa tindakan kecil dalam suatu sistem dapat memiliki dampak besar dan sulit diprediksi di masa depan. Sebuah keputusan yang diambil dalam organisasi, sekecil apapun itu, dapat memicu rangkaian peristiwa yang menghasilkan perubahan besar dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dalam konteks ini, paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep Efek Kupu-kupu dapat menjadi kunci untuk memahami perubahan organisasi secara holistik. Melalui metode studi pustaka dari berbagai literatur, paper ini menyajikan pemahaman yang mendalam tentang kompleksitas perubahan organisasi dan hubungannya dengan Efek Kupu-kupu. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa teori kekacauan menawarkan pandangan baru dalam memahami perubahan organisasi, yang tidak hanya menyoroti pentingnya adaptasi dan fleksibilitas, tetapi juga mengakui bahwa perubahan seringkali tidak terduga dan tidak linear. Sementara itu, konsep Efek Kupu-kupu memberikan pemahaman tentang bagaimana perubahan kecil dalam suatu sistem dapat memicu perubahan besar dalam jangka panjang. Strategi Navigasi Efek Kupu-kupu muncul sebagai pendekatan proaktif dan adaptif dalam menghadapi dinamika perubahan dalam dunia organisasi. Dengan memahami konsep Efek Kupu-kupu, organisasi dapat mengidentifikasi potensi perubahan dan merancang strategi yang lebih responsif, memungkinkan mereka untuk tetap kompetitif dan adaptif dalam lingkungan yang terus berubah.
Implementasi Kegiatan Pembinaan Kemandirian bagi Narapidana yang Menjalani Masa Pidananya di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kotabumi Habibi, Igo Ilham; Warih, Wido Cepaka
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i6.5712

Abstract

Narapidana seharusnya menjalani masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan, tetapi di Indonesia masih banyak narapidana yang menjalani masa pidananya di Rumah Tahanan dikarenakan Lapas di kota tersebut mengalami kelebihan kapasitas sehingga narapidana yang mendapatkan putusan hukuman dibawah 5 tahun harus menjalani masa pidananya di Rutan. Hal ini diatur dalam keputusan menteri yang menyatakan bahwa Rutan dapat beralih fungsi sebagai Lapas. sehubungan dengan hal ini narapidana harus tetap mendapatkan hak pembinaan kemandirian walaupun fungsi utama dari Rutan yaitu perawatan dan sekarang memilki fungsi tambahan yaitu pembinaan kepada narapidana. Rutan Kelas IIB Kotabumi memiliki narapidana didalamya yang sedang menjalani masa pidana mereka. Narapidana tetap mendapatkan hak pembinaan kemandirian sebagai bekal mereka ketika nanti sudah bebas dan bisa memiliki keterampilan, pengalaman sebagai modal untuk memulai hidup baru dan tidak mengulangi pelanggaran hukum kembali. Rutan Kotabumi melaksanakan kegiatan pembinaan kemandirian pertanian sayur dan buah, kerajinan kayu, las listrik, barber, laundry. Kegiatan pembinaan kemandirian narapidana di Rutan Kelas IIB Kotabumi sudah terlaksana cukup baik, walaupun masih terdapat kendala seperti masih belum berkelanjutan beberapa kegiatan kerja, masih kurangnya jumlah petugas yang ahli, fasilitas penunjang yang belum lengkap, serta pemberian premi yang masih kurang sesuai. Petugas dan narapidana terus berupaya untuk menciptakan solusi agar pembinaan kemandirian terus berkembang.
CONTEXT INPUT PROCESS PRODUCT (CIPP) EVALUATION MODEL IN THE IMPRISONER INDEPENDENCE GUIDANCE PROGRAM AS AN EFFORTS TO PREVENT RECIDIVISTS IN CLASS IIA SRAGEN PRISON Marcellino, Fauzaan Mukti Dicky; Warih, Wido Cepaka
Journal of Management Small and Medium Enterprises (SMEs) Vol 19 No 1 - May (2026): JOURNAL OF MANAGEMENT (Special Issue) - Correctional System Management
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study applies the Context, Input, Process, and Product (CIPP) evaluation model to assess the effectiveness of the independent skills development program for inmates at the Class IIA Sragen Correctional Institution as a strategy to prevent recidivism. The findings indicate that, from the context perspective, social stigma toward ex-prisoners is a major barrier to the success of the program. In terms of input, limitations in resources, including inadequately trained facilitators and insufficient training facilities, hinder program effectiveness. From the process aspect, low inmate motivation and inconsistent training schedules reduce the quality of program implementation. Meanwhile, from the product perspective, the absence of post-release support limits former inmates’ ability to apply the skills they have acquired. Overall, the study concludes that the program has not yet been fully effective in reducing recidivism. Therefore, improvements are needed, particularly in enhancing facilitator competence, providing adequate facilities, and strengthening post-release support systems. These efforts are essential to ensure that the program can better support inmates in achieving independence and successfully reintegrating into society. Keywords: CIPP Evaluation; Independent Skills Development; Recidivism