Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI MONUMEN PERJUANGAN KUSUMA MANDALA BHAKTI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS DI SMP DILIHAT DARI KURIKULUM 2013 DAN PERSEPSI SISWA I Gede Winaba Kusuma w .; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i3.3829

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang peristiwa sejarah dibangunnya Monumen Perjuangan Kusuma Mandala Bhakti (Monumen PKMB) Desa Bestala, (2) nilai-nilai yang terkandung di balik Monumen PKMB Desa Bestala dan, (3) nilai-nilai yang terkandung dalam Monumen PKMB bisa dimasukkan ke dalam pembelajaran IPS di SMP dilihat dari sudut pandang Kurikulum 2013 dan persepsi siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Seririt. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) teknik validasi data (triangulasi data), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) peristiwa sejarah yang melatarbelakangi pembangunan Monumen PKMB yaitu pristiwa gugurnya Made Anila pada 4 April 1946, Ketut Mudana pada 25 Juni 1946, Putu Sedana 5 Mei 1947 dan Made Cana pada tahun 1948 saat revolusi fisik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (2) nilai-nilai yang terkandung dalam Monumen PKMB adalah nilai religius, nasionalisme, patriotisme dan kejujuran. (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam Monumen PKMB dan peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya dapat dijadikan sumber pembelajaran IPS di SMP dilihat dari Kurikulum 2013 dan persepsi siswa Kelas VIII A. Materi akan dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mengacu pada silabus kelas IX kurikulum 2013. Kata Kunci : Kata kunci: Monumen Perjuangan Kusuma Mandala Bhakti, Sumber Belajar IPS, Kurikulum 2013. Persepsi Siswa. ABSTRACT The purposes of this research are knowing (1) the history background of Monumen Perjuangan Kusuma Mandala Bhakti (Monumen PKMB) Desa Bestala construction, (2) the values contained inside Monumen PKMB Desa Bestala, (3) the values contained in Monumen PKMB can be implemented in IPS learning in Junior High School seen from the point of view of Curriculum 2013 and students VIII A SMP Negeri 3 seririt perception. In this research, the data is gathered using quantitative method with these steps (1) technique of determining research location, (2) technique of determining informant, (3) method of gathering data (observation, interview, document investigation), (4) validation of data (data triangulation), and (5) technique of analyzing data. The result of the research shows that, (1) the history background of Monumen PKMB is the dead of Made Anila in April 4, 1946, Ketut Mudana in June 25, 1946, Putu Sedana in May 5, 1947 and Made Cana in 1948 in physic revolution in order to maintain Indonesian freedom, (2) the values contained in Monumen PKMB are religious, nasionalism, patriotism, and honestly values, (3) the values contained in Monumen PKMB and its background history can be source of IPS learning in Junior High School seen from Curriculum 2013 and students VIII A perception. The material is distributed in Lesson Plan, reffering to syllabus grade IX curriculum 2013. keyword : Key words: Monumen Perjuangan Kusuma Mandala Bhakti, IPS learning sources, Curriculum 2013, Students perception.
PURA DALEM SEGARA MADHU DI DESA JAGARAGA, SAWAN, BULELENG (LATAR BELAKANG BERDIRI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DI SMA Ni Wayan Yuliasih .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .; Drs. I Wayan Mudana,M.Si. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i2.3830

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang berdirinya Pura Dalem Segara Madhu, Sawan, Buleleng; (2) Aspek-aspek yang dimiliki oleh Pura Dalem Segara Madhu sebagai sumber belajar sejarah lokal; dan (3) Faktor yang menyebabkan SMA Wira Bhakti belum memanfaatkan Pura Dalem Segara Madhu sebagai sumber belajar sejarah lokal. Penelitian ini dilakukan di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan; (3) analisis data. Berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa (1) Pura Dalem Segara Madhu sebelumnya bernama “Jaya Pura” yang berfungsi sebagai Pasraman. Pada masa Perang Jagaraga tahun 1849, pura ini dijadikan sebagai pusat pertahanan benteng dalam menghalau serangan Belanda. Namun, akibat kekalahan perang pada masa itu, pura ini sempat dihancurkan oleh Belanda dan dibangun kembali oleh masyarakat Buleleng pada tahun 1865 dengan nama “Segara Madhu”, (2) Aspek-aspek yang dimiliki oleh Pura Dalem Segara Madhu sebagai sumber belajar sejarah lokal yaitu aspek historis, dan aspek arsitektur bangunan, (3) Faktor yang menyebabkan guru sejarah di SMA Wira Bhakti kurang memanfaatkan Pura Dalem Segara Madhu sebagai sumber belajar sejarah lokal, yaitu karena faktor jarak, kesibukan, dan belum adanya kerjasama dengan Dinas Pendidikan. Kata Kunci : Pura Dalem Segara Madhu, Sumber Belajar, Sejarah Lokal Pura Dalem Segara Madhu the aim of this study is to determine (1) Backround of the founding of Segara Madhu Temple, Sawan, Buleleng; (2) Aspect which are owned by Segara Madhu temple as a source of learning local history; (3) Faktor which made the SMA Wira Bhakti not exploit yet the Segara Madhu Temple as a source of leraning local history the research is done in Jagaraga Village. This study uses qualitative methods namely: (1) Determination techniques informant; (2) Techniquest of data collection (observation, interviews, study document); (3) Based on data analysis. Finding in the field showed that (1) A previous Dalem Segara Madhu Temple named “Jaya Pura” which functioning as pasraman. During the war 1849, this temple was made as fortress in the center of defense to block attacks by dutch. But the loosed of the war at that time, the temple was destroyed by the Dutch and rebuilt by the the people of Buleleng on 1865 with names “Segara Madhu”, (2) Aspects which are owned by the Segara Madhu Temple as a source of learning local history namely historical aspects, and aspects of building arsitektur, (3) The factor that cause SMA Wira Bhakti history teacher in an underutilization of the temple as a source of learning local history, namely because the distance factor, busyness, and the lack of cooperation with the department of education. keyword : Dalem Segara Madhu Temple, Resource, Local History
Lukisan Gaya Kamasan di Bale Kertha Gosa Semarapura, Klungkung, Bali (Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dan Implementasinya dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Berbasis Kurikulum 2013) Kadek Edy Indraguna .; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4151

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) alur cerita pada lukisan di Bale Kertha Gosa, (2) nilai pendidikan karakter yang terdapat di balik cerita lukisan di Bale Kerta Gosa (3) implementasi nilai pendidikan karakter yang terdapat di balik cerita lukisan di Bale Kertha Gosa dalam pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah yaitu: (1) Penentuan Lokasi Penelitian, (2) Teknik Penentuan Informan, (3) Metode Pengumpulan Data (Observasi, Wawancara, Studi Dokumen) , (4) Teknik Validitas Data, (5) Teknik Pengolahan Data, (6) Penulisan Hasil Penelitian. Penelitian ini menghasilkan temuan, (1) Alur cerita yang ada di langit-langit Bale Kertha Gosa menceritakan/mengkisahkan tentang cerita Ni Diah Tantri/Tantri Kandak, Atma Presangsa, Sang Garuda Mencari Amerta, Pelelindong (Gempa), pertempuran Sang Bima dengan para dewa untuk menyelamatkan roh ayah dan ibunya, Sorga Roh. (2) Nilai-nilai karakter yang terdapat dibalik cerita lukisan di langit-langit Bale Kertha gosa yaitu jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. (3) Implementasi dari Lukisan di langit-langit Bale Kertha Gosa dalam memberikan nilai-nilai pendidikan karakter yaitu melalui pembelajaran di luar kelas atau karya wisata. Dengan menggunakan metode karya wisata guru dapat lebih mudah memberikan gambaran secara langsung tentang nilai-nilai pendidikan karakter khususnya dalam pembelajaran sejarah yang terdapat dibalik cerita lukisan di langit-langit Bale Kertha Gosa.Kata Kunci : Lukisan Kamasan, Pembelajaran Sejarah, Kurikulum 2013 This study aims to determine (1) the plot of the painting in Bale Kertha Gosa (2) the value of character education contained in the story behind the painting in Bale Kerta Gosa (3) the implementation of character education values contained in the story behind the painting in Bale Kertha Gosa in teaching history. The method used in this research is descriptive qualitative research approach with the steps are: (1) Determination of Location Research, (2) Determination informant Technique, (3) Data Collection Method (Observation, Interview, Study Document), (4 ) Validity Data Engineering, (5) Data Processing Techniques, (6) Writing Research.This research resulted in findings, (1) The story line that is in the ceiling Bale Kertha Gosa menjelaskan The story of Ni Diah Tantri / Tantri Kandak, Atma Presangsa, Sang Garuda Looking for Amrita, Pelelindong (Earthquake), The Milky battle with the gods to save the spirit of her father and mother, Heaven Spirit. (2) The values of the characters contained in the story behind the painting on the ceiling of the Bale Kertha Gosa is honest, smart, tough, caring. (3) Implementation of the painting on the ceiling of Bale Kertha Gosa in providing character education values is through learning outside the classroom or field trip. By using the methods of the field trip the teacher can more easily provide a snapshot directly on the values of character education, especially in learning the history of the story behind the painting found on the ceiling of Bale Kertha Gosa.keyword : Painting of Kamasan, Teaching History, Curriculum 2013
Tradisi Ngerebeg di Desa Pakraman Tegallalang, Gianyar, Bali (Latar Belakang Pemertahanan dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Pendidikan Karakter dalam Pelajaran Sejarah) I Wayan Suwartika .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i2.4170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Latar belakang pemertahanan Tradisi Ngerebeg (2) Belum digunakannya Tradisi Ngerebeg sebagai sumber belajar sejarah (3) nilai-Nilai karakter dalam Tradisi Ngerebeg yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar sejarah. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap ; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (4) teknik validitas data (triangulasi data), dan (5) teknik pengolahan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) Pemertahanan Tradisi Ngerebeg di latar belakangi karena adanya suatu kepercayaan dan keyakinan yang telah mengakar di masyarakit, di samping adanya alasan pelestarian budaya, psikologis, pendidikan dan ekonomi (2) Tradisi Ngerebeg belum digunakan sebagai sumber belajar sejarah karena ada beberapa faktor yang mendasari pemilihan sumber belajar yang sulit di terapkan, diantaranya: kurang ekonomis, susah diperoleh, kurang praktis, dan kurang menguasai materi. (3) nilai-nilai karakter dalam Tradisi Ngerebeg yang bisa dugunakan sebagai sumber belajar sejarah diantaranya: religius, bertanggung jawab, Disiplin, kerja keras, kreatif, nasionalis, serta peduli sosial dan lingkungan.Kata Kunci : Tradisi Ngerebeg, sumber belajar sejarah, nilai karakter. This study aims to (1) determine the background retention of Ngerebeg tradition (2) to know why Ngerebeg tradition not used as a source of learning the history (3) determine the values of characters in the Ngerebeg tradition which could serve as a source of learning history. In this study, the data collected using qualitative methods with the stages; (1) a technique of determining the location of the research, (2) determination techniques informant, (3) data collection methods (observation, interviews, document studies), (4) technical validity of the data (data triangulation), and (5) data processing techniques. The results showed that, (1) Retention Ngerebeg tradition in the background due to the presence of a background of trust and confidence that has been rooted for people, in addition to the reason for the preservation of the cultural, psychological, and economic education (2) Ngerebeg tradition not been used as a source of learning history because there are several factors underlying the selection of learning resources that are difficult to apply, including: less economical, hard-earned, less cumbersome, and less over matter. (3) The values of characters in the Ngerebeg tradition can be used as a source of learning history including: religious, responsible, discipline, hard work, creative, nationalists, as well as social and environmental care. keyword : Ngerebeg tradition, the history of learning resources, the value of the character
Perkembangan Partai Politik di Kabupaten Badung Pada Tahun 1998-2009, dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di SMA I Putu Edy Saputra .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4171

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) latar belakang perkembangan partai politik di Kabupaten Badung pada periode 1998-2009, (2) perolehan suara partai politik dalam pemilu periode tahun 1998-2009 dan implikasinya bagi demokrasi di DPRD Kabupaten Badung, dan (3) aspek-aspek yang terdapat dari perkembangan partai politik di Kabupaten Badung yang dapat dijadikan sumber pembelajaran Sejarah di SMA. Penelitian ini bersifat deskritif kualitatif dengan menggunakan metode penelitan sejarah, yaitu: (1) Heuristik (studi dokunetasi, wawancara, dan observasi); (2) Kritik sumber; (3) Interprestasi; dan (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) adanya latar belakang perkembangan partai politik di Kabupaten Badung pada periode 1998-2009 disebabkan oleh faktor-faktor eksternal dan internal. Faktor internal di antaranya; (1) pergantian rezim ke reformasi, (2) amandemen UUD 1945, munculnya peraturan perundang-undangan tentang pemilu dan partai politik 1998-2009, perubahan sistem pemilu secara nasional, dan (3) dinamika partai politik di tingkat nasional. Sedangkan faktor internal, di antaranya; (1) Kabupaten Badung sebagai bagian dari wilayah provinsi dan negara, (2) corak masyarakat Badung yang multikultur, (3) difungsikannya partai politik sebagai kendaraan calon/pasangan calon dalam pemilu/pilkada. (2) Perolehan suara partai politik dalam pemilu periode 1998-2009 dan implikasinya bagi demokrasi di DPRD Kabupaten PDIP selalu unggul dalam setiap pemilu pada periode tersebut. Oleh karena itu, PDIP selalu mendominasi dalam prolehan kursi di DPRD Kabupaten Badung sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat selalu merepresentasikan visi dan misi partai yang pro rakyat. Dan (3) Aspek-aspek yang terdapat dari perkembangan partai politik di Kabupaten Badung sebagai sumber belajar sejarah di SMA yaitu aspek historis, aspek demokrasi, dan aspek pendidikan yang kemudian dijabarkan ke dalam silabus mata pelajaran sejarah pada kelas XII semester ganjil kurikulum 2013. Kata Kunci : Partai Politik, Demokrasi, Sumber Belajar Sejarah This study aims to knowing; (1) the background of the development of political parties in the Badung Regency in the period 1998-2009, (2) number of votes a political party in an election period 1998-2009 and implication for democracy in DPRD Badung Regency, and (3) there are aspects of the development of political parties in Badung Regency in can be used as a sorce of learning history SMA. This research is a descriptive qualitative study using historycal, namely: (1) heuristic (document, interview, observation), (2) source criticism, (3) interpretation, (4) historiography. The results of this study indicate that, (1) the backgrond of the development of political parties in Badung Regency period 1998-2009 caused by external and internal factors. External factor namely (1) substitution regime change to reform, amendment UUD 1945, emerging regulation concering the election of political parties 1998-2009, (2) changes in electoral systems nationally, and (3) the dynamics of political parties at the national level. While internal factor, such Badung Regency as part of the province and the country, the style of the Badung Community the multicultural, functioned as a political party candidate vehicle/pair of candidate in the election, as well asa goverment policies Badung Regency. (2) Number of votes a political party in the election period 1998-2009 and its implications for democracy in DPRD Badung Regency that PDIP always superior in every election for the period. So PDIP always dominated the seat in DPRD Badung Regency then the policy always represent the visioan and mission of a pro-people party. (3) And the are aspects of the development of political parties in Badung Regency as a source of learning history in SMA namely aspect historical, aspect democracy, and aspect education which is then translated in to a history lesson on the syllabus of the class XII semester odd curriculum 2013.keyword : Political Parties, Democracy, Source Learning History
Pemertahanan Tradisi Gebug Ende di Desa Pakraman Seraya, Karangasem, Bali, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA Desak Made Suprayanti .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4173

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang dilaksanakannya tradisi Gebug Ende di Desa Pakraman Seraya, Karangasem, Bali, (2) Upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Pakraman Seraya, Karangasem, Bali dalam mempertahankan tradisi Gebug Ende dan, (3) Aspek-aspek apa saja dari tradisi Gebug Ende di Desa Pakraman Seraya, Karangasem, Bali yang dapat dipakai sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan tahap-tahap: (1) Penentuan lokasi penelitian, (2) Teknik penentuan informan, (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) Teknik penjamin keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), dan (5) Teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Latar belakang dilaksanakannya tradisi Gebug Ende yaitu adanya nilai religius yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat bahwa dengan melakukan pementasan tradisi Gebug Ende dapat dijadikan perantara dalam mengundang hujan. Proses pelaksanaan tradisi Gebug Ende yaitu: ritual/upacara pementasan, tempat/areal pementasan, alat pementasan, sekaa tabuh, peraturan permainan Gebug Ende, busana/pakaian Gebug Ende, dan dinamika gerak serta dalam pementasan tradisi Gebug Ende terdapat penerapan ajaran Tri Hita Karana. (2) Upaya Desa Pakraman Seraya dalam mempertahankan tradisi Gebug Ende yaitu sebagai fasilitator dalam mengadakan pementasan di Pura Puseh pada saat piodalan dan melakukan sosialisasi serta melakukan pertunjukan- pertunjukan ditempat lain. Tradisi Gebug Ende juga mengupayakan peran keluarga serta pentingnya peran generasi muda dalam mempertahankan serta melestarikan tradisi Gebug Ende. (3) Aspek-aspek dari pelaksanaan tradisi Gebug Ende yang dapat dipakai sebagai sumber belajar sejarah di SMA yaitu aspek historis, aspek pendidikan dan aspek sosial yang kemudian dijabarkan ke dalam silabus mata pelajaran sejarah pada kelas X semester ganjil kurikulum 2013. Kata Kunci : Tradisi Gebug Ende, Desa Pakraman Seraya, Sumber Belajar Sejarah This study aims to knowing (1) The background of the implementation of tradition Gebug Ende in Pakraman Seraya village, Karangasem, Bali, (2) The efforts undertaken by the community in Pakraman Seraya village, Karangasem, Bali in maintaining the tradition Gebug Ende and, (3) The aspects of tradition Gebug Ende in Pakraman Seraya village, Karangasem, Bali that can be used as a learning resource in the history of SMA. The method used in this research is descriptive qualitative method with stages: (1) Determining the location of the research, (2) technique of determining informant, (3) Methods of data collection (observation, interviews, review of documents), (4) the authenticity of the data guarantor techniques (data triangulation, triangulation methods), and (5) data analysis techniques. The result of this study showed that, (1) the background of the implementation of tradition Gebug Ende that the religious values of faith communities that by staging the tradition Gebug Ende can be used as an intermediary in the rain invites. The process of implementation of the tradition Gebug Ende that: Ceremony staging, staging area, staging tool, sekaa tabuh, Traditional game rules Gebug Ende, costume tradition Gebug Ende, and dynamics as well in the staging of tradition Gebug Ende there is applying the teachings of Tri Hita Karana. (2) The effort in Pakraman Seraya village in maintaining the tradition Gebug Ende that is as a facilitator in staging held tradition in the temple Puseh Gebug Ende when piodalan and socializing as well as doing performances elsewhere. Tradition Gebug Ende also sought the role of family and the importance of the role of young people in maintaining and preserving the tradition Gebug Ende. (3) Aspects of the implementation of the tradition Gebug Ende used as a learning resource in the history of SMA namely historical aspects, educational aspect and social aspects which are further described in syllabus history courses in the first semester of class X curriculum 2013.keyword : Tradition Gebug Ende, Pakraman Seraya Village, Source learning history.
PEMANFAATAN KLIPING HARIAN BALI POST SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH KEBUDAYAAN DI SMA BERDASARKAN KURIKULUM 2013 I Nyoman Candra Wiguna .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4174

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) tulisan-tulisan khas yang ada dalam harian Bali Post yang dapat dijadikan kliping sebagai sumber belajar Sejarah Kebudayaan, (2) mengetahui bagian dari tulisan itu yang dapat dimasukkan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan berdasarkan Kurikulum 2013. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian deskriptif kualitatif adalah (1) Penentuan Objek Penelitian (2) Penentuan Informan (3) Pengumpulan Data (studi dokumentasi, observasi dan wawancara), (4) Analisis Data yang terdiri dari analisis isi dan analisis interaktif dan (5) Pelaporan Hasil. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Tulisan-tulisan khas yang terdapat dalam harian Bali Post, yang memiliki relevansi untuk dapat dijadikan sumber belajar sejarah kebudayaan di SMA dalam bentuk kliping, yaitu dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu (1) laporan khusus, (2) artikel, dan (3) opini. Tulisan-tulisan khas tersebut, mengulas berita mengenai event budaya; (2) Tulisan ini dapat dimasukkan dalam Kurikulum 2013 pada bagian Kompetensi Dasar 3.6, yaitu menganalisis karakteristik kehidupan masyarakat pemerintahan, dan kebudayaan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia serta menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih berlaku. Kata Kunci : Kliping Harian Bali Post, Sumber Belajar, Sejarah Kebudayaan, dan Kurikulum 2013. This study aimed to describe (1 Typical writings that exist in the Bali Post that can be made as clippings that can be used as a source of learning Cultural History (2) know the parts of the text that can be included in the study of Cultural History based on curriculum 2013. This research is a kind of descriptive qualitative research. The steps are carried out in a qualitative descriptive study was (1) Determination of an object research (2) Determination of the informant (3) Data Collection (study documentation, observation, interview) (4) Data analysis that consisted of content analysis and interactive analysis (5) reporting Results. The results showed: (1 typical writings contained in the daily of Bali Post, which has relevance for the study can be used as a source of cultural history at the senior high school in the form of clippings, which are grouped into three types. The three types of writing that are specific reports, articles and opinions. The typical writings, review news about cultural events; (2) This paper can be included in the curriculum 2013 on the part of Basic Competence 3.6, which analyzed the characteristics of people's lives administration, and culture in the period of kingdoms of the Hindu-Buddhist in Indonesia as well as show examples of evidence still valid.keyword : Daily Clipping of Bali Post, Sources of Study, Cultural History, and Curriculum 2013
Tradisi Mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli dan Pemanfaatannya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Peminatan di SMA Berbasis Kurikulum 2013 I Wayan Dedi Pranata .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4179

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latarbelakang dilaksanakannya tradisi mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli; (2) pelaksanaan tradisi mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli dan (3) potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran Sejarah dari tradisi mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi ;(2) penentuan informan; (3) pengumpulan data (observasi, wawancara dan studi dokumen);(4) teknik penjamin keaslian data (triangulasi data,triangulasi metode) ;(5) teknik analisis data dan (6) metode penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang masyarakat Desa Trunyan melaksanakan tradisi mepasah dapat dilihat dari beberapa factor yaitu faktor historis, faktor keyakinan atau kepercayaan, faktor upacara ritual. (2) proses pelaksanaan tradisi Mepasah yaitu Upacara Mepasah dilaksanakan pada dua tempat yakni di areal rumah pemiliki jenasah (rumah duka) dan di Setra Wayah, pelaksanaan tradisi mepasah menggunakan peralatan atau sarana penunjang kegiatan di antaranya yaitu: bakti angkebnasi (sesajen),ambuh (kramas), boreh (lulur), pemebek (daun lemo yang dibakar), sigsig (tapal gigi), kelatkat (anyaman bambu),lante(pembalut jenasah), ancak saji (anyaman bambu untuk melindungi jenasah dari binatang), sundin (lampu),buki (lampu pengantar jenasah), rerebu (pandan dipotong kecil-kecil yang dipercaya mampu mengusir roh jahat), tradisi mepash melibatkan tiga kelompok atau Manggalaning Yadnya yaitu: Sang Sadaka, yaitu pendeta, Sang Widya, Tukang Banten, Sang Yajamana, umat yang menyelenggarakan upacara; (3)Aspek-aspek yang terdapat pada Tradisi Mepasah di Desa Trunyan yang bisa dikembangkan menjadi sumber belajar sejarah yaitu Aspek bentuk fisik bangunan (patung Ratu Sakti Pancaring Jagat),aspek sejarah (historis), aspek gotong goyong dan kebersamaan.Kata Kunci : Tradisi, Mepasah , Setra Wayah , Sumber Belajar Sejarah This study aimed to determine (1) The background of the implementation of mepasah tradition in Setra Wayah Trunyan Village, Kintamani, Bangli; (2) The implementation of mepasah tradition in Setra Wayah Trunyan Village, Kintamani, Bangli; (3) The potential that can be used as a source of learning history from mepasah tradition in Setra Wayah Trunyan Village, Kintamani, Bangli. This study used a descriptive qualitative approach, namely: (1) location determination technique; (2) the determining of informant technique; (3) data collection techniques (observation, interviews and study of documents); (4) the guarantor of data authenticity techniques (data triangulation, method triangulation); (5) data analysis technique; (6) writing technique. The results showed that (1) Background of the Trunyan villagers implement mepasah tradition can be seen from several factors: historical factors, belief or faith factors, ritual factors. (2) the process of implementation Mepasah tradition that is Mepasah ceremony held at two places namely in the area of home owner's body (the funeral home) and at Setra Wayah, implementation of mepasah tradition is using equipment or facilities to support activities such as: bakti angkeb nasi (offerings),ambuh (shampooing), boreh (scrubs), pemebek (lemo leaves were burned), sigsig (toothpaste), kelatkat (woven bamboo), lante (pads bodies), ancak saji (woven bamboo to protect the bodies from animals), sundih (lamp),buki (bodies conductor lamp), rerebu (pandan leaves cut into small pieces which is believed to ward off evil spirits), mepasah tradition involves three groups or Manggalaning Yadnya: Sang sadaka, the pastor, Sang Widya, Tukang Banten, Sang Yajamana, the people who organize ceremony; (3) The aspects contained in Mepasah Tradition in Trunyan village could be developed into a source of learning the history of that aspect of the physical form of the building (the statue of Ratu Sakti Pancaring Jagat), aspects of history (historical), aspects of cooperation and togetherness.keyword : tradition, mepasah, Setra wayah , sources of learning education
UANG PERIODE ORI (OEANG REPUBLIK INDONESIA) 1946-1949 : KARAKTERISTIK DAN POTENSINYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA Ni Made Dwipayani .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang munculnya ORI sebagai mata uang pertama di awal berdirinya RI, (2) mengetahui aspek-aspek yang terkandung dalam ORI yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran sejarah di SMA. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap ; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) teknik penjamin keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) Adanya peristiwa sejarah yang melatarbelakangi dikeluarkannya ORI sebagai mata uang pertama di Indonesia disebabkan oleh faktor ekonomi, faktor politik, faktor kultural dan faktor historis. (2) Aspek-aspek yang terkandung dalam ORI yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran di SMA yaitu aspek bentuk, aspek fungsi, aspek seni dan aspek gambar. Materi uang ORI sebagai media pembelajaran Sejarah di SMA dapat dikaitkan ke dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembeajaran (RPP) yang berbasis kurikulum KTSP kelas XII semester ganjil. Kata Kunci : Aspek, factor, Media pembelajaran, Uang ORI This study aims to (1) know the background of ORI as the first currency in the beginning of RI, (2) know the aspects contained in the ORI, which can be used as a learning media of history in senior high school. In this study, the data were collected by using qualitative methods within some stages, (1) field determination technique, (2) informant determination techniques, (3) data collection techniques (observation, interview, documents review), (4) validity and reliability technique (data triangulation, triangulation method), and (5) data analysis technique. The findings of the study showed that, (1) there were historical events underlying the issuance of ORI as the first currency in Indonesia which was caused by economic factors, political factors, cultural factors and historical factors. (2) The aspects contained in the ORI, which can be used as a learning media in the senior high school were form aspects, function aspects, art and image aspects. Material of ORI money as a medium of learning history in senior high school can be attributed to the syllabus and lesson plan (RPP) based on the standard based curriculum (KTSP) of XII class in the first semester.keyword : aspects, factors, learning media, ORI money.
Peranan Nyoman Gempol Dalam Menentang Kolonialisme Belanda di Buleleng Tahun 1858 ( Nilai-nilai Kepahlawanan dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Indonesia di SMA/SMK) Made Arya Jini Setiawan .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i3.4274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) peranan Nyoman Gempol pada tahun 1858 dalam menentang kekuasaan Belanda tahun 1858, (2) Nilai – nilai kepahlawanan yang dapat diwariskan dari perjuangan Nyoman Gempol dalam menentang kekuasaan Belanda di Buleleng pada tahun 1858 dan (3) Nilai-nilai kepahlawanan perjuangan Nyoman Gempol yang dapat diwariskan dan bisa berkontribusi bagi sumber belajar sejarah SMA/SMK Kurikulum 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah yaitu: (1) Pengumpulan Sumber / jejak-jejak sejarah (Heurisrik): studi dokumentasi, wawancara, dan observasi, (2) Kritik Sumber (eksternal dan internal), (3) Interpretasi/penafsiran, (4) Penulisan kisah Sejarah (Historiografi). Penelitian ini menghasilkan temuan, antara lain: (1) Pahlawan Nyoman Gempol di dalam menentang Kolonialisme Belanda di Buleleng pada tahun 1858 terjadi karena ketidaksetujuannya Raja Buleleng dari keturunan Panji Sakti dijadikan sebagai Regent Belanda, selain itu akibat meninggalnya Wayan Liar ayah dari Nyoman Gempol pada saat perang Buleleng mengakibatkan Nyoman Gempol dendam kepada Belanda, sehingga beliau mengadakan sebuah pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda di Buleleng. (2) Nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung dari sosok Nyoman Gempol yaitu: (a) Keberanian; (b) patriotisme; (c) rela berkorban; (d) kewibawaan; (e) solidaritas, (f) religius, (g) kejujuran, dan (3) Nilai-nilai kepahlawanan Nyoman Gempol yang bisa berkontribusi menjadi sumber pembelajaran sejarah Indonesia di SMA/SMK.Kata Kunci : Pahlawan, Nilai-nilai kepahlawanan, Sumber Belajar This study aimed to determine (1) the role of Nyoman Gempol in 1858 in opposition to Dutch rule in 1858, (2) Value - the value of heroism that can be inherited from Nyoman Gempol struggle against Dutch rule in Buleleng in 1858 and (3) values Nyoman heroic struggle Gempol value that can be inherited and could contribute to the source to learn the history of SMA / SMK curriculum 2013. the method used in this study is the method of historical research with the steps are: (1) collection of source / traces of history (Heurisrik) : study of documentation, interviews, and observations, (2) Criticism Sources (external and internal), (3) interpretation / interpretation, (4) Writing History stories (historiography). The research resulted in findings, among others: (1) Heroes Nyoman Gempol inside against the Dutch Colonialism in Buleleng in 1858 occurred because of disapproval of the descendants of Raja Panji Sakti of Buleleng serve as Regent Netherlands, on the other hand due to the death of Wayan Liar who the father of Nyoman Gempol upon Buleleng war resulted Nyoman Gempol revenge against the Netherlands, so he organized a rebellion against Dutch rule in Buleleng. (2) The values of heroism embodied by the figure of Nyoman Gempol namely: (a) Courage; (b) patriotism; (c) self-sacrifice; (d) the authority; (e) solidarity, (f) religious, (g) honesty, and (3) The values of heroism Nyoman Gempol that could contribute to the source of the teaching of history Indonesian in high school / vocational school. Keywords: Heroes, The values of heroism, Learning Resources. keyword : Heroes, The values of heroism, Learning Resources.