Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

GAMBARAN JAMUR Candida albicans PADA SALIVA PENDERITA DM TIPE 2 DI PUSKESMAS HARAPAN BARU SAMARINDA Puspitasari, Deanita Rabiatul Zhadiah; Makkadafi, Suparno Putera; Azahra, Sresta
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 11 (2023): Volume 10 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i11.11821

Abstract

Abstrak: Gambaran Jamur Candida albicans Pada Saliva Penderita Diabetes Melitus Tipe2 Di Puskesmas Harapan Baru Samarinda. Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis yang dapat diderita seumur hidup yang disebabkan oleh gangguan metabolisme. Penderita DM dengan hiperglikemia dapat mempengaruhi akumulasi saliva yang berhubungan dengan asam basa mulut (pH). Flora normal saliva dalam rongga mulut terdiri dari bakteri seperti Streptococcus sp dan jamur seperti Candida albicans. Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya jamur C.albicans pada saliva penderita DM tipe 2 di Puskesmas Harapan Baru. Jenis penelitian ini deskriptif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 33 sampel saliva penderita DM tipe 2 di Puskesmas Harapan Baru Samarinda dengan teknik purposive sampling. Sampel diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Data akan dianalisis secara univariat. Karakteristik responden berdasarkan usia penderita DM persentase tertinggi positif jamur C.albicans pada rentang usia 45-59 tahun sebanyak 12  (52%),  pada rentang usia 60-70 tahun 5 (50%); jenis kelamin         penderita DM persentase tertinggi positif jamur C.albicans pada perempuan yaitu 15 (58%), laki-laki 2 (29%). Hasil kadar glukosa darah sewaktu penderita DM yang terinfeksi C.abicans didapatkan berada diatas normal ≥ 200 mg/dl yaitu 33 (100%). Hasil penelitian negatif jamur C.albicans 48% dengan pertumbuhan jamur Candida non albicans 12 responden dan tidak ditemukan pertumbuhan jamur sebanyak 4 responden. Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil positif jamur C.albicans 52%.
GAMBARAN ANGKA LEMPENG TOTAL BAKTERI PADA JAJANAN PENTOL BAKAR YANG DIJUAL DI WILAYAH KECAMATAN SUNGAI KUNJANG KOTA SAMARINDA Aryanti E., Fadillah; Makkadafi, Suparno Putera; Saputri, Maulida Julia
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 10 (2023): volume 10 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i10.11981

Abstract

Abstrak: Gambaran Angka Lempeng Total Bakteri Pada Jajanan Pentol Bakar Yang Dijual Di Wilayah Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda. Pentol bakar adalah produk pangan yang bahan utamanya terbuat dari olahan daging dan bahan lainnya. Batas maksimum cemaran mikroba pada bakso daging menurut SNI 3818:2014 untuk nilai ALT adalah 1 × 105 koloni/g. Faktor terjadinya kontaminasi pada pentol bakar dapat melalui udara, debu jalan, penyiapan, pengolahan serta penyajian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah koloni bakteri pada jajanan pentol bakar yang dijual di wilayah Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah secara accidental dengan jumlah sampel dari 7 pedagang. Sampel pentol bakar diambil lalu dilakukan pemeriksaan Angka Lempeng Total dengan metode tuang menggunakan media PCA. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan hasil dalam berbentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil dari 7 sampel tidak memenuhi syarat sesuai SNI 3818:2014 dengan hasil tertinggi pada kode sampel S1 (2,8 x 107 koloni/g). Persentase Angka Lempeng Total bakteri pada pentol bakar yang dijual di wilayah Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda yang tidak memenuhi syarat sesuai SNI 3818;2014 yaitu 100% sesuai SNI nomor 3818 tahun 2014. Dapat disimpulkan bahwa jajanan pentol bakar yang dijual di wilayah Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda tidak memenuhi syarat sesuai SNI nomor 3818 tahun 2014.
Perbedaan Penggunaan Alas Kaki Terhadap Prevalensi Jamur Penyebab Onikomikosis Pada Petani Di Kelurahan Handil Bakti Palaran Nita, Khairun; Azahra, Sresta; Makkadafi, Suparno Putera
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 7 No. 2 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v7i2.8238

Abstract

Onikomikosis atau dikenal sebagai infeksi jamur kuku ditemukan di seluruh dunia dengan angka kejadian cukup tinggi di Indonesia. Infeksi jamur pada kuku dapat disebabkan oleh jamur dermatofita, non dermatofita dan yeast. Petani merupakan pekerjaan yang berisiko terjadinya onikomikosis karena lingkungan kerja yang berair mendukung terjadinya infeksi jamur pada kuku. Penggunaan alas kaki yang tertutup dalam waktu lama juga akan merangsang tumbuhnya jamur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan penggunaan alas kaki terhadap prevalensi tumbuhnya jamur penyebab onikomikosis pada petani. Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 60 kuku kaki petani dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan lembar observasi dan pengambilan kuku kaki pada petani di Kelurahan Handil Bakti Palaran. Metode pemeriksaan dilakukan pengamatan makroskopis dengan kultur jamur pada media SDA (Sabouraud Dextrose Agar) dan pengamatan mikroskopis dengan pembuatan slide kultur. Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapatkan jamur yang paling banyak menyebabkan onikomikosis dari golongan non dermatofita yaitu Aspergillus sp (60,0%) dan golongan dermatofita yaitu Trichophyton sp (10,0%). Jamur penyebab onikomikosis pada petani yang menggunakan alas kaki sebesar 36,7% dan yang tidak menggunakan alas kaki sebesar 48,3% dengan analisis statistik p-value sebesar 0,026 (<0,05), maka disimpulkan terdapat perbedaan signifikan terhadap alas kaki dengan kejadian onikomikosis. Petani diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan alas kaki dan selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat saat bekerja.
Pembelajaran Berbasis Proyek Berbentuk Terarium Dalam Botani Tingkat Rendah: Persepsi Mahasiswa Pendidikan Biologi: Project-Based Learning in the Form of a Terrarium in Lower Botany: Perceptions of Biology Education Students Makkadafi, Suparno Putera; Turista, Dora Dayu Rahma
BIODIK Vol. 11 No. 03 (2025): September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biodik.v11i03.45997

Abstract

Lower-level botany learning has been carried out using conventional lecture methods. Learning becomes less meaningful for students because students tend to be passive. The purpose of this study was to see how students perceive the application of the project-based learning (PjBL) model in lower-level botany courses. This research was conducted using a quantitative research model with a survey method. Data collection was carried out by giving questionnaires to students. As many as 85.7% of students stated that they felt that their understanding of lower-level botany had improved and 80% expressed interest in lower-level botany learning with PjBl. As many as 82.9% stated that they were able to design a terrarium well and 85.7% were able to state that PjBl helped them identify the morphology of cryptogamae. As many as 74.3% of students stated that they were motivated by group cooperation and 71.4% of them were able to link theory and practice. The final result was that 88.6% of students felt that this learning method improved their understanding of cryptogamae. Overall, low-level botany learning with PjBL for biology education students at Mulawarman University can improve students' understanding and interest in low-level botany courses. Key words: Project-Based Learning (PjBL), Lower-Level Botany, Terrarium, Student Perception
Studi Deskriptif Pemeriksaan Efektivitas Sampel Feses Metode Langsung dan Sedimentasi Telur Soil Transmitted Helminth (STH) Arifta Amelia, Regita Heddy; Suhartini, Suhartini; Makkadafi, Suparno Putera
Borneo Journal of Science and Mathematics Education Vol 2 No 3 (2022): Borneo Journal of Science and Mathematics Education, October 2022
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.765 KB) | DOI: 10.21093/bjsme.v2i3.5916

Abstract

Kecacingan adalah infeksi yang paling umum dan berpengaruh pada orang menengah kebawah di seluruh dunia. Mereka ditularkan oleh telur yang ada dalam kotoran manusia yang mencemari tanah di daerah yang sanitasinya sangat buruk. Pemeriksaan untuk mengetahui pravelensi kecacingan menggunakan metode langsung dan metode sedimentasi Metode langsung kelebihannya yaitu pengerjaan yang mudah dan murah metode ini juga lebih baik dilakukan dipemeriksaan pada infeksi kecacingan yang berat. Kelemahan harus menggunakan sediaan sedikit saja agar telur cacing tidak tertutup unsur lain. Metode sedimentasi kelebihannya memperoleh hasil lebih jernih, jelas dan dapat membedakan sisa-sisa makanan dengan telur cacing. Kelemahan memakan waktu lama dalam proses sentrifuge dan bisa terjadi pengendapan tidak sempurna dalam prosesnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran efektivitas sampel feses dengan menggunakan metode langsung dan metode sedimentasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sampel berjumlah 15 feses pada anak-anak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda dan pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Parasitologi Poltekkes Kemenkes Kaltim. Teknik analisis data digunakan univariate. Hasil penelitian menggunakan metode langsung dan metode sedimentasi. dari kedua metode terdapat 3 sampel yang teridentifikasi telur cacing Ascaris lumbricoides. Disimpulkan bahwa kedua metode tersebut efektif dalam mengidentifikasi telur cacing Ascaris lumbricoides.
Pengaruh Air Rebusan Sirih Merah (Piper Crocatum) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Lastri, Sulastri; Makkadafi, Suparno Putera; Azahra, Sresta
Borneo Journal of Science and Mathematics Education Vol 4 No 1 (2024): Borneo Journal of Science and Mathematics Education, Februari 2024
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/bjsme.v4i1.5992

Abstract

Candida albicans merupakan flora normal dan biasa ditemukan di dalam tubuh manusia seperti saluran pencernaan, saluran pernapasan bagian atas, dan mukosa genital yang dapat menyebabkan penyakit kandidiasis. Hasil uji resistensi Candida albicans terhadap flukonazol dengan jumlah yang tinggi yaitu 46% resisten terhadap flukonazol. Pengobatan juga tidak hanya dapat dilakukan secara medis tetapi juga dapat diobati dengan cara tradisional. Salah satu tumbuhan tradisional yang dikenal luas oleh masyarakat adalah sirih merah. Kandungan senyawa pada daun sirih merah adalah minyak atsiri. Senyawa ini mempunyai khasiat antiseptik dalam menghambat pertumbuhan jamur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat antifungi pada air rebusan daun sirih merah pada konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Desain penelitian ini adalah true eksperiment post test only control group design. Metode yang digunakan adalah dilusi padat dan kontrol positif menggunakan ketokenazol. Penelitian ini dilakukan 4 kali pengulangan, setelah itu diinkubasi selama 5 hari dalam suhu 37°C dan dihitung jumlah jamur menggunakan colony counter. Hasil uji Oneway ANOVA diperoleh nilai (p-value) 0.000 nilai ini sesuai dengan signifikasi (p) < 0,05 sehingga H1 diterima yaitu air rebusan daun sirih merah memiliki efektivitas dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Kesimpulan penelitian ini yaitu kualitas antifungi pada air rebusan daun sirih merah (Piper crocatum) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dengan efektivitas tertinggi yaitu pada konsentrasi 40% dan 50% yang dikategorika sebagai antijamur kuat.
IDENTIFIKASI JAMUR Malasezzia furfur PADA MAHASISWA D-III TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS YANG TERINFEKSI KETOMBE Damayanti, Sulpinah; Makkadafi, Suparno Putera; Kusumawati, Nursalinda
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2024): Volume 11 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i1.12915

Abstract

Abstrak: Identifikasi Jamur Malasezzia Furfur Pada Mahasiswa D-III Teknologi Laboratorium Medis Yang Terinfeksi Ketombe. Ketombe merupakan gangguan kulit kepala yang ditandai dengan pengelupasan abnormal pada kulit kepala yang ditandai dengan adanya skuama yang berlebihan berwarna putih atau abu-abu yang tersebar dirambut disertai dengan rasa gatal. Pada kondisi hangat dan lembab serta kebersihan diri yang buruk sangat ideal untuk pertumbuhan Jamur Malassezia furfur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jamur Malassezia furfur pada kerokan kulit kepala mahasiswi dan untuk mengetahui persentase atau prevalensi jamur Malassezia furfur pada kerokan kulit kepala mahasiswa. Jenis penelitian ini deskriptif dengan populasi seluruh mahasiswi D-III Teknologi Laboratorium Medis dan jumlah sampel adalah 30 sampel yang terinfeksi ketombe dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Teknik pengambilan data dilakukan dengan memberikan data kuesioner pada responden selanjutnya dilakukan pengambilan sampel untuk diperiksa di laboratorium dan diidentifikasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan hasil disajikan dalam bentuk tabel. Hasil identifikasi Jamur Malassezia furfur sebagai penyebab ketombe pada kerokan kulit kepala mahasiswa diperoleh bahwa dari 30 responden seluruhnya negatif terdapat Malassezia furfur (100%) dan persentase jamur lain yang ditemukan didapatkan hasil, sebagian besar jamur yang teridentifikasi adalah jamur Aspergillus sp. (76,7%) dan jamur lain yang ditemukan adalah Penicillium sp. (23,3%). Dapat disimpulkan pada penelitian ini tidak ditemukan adanya jamur Malassezia furfur pada kerokan kulit kepala mahasiswa.
Identifikasi Salmonella Sp pada Jajanan Sosis yang Dijual di Kelurahan Harapan Baru Samarinda Seberang Maryani, Pira; Makkadafi, Suparno Putera; Harlita, Tiara Dini
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i12.12173

Abstract

ABSTRACT Sausages are one of the snacks that are in demand among the public, sausages are made from a mixture of ground meat and flour or starch. Sausage is fine meat that is processed with a mixture of herbs and spices which is then formed into a wrapper. The aim of this research is to determine the presence of contamination in sausages and identify Salmonella sp bacteria in sausage snacks sold in Harapan Baru Village, Samarinda Seberang. This research is a descriptive study, the sample used was 30 raw sausages taken by random sampling. The samples are then cultured to see whether there is bacterial contamination and identification to determine the presence of Salmonella sp. Data were analyzed univariately. Based on the results of research on 30 samples of sausage snacks, it was discovered that 7 samples were contaminated with bacteria. The identification results showed that there was no Salmonella sp bacterial contamination, but there were other bacteria, namely Enterobacter cloacae (3%) and Raoultella ornithinolytica (4%). It can be concluded that from the results of the identification of the presence of Salmonella sp from the 30 samples that have been studied, there was no contamination of Salmonella sp bacteria in the sausage snacks sold in Harapan Baru Village, Samarinda Seberang, but contamination of other bacteria was found, namely Enterobacter cloacae and Raoultella ornithinolytica bacteria as many as 7 (23%) contaminated samples. Based on the percentage results, it was found that 77% negative results for Salmonella sp bacteria in sausage snacks, so the results obtained did not meet the Indonesian National Standard SNI No. 3820:2015. Keywords: Sausage,Personal Hygiene, Salmonella sp  ABSTRAK Sosis adalah salah satu jajanan yang diminati di kalangan masyarakat, sosis dibuat dari campuran daging halus dan tepung atau pati. Sosis merupakan daging halus yang diolah dengan campuran bumbu dan rempah-rempah yang kemudian dibentuk dalam pembungkus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya kontaminasi pada sosis dan mengidentifikasi bakteri Salmonella sp pada jajanan sosis yang dijual di Kelurahan Harapan Baru Samarinda Seberang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, sampel yang digunakan adalah 30 buah sosis mentah yang diambil secara random sampling. Sampel kemudian dikultur untuk melihat ada tidaknya kontaminasi bakteri dan identifikasi untuk mengetahui keberadaan Salmonella sp. Data dianalisis secara univariat. Berdasarkan hasil penelitian pada 30 sampel jajanan sosis, diketahui bahwa terdapat 7 ssampel yang terkontaminasi bakteri. Hasil identifikasi menunjukkan tidak adanya cemaran bakteri Salmonella sp, namun terdapat bakteri lain yaitu Enterobacter cloacae (3%) dan Raoultella ornithinolytica (4%).  Dapat disimpulkan bahwa dari hasil identifikasi keberadaan Salmonella sp dari 30 sampel yang telah diteliti tidak ditemukan adanya cemeran bakteri Salmonella sp pada jajanan sosis yang di jual di Kelurahan Harapan Baru Samarinda Seberang, tetapi ditemukan kontaminasi cemaran bakteri lain yaitu bakteri Enterobacter cloacae dan Raoultella ornithinolytica sebanyak 7 (23%) sampel yang terkontaminasi. Berdasarkan hasil presentase didapatkan 77% hasil negatif bakteri Salmonella sp pada jajanan sosis, maka dari hasil yang telah didapatkan tidak  memenuhi Standar Nasional Indonesia SNI No. 3820:2015. Kata Kunci : Sosis,Personal Hygiene, Salmonella sp
Pengembangan Modul Evolusi Primata Berbasis Hasil Penelitian Makkadafi, Suparno Putera; Aloysius, Duran Corebima; Rochman, Fatcur
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.378 KB)

Abstract

Matakuliah evolusi merupakan salah satu matakuliah yang diajarkan pada program studi Pendidikan Biologi Universitas Mulawarman dimana tujuan dari matakuliah ini adalah untuk memberi pemahaman kepada mahasiswa mengenai konsep dan mekanisme evolusi. Terdapat beberapa materi materi yang harus dikuasai di dalamnya salah satunya adalah evolusi primata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kebutuhan akan bahan ajar baru yang akan diberikan kepada mahasiswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey menggunakan angket analisis kebutuhan, wawancara, dan analisis dokumen dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Populasi yang diambil adalah seluruh mahasiswa yang matakuliah evolusi di PendidikanBiologi Universitas Mulawarman. Sampel yang diambil adalah 10 orang mahasiswa yang telah mengikuti matakuliah ini. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa 100% sumber balajar yang digunakan merupakan sumber belajar lama dan 50% diantaranya menggunakan buku dibawah tahun 90an. Sebanyak 90% mahasiswa belum mengetahui apa itu evolusi dikaji dari pendekatan molekuler dan 100% mahasiswa memerlukan sumber belajar baru berkaitan dengan evolusi guna memberikan tambahan informasi karena semua diantara mahasiswa yang mengikuti survey yang dilakukan belum mengetahui seluk beluk evolusi dikaji dari pendekatan molekuler berdasarkan hasil penelitian. Hal ini sejalan dengan penjelasan dosen yang juga menginginkan adaya sumber belajar terbaru melengkapi sumber belajar yang ada. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan peneliti maupun dosen dalam mengembangkan modul evolusi guna meningkatkan pengetahuan mahasiswa sebelum terjun ke lapangan menjadi guru.
Gambaran Kadar SGOT Dan SGPT Pada Pasien Tuberkulosis Paru Aktif: Description Of SGOT And SGPT Levels In Active Pulmonary Tuberculosis Patients Stephanie, Graciela; Saputri, Maulida Julia; Makkadafi, Suparno Putera
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 6 No. 2 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v6i2.5776

Abstract

Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah masalah global dengan sekitar setengah persen penduduk dunia terinfeksi. Jumlah kasus TB di Kota Samarinda pada tahun 2021 mencapai 1.464 kasus. Pengobatan TB dapat merusak hati, serta enzim SGOT dan SGPT terkait dengan fungsi hati. SGPT lebih umum ditemukan di hati, sedangkan SGOT terdapat di hati, jantung, otot rangka, ginjal, otak, dan sel darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar SGOT dan SGPT pada pasien Tuberkulosis Paru aktif di Puskesmas Sidomulyo Samarinda. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan 30 sampel pasien TB paru yang sedang menjalani pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling. Variabel yang diamati adalah kadar SGOT dan SGPT. Hasil pengukuran menggunakan spektrofotometri menunjukkan bahwa kadar SGOT yang normal paling banyak ditemukan pada pasien perempuan 100%, sedangkan kadar SGOT yang abnormal terbanyak ditemukan pada pasien laki-laki (53%). Kadar SGPT yang normal terbanyak ditemukan pada pasien laki-laki (100%), sementara kadar SGPT yang abnormal terbanyak ditemukan pada pasien perempuan (27%). Hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa kelompok usia dewasa dengan rentang usia 20-59 tahun memiliki hasil pemeriksaan kadar SGOT normal (33%) dan kadar SGPT normal yang tinggi (96%). Dapat disimpulkan bahwa hasil kadar SGOT berdasarkan jenis kelamin yang abnormal pada pasien laki-laki, sedangkan berdasarkan usia hasil kadar SGOT yang abnormal pada pasien dewasa. Selanjutnya untuk kadar SGPT berdasarkan jenis kelamin yang abnormal pada pasien perempuan sedangkan berdasarkan usia kadar SGPT yang abnormal pada pasien remaja.