Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Kolaborasi Penanganan Masalah Siswa Melalui Kemitraan antara Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Universitas YARSI dan Guru Bimbingan Konseling di Jakarta Pusat Octaviani Indrasari Ranakusuma; Maya Trisiswati; Sri Puji Utami
Info Abdi Cendekia Vol 4 No 1: Juni 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.586 KB) | DOI: 10.33476/iac.v4i1.57

Abstract

Selama masa pandemik, siswa melakukan pembelajaran secara daring (online). Kesempatan untuk tatap muka bergaul bersama teman-teman sebaya, bertemu dan mengenal para guru menjadi sangat terbatas padahal masa remaja merupakan masa transisi menuju masa dewasa dengan tuntutan yang semakin bertambah. Dengan kemampuan kognitif yang semakin berkembang, remaja memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya sebagai upaya mengembangkan identitas diri termasuk dalam merancang masa depan. Kondisi pandemik menyulitkan Guru BK untuk memantau kondisi siswa termasuk kondisi kesehatan jiwanya, kecuali bila menimbulkan masalah akademik (misal: tidak masuk sekolah, nilai yang buruk). Program komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang dilakukan PPKS meningkatkan pengetahuan Guru BK dalam mendeteksi masalah kesehatan jiwa remaja sejak dini dan untuk mengenali bakat dan minat remaja. Aplikasi sistem perencanaan karir (SICAKAR) dan aplikasi kesehatan jiwa GALAW yang dikembangkan oleh Universitas YARSI juga disosialisasikan untuk membantu memantau kondisi siswa secara daring.
Peningkatan Kepatuhan Minum Obat Antiretroviral (ARV) dan Pengembangan Pola Asuh Anak dengan HIV Positif di Jabodetabek Maya Trisiswati; Sri Wahyu Herlinawati; Suhaeri Suhaeri; Tiara Aulia Pradina
Info Abdi Cendekia Vol 5 No 2: Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/iac.v5i2.85

Abstract

Epidemi HIV/AIDS berdampak peningkatan jumlah kasus Ibu RumahTangga dan anak terinfeksi. Anak menjadi populasi rentan karena ancaman penularan bisa dari dalam kandungan, persalinan dan ASI. Kepatuhan minum ARV menghambat replikasi virus sehingga jumlahnya tertekan dan tidak terdeteksi pemeriksaan darah sehingga virus tidak menularkan. Kepatuhan ARV anak bergantung dari ibu atau pengasuhnya serta pola asuh yang diterimanya. Kemenkes RI mencatatkan 28% ODHIV patuh ARV dari target 80% . Data nasional sebanyak 8050 (usia 0-14 tahun) terinfeksi HIV dan DKI Jakarta sebanyak 1026 orang. Rendahnya pengetahuan kepatuhan minum obat dan pola asuh yang dimiliki merupakan masalah yang harus segera diselesaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman Ibu/pengasuh tentang kepatuhan minum obat, mengembangkan pola asuh dan pendampingan Ibu HIV positif melalui pelayanan konseling. Metode yang digunakan adalah edukasi tatap muka, konseling dan pendampingan. Hasil menunjukkan bahwa adanya peningkatan pemahaman Ibu/pengasuh anak tentang HIV khususnya kepatuhan minum ARV, pengembangan pola asuh. Pendampingan melalui pelayanan konseling. Edukasi Peningkatan Kepatuhan ARV dan Pengembangan Pola Asuh efektif.
Pencegahan Masalah Kesehatan Mental dan Kesehatan Reproduksi Remaja melalui Peran Peer Konselor di 8 SLTA Jakarta Pusat Maya Trisiswati; Octaviani Indrasari Ranakusuma; Sri Puji Utami; Manda Nabilah; Parawita Nurulhuda; Fitriani Nur Hasanah; Raina Nurintishar
Info Abdi Cendekia Vol 4 No 2: Desember 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.44 KB) | DOI: 10.33476/iac.v4i2.50

Abstract

SNPHAR 2018 (Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja) Kementerian PPA menyatakan 3 dari 4 pelaku kekerasan pada remaja adalah teman sebayanya. Data Riskesdas 2018 menunjukkan 6% penduduk DKI berusia15-24 tahun depresi dan 10% mengalami stres dan kecemasan. Survei WHO menemukan kehidupan remaja lekat dengan stresor yang kemudian memicu masalah emosional dan kejiwaan. Masa remaja merupakan masa transisi perubahan fisik, kognitif, sosial-emosional, tanggung jawab dan tuntutan sosial yang semakin besar. Mereka mulai menghabiskan waktu bersama teman, mengembangkan otonomitas, konflik dengan orang tua, mulai tertarik dengan seksualitas dan terlibat dalam perilaku seksual. Remaja membutuhkan konseling dengan sebaya melalui PIK-R yang dapat berjejaring PPKS Universitas YARSI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjalankan fungsi PIK-R di setiap sekolah mitra, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Siswa SLTA dalam memahami dan mengenali gejala masalah kejiwaan pada remaja, mewujudkan sistem rujukan antara PIK-R dan Guru BK sebagai klinik satelit dan PPKS Universitas YARSI untuk meningkatkan jejaring layanan informasi, konseling dan pendampingan bagi siswa-siswa SLTA Jakarta Pusat. Metode yang digunakan adalah pelatihan tatap muka Peer Konselor siswa secara tatap muka dan pendampingan sekolah. Hasil menunjukkan Pelatihan Peer Konselor dianggap berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa, uji Wilcoxon p<0,005. Peserta pelatihan sudah mampu menjadi narasumber di webinar di sekolah masing-masing. Kegiatan pelatihan dan pendampingan secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta dan meningkatkan jejaring PPKS universitas YARSI.
Pencegahan Pernikahan Anak/Dini melalui Peningkatan Pemahaman Kesehatan Reproduksi dan Penguatan PIK-R dan RPTRA Kelurahan Cipinang Besar Utara Maya Trisiswati; Aryenti Aryenti; Aya Yahya Maulana; Tiara Aulia Pradina
Info Abdi Cendekia Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/iac.v6i1.86

Abstract

Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 menyatakan batas minimal usia perkawinan perempuan dan laki-laki 19 tahun. Kenyataannya, perkawinan anak perempuan 15,66% belum mencapai 16 tahun (Utari & Amalia, 2021). Perkawinan anak merupakan salah satu dari bentuk kekerasan kepada anak, terlebih bila anak dinikahkan karena mengalami kekerasan seksual atau alami kehamilan diluar pernikahan. Perlu diberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja dan orang tua untuk mencegah permasalahan kespro dan menikah usia dini. Pemberian layanan informasi , konseling kesehatan remaja dan keluarga merupakan program strategis dalam upaya menyiapkan SDM berkualitas dengan meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan remaja dan keluarga remaja. Peningkatkan pengetahuan dan pemahaman kespro remaja, dan orang tua yang memiliki anak / remaja terutama pendewasaan usia perkawinan, penguatan PIKR - RPTRA dan jangka panjang menurunkan angka pernikahan pada anak usia dini. Nilai pre tes peserta orang tua rata-rata 66,4 dan postes 85,8. Peserta remaja nilai pre tes 68,4 dan 86,8 post tes. Kegiatan pengmas efektif karena terjadi peningatkan pengetahuan peserta baik pada remaja maupun pada orang tua remaja dengan indicator hasil pre tes dan pos tes.
Hubungan Pembukaan Status HIV Dengan Kondisi Psikososial Pada Anak Dengan HIV Di Jabodetabek Trisiswati, Maya; Rifqatussadah, Rifqatussadah; BK, Airindya
Majalah Sainstekes Vol. 10 No. 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v10i1.3537

Abstract

Pendahuluan. Laporan triwulan 1 tahun 2021 Subdit AIDS dan PIMS Kemenkes ,jumlah kasus  anak (0-14 tahun) 12.420 dengan  usia kurang dari 1 tahun 0,5%, 1-4 tahun 1,7% dan 5 -14 tahun  1,2% . Sejak di temukan ARV harapan hidup Anak dengan HIV ADHA)  meningkat jika patuh minum. Dibutuhkan persiapan  anak bisa mengetahui status HIV agar patuh. Ketidakpatuhan mempercepat masuk ketahap AIDS, infeksi opprtunistik timbul akibat sistim kekebalan tubuh rendah,sakit-sakitan, terganggu tumbuh kembangnya mengalami kematian sebelum masa remaja. Permasalahan HIV AIDS akan berdampak pada masalah psikososial, baik pada ADHA maupun pada keluarganya, karena terjadi kesenjangan antara kebutuhan dan kepuasan ODHA, kesenjangan antara kapasitas dan tuntutan lingkungan dan kesenjangan antara harapan dan situasi yang dirasakan, yang semua ini memicu stress dan depresi dan berakibat pada keengganan mematuhi minum obat. Rasa bosan, rasa dibohongi, rasa diperlakukan tidak adil karena harus terus minum obat sementara anak lain tidak. Metode. Penelitian deskriptif kuantitatif, cross sectional, data  diambil melalui Google Form dari survei online. Hasil. Analisis data responden 111,  laki-laki 74,8% perempuan 25,2%, usia terbanyak 26-45 tahun (84,7%),pekerjaan terbanyak ibu rumah tangga 38,7%, Domisili terbanyak di Jakarta (43,2%), Anak Responden ADHA perempuan  dan laki-laki (57,7% dan 42,3%), usia terbanyak 11-14 tahun (51,4%) pendidikan  SD. Dampak psikosoisal anak sedih (37,8%), biasa saja (30.6%) dan bingung (27 %). Uji chy Square p= 0,036 untuk hubungan pembukaan status dengan reaksi psikososial.. Kesimpulan. Ada hubungan bermakna  pembukaan status dengan reaksi psikosoial anak, , karena  p= 0,036 atau p < 0.05
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Terhadap HIV-AIDS pada Pelaut Perempuan di Indonesia Ariq Reynaldii; Trisiswati, Maya; Riani, Siti Nur
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 5 (2024): Januari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i5.4089

Abstract

Virus yang dikenal sebagai HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyerang dan menginfeksi sel darah putih, menurunkan kekebalan tubuh dan menyebabkan AIDS. HIV dapat menyebar melalui pertukaran cairan tubuh dengan orang yang terinfeksi.. Dilihat dari survei Kementerian Kesehatan RI, didapatkan profesi pelaut merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki jumlah penderita AIDS tertinggi. Namun demikian, terdapat efek gunung es yang terjadi di sini, yang berarti masih banyak insiden yang tidak dilaporkan. akibat para pelaut yang mungkin terinfeksi tidak mengetahui statusnya karena tidak berani untuk melakukan tes HIV. AIDS merupakan penyakit yang berisiko cukup tinggi dalam penularan kepada Anak Buah Kapal (ABK) disebabkan memiliki kecenderungan perilaku seks berisiko. Dalam industri maritim, pelaut perempuan sangat rentan terhadap HIV/AIDS karena tanggung jawab dan fungsi mobilitas mereka yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku pelaut perempuan di Indonesia terhadap HIV/AIDS dan bagaimana pengetahuan serta sikap mereka terhadap penyakit tersebut. Seratus pelaut perempuan mengisi kuesioner yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini, yang kemudian diperiksa secara deskriptif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pelaut perempuan memiliki perilaku baik (96%) dan sikap positif (99%), serta pemahaman yang baik tentang HIV/AIDS (70%). Pengetahuan dan perilaku HIV/AIDS tidak berkorelasi secara signifikan, begitu pula sikap dan perilaku HIV/AIDS tidak berkorelasi secara signifikan, yang berarti masih banyak kasus yang belum ditemukan.
Pencegahan Pernikahan Dini Melalui Peer Konselor Remaja di Cipinang Besar Utara Maya Trisiswati; Yusuf Sofie; Aya Yahya; Nikie Rizka
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v5i2.1853

Abstract

Indonesia memiliki peringkat tinggi dalam perkawinan anak di dunia, dengan 1.220.900 perempuan berusia 20-24 tahun menikah sebelum 18 tahun, dan 61.300.000 perempuan menikah sebelum 15 tahun (BPS, 2020). Kekerasan seksual terhadap anak meningkat antara 2019-2021, dengan kekerasan fisik naik 18%, psikis 19%, dan seksual 45%. Data SDKI Remaja 2017 menunjukkan rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi, dengan hanya 10,6% perempuan dan 5,8% laki-laki yang mengetahui informasi ini. Sebanyak 62% remaja perempuan dan 52% laki-laki berdiskusi masalah reproduksi dengan teman seusia. Program strategis untuk mencegah perkawinan anak dan kekerasan seksual mencakup layanan informasi, konseling remaja, dan keluarga, dengan fokus pada komunikasi efektif antara orang tua dan remaja. Dibutuhkan konselor sebaya untuk membantu remaja. Sebanyak 47 keluarga remaja dan kader mengikuti edukasi, serta 26 remaja mengikuti pelatihan konselor sebaya, yang menunjukkan peningkatan pengetahuan dan efektivitas program.
Pembukaan Status HIV dan Penanganan Dampak Psikologisnya pada ADHA (Anak Dengan HIV AIDS) Trisiswati, Maya; Ade Nursanti; Ely Nursanti; Nikie Rizka
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v5i3.1855

Abstract

September 2021, Kemenkes RI mencatatkan 8050 anak ( 0 – 14 tahun) terinfeksi HIV. DKI Jakarta, penduduk 10.467.629, dengan 1026 ADHA, yang tercatat lebih rendah dari faktanya. Anak terlahir HIV positif bisa tertular didalam kandungan, persalinan atau ASI. Selain memberikan pola asuh kurang tepat tepat, permasalahan lain yang dihadapi pengasuh ADHA adalah pembukaan status anak kepada kepada anaknya. Anak sering bertanya kondisi fisiknya, orang tua yang mengawasi penuh serta minum obat rutin. Untuk menghindari anak mendapatkan informasi salah, orang tua harus membuka status anak jika tiba saatnya. Hal tersebut mengejutkan anak dan menimbulkan reaksi negatif,sedih, tidak menerima, marah, kecewa, rendah diri bahkan depresi. Jika menyampaikannya tidak tepat, akan berdampak pada kondisi psikologis anak. Kondisi psikologis anak harus diperhatikan setelah pembukaan status. 30 ibu HIV, 5 PDHA dan 30 ADHA pelatihan dan testimony menghadapi situasi tersebut dengan tetap sehat dan bergembira. Terjadi peningkatan pengetahuan peserta. Pengmas berjalan lancar dan cukup efektif.
Aplikasi Stop HIV dan Peningkatan Pengetahuan HIV-AIDS Remaja Yasmin, Intan Farida; Trisiswati, Maya; Maharsi, Eri Dian; Febrian, Andreas
Info Abdi Cendekia Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/iac.v7i2.137

Abstract

Peningkatan kasus baru HIV AIDS di kalangan remaja terus meningkat tanpa diikuti dengan tingkat pengetahuannya. DKI Jakarta merupakan provinsi dengan jumlah kasus HIV AIDS tertinggi di Indonesia. Populasi remaja di DKI Jakarta menjadi rentan terhadap penyebaran kasus HIV AIDS. Tujuan: Mengetahui adanya peningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV AIDS dengan aplikasi STOP HIV. Metode: Desain studi yang dilakukan adalah one-group pretest-posttest design dengan jumlah peserta sebanyak 217 siswa kelas X dari 5 SMA di DKI Jakarta. Pengetahuan terhadap HIV AIDS dinilai sebelum dan sesudah penggunan aplikasi STOP HIV menggunakan kuesioner daring. Aplikasi STOP HIV berisi tentang informasi komprehensif tentang HIV AIDS beserta permainan edukatif yang diakses selama 30 menit. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan pengetahuan pada semua pertanyaan mengenai penularan, pencegahan, dan mitos/stigma mengenai HIV AIDS (p< 0.01) setelah penggunan aplikasi STOP HIV. Kesimpulan: Aplikasi STOP HIV terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan HIV AIDS remaja.
Hubungan Depresi Dengan Stigma dan Diskriminasi Diri Sendiri Pada Perempuan Dengan Hiv Aids (PDHA) di Jabodetabek Maya Trisiswati; Liko Mardyudhiyanto; Airindya BK
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 12 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i12.3058

Abstract

Stigma diri sendiri merujuk pada persepsi negatif yang timbul ketika individu menerima cap sosial buruk dari masyarakat akibat kondisi kesehatannya, yang kemudian menyebabkan rasa malu atau rendah diri terkait dengan identitas tersebut. Stigma ini berdampak pada diskriminasi terhadap individu, dan HIV/AIDS telah lama diidentifikasi sebagai kondisi yang menghasilkan stigma dan diskriminasi. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak mengalami stigma dan diskriminasi dalam berbagai bentuk. Untuk mengatasi hal ini, beberapa individu menghindari kegiatan sosial (11,9%), layanan kesehatan (10,75%), dan hubungan seksual (13,4%). Masalah kesehatan mental menyumbang 13% dari beban penyakit global dan sangat terkait dengan HIV/AIDS. Depresi adalah gangguan kejiwaan yang paling sering didiagnosis pada orang dengan HIV, dengan prevalensi 2-10 kali lipat dari populasi umum. Dampak signifikan dari depresi adalah turunnya kesejahteraan dan penurunan kepatuhan terhadap pengobatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional), di mana data diperoleh melalui wawancara terpimpin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran depresi pada Penderita HIV/AIDS (PDHA) terdiri dari gejala ringan 20%, sedang 11%, dan berat 7%. Sebanyak 19% responden melaporkan memiliki ide bunuh diri. Mengenai stigma dan diskriminasi, status HIV+ tetap mempengaruhi kepercayaan diri (58%) dan harga diri (41%) responden. Karakteristik responden menunjukkan bahwa 97% berada dalam usia produktif, 73% adalah ibu rumah tangga, dan 65% memiliki pendidikan SMA. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara depresi dengan stigma dan diskriminasi pada diri sendiri pada PDHA, dengan p = 0,01 atau p < 0,05.