Abu Tholib Aman
Department Of Microbiology, Faculty Of Medicine, Public Health And Nursing, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Food Safety Training for Food Handlers in the Canteen Elementary School, Yogyakarta Dyah Suryani; Adi Heru Sutomo; Abu Tholib Aman; Suyitno Suyitno
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.073 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v9i1.6673

Abstract

The knowledge in terms of food security affects the attitude that can influence the practice. A low level of knowledge can increase the prevalence of food-borne disease, especially among children. This study aimed to examine the effect of food security training on increasing knowledge, attitude, and practice. This study retrieved 87 food handlers (intervention=43, control=44) from 60 school canteens in Yogyakarta city, 2018. The quasi-experimental study used a non-equivalent design control group by using pretest and posttest. The given intervention was an interactive speech, presentation, and food security module. The statistical test used in this study were normality tests and independent t test. The majority of respondents for intervention and control groups were female (93% each). A significant increase in knowledge, attitude, and practice has been found after training (p value<0.05). There was no difference in knowledge, attitude, and practice among the control group (p value>0.05). This research finding the intervention effectively increases the knowledge, creates the positive, and increases food handlers and consumers' food security practices in the school. Public health providers should design health programs to conduct practical food security training. It is to be conducted continuously for food handlers in the school canteen. They need to remind them that knowledge is essential. Related stakeholders like schools should also provide adequate sanitation facilities and increasing supervision at the school canteen. PELATIHAN KEAMANAN PANGAN UNTUK PENJAMAH MAKANAN DI KANTIN SEKOLAH DASAR, YOGYAKARTAPengetahuan dalam hal ketahanan pangan memengaruhi sikap yang dapat memengaruhi praktik. Tingkat pengetahuan yang rendah dapat meningkatkan prevalensi penyakit bawaan makanan, terutama pada anak. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pelatihan ketahanan pangan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik. Penelitian ini mengambil 87 penjamah makanan (intervensi=43, kontrol=44) dari 60 kantin sekolah di Kota Yogyakarta tahun 2018. Penelitian kuasi eksperimental menggunakan desain kelompok kontrol non-ekuivalen dengan menggunakan pretest dan posttest. Intervensi yang diberikan adalah pidato interaktif, presentasi, dan modul ketahanan pangan. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji t independen. Responden kelompok intervensi dan kontrol mayoritas berjenis kelamin perempuan (masing-masing 93%). Peningkatan signifikan pada pengetahuan, sikap, dan praktik ditemukan setelah pelatihan (p<0,05). Tidak ada perbedaan pengetahuan, sikap, dan praktik antara kelompok kontrol (p>0,05). Penelitian ini menemukan bahwa intervensi efektif untuk meningkatkan pengetahuan, menciptakan sisi positif, dan meningkatkan praktik ketahanan pangan antara penjamah makanan dan konsumen di sekolah. Petugas kesehatan masyarakat harus merancang program kesehatan untuk melakukan pelatihan ketahanan pangan yang efektif untuk dilakukan secara terus menerus bagi penjamah makanan di kantin sekolah, mengingatkan mereka tentang pengetahuan yang diberikan untuk setiap sesi dan pemangku kepentingan terkait seperti sekolah juga harus menyediakan fasilitas sanitasi yang memadai dan meningkatkan pengawasan di kantin sekolah.
Pengaruh Nebulisasi N-acetylcysteine Terhadap Pembentukan Biofilm Bakteri Pada Pipa Endotrakeal Pada Pasien yang Terpasang Ventilator di ICU Suryani, Shila; Widodo, Untung; Aman, Abu Tholib
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.322

Abstract

Latar belakang: Kemampuan bakteri membentuk biofilm merupakan salah satu penyebab resistensi antibiotik dan menurunkan angka keberhasilan terapi. N-acetylcysteine merupakan obat mukolitik yang juga memiliki efek menghambat produksi dari matriks polisakarida ekstraseluler, sehingga dapat mencegah pembentukan biofilm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nebulisasi N-acetylcysteine terhadap pertumbuhan biofilm pada pipa endotrakeal pada pasien yang terpasang ventilator. Metodologi: Rancangan penelitian ini uji klinis acak terkontrol, ketersamaran ganda. Kriteria inklusi subyek penelitian adalah usia 18-70 tahun, menggunakan ventilator dengan pipa endotrakeal H-0, dan setuju menjadi subyek penelitian, kriteria eksklusi adalah pasien yang mempunyai penyakit paru sebelum intubasi dan pasien sulit intubasi, kriteria drop out adalah pipa endotrakeal (ET) ekspulsi atau autoextubasi, meninggal < 48 jam, dan ekstubasi > 96 jam. Pasien dibagi menjadi dua kelompok. kelompok A mendapatkan nebulisasi N-acetylcysteine dan kelompok B yang mendapatkan nebulisasi akuades setiap delapan jam hingga ekstubasi. Sampel diambil berupa apusan ujung ET pasien yang terpasang ventilator 48-96 jam. Hasil: Total subjek berjumlah 122 pasien, 12 drop out. Sampel yang didapatkan berjumlah 110, 55 sampel kelompok A dan 55 kelompok B. Terdapat perbedaan karakteristik sampel pada faktor komorbid sepsis dan jenis oprasi. Tidak didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada bakteri pembentuk biofilm ringan dan sedang, namun dijumpai perbedaan bermakna pada bakteri pembentuk biofilm kuat. Simpulan: pemberian nebulisasi N-acetylcysteine pada pasien yang menggunakan ventilator dengan pipa ET 48-96 jam tidak mencegah terbentuknya biofilm namun dapat menghambat pembentukan biofilm kuat.
The profile of bacteria isolated from urine culture of adults with urinary tract infection in Yogyakarta 2007-2022 Aman, Abu Tholib; Nuryastuti, Titik; Aman, Alia Hanifa; Linda, Vitia Ajeng Nur; Mawarti, Yuli
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 56 No 3 (2024)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v56i3.15890

Abstract

Local data regarding antimicrobial susceptibility patterns of bacteria from urine culture is limited in Indonesia, particularly in Yogyakarta. This study was conducted to provide epidemiology data of bacteria and their resistance profile, including the profile of bacteria that producing extended-spectrum beta-lactamase (ESBL) and carbapenemase in the urine of patients with urinary tract infection (UTI) in Yogyakarta. A descriptive retrospective study was conducted by assessing laboratory records of urine culture from adult patients at the Microbiology Laboratory, Department of Microbiology, Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta between 2007 and 2022. Of the 842 urine cultures, 464 (55.11%) isolates were recovered. Among thisolates, 50 (10.78%) were fungi, 67 (14.44%) were Gram-positive bacteria, and 347 (74.78%) were Gram-negative bacteria. Enterococcus sp. (41 (61.19%)) was the most bacteria found in the Gram-positive bacteria group, while Escherichia coli (38.90%) were the most bacteria found in the Gram-negative bacteria group. This study also identified Gram-negative bacteria producing ESBL enzymes (58.70%) and carbapenemases (27.94%). Gram-negative bacteria are the most common bacteria found in urine cultures of adult UTI patients in Yogyakarta, and the resistance profile of these bacteria is concerning.