Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Energy and Exergy Analysis of Chest Freezer Using R134a and R290 as Working Fluids Based on Experimental Data Pramudantoro, Triaji Pangripto; Muliawan, Rizki; Nuriyadi, Muhammad; Hidayat, Syarif; Tohir, Toto; Sulaimon, Shodiya
Jurnal Internasional Penelitian Teknologi Terapan Vol 5 No 2 (2024): June 2024
Publisher : Bandung State Polytechnic (Politeknik Negeri Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/ijatr.v5i2.153

Abstract

Although R134a has a very high global warming (GWP) effect, it is still used as a refrigerant in chest freezers. As an alternative to R134a is R290 which has a very low GWP value, which is only 3. Therefore, it is expected that there will be no more chest freezers using R134a and replaced with R290, soon. Thermodynamic studies need to be conducted to see the advantages and disadvantages of the two refrigerants based on experimental data. In this study, a chest freezer which was originally manufactured for R134a with a charging mass of 150 g was used as a test object. Experimental data of the chest freezer using R290 was taken after testing with R134a was completed. Experimentally, the cabin temperatures of the chest freezer using R134a and R290 are -20.5oC and -35.7oC, respectively, and the input power are 264 W and 176 W, respectively. Total irreversibility on the four main components of the chest freezer using R134a is greater than using R290, namely 184.4 W and 107.0 W, respectively. This means that the use of R290 as a working fluid in the chest freezer is more efficient. There are at least three advantages of replacing R134a with R290, namely reducing greenhouse gas emissions because R290's GWP is much smaller than R134a, lower cabin temperature, and decreasing the input power of the chest freezer.
PENINGKATAN KAPASITAS PETANI DI DESA CIKANDE DALAM MENDAYAGUNAKAN SAMPAH ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN Mitrakusuma, Windy Hermawan; Yuningsih, Nani; Kurniasetiawati, Annisa Syafitri; Akmal, Muhammad; Susilawati; Rosulindo, Parisya Premiera; Pramudantoro, Triaji Pangripto; Badarudin, Apip; Arman, Muhammad; Setyawan, Andriyanto
Jurnal Difusi Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Difusi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/difusi.v7i2.6328

Abstract

Desa Cikande merupakan desa yang terletak di Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Luas area Desa Cikande, yaitu berkisar 6,93Km2 atau sekitar 13,47% dari total luas Kecamatan Saguling. Dari segi geografis, lanskap yang mendominasi area di Desa Cikande adalah wilayah tanah lapang yang digunakan sebagai lahan pertanian. Desa Cikande merupakan desa yang memiliki potensi ekonomi dari pertanian yang melimpah, tetapi pemanfaatannya masih minimal. Kegiatan ekonomi yang telah dilakukan di Desa Cikande terkait dengan potensi pertanian ini, barulah berupa pertanian keluarga yang digunakan sebagai upaya peningkatan ekonomi daerah. Produksi pertanian harus ditingkatkan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang pesat. Kebutuhan akan produksi-produksi pertanian meningkat, sehingga diperlukan teknologi untuk meningkatkan hasil. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan di bidang pertanian yaitu faktor pemupukan. Pengertian pemupukan yaitu penambahan bahan (yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, biologi tanah) ke tanah agar tanah tersebut menjadi lebih sehat dan subur. Termasuk di antaranya yaitu pengapuran, pemberian legin, pemberian pembenah tanah (soil condition), pemberian urea dan lain sebagainya. Eco enzyme merupakan hasil dari fermentasi sampah dapur organik seperti ampas buah atau sayuran dengan air dan substrat gula. Berdasarkan hasil pengamatan dari penelitian pengaplikasian pupuk organik eco-enzyme menghasilkan rata-rata pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pupuk organik bukan Eco enzyme. Dengan kata lain, pengaruh dari pemanfaatan Eco-enzyme mampu meningkatan hasil produksi pertanian sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan usahatani bila harga tetap atau tidak turun. Dari hasil analisis permasalahan prioritas, didapatkan bahwa masalah kebergantungan pupuk subsidi sebaiknya diprosiataskan terlabih dahulu, karena dengan diselesaikannya permasalahan ini dapat membantu penyelesaian kedua permasalahan lainnya. Dengan dilakukannya konversi sampah organik ke pupuk organik, maka dapat mengurangi volume sampah. Selain itu, dengan menggunakan pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas pertanian, sehingga secara berangsur dihaarapkan juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat di Desa Cikande.
Kaji Eksperimental Retrofit R-134a Menjadi R-600a Terhadap Kinerja Sistem Cold Handling Unit Utari, Listya; Ramadhan, Fitto; Falahuddin, Muhamad Anda; Pramudantoro, Triaji Pangripto
JTRM (Jurnal Teknologi dan Rekayasa Manufaktur) Vol 8 No 1 (2026): Volume: 8 | Nomor: 1 | April 2026
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Manufaktur Bandung (Polman Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48182/jtrm.v8i1.267

Abstract

The refrigeration industry continues to grow amid global challenges related to the environmental impact of refrigerant use. One of the commonly used refrigerants today is R-134a, but this refrigerant has a global warming potential (GWP) of 1430. As an alternative, R-600a is considered because it has a very low GWP of only 3, and has good compatibility with R-134a-based systems. This study aims to analyze the performance of the refrigeration system after retrofitting from R-134a to R-600a. Tests were conducted at two condensing temperature variations: 33.29°C and 35.29°C. The results show that at 33.29°C, COP increased by 30%, efficiency increased by 12%, and electricity consumption decreased by 32%. At 35.29°C, COP increased by 22%, efficiency by 6%, and electricity consumption decreased by 30%. In addition, R-600a requires only 50% of the refrigerant mass compared to R-134a. A temperature of 33.29°C was considered the optimal condition with the best performance and faster cooling time. These results support the potential of R-600a as an environmentally friendly alternative refrigerant.