Selviawati, Selviawati
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pendidikan karakter Kristen di sekolah dalam membangun etika kebebasan berpendapat generasi Z bermedia sosial Kristanto, Samuel Hans; Selviawati, Selviawati; Lie Lie, Tju
Davar : Jurnal Teologi Vol 5, No 2 (2024): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v5i2.184

Abstract

ABSTRACT Freedom of speech, which is a human right, is misinterpreted by Gen Z as unlimited and uncontrolled freedom so that the statements or comments made on social media no longer pay attention to the norms that apply in society, especially the ethics taught by the Lord Jesus Christ and the Apostles. Therefore, the purpose of writing this article is to offer Christian character education as a solution in building Gen Z's ethics in social media, so that Gen Z can be salt and light for the wider community. This research is qualitative in nature with the method used is library research. The results show that character education correlates with building social media ethics. Teachers in Christian character education play a big role in building Gen Z's social media ethics. That is why honest and integrity teachers must exist in the family, church and Christian education institutions. Teachers become role models for Gen Z in social media. Key words: Christian Character Education, Gen Z, Social Media, Ethics, Freedom of Speech. ABSTRAKKebebasan berpendapat yang merupakan Hak Asasi Manusia disalahartikan oleh Gen Z sebagai kebebasan yang tanpa batas dan tanpa kontrol sehingga pernyataan atau komentar yang dituangkan di media sosial tidak lagi memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat secara khusus etika yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus dan para Rasul. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan artikel ini adalah menawarkan pendidikan karakter Kristen sebagai solusi dalam membangun etika Gen Z bermedia sosial, sehingga Gen Z dapat menjadi garam dan terang bagi masyarakat luas. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode yang digunakan adalah library research. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan karakter berkorelasi dengan membangun etika bermedia sosial. Guru dalam pendidikan karakter Kristen memainkan peran yang besar dalam membangun etika Gen Z bermedia sosial. Itu sebabnya guru-guru yang jujur dan berintegritas harus ada di dalam lingkungan keluarga, gereja dan institusi pendidikan Kristen. Guru menjadi teladan bagi Gen Z dalam bermedia sosial. Kata kunci: Pendidikan Karakter Kristen, Gen Z, Media Sosial, Etika, Kebebasan Berpendapat.
Kajian Teologis Pelayanan Pastoral Berdasarkan Galatia 3:28 terhadap Partisipasi Wanita Pentakosta Manalu, Yunita Sardo; Sianipar, Rikardo P.; Selviawati, Selviawati
Jurnal Teologi Cultivation Vol 8, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v8i2.2577

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji partisipasi wanita dalam ibadah wanita pada tradisi Gereja Pentakosta Karismatik di Indonesia berdasarkan perspektif teologis Galatia 3:28. Ibadah wanita merupakan ruang penting bagi wanita untuk terlibat dalam pelayanan rohani yang lebih personal dan kontekstual. Namun, pemahaman teologis tentang partisipasi wanita dalam ibadah ini masih beragam, khususnya dalam tradisi Pentakosta Karismatik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis teks Alkitab dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Galatia 3:28 memberikan dasar teologis yang kuat untuk mendukung kesetaraan wanita dalam pelayanan, termasuk dalam ibadah wanita. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa ibadah wanita di tradisi Pentakosta Karismatik merupakan implementasi nyata dari panggilan kesetaraan dan inklusivitas di dalam Kristus.
Analisis Khotbah Alkitabiah Berkemenangan Di Dunia Pluralisme Wiranto, Derry; Sianipar, Rikardo P.; Selviawati, Selviawati
Jurnal Teologi Cultivation Vol 8, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v8i2.2589

Abstract

This research analyzes the challenges of biblical preaching in the context of religious pluralism. The problem discussed is how to address pluralistic understanding that relativizes religious truth and equates all paths to salvation. The research aims to identify winning biblical preaching strategies without compromising the uniqueness of Christianity. The research method uses a qualitative approach with literature study from various relevant sources. The results show that victorious biblical preaching requires proper exegesis, a Christocentric approach, wise contextualization, and dependence on the Holy Spirit. Preachers need to maintain theological integrity while remaining relevant in a pluralistic society.
Peran Konseling Grup Berdasarkan 2 Timotius 3:16 dalam Mengembangkan Potensi Kepemimpinan Generasi Z Kartika, Emilia; Sianipar, Rikardo P; Selviawati, Selviawati
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran konseling grup berbasis prinsip-prinsip Alkitab, khususnya 2 Timotius 3:16, dalam mengembangkan potensi kepemimpinan Generasi Z di gereja lokal. Generasi Z, yang memiliki karakteristik adaptif terhadap teknologi dan nilai inklusivitas, sering menghadapi tantangan dalam menemukan peran kepemimpinan yang relevan dalam pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang melibatkan kajian teologis terhadap teks 2 Timotius 3:16, analisis karakteristik Generasi Z, dan sintesis antara prinsip konseling grup dengan nilai-nilai Alkitabiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pengajaran, teguran, perbaikan, dan pendidikan dalam kebenaran yang terkandung dalam 2 Timotius 3:16 dapat diterapkan secara efektif dalam konseling grup untuk membentuk karakter kepemimpinan Generasi Z. Konseling grup ini menciptakan ruang kolaboratif yang mendukung transformasi spiritual, keterampilan interpersonal, dan dinamika kelompok. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan ini relevan untuk gereja lokal dalam mempersiapkan generasi pemimpin Kristen yang berintegritas. Disarankan untuk mengembangkan modul konseling grup berbasis Alkitab dan mengeksplorasi penerapannya di berbagai konteks gereja, termasuk integrasi teknologi digital untuk memperluas jangkauan dan efektivitas pendekatan ini.
Integritas dan Moralitas dalam Kepemimpinan Kristen: Upaya Gereja Membangun Spiritualitas Kepemimpinan Kristen Lase, Bina Mardiati; Selviawati, Selviawati; Sirait, Hikman
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 1: Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i1.559

Abstract

Christian leadership is faced with serious challenges in the form of a crisis of integrity and moral degradation that is increasingly undermining the spiritual leaders of the church. This phenomenon not only reflects the spiritual disorientation of church leaders but also threatens the church's testimony and transformation in society, hindering its role as a light. This study aims to examine theologically how the church can build a spirituality of Christian leadership rooted in integrity and morality. By employing a descriptive qualitative method in a literature study approach, this article demonstrates that Christian leadership must understand its nature, enabling it to identify and respond to the crisis of integrity in modern Christian leadership. Thus, a foundational theological building is needed regarding the morality and integrity of Christian leaders.   Abstrak Kepemimpinan Kristen diperhadapkan pada tantangan serius berupa krisis integritas dan degradasi moral yang kian merongrong pemimpin rohani gereja. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan disorientasi spiritual para pemimpin gereja, tetapi juga mengancam kesaksian dan transformasi gerejawi dalam masyarakat untuk menjadi terang. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara teologis  bagaimana gereja dapat membangun spiritualitas kepemimpinan Kristen yang berakar pada integritas dan moralitas. Dengan menggunkan metode kualitatif deskriptif dalam pendekatan studi pustaka, artikel ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan Kristen perlu memahami hakikat kepemimpinan Kristen, sehingga dapat mengidentifikasi sekaligus merespons krisis integritas dalam kepemimpinan Kristen modern. Dengan demikian, diperlukan sebuah bangunan teologis yang fondasional terkait moralitas dan integritas pemimpin Kristen.  
Pinjaman Online dan Krisis Tanggung Jawab Keluarga Kristen Valentino, Peter Owen; Sirait, Hikman; Selviawati, Selviawati
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 11 No 6.D (2025): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital technology and the advancement of culture have consciously changed the economic landscape and lifestyle, including that of Christian families. The availability of easily accessible online loan services, in line with a consumerist culture reinforced by social media and digital branding narratives, has led many families to fall into debt without careful consideration. This has led to a crisis of responsibility in household financial management, impacting spiritual life and the witness of faith. Phenomena emerging in the field reveal economic pressure within families, relational conflicts, and social sanctions resulting from the burden of online loan debt. The purpose of this study is to examine the theological and ethical aspects of digital debt culture and its implications for the responsibility of Christian families. Using a qualitative method with a theological literature review approach and phenomenological analysis, it can be concluded that Christianity can understand the nature of online loans and debt culture within a theological ethical framework. This can build the moral responsibility of Christian families against the threat of consumerism. Thus, Christian ethics regarding debt culture can be actualised in the church through church financial ethics education, as the crisis of responsibility within Christian families stems from the lack of faith-based financial ethics education. Additionally, the absence of pastoral guidance on managing blessings and living simply exacerbates the issue.
Megachurch dan Kualitas Relasi Jemaat dalam Ibadah Raya: Tinjauan Teologis terhadap Praktik Koinonia Yobel, Christian; Selviawati, Selviawati; Romika, Romika
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 2 (2026): Philoxenia: Jurnal Pendidikan Kristiani dan Teologi - Mei 2026 (Still in Progre
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philoxenia.v4i2.39

Abstract

The phenomenon of megachurches in urban contexts demonstrates rapid growth in congregation size and worship quality, yet raises critical questions regarding the depth of interpersonal relationships within large-scale worship services. This study aims to examine whether megachurch worship services foster authentic relational engagement or merely produce broad but superficial participation. The research employs a qualitative approach using a literature-based method with thematic analysis of theological and empirical studies on megachurches, ecclesiology, and koinonia. The analytical framework is grounded in Timothy Keller’s understanding of the church as a relational community. The findings indicate that while large worship services effectively generate mass participation and collective identity, they do not inherently cultivate deep interpersonal relationships. Complex organizational structures and centralized worship patterns tend to limit relational interaction, with meaningful connections more likely to develop within smaller communities outside the main service. This reveals a tension between numerical growth and relational depth. This study contributes a theological evaluation of megachurch practices by proposing an integrative model that connects corporate worship with relational communities as the basis for authentic and sustainable koinonia.   Abstrak Fenomena megachurch di wilayah urban menunjukkan pertumbuhan pesat dalam jumlah jemaat dan kualitas penyelenggaraan ibadah, namun sekaligus memunculkan pertanyaan tentang kedalaman relasi antarjemaat dalam ibadah raya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ibadah raya dalam megachurch membentuk relasi yang bermakna atau hanya menghasilkan keterlibatan yang luas tanpa kedalaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui analisis tematik terhadap literatur teologi dan penelitian empiris terkait megachurch, eklesiologi, dan konsep koinonia. Kerangka analisis didasarkan pada pemikiran Timothy Keller mengenai gereja sebagai komunitas relasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah raya efektif membangun partisipasi massal dan identitas kolektif, tetapi tidak secara inheren menghasilkan relasi yang mendalam. Struktur gereja yang kompleks dan pola ibadah yang terpusat membatasi interaksi personal, sehingga relasi lebih berkembang dalam komunitas kecil di luar ibadah raya. Kondisi ini menunjukkan adanya ketegangan antara pertumbuhan numerik dan kualitas relasi jemaat. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara ibadah raya dan komunitas relasional menjadi kunci dalam membangun koinonia yang otentik dan berkelanjutan, sekaligus menawarkan kerangka evaluatif teologis bagi pengembangan praksis gereja kontemporer.