Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Junior Medical Journal

Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Konsentrasi Belajar pada Mahasiswa Karyani L, Shefia; Aditama, Tjandra Yoga; Heriyanto, Toto; Qomqriyah
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 5 (2024): Januari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i5.4038

Abstract

KATA KUNCI Kebiasaan Merokok, Konsentrasi Belajar, Mahasiswa ABSTRAK Pendahuluan: Perokok adalah mereka yang merokok setiap hari untuk jangka waktu minimal 6 bulan selama hidupnya. Kebiasaan merokok merupakan hasil dari perubahan berbagai faktor internal dan eksternal (lingkungan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan merokok dapat mempengaruhi daya konsentrasi pada mahasiswa. Metodologi: Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif secara observasi analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif yang berasal dari universitas di Jakarta. Teknik pengambilan sampel dengan Consecutive sampling. Sampel penelitian ini sebanyak 334 orang. Data dikumpulkan melalui Google Form. Uji statistik memakai uji Chi-Square. Hasil: Pada penelitian ini terdapat 103 orang (76,9%) yang termasuk kategori perokok ringan memiliki konsentrasi kurang. Sedangkan menggunakan Grid Consentration Test didapatkan hasil 106 orang (79,1%) yang termasuk kategori perokok ringan memiliki konsentrasi kurang. Hasil analisa uji Chi-Square didapatkan p-value <0,001 kurang dari 0,05 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan konsentrasi belajar pada mahasiswa. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan konsentrasi belajar.
Profil Asma pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI farrah fadillah, ara; Aditama, Tjandra Yoga; Gunawan, Andri; Qomqriyah
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i1.4316

Abstract

asma merupakan penyakit paru kronis yang ditandai dengan obstruksi reversible saluran nafas yang menyempit dan adanya sekresi bronkial sehingga menyebabkan sesak nafas. Berbagai macam faktor resiko dan faktor pencetus yang dapat menyebabkan terjadinya asma, faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2 yaitu faktor internal (host factor) dan faktor eksternal (environmental factor). Faktor internal yang dapat menyebabkan asma antara lain genetika, jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan faktor psikologis. Pada faktor eksternal antara lain iritasi karena pekerjaan, infeksi saluran pernafasan, alergi, asap rokok, polusi udara, obat obatan, perubahan suhu yang berhubungan dengan perubahan musim.
Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) pada Personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung Berdasarkan Kuesioner Puma dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Hanifah, Rania Siti; Aditama, Tjandra Yoga; Fazlurrahman, Muhammad; Sachrowardi, Qomariyah
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 5 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i5.4705

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan angka kematian global mencapai sekitar 3 juta jiwa pada tahun 2019. Di Indonesia, prevalensi PPOK mencapai 3,7%, setara dengan sekitar 9,2 juta jiwa menurut Riset Kesehatan Dasar 2013. Merokok menjadi faktor risiko utama dalam pengembangan PPOK, di mana perokok menunjukkan prevalensi gejala pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Namun, kurang dari 50% perokok berat mengalami PPOK, menunjukkan bahwa faktor risiko lain, seperti paparan asap rokok pasif, juga berperan. Dengan prevalensi merokok di Indonesia yang mencapai 33,8%, kondisi ini memperburuk angka kejadian PPOK. Menariknya, sekitar 60-85% penderita PPOK tidak menyadari penyakit yang diderita, termasuk di Indonesia, di mana banyak pasien tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Hasil menunjukkan bahwa didapatkan 82.1% tidak risiko PPOK dan 17.9% risiko PPOK. Oleh karena itu, diagnosis dini dan penanganan yang tepat sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kejadian PPOK di kalangan personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung berdasarkan Kuesioner PUMA, yang baru dikembangkan untuk mendeteksi risiko PPOK dengan hasil lebih baik dibandingkan alat sebelumnya.