Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Keragaman Morfologi Kalus Bawang Putih (Allium sativum L.) Akibat Perlakuan Kolkisin pada Kultur In Vitro Salimi, Gabrielle Khaledea; Damanhuri, Damanhuri; Agisimanto, Dita
Produksi Tanaman Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

bahan dasar bumbu masak sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Varietas yang berkembang di Indonesia belum mampu bersaing dengan varietas bawang impor, sehingga perlu diupayakan untuk merakit varietas unggul baru. Poliploidi salah satu metode untuk meningkatkan keragaman genetik dalam program pemuliaan. Kolkisin merupakan salah satu mutagen yang menyebabkan peningkatan ploidi. Perubahan yang terjadi pada tanaman akibat pemberian kolkisin bervariasi. Kepekaan tanaman terhadap kolkisin berbeda diantara spesies sehingga konsentrasi dan lama aplikasiakan berbeda untuk setiap spesies tanaman. Penelitian dengan tujuan untuk mengetahui keragaman morfologi kalus bawang putih akibat perlakuan beberapa konsentrasi dan lama aplikasi mutagen kolkisinini telah dilaksanakan di LaboratoriumSomatik Embriogenesis, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur pada bulan Juni sampai September 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 10 kombinasi perlakuan konsentrasi kolkisin (500, 1000, 1500 ppm) dan lama aplikasi kolkisin (1, 3, dan 5 hari). Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Perbedaan kombinasi perlakuankolkisin memberikan perbedaan karakter morfologi yang nyata. Keragaman morfologi variabel pengamatan pada penelitian ini termasuk dalam kategori rendah sampai sedang dengan nilai berkisar 6,51-31,34%. Konsentrasi kolkisin yang memiliki keragaman tinggi berdasarkan nilai koefisien keragaman pada variabel panjang dan lebar embrio somatik yaitu kolkisin 500 dan 1000 ppm dengan lama aplikasi 1 dan 3 hari
Response of Orchid Root Explants (Dendrobium sp.) to The Concentration and Duration Soaking of Hydrogen Peroxide (H2O2) Mtd, Siti Latipah; Yulianah, Izmi; Agisimanto, Dita
Plantropica: Journal of Agricultural Science Vol. 11 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2026.011.1.1

Abstract

Orchids are plants that have aesthetic value and high selling value. The increase in orchid production means that orchid seed propagation needs to develop. Orchid propagation using Root Apical Meristem (RAM) is more effective than Shoot Apical Meristem (SAM) because it does not harm the mother plant. However, orchid seed propagation often fails due to high explant contamination. Therefore, there is a need for analysis regarding the accuracy of sterilization using hydrogen peroxide (H2O2) to reduce contamination rates. This research aimed to study differences in the level of contamination and viability explants in orchid root explants concerning the concentration and duration of soaking in hydrogen peroxide (H2O2). The research was conducted from February to May 2023 at PT Java Indo Arjuna (JAVINA). The experiment in this research uses a 2-factor Completely Randomized Factorial Design (CRFD) in 3 repetitions. The first factor uses 10 levels of H2O2 treatment, and the second factor is 2 orchid species, namely Dendrobium amosmum alba and Dendrobium welirang. Based on the research results, there were no significant differences in the H2O2 treatment and the interaction between the two factors. However, it was found that there were real differences in species factors. Therefore, there were differences in the responses of the two species to the level of contamination, browning and viability explants. The use of H2O2 cannot be used to sterilize explant tissue because of the high percentage of bacterial contamination. However, the use of H2O2 is effective for surface sterilization because the percentage of fungal contamination is low in Dendrobium anosmum alba and Dendrobium welirang.
Respon Dua Varietas Selada (Lactuca sativa L.) untuk Pembentukan Planlet terhadap Pengaplikasian Kombinasi Konsentrasi Benzylaminopurine (BAP) dan Kinetin Anggraeni, Yulia; Devy, Nirmala Friyanti; Agisimanto, Dita; Saptadi, Darmawan
Plantropica: Journal of Agricultural Science Vol. 11 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2026.011.1.3

Abstract

Selada merupakan salah satu tanaman sayuran daun yang dikonsumsi sebagai pelengkap makanan dan mengandung gizi yang tinggi. Umumnya, perbanyakan pada tanaman ini dilakukan secara generatif, salah satunya hidroponik yang menggunakan benih hibrida. Iklim tropis di Indonesia menyebabkan proses pembungaan selada menjadi terkendala sehingga produksi benih hibrida tidak dapat dilakukan secara mandiri. Kultur jaringan merupakan salah satu perbanyakan vegetatif untuk memenuhi ketersediaan benih hibrida dan dapat mengurangi biaya produksi. Penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa auksin seperti IAA (Indole Acetic Acid) dan sitokinin seperti TDZ (Thidiazuron), BAP (Benzylaminopurine), dan Kinetin dapat berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kombinasi konsentrasi BAP dan Kinetin terhadap pembentukan planlet dua varietas selada. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah varietas selada, faktor kedua adalah konsentrasi BAP dan kinetin yang masing-masing terdiri dari empat konsentrasi yang dikombinasikan yaitu 0, 0,5, 1,0, dan 1,5 mgL-1. Penelitian ini terdiri dari 32 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 96 unit percobaan yang setiap unitnya terdiri atas 3 botol dengan 3 eksplan/botol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAP dan kinetin memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan eksplan tangkai daun selada. Perlakuan K4 dan K15 pada eksplan varietas Archivel bagian pangkal memiliki persentase eksplan bertunas berakar paling tinggi yaitu 44,4%. Eksplan varietas Archivel juga memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingkan eksplan varietas Tiberius.