Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KUALITAS PEWARNAAN EKSTRAK KAYU TEGERAN (Cudrania javanensis) PADA BATIK Atika, Vivin; Salma, Irfa'ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i1.2642

Abstract

ABSTRAKEkstrak kayu Tegeran digunakan sebagai sumber warna kuning untuk soga batik. Penggunaanya sebagai pewarna tunggal batik sangat jarang karena menurut perajin batik mudah luntur dan warna kurang cerah.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa ekstrak kayu Tegeran sebagai zat warna tunggal pada batik. Kayu Tegeran diekstraksi pada suhu kamar, 50ºC, 75ºC dan 100ºC menggunakan pelarut air selama 1 jam. Pewarnaan batik dilakukan dengan ekstrak kayu Tegeran sebanyak 8 kali pada suhu kamar. Proses pelepasan malam (lilin batik) dilakukan dengan pelarut air pada suhu 100ºC selama 1 jam. Batik dianalisa dengan menggunakan parameter uji arah, ketuaan warna, ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah, pencucian dan sinar matahari. pH larutan ekstrak kayu Tegeran hasil ekstraksi pada suhu kamar, 50ºC, 75ºC dan 100ºC berturut-turut sebesar 5, 4, 4-5, 3-4. Arah warna batik hasil pewarnaan dengan kayu Tegeran yaitu kuning hingga cokelat tua. Nilai ketuaan warna batik katun hasil pewarnaan dengan kayu Tegeran antara 22,24 – 40,33 dan batik sutera bernilai antara 38,39 – 46,75. Nilai pengujian ketahanan luntur warna batik hasil pewarnaan dengan kayu Tegeran terhadap gosokan basah rata-rata memberikan nilai (4 – 5), sedangkan nilai ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan sinar matahari langsung rata-rata memberikan nilai 4. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu Tegeran dapat digunakan sebagai pewarna batik dengan warna cerah dan ketahanan luntur baik. ABSTRACTThe Tegeran wood extract has been used as the yellow color source for batik soga. As a single color for batik, it is rarely used because tend to have poor color fastness and less bright color. This research aim is to analyze Tegeran wood extract as a single dye for batik. Tegeran wood extracted on various temperature (room temperature, 50ºC, 75ºC, 100ºC) using water as the solvent for an hour. Then it is used for batik dyeing with 8 times soaking at room temperature. The batik wax releasing process is conducted by base hot water for an hour. Batik is then analyzed using various testing parameters such as shade, color intensities and color fastness properties. The acidity of Tegeran extract from extraction process at room temperature, 50ºC, 75ºC dan 100ºC are in line 5, 4, 4-5, 3-4. Shades of color are yellow to dark brown. Color intensity score for cotton batik range is 22,24 – 40,33 and for silk batik is 38,39 – 46,75. The color fastness score to wet rubbing is (4 – 5), and to washing and direct sunlight is 4. From the result, it can be concluded that Tegeran wood extract can be used as batik dye with bright color and good color fastness properties.   
PIRANTI TRADISI DALAM KREASI BATIK PAPUA Salma, Irfa'ina Rohana; Ristiani, Suryawati; Wibowo, Anugrah Ariesahad
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i2.3326

Abstract

Perkembangan IKM Batik Papua mengalami berbagai kendala, antara lain stagnasi pembuatan motif yang hanya berorientasi pada maskot daerah yaitu burung cederawasih. Oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi desain dengan mengambil ide alternatif dari budaya masyarakat Papua. Tujuan penelitian ini adalah untuk menciptakan desain motif batik  yang inspirasinya diambil dari piranti tradisi masyarakat Papua. Piranti tradisi yaitu alat-alat tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat Papua ketika di rumah, saat bekerja, berperang suku, dan berkesenian. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain motif, dan perwujudan menjadi batik. Hasilnya berupa 6 motif batik yaitu: (1) Motif Honai Besar, (2) Motif Honai Kecil, (3) Motif Tifa Besar, (4) Motif Tifa Kecil, (5) Motif Tambal Ukir Besar, dan (6) Motif Tambal Ukir Kecil. Hasil uji kesukaan terhadap motif kepada 50 responden menunjukkan bahwa motif yang paling disukai yaitu Motif Honai Kecil. Hasil selengkapnya:  Motif Honai Kecil 21 %, Motif Tifa Kecil 19 %, Motif Honai Besar 17 %, Motif Tambal Ukir Kecil 16 %, Motif Tambal Ukir Besar 15%, dan Motif  Tifa Besar 12 %.
PENINGKATAN KECERAHAN DAN DAYA REKAT WARNA PADA PRODUK GERABAH BATIK Eskak, Edi; Salma, Irfa'ina Rohana; Sumarto, Hadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i2.3389

Abstract

Penerapan  teknik batik untuk dekorasi pada gerabah, mempunyai kendala yaitu hasil pewarnaan kurang cerah dan daya rekat warna pada permukaan gerabah kurang kuat. Tujuan penelitian ini adalah melakukan optimasi bahan dan proses pembuatan gerabah batik untuk meningkatkan kecerahan dan daya rekat warnanya.  Metode yang digunakan yaitu: (1) Pemilihan gerabah, (2) Pembuatan desain motif, (3) Penyantingan/pembatikan, (4) Pewarnaan (5) Pelorodan/pembersihan lilin, (6) Finishing, dan (7) Pengujian ketahanan luntur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pewarna rapid dan naphthol menghasilkan warna yang lebih cerah. Peningkatan kecerahan warna ini dilakukan dengan langkah awal berupa pemilihan gerabah yang berwarna terang serta dilakukan pelapisan cat transparan. Pengujian dilakukan terhadap ketahanan luntur warna terhadap gosok dan cahaya tengah hari, dengan skor penilaian angka 1 – 5.  Hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering dan basah memperoleh nilai 3-4 (cukup baik). Ketahanan luntur warna terhadap cahaya terang hari memperoleh angka 4-5 (baik). Kecerahan dan ketahanan luntur (daya rekat kuat) terhadap warna yang dilapisi cat transparan memperoleh nilai 5 (sangat baik). 
KAJIAN PEMANFAATAN TUMBUHAN LOKAL PESISIR UNTUK BAHAN ZAT WARNA ALAM (ZWA) INDUSTRI BATIK Satria, Yudi; Salma, Irfa'ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 38 No. 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v38i2.6982

Abstract

ABSTRAK Batik warna alam dewasa ini menjadi pilihan yang arif dalam partisipasi nyata aksi global dalam bersama-sama menjaga kelestarian alam. Penggunaan pewarna sintetis pada produksi batik yang tidak dibarengi dengan pengolahan limbah secara memadai telah mengakibatkan pencemaran lingkungan yang membahayakan bagi kehidupan. Pewarna sintetis marak digunakan karena kepraktisan dalam proses pewarnaannya serta relatif mudah didapatkan di pasaran. Kendala pewarna alami untuk batik selain kurang praktis adalah masih terbatasnya pasokan dan untuk daerah tertentu sulit untuk mendapatkannya. Oleh karena itu perlu dikaji pewarna alami untuk industri batik berbasis bahan alam lokal. Kajian ini fokus pada penelusuran literatur untuk bahan pewarna alami yang tumbuh di daerah pesisir (darat dan laut) yang dapat dimanfaatkan untuk bahan pewarna alami batik.  Kajian ini berguna untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan daerah pesisir yang dapat dimanfaatkan untuk bahan pewarn alami batik. ABSTRACTToday's natural dyed batik is a wise choice for real participation in global action to jointly preserve nature. The use of synthetic dyes in batik production which is not followed by adequate waste treatment has polluted the environment that is harmful to life. Synthetic dyes are widely used because of their practicality in the coloring process and are relatively easy to find in the market. The obstacle to natural dyes for batik, apart from being impractical, is the limited supply and for certain areas it is difficult to get them. Therefore, it is necessary to study natural dyes for the batik industry based on local natural materials. This study focuses on the literature search for natural dyes that grow in coastal areas (land and sea) which can be used as natural dyes for batik. This study is useful to determine the types of plants in the coastal areas that can be used for natural batik dyes.