Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Mengingat Kembali Solusi Lama: Karakteristik Berpikir Intuitif Calon Guru dari Perguruan Tinggi Ahmad Qolfathiriyus; Nur Efendi; Ririn Dwi Agustin
DIDAKTIKA Vol 28 No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.36 KB) | DOI: 10.30587/didaktika.v28i2.3660

Abstract

Berpikir intuitif adalah proses kognitif yang bekerja dengan feeling dan memiliki keyakinan yang kuat untuk membuat suatu keputusan dengan jawaban benar memalui pengalaman sebelumnya. Kemunculan tersebut ketika seseorang melakukan pemecahan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang akan menguraikan antara karakteristik berpikir intuitif yang terdiri dari Catalytic Inference, Power of Synthesis, Common Sense. Partisipan dalam penelitian ini adalah dua calon guru dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah dari jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang sebelumnya diambil dari hasil Matching Familiar Figures Test (MFFT). Metode Think Aloud diterapkan untuk mengumpulkan data. Setelah data terkumpul, dilakukan kredibilitas dan dilakukan dengan triangulasi waktu maupun triangulasi sumber. Temuan menunjukkan bahwa calon guru mengerjakan menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya dengan sifat yang segera, spontan dan otomatis ketika mereka mencari solusi pada permasalahan. Sebagai kesimpulan, calon guru memiliki karakteristik intuitif yaitu Common Sense.
Pelatihan Peningkatan Pasing Bawah Bola Voli dengan Penerapan Metode VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic) pada Siswa SMA Ahmad Yani Ririn Dwi Agustin; Kenys fadhilah Zamzam; Choirul Kurniawan
Harmoni Sosial : Jurnal Pengabdian dan Solidaritas Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2025): Juli : Harmoni Sosial : Jurnal Pengabdian dan Solidaritas Masyarakat
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/harmoni.v2i3.1897

Abstract

Volleyball underhand passing training is a process of coaching and developing volleyball players' skills through physical, technical, tactical, and mental exercises to improve performance in the game. This training can be conducted at various levels, from beginners to professionals, and covers several important aspects that support the improvement of basic skills. One of the basic techniques that must be mastered by players, especially in adolescence, is the underhand pass. This technique is the main foundation for controlling the ball and maintaining the continuity of the game. However, based on the results of initial observations on Ahmad Yani High School students, it was found that students' underhand passing ability is still relatively low. As many as 85% of students scored below average, indicating that they have difficulty mastering this basic technique. This problem presents a challenge in physical education learning, especially in volleyball. One contributing factor is the lack of variety and creativity in the teaching methods used by teachers, resulting in a lack of student motivation. This study aims to apply the VAK (Visual, Auditory, Kinesthetic) method in volleyball underhand passing training. The VAK method is a learning approach that combines three main learning styles: visual (sight), auditory (hearing), and kinesthetic (movement). This approach is believed to help students understand techniques more comprehensively, tailored to their individual learning styles. Integrating the VAK method into the training process is expected to significantly improve student learning outcomes, particularly in mastering volleyball underhand passing techniques. This research also aims to provide alternative, more innovative and effective learning strategies for physical education teachers in schools.
Peranan posyandu untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak Zamzam, Kenys Fadhilah; Agustin, Ririn Dwi; Kurniawan, Choirul
Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jp2m.v5i3.21880

Abstract

Pembangunan untuk kesehatan masyarakat desa adalah salah satu kegiatan swadaya masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat melalui peningkatan status gizi dan Kesehatan. Keberhasilan pelaksanaan dalam pembangunan kesehatan masyarakat memiliki tujuan meningkatkan mutu kesehatan masyarakat di Desa Wonodadi dimana diperlukan dukungan serta peran aktif seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, sektor pelayanan umum (Posyandu) memegang peranan penting karena secara langsung menangani berbagai permasalahan sosial, termasuk kesehatan yang sedang dihadapi masyarakat. . Selama masa pandemi tercatat terjadi penurunan dari jumlah ibu dan anak yang datang ke Posyandu yaitu mencapai 37% dari target 80,30%. Tujuan pengabdian ini adalah untuk memperjelas persepsi masyarakat Desa Wonodadi terhadap program Posyandu, peran Posyandu dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, dan Posyandu sebagai pusat kesehatan masyarakat serta memberikan penyuluhan tentang pentingnya Posyandu. Data yang diperoleh dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Posyandu berperan penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui proses pelayanan kesehatan seperti keluarga berencana, gizi, vaksinasi, pencegahan diare, dan pemberian pelayanan kesehatan ibu dan anak. Desa wonodadi khususnya RW 03 menunjukkan bahwa program Posyandu desanya masih perlu dievaluasi. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya anak kecil yang menderita gizi buruk. Hasil kegiatan pada pendampingan ini adalah mendapat respon positif masyarakat dimana mereka lebih sadar pentingnya imunisasi pada balita serta pentingnya kesehatan ibu dan anak.
Pelatihan Kewirausahaan untuk Meningkatkan Jiwa Enterpreneur pada Siswa Dengan Memaanfaatkan Limbah Daur Ulang Angga Wahyudi; Ririn Dwi Agustin; Mika Ambarawati; Kenys Fadhilah
Lumbung Ngabdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023): April
Publisher : Pusat Kajian dan Pengembangan Publikasi Ilmiah Institut Agama Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan Lombok Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51806/6qk8mh98

Abstract

Kewirausahaan merupakan kemampuan kreatif dan inovatif, jeli melihat peluang dan selalu terbuka untuk setiap masukan dan perubahan yang positif yang mampu membawa bisnis terus bertumbuh serta memiliki nilai. Kewirausahaan identik dengan pembuatan suatu produk yang memiliki nilai jual. Berwirausaha merupakan salah satu cara untuk mencapai kesuksesan, selain itu akan menumbuhkan jiwa enterpreneur pada seseorang. Kegiatan berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa saja tidak terkecuali bagi para siswa. SMK Dharma Wanita 02 Wajak, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang merupakan salah satu sekolah yang menyediakan jurusan yang berfokus pada kewirausahaan. Dengan memanfaatkan limbah daur ulang yang dijadikan suatu produk yang bernilai jual. Metode dalam kegiatan ini melalui dua tahapan yaitu tahap pemaparan atau penjelasan yang memuat struktur penyusunan proposal usaha dan referensi limbah yang dapat digunakan sebagai bahan produk. Tahap praktik yaitu mempraktikan bagaimana cara menyusun proposal produk yang telah dipaparkan serta konsultasi untuk limbah daur ulang yang akan digunakan dilanjut dengan proses produksi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini siswa dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk kemajuan bangsa.
Deskripsi Hubungan Komunikasi dan Kecerdasan Emosional Mahasiswa Pendidikan Matematika dalam Memecahkan Masalah Matematis: Description of the Relationship between Communication and Emotional Intelligence of Mathematics Education Students in Solving Mathematical Problems Agustin, Ririn Dwi
Pedagogia : Jurnal Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2015): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pedagogia.v4i2.18

Abstract

Setiap mahasiswa memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk kemampuan komunikasi dan kecerdasan emosional. Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah agar mahasiswa memiliki kemampuan memecahkan masalah dan mengkomunikasikan gagasan dan ide matematika. Dosen sebaiknya memperhatikan kemampuan komunikasi dan kecerdasan emosional mahasiswa agar dapat merancang pembelajaran yang mendukung terciptanya komunikasi matematika. Penelitian ini membahas tentang hubungan komunikasi lisan dan kecerdasan emosional mahasiswa pendidikan matematika. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan uji validitas, uji reabilitas dan uji korelasi. Dari data yang sudah diperoleh, karena p = 0,02 (< 0,05), dengan demikian Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan antara komunikasi matematis dengan kecerdasan emosional.
Kemampuan Penalaran Matematika Mahasiswa Melalui Pendekatan Problem Solving: Students' Mathematical Reasoning Ability Through Problem Solving Approach Agustin, Ririn Dwi
Pedagogia : Jurnal Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2016): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pedagogia.v5i2.249

Abstract

Kemampuan bernalar sangat dibutuhkan bagi siswa maupun mahasiswa dalam memahami materi atau konsep matematika. Namun pada kenyataannya banyak mahasiswa yang sulit memahami materi atau konsep matematika, sehingga hasil kurang maksimal. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematika adalah dengan menggunakan pendekatan problem solving, dengan menggunakan pendekatan ini mahasiswa akan lebih bertanggung jawab dan terlibat secara langsung dalam pemecahan masalah dengan merumuskan dan memecahkan masalah mereka sendiri. Kemampuan penalaran dapat dilihat dari hasil tes siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah yang dibuat berdasarkan indikator penalaran matematika Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan penalaran matematika mahasiswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah pada mahasiswa pendidikan matematika IKIP Budi Utomo Malang. Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 3 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 1 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan soal Tes Pemecahan Masalah (TPM) kepada ketiga subjek tersebut. Setelah itu, dilakukan wawancara kepada setiap subjek. Berdasarkan analisis data didapatkan kesimpulan bahwa kemampuan penalaran siswa yang berkemampuan tinggi dan sedang berkriteria baik, sedangkan siswa yang berkemampuan rendah berkriteria cukup.
Mathematical Communication of Vocational High School Students in Solving Papuan Ethnomathematics-Based Problems Tyas, Dewi Kristika Findia Ning; Ruamba, Marthinus Y.; Agustin, Ririn Dwi; Pujilestari, Pujilestari
Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram Vol. 14 No. 1: January 2026
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/j-ps.v14i1.17783

Abstract

This study examines how Indonesian vocational high school (SMK) students communicate mathematically while solving systems of three-variable linear equations (SPLTV) embedded in Papuan ethnomathematical contexts. Using a qualitative descriptive design, the study involved ten Grade 10 students representing ten vocational departments. Data were collected through students’ written solutions to ethnomathematics-based SPLTV tasks (e.g., contexts involving culturally familiar objects such as noken and local economic practices) and follow-up semi-structured interviews intended to clarify students’ reasoning, procedural choices, and interpretation of results. Analysis employed a rubric-guided coding scheme comprising three observable indicators of mathematical communication: (1) mathematical expression/modeling (translating contextual information into variables and SPLTV equations), (2) identifying relevant information and coherently explaining solution procedures, and (3) drawing contextual conclusions that interpret solutions in relation to the problem situation. To ensure consistent reporting, each indicator was evaluated by evidence source written work (W), interview evidence (I), or both (W+I) allowing the study to distinguish between students who understood an element but did not document it in writing. Findings indicate that all participants were able to construct an SPLTV model from the cultural context, and most were able to explain elimination–substitution procedures, although several omitted key communication components (e.g., “given/asked” statements or an explicit concluding sentence) in their written work. Overall, eight of ten students produced a valid contextual conclusion when evidence from written work and/or interviews was considered, whereas two students struggled with core procedural steps and therefore could not reach a meaningful conclusion. These results suggest that Papuan cultural contexts can support meaning-making and initial modeling, but explicit support for procedural fluency and written communication norms remains necessary to produce complete, accountable solutions.
Inclusive Madrasah Teacher Competency Crisis Policy Recommendations from the Minister of Religious Affairs for Standardizing Human Resources and Personalizing Services Agustin, Ririn Dwi
AMUYA: JOURNAL OF MANAGEMENT Vol 2 No 1 (2026): AMUYA: Indonesian Journal of Management Reviews
Publisher : POKJANAS PERENCANA KEMENTERIAN AGAMA RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61860/amuya.v2i1.56

Abstract

This policy paper addresses the systemic challenges in ensuring the quality and personalization of inclusive education services in madrasas, focusing on the failure of the Ministry of Religious Affairs to strengthen support for integrated human resource (HR) development policies. Although the law has provided for inclusive services and Special Guidance Teachers (GPK), implementation in madrasas is hampered by the limited professional competence of classroom teachers and the absence of structured and ongoing Grand Design training. Data shows that less than twenty-five percent of teachers in inclusive madrasas feel confident in designing Individual Learning Programs (PPI), the current ratio of Students with Special Needs (PDBK) per GPK is far below the ideal standard, indicating that a decent, affordable mandate is merely an administrative formality. The writing method used is a qualitative policy analysis, beginning with identifying the root of the problem through literature and regulatory studies, followed by a priority analysis using the USG (Urgency, Seriousness, Growth) method to develop teacher competency development as the main focus. Next, three alternative policy regulations are proposed, which are then evaluated comparatively using William N. Dunn's Policy Alternative Scoring Theory based on the criteria of effectiveness, efficiency, adequacy, equity, and responsiveness. The analysis results show that the Alternative Issuance of the Minister of Religious Affairs Regulation (PMA) concerning Inclusive Competency Standards for Madrasah Teachers received the highest score. Therefore, the paper's primary policy recommendation is to urge the Ministry of Religious Affairs to issue the Ministerial Regulation as a binding regulatory solution to standardize GPK human resources and grant PDBK the right to effective and personalized learning
Representation Obstacles in Semantic Processes for Geometric Problem Solving Agustin, Ririn Dwi; Rochsun, Rochsun
Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram Vol. 14 No. 2: April 2026
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/j-ps.v14i2.19751

Abstract

Mathematics is a fundamental subject in the curriculum, but many students still struggle when it comes to representing, interpreting, and connecting mathematical information in solving geometry problems. Previous research has generally addressed learning obstacles from conceptual, procedural, didactic, or epistemological perspectives, but has not specifically examined how representational obstacles emerge within the semantic process as students construct mathematical meaning. This study addresses this gap. The aim of this research is to describe the representational obstacles experienced by students during the semantic process of solving geometric problems. In this study, the semantic process is defined as a series of activities to construct meaning through reading, sorting information, identifying keywords, connecting concepts, constructing arguments, verifying solution steps, and drawing conclusions in the form of visual, symbolic, and verbal representations. The study employed an exploratory qualitative approach involving 51 students grouped into high, medium, and low ability levels. The basis for identifying representational obstacles was established through an analysis of geometric problem-solving test results, written work traces, and interviews across five semantic stages: sequencing, identification, argument formulation, verification, and conclusion, taking into account inaccuracies, incompleteness, or failures in inter-representational transformation. The research results indicate that high-ability subjects tend to experience visual, symbolic, and verbal obstacles in the early stages, whereas subjects with moderate and low abilities predominantly experience verbal and symbolic obstacles. In the verification stage, all groups exhibited relatively similar symbolic and verbal obstacles, indicating a common difficulty in formalizing and testing the validity of solutions. Theoretically, this study reinforces the understanding that representational obstacles are not only related to conceptual mastery but also to failures in the meaning-making process during the semantic stage. Practically, these findings provide a foundation for developing more targeted geometry learning strategies to strengthen inter-representational translation, mathematical argumentation, and solution validation.