Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Prosiding Semnastek

PENGARUH PH BIOFLUCCULANT KITOSAN DAN NANOPARTIKEL KITOSAN TERHADAP EFFISIENSI PEMISAHAN PADA PEMANENAN BIOMASSA MIKROALGA Alvika Meta Sari; Irfan Purnawan; Erdawati Erdawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada  penelitian ini, kitosan dan nanopartikel kitosan digunakan sebagai agen flokulan untuk memanen mikroalga Nannochloropsis sp. Kitosan dimodifikasi menjadi nanopartikel kitosan melalui taut silang dengan natrium tripolifosfat. Tujuan penelitian ini adalah (i) membuat nanopartikel kitosan dengan tautan silang, (ii) mempelajari pengaruh pH kitosan dan nanopartikel kitosan terhadap efisiensi pemisahan pada pemanenan biomassa, dan (iii) mencari nilai-nilai terbaik pH dan konsentrasi bioflukolan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil XRD, nanopartikel kitosan yang dihasilkan dengan tautan silang memberikan pola difraksi dengan puncak yang tinggi, dan melebar. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang diuji merupakan fasa kristalin dengan ukuran di daerah nanometer. Pengaruh dari kedua jenis flokulan (kitosan dan nanopartikel kitosan), dosis flokulan dan pH kultur diselidiki pada pemanenan biomassa. Dosis optimum untuk kedua bio-flokulan ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi flokulan makin tinggi effisiensi pemisahan, dan makin tinggi pH media kultur, makin tinggi effisinsi pemisahan. Kondisi optimum effisiensi pemisahan dengan kitosan diperoleh pada pH media kultur 9  dan konsentrasi kitosan 100 mg/L dengan effisiensi 92 %. Sedangkan, effisiensi pemisahan pada pH 9 dan konsentrasi nanopartikel kitosan 60 mg/L adalah 95 %.
PENGARUH KONSENTRASI DIKLOROMETAN TERHADAP DAYA LARUT SELULOSA ASETAT DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU Alvika Meta Sari; Hadi Hidayat
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selulosa asetat dapat digunakan sebagai salah satu bahan plastik biodegradable, maupunmembrane. Selulosa asetat tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam dikloromethan. Tujuan daripenelitian ini adalah:  (1)  mempelajari dan mengembangkan teknik pembuatan selulosa asetatdengan metode asetilasi dan hidrolisis, (2)  mencari  pengaruh konsentrasi  diklorometan terhadapdaya  larut  selulosa  asetat, dan  (3)  mencari konsentrasi  diklorometan optimal  terhadap daya larutselulosa  asetat. Pada  penelitian  ini,  selulosa asetat disintesa dari nata  de  soya (NDS). NDSmerupakan  selulosa  mikrobial yang diperoleh dari fermentasi limbah cair tahu denganmenggunakan bakteri Acetobacter xylinum selama 14 hari. Setelah terbentuk NDS dilakukan prosesuntuk menjadi selulosa asetat.  Proses  tersebut adalah aktivasi,  asetilasi,  hidrolisa dan pemurnianselulosa asetat. Gugus  asetil  yang  didapat  adalah  43,86  %. Lalu  dilakukan  pengujian  untukmengetahui daya larut selulosa asetat terhadap dikloromethan. Hasil daya larut selulosa asetat (%)yang diperoleh pada penelitian ini berkisar antara 9.4 – 98.1%, dengan hasil optimal 98.1% yangdihasilkan  dari  sampel  selulosa  asetat  sebanyak  1  gr  dengan  menggunakan  pelarut  diklorometankonsentrasi 98% sebagai pelarutnya. Hasil penelitian pengaruh konsentrasi diklorometan terhadapselulosa asetat menghasilkan persamaan y = 101.1x – 2.751.
PENGARUH WAKTU DAN SUHU PENGERINGAN AMPAS TAHU TERHADAP YIELD TEPUNG AMPAS TAHU Alvika Meta Sari; Syamsudin AB; Novia Okny Yulianti; Yosan Yoga Permana
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas tahu mempunyai potensi yang besar dan melimpah untuk dijadikan bahan pangan, salah satunya adalah tepung ampas tahu. Tepung ampas tahu dipilih karena lebih tahan lama dan lebih mudah penggunaannya sebagai bahan dasar makanan. Dalam penelitian ini tepung ampas tahu dibuat dari ampas tahu yang diambil dari limbah industri tahu di Cakung, Jakarta Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari pengaruh waktu dan suhu pengeringan ampas tahu terhadap yield dari tepung ampas tahu yang dihasilkan serta mendapatkan kondisi optimum. Ampas tahu yang diambil segera setelah proses pembuatan tahu lalu dikurangi airnya dengan pemerasan dan dilanjutkan dengan sterilisasi dengan metode pengukusan selama 30 menit. Setelah pengukusan kemudian dikeringkan di oven dengan variasi waktu pengeringan 90, 120 dan 150 menit serta suhu 80, 90, 100, 110, 120, 130, 140, 150, 160 dan 170 oC. Setelah kering, kemudian ampas tahu dihaluskan dan diayak pada 80 mesh. Tepung ampas tahu yang dihasilkan lalu dihitung yield dan dianalisa proksimatnya untuk hasil yang terbaik. Hasil yang didapatkan bahwa semakin tinggi suhu maka yield yang dihasilkan semakin kecil dengan persamaan y = 547,5x + 5705 dan semakin lama waktu pengeringan maka yield semakin besar dengan persamaan y = 0,0224x + 3,8787. Waktu yang optimum adalah 120 menit dengan yield 7,067% dan suhu optimum adalah 120 oC dengan yield 6,093 %.
PENGARUH KADAR Ni TERHADAP SIFAT PERMUKAAN KATALIS Ni BERBAHAN BAKU LIMBAH ELEKTROPLATING Athiek Sri Redjeki; Nurul Hidayati Fithriyah; Alvika Meta Sari
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada  proses  elektroplating dihasilkan  limbah  yang  mengancung  bahan  beracun  berbahaya  (B3)seperti ion-ion kromat, sianida, nikel, asam sulfat, natrium hidroksida dan pelarut organik. Logamberat dalam limbah B3 ini, khususnya nikel (Ni), dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku katalis.Recoverysemacam ini mewujudkan konsep produksi bersih sekaligus meningkatkan nilai ekonomislimbah. Kandungan Ni dalam limbah elektroplating di wilayah Jabodetabek sebesar rata-rata 19%dapat  menjadi  bahan  baku sintesa katalis NiMnxFe2-xO4.Katalis  ini dapatdigunakan  dalam  reaksioksidasi  CO  menjadi  CO2. Dalam  studi  ini  pengaruh kadar  Ni(1,81 – 2,65%) terhadap sifatpermukaankatalis dipelajari  untuk  menentukan kadar optimal  katalis  Ni yangdisintesis.Peningkatan  kadar  logam  Ni  dapat  meningkatkan  keasaman katalis. Luas  permukaan,diameter  dan  volum  pori katalis juga  meningkat  dengan  peningkatan kadar Ni.Peningkatankeasaman  dan  luas  permukaan  katalis  akan  meningkatkan  reaktivitas  dan  aktivitas  katalisisnya.Morfologi permukaan katalis menunjukkan peningkatan ukuran gumpalan dan penurunan derajatkristalinitas dengan peningkatan kadar Ni. Hal ini dapat menurunkan selektivitas katalis terhadapreaksi oksidasi.
PEMANENAN BIOMASSA MIKROALGA MENGGUNAKAN FLOKULAN KITOSAN DAN NANOMAGNETIT KITOSAN Alvika Meta Sari; Erdawati Erdawati; Irfan Purnawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biomassa Mikroalga merupakan salah satu mikroalga yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, proses pemanenannya memerlukan flokulan yang tidak sedikit. Oleh karena itu dalam penelitian ini kitosan dan nanomagnetik kitosan digunakan sebagai flokulan pada proses pemanenan biomassa Mikroalga. Tujuan dari studi ini adalah mencari pengaruh pH dan dosis  flokulan kitosan dan nanomagnetik kitosan terhadap % biomassa terhadap perolehan biomassa  Mikroalga, mencari pengaruh dosis flokulan kitosan dan nanomagnetit kitosan terhadap perolehan biomassa  dan membandingkan penggunaan flokulan kitosan dan nanomagentik kitosan. Mikroalga  dan mendapatkan pH dan dosis terbaik. Kitosan dan nanomagnetik kitosan dengan dosis 20, 40, 60, 80, 120 dan 140 mg  dan pH 5, 6, 7, 8, 9 ditambahkan ke dalam suspensi mikroalga Mikroalga, lalu diukur persen perolehan biomassanya. Hubungan antara pH flokulan dengan persen perolahan biomassa adalah meningkatnya pH maka persen perolehan biomassa semakin tinggi. Hubungan dosis flokulan kitosan dan nanomagnetit kitosan menunjukkan bahwa semakin banyak dosis flokulan maka semakin banyak biomassa yang dipanen. Hasil menunjukkan bahwa nilai pH yang terbaik adalah 4 dan dosis terbaik adalah 80 mg untuk kedua flokulan. Hasil yang didapat memperlihatkan bahwa Nanomagnetit kitosan lebih baik kinerjanya sebagai flokulan untuk pemanenan mikroalga Mikroalga daripada kitosan dengan nilai tertinggi pada pH 8 dan dosis 80 mg dengan perolehan biomassa tertinggi pada 98%.  Kata kunci: pemanenan mikroalga, biomassa Hemotococcus pluvalis, nanomagnetit  kitosan, kitosan
KOAGULASI MIKROALGA NANOCHLOROPSIS Sp. MENGGUNAKAN NANOMAGNETIT KITOSAN Alvika Meta Sari; Tri Yuni Hendrawati; Erdawati Erdawati; Heryanti Heryanti
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMikroalga Nanochloropsis Sp. merupakan salah satu mikroalga yang bermanfaat bagi manusia. Proses kultivasi dan pemanenan merupakan salah satu proses yang penting untuk mendapatkan mikroalga ini. Salah satu yang berpengaruh adalah cara pemanenan.  Dalam penelitian ini proses pemanenan mikroalga yang umumnya memakan biaya paling besar, dilakukan dengan metode koagulasi menggunakan nanomagnetit kitosan sebagai koagulan dengan variasi dosis koagulan (0,05; 0,08; dan 0.1 g) dan kondisi pH (8, 9, 10, 11, 12). Tujuan penelitian ini adalah menggunakan nanomagnetit kitosan pada proses koagulasi mirkoalga, mencari pengaruh dosis dan pH larutan terhadap kepadatan sel. Nano magnetite kitosan disintesa menggunakan reaksi tautan silang dan pengadukan cepat, lalu digunakan sebagai koagulan pada proses koagulasi mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar dosis koagulan maka kepadatan sel akan menurun disertai dengan adanya Lysis dan penggumpalan dengan dosis optimum adalah 0,1 g per 100 ml mikroalga dengan kepadatan sel 3,705 x 104 cel/m2. Dan semakin tinggi pH maka kepadatan sel akan menurun, dengan pH optimum pada 10 dengan kepadatan sel 21,85 x 104 cel/m2.
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK DAUN TANAMAN PALA (HORSFIELDIA SPICATA) TERHADAP PERSENTASE NILAI PEREDAMAN RADIKAL BEBAS Susanty Susanty; Heni Suryarachma; Alvika Meta Sari; Irfan Purnawan; Fatma Sari
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman pala (Horsfieldia spicata) merupakan tumbuhan khas Indonesia yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bumbu masak dan manisan khusus bagian daging buahnya. Daun tanaman pala mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat membantu menetralisir dan menstabilkan radikal bebas sehingga tidak lagi merusak sel-sel dan jaringan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase peredaman radikal bebas dari daun tanaman pala (Horsfieldia spicata), waktu maserasi yang optimal, dan kadar dari setiap variasi waktu yang dilakukan. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bervariasi waktu (1 hari, 2 hari, 3 hari, 4 hari, 5 hari) menggunakan pelarut etanol berasio 1: 3,8. Hasil penelitian dianalisis untuk mendapatkan persentase peredaman radikal bebas menggunakan metode spetrofotometri UV–Vis. Hasil ekstrak dibandingkan dengan pembanding vitamin C berkonsentrasi 2,5 ppm, 5 ppm, 7,5 ppm, 10 ppm, 12,5 ppm yang memiliki absorbansi sebesar 1,041; 1,004; 1,017; 0,891; 0,526. Hubungan antara waktu maserasi dengan hasil rendemen dinyatakan dalam persamaan y=0,744x+0,558 dengan R2= 0,8032. Rendemen yang didapatkan pada hari ke-5 merupakan yang terbesar yakni sebesar 4,85 %. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, pada konsentrasi 156 ppm mendapatkan panjang gelombang maksimal sebesar 510 nm dan Operating Time (OT) 20 menit. Kemudian pengukuran larutan pembanding dan larutan ekstrak daun pala (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, 500 ppm) pada panjang gelombang maksimal 510 nm dan OT 20 menit mendapatkan nilai persentase peredaman radikal bebas dari daun tanaman pala (Horsfieldia spicata) sebesar 8 %, 30 %, 37 %, 55 %, 73 %.