Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pemanfaatan Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) Pada Pebuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Dari Santan Kelapa Murni Yuniwati; Bambang Kusmartono; Ganjar Andaka; Nitia Nanda Rama
Jurnal Teknologi Vol 14 No 1 (2021): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34151/jurtek.v14i1.3573

Abstract

Pembuatan (Virgin Coconut Oil) VCO dapat dilakukan dengan cara pengasaman, yaitu dengan cara ditambahkan asam agar diperoleh pH tertentu yang memungkinkan tumbuhnya bakteri pengurai protein dalam santan kelapa sehingga terbentuk VCO. Jeruk nipis banyak mengadung asam alami memiliki aroma yang khas dan banyak mengandung zat zat bermanfaat dan memungkinkan untuk membuat suasana asam dalam pembuatan VCO. Kecepatan pembentukan VCO sangat menentukan kuantitas dan kualitas VCO. Dengan kecepatan yang besar maka waktu untuk menghasilkan VCO lebih singkat, hal ini akan menghindarkan dari kemungkinan reaksi samping atau proses pembusukan yang akan menurunkan kualitas VCO. Beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan pembentukan VCO antara lain yang akan dipelajari dalam penelitian ini adalah suhu ruangan dan jumlah jeruk nipis yang ditambahkan ke dalam santan kelapa. Dalam penelitian ini akan dipelajari proses pembentukan VCO dari santan kelapa, dengan pengasaman menggunakan jeruk nipis. Santan kelapa didiamkan 30 menit untuk memisahkan skim dan airnya. Skim yang diperoleh ditempatkan dalam wadah ditambahkan air jeruk nipis dengan volume tertentu, wadah ditempatkan dalam ruangan dengan suhu tertentu didiamkan agar terjadi proses fermentasi dalam selang waktu tertentu, VCO yang terbentuk diukur volumenya kemudian dianalisis sifat fisis maupun sifat kimianya. Berdasarkan hasil penelitian ini, hasil terbaik dieroleh dengan menggunakan penambahan jeruk nipis 5% volume dan dilakukan pada suhu 38 oC, dengan kondisi tersebut proses pembuatan VCO memerlukan waktu 4 jam, dengan menggunakan 800 ml skim dari 1kg kelapa di diperoleh hasil VCO yang jernih sebanyak 220 ml dengan densitas 0,91 gr/mL.
Pengambilan Minyak Kelapa dengan Menggunakan Enzim Papain Ganjar Andaka
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar di dunia dengan luas areal 3,88 juta hektar. Minyak kelapa merupakan bagian yang berharga dari buah kelapa dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri atau sebagai minyak goreng. Pengambilan minyak kelapa dari daging buah kelapa biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan cara pemanasan yang mana memerlukan energi (panas) yang cukup besar dan kualitas minyaknya rendah. Untuk mengurangi penggunaan energi (panas) dan untuk meningkatkan kualitas minyak maka pengambilan minyak kelapa dapat dilakukan dengan cara yang lain, di antaranya yaitu cara enzimatis. Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan minyak kelapa cara basah dengan metode enzimatis untuk mengurangi penggunaan energi (panas) dan meningkatkan kualitas minyak. Salah satu enzim yang dapat digunakan yaitu enzim papain.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi enzim papain dan waktu inkubasiterhadap jumlah (volume) minyak kelapa yang terambil (diperoleh).Untuk variabel konsentrasi enzim papain dipelajari dari konsentrasi 0,01 g/mL sampai dengan 0,03 g/mL, sedangkan untuk waktu inkubasi dipelajari dari waktu inkubasi 14 jam sampai dengan 24 jam. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kondisi optimum dicapai yaitu waktu inkubasi selama 19 jam dan konsentrasi enzim papain 0,02 g/mL (berat enzim papain 2 gram dalam 100 mL krim santan) dengan jumlah (volume) minyak yang terambil sebanyak 30 mL.Kata kunci: kelapa, enzim papain, minyak kelapa
Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu untuk Memproduksi Pulp dengan Proses Soda Ganjar Andaka
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII Ke-14 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, kebutuhan kertas juga semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan tingginya kebutuhan pulp yang merupakan bahan baku dalam pembuatan kertas. Namun, persediaan bahan yang digunakan untuk pembuatan pulp yaitu kayu juga semakin lama akan semakin berkurang. Akhirnya, eksploitasi hutanlah yang terjadi. Jika ini dilakukan secara terus menerus maka akan menyebabkan masalah lingkungan, seperti penggundulan hutan, menipisnya cadangan kayu, dan berkurangnya luas hutan di Indonesia. Untuk itu perlu dicari bahan baku alternatif agar dapat mengurangi resiko yang buruk bagi lingkungan, salah satunya dengan bahan baku ramah lingkungan dan yang persediaannya melimpah. Ampas tebu merupakan limbah organik memiliki kadar α-selulosa cukup tinggi. Namun, selama ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengolahan tebu. Padahal abu hasil pembakaran ampas tebu yang tidak terkendali telah terbukti mengakibatkan masalah polusi udara yang serius. Penelitian ini dilakukan untuk menguji perolehan pulp dan α-selulosa dari ampas tebu melalui proses soda. Dengan melihat pengaruh Kadar NaOH dan waktu pemasakan dalam pembuatan pulp sehingga keadaan optimum dapat ditentukan. Penelitian dilakukan dengan mencampur 10 gram serbuk ampas tebu dan 200 mL larutan alkali dengan kadar NaOH antara 6 - 14% (w/v) ke dalam labu leher tiga. Campuran lalu dipanaskan dalam waterbath pada suhu 80°C selama 60 menit dan diaduk pada kecepatan 400 rpm. Setelah waktu tercapai, campuran difiltrasi dengan corong hisap dan dicuci dengan aquadest hingga netral. Kemudian, endapan dikeringkan dan diputihkan dengan peroksida 2%. Terakhir, difiltrasi lagi, dibilas, dikeringkan dan ditimbang hingga bobot konstan. Selanjutnya waktu pemasakan divariasi antara 30 - 150 menit. Pulp yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian untuk penentuan yield pulp dan α-selulosa. Berdasarkan hasil penelitian, didapat kadar α-selulosa ampas tebu sebesar 35,77%. Untuk Pengaruh perlakuan, semakin besar kadar NaOH dalam larutan pemasak semakin kecil yield pulp sedangkan kadar α-selulosa semakin tinggi dan semakin lama waktu pemasakan semakin kecil yield sedangkan kadar α-selulosa semakin tinggi. Pada perlakuan variasi kadar NaOH diperoleh kondisi optimum pada kadar 10% diperoleh yield pulp 40% dengan kadar α-selulosa 93,33% sedangkan pada variasi waktu terjadi pada waktu 90 menit dengan yield pulp 38% dengan kadar α-selulosa 86,67%.
PENURUNAN KADAR TEMBAGA PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI KERAJINAN PERAK DENGAN PRESIPITASI MENGGUNAKAN NATRIUM HIDROKSIDA Ganjar Andaka
Jurnal Teknologi Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas AKPRIND Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri kerajinan perak, tembaga adalah salah satu logam yang dicampurkan dengan perak untuk menghasilkan logam campuran yang lebih keras dan lebih kuat dari perak murninya. Hasil dari industri kerajinan perak ini berupa perhiasan, asesoris, dan tentu saja limbah cair yang banyak mengandung logam tembaga. Tembaga termasuk logam berat yang bersifat racun. Agar limbah cair ini tidak berbahaya jika dibuang ke perairan, maka limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar tembaga dalam limbah cair dengan metode presipitasi menggunakan larutan natrium hidroksida. Penelitian ini mempelajari pengaruh konsentrasi natrium hidroksida terhadap penurunan kadar tembaga dalam limbah cair, dan lama waktu pengendapan tehadap volume endapan yang terbentuk. Mula-mula reagen (NaOH) dengan konsentrasi tertentu ditambahkan ke dalam limbah cair yang telah diketahui kadar tembaganya, kemudian diaduk dengan kecepatan 50 rpm selama 15 menit. Setelah itu hasil didiamkan selama waktu tertentu untuk mengendapkan presipitat yang terbentuk. Setelah terjadi endapan kemudian cairan beningnya diambil dan dianalisis kadar tembaganya menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode presipitasi menggunakan larutan NaOH dapat menurunkan kadar tembaga pada limbah cair industri kerajinan perak. Hasil optimum yang dicapai terjadi dengan penambahan 20 mL NaOH 9% untuk sampel limbah cair sebanyak 250 mL dengan penurunan kadar tembaga hingga 95,47%, dan kadar tembaga bisa diturunkan dari 14,35 ppm menjadi 0,65 ppm. Kadar ini hampir mencapai baku mutu limbah cair, yakni sebesar 0,6 ppm. Dari pengaruh waktu pengendapan terhadap volume endapan didapatkan bahwa laju volume pengendapan keseluruhan dari proses ini sebesar 0,028125 ml/menit.
OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI MINYAK KACANG TANAH DENGAN PELARUT N-HEKSANA Ganjar Andaka
Jurnal Teknologi Vol 2 No 1 (2009): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas AKPRIND Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak merupakan campuran ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang yang sering disebut trigliserida. Trigliserida terbentuk dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Minyak kacang tanah mengandung 76 – 82% asam lemak tak jenuh yang terdiri dari 40 – 45% asam oleat dan 30 – 45% asam linoleat. Asam lemak jenuh sebagian besar terdiri dari asam palmitat, sedangkan kadar asam miristat sekitar 5%. Kandungan minyak yang terdapat di dalam kacang tanah cukup tinggi yaitu berkisar antara 40 – 50%. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi optimum volume pelarut dan suhu ekstraksi terhadap persentase minyak terambil. Variabel volume pelarut dilakukan dengan memvariasikan volume pelarut antara 80 – 120 mL, sedangkan variabel suhu ekstraksi dilakukan dengan memvariasikan suhu ekstraksi antara 35 – 60oC. Hasil ekstraksi kemudian disaring dan filtratnya didistilasi pada suhu 69oC untuk memisahkan minyak dari pelarutnya. Persentase minyak yang terambil dapat dihitung dari perbandingan berat minyak yang diperoleh terhadap berat bahan baku. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi optimum volume pelarut tercapai pada volume pelarut 120 mL untuk 40 g kacang tanah, sedangkan kondisi optimum suhu ekstraksi tercapai pada suhu 55oC dengan persentase minyak terambil 33,47% untuk masing-masing variabel. Kata kunci: Ekstraksi; Minyak kacang tanah; n-Heksana
Sosialisasi Penerapan Teknologi PLTS untuk Sistem Irigasi Otomatis pada Petani Cabai di Banyuraden Sleman Andaka, Ganjar; Sholeh, Muhammad; Yusuf, Muhammad; Rachmawati, Rr Yuliana; Waluyo, Joko
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 1 (2025): Bulan September
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i1.429

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi  kepada petani cabai di Desa Nogotirto Gamoing Sleman mengenai penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sistem irigasi otomatis. Permasalahan yang dihadapi mitra adalah ketergantungan pada pasokan listrik PLN dan pengoperasian irigasi manual yang kurang efisien dalam penggunaan waktu dan tenaga. Melalui sosialisasi ini, peserta diperkenalkan pada konsep dasar PLTS, mekanisme kerja sistem irigasi otomatis, serta manfaatnya dalam mendukung efisiensi energi dan keberlanjutan pertanian. Metode kegiatan meliputi penyampaian materi dan diskusi serta kunjungan ke lapangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan para petani mengenai teknologi PLTS dan pemahaman cara mengintegrasikan dengan sistem irigasi otomatis. Diharapkan penerapan teknologi ini akan dapat membantu petani mengurangi biaya operasional, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pertanian ramah lingkungan.
Sosialisasi Penerapan Smart Farm: Otomatisasi Berbasis IoT untuk Optimasi Suhu, Pakan dan Kandang dalam Meningkatkan Produktivitas Ayam Petelur dan Kalkun di Karang Kulon Progo Hamzah, Amir; Andaka, Ganjar; Ningrum, Ambar Pertiwi; Rahayu, Suparni Setyowati; Sholeh, Muhammad
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 1 (2025): Bulan September
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i1.511

Abstract

Kelompok “Ayam Telur &  Kalkun Mandiri”  Karang Kulon Progo merupakan kelompok usaha ternak ayam petelur dan kalkun. Permasalahan yang dihadapi adalah dalam produksinya menggunakan teknik manual baik dalam penyediaan pakan maupun untuk kontrol kondisi kandang maupun manajemen operasionalnya. Hal ini menyebabkan beaya operasional tinggi dan manajemen kurang efisien.  Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada mitra peternak  ayam petelur dan kalkun untuk penerapan konsep kendali suhu dan kelembaban berbasis IoT, penerangan kandang menggunakan PLTS dan manajemen data ternak menggunakan aplikasi program.    Metode kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi penyampaian materi dan diskusi serta kunjungan ke  lapangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan para petani mengenai aplikasi berbasis IoT, teknologi PLTS  dan pemahaman cara manajemen data ternak yang lebih efisien.  Diharapkan dengan penerapan  teknologi ini akan dapat membantu peternak untuk mengoptimalkan produksi, mengurangi biaya operasional, serta mendukung peternakan yang  ramah lingkungan.
Pendampingan IKM Knalpot Purbalingga dengan Penerapan Green Manufacturing Guna Meningkatkan Kualitas dan Efisiensi Produksi: Pengabdian Agung Putu Susastriawan, Anak; Setyowati Rahayu, Suparni; Priyambodo, Sigit; Andaka, Ganjar; Sholeh, Muhammad; Marausna, Gaguk
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3510

Abstract

The small and medium-sized exhaust pipe industry in Purbalingga Regency is one of the region's leading sectors with high economic value, but it still faces obstacles in terms of metal coating and coloring quality. The conventional processes used are generally energy-intensive and produce chemical waste. This community service activity aims to improve the quality of metal plating and coloring on exhaust products through the application of green manufacturing technology based on energy efficiency and environmental friendliness. The methods used in this activity include the application of a green plating system with measured current control and technical training in the use of environmentally friendly plating materials. The results of the activity showed a significant improvement in the quality of the coating, where the gloss level increased by 25%, heat resistance reached 600°C without color change, and corrosion resistance doubled. In addition to improving product quality, this activity also increased the awareness of SME actors of the importance of sustainable production processes in accordance with the principles of green manufacturing.