Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pemanfaatan Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) Pada Pebuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Dari Santan Kelapa Murni Yuniwati; Bambang Kusmartono; Ganjar Andaka; Nitia Nanda Rama
Jurnal Teknologi Vol 14 No 1 (2021): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34151/jurtek.v14i1.3573

Abstract

Pembuatan (Virgin Coconut Oil) VCO dapat dilakukan dengan cara pengasaman, yaitu dengan cara ditambahkan asam agar diperoleh pH tertentu yang memungkinkan tumbuhnya bakteri pengurai protein dalam santan kelapa sehingga terbentuk VCO. Jeruk nipis banyak mengadung asam alami memiliki aroma yang khas dan banyak mengandung zat zat bermanfaat dan memungkinkan untuk membuat suasana asam dalam pembuatan VCO. Kecepatan pembentukan VCO sangat menentukan kuantitas dan kualitas VCO. Dengan kecepatan yang besar maka waktu untuk menghasilkan VCO lebih singkat, hal ini akan menghindarkan dari kemungkinan reaksi samping atau proses pembusukan yang akan menurunkan kualitas VCO. Beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan pembentukan VCO antara lain yang akan dipelajari dalam penelitian ini adalah suhu ruangan dan jumlah jeruk nipis yang ditambahkan ke dalam santan kelapa. Dalam penelitian ini akan dipelajari proses pembentukan VCO dari santan kelapa, dengan pengasaman menggunakan jeruk nipis. Santan kelapa didiamkan 30 menit untuk memisahkan skim dan airnya. Skim yang diperoleh ditempatkan dalam wadah ditambahkan air jeruk nipis dengan volume tertentu, wadah ditempatkan dalam ruangan dengan suhu tertentu didiamkan agar terjadi proses fermentasi dalam selang waktu tertentu, VCO yang terbentuk diukur volumenya kemudian dianalisis sifat fisis maupun sifat kimianya. Berdasarkan hasil penelitian ini, hasil terbaik dieroleh dengan menggunakan penambahan jeruk nipis 5% volume dan dilakukan pada suhu 38 oC, dengan kondisi tersebut proses pembuatan VCO memerlukan waktu 4 jam, dengan menggunakan 800 ml skim dari 1kg kelapa di diperoleh hasil VCO yang jernih sebanyak 220 ml dengan densitas 0,91 gr/mL.
Pengambilan Minyak Kelapa dengan Menggunakan Enzim Papain Ganjar Andaka
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar di dunia dengan luas areal 3,88 juta hektar. Minyak kelapa merupakan bagian yang berharga dari buah kelapa dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri atau sebagai minyak goreng. Pengambilan minyak kelapa dari daging buah kelapa biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan cara pemanasan yang mana memerlukan energi (panas) yang cukup besar dan kualitas minyaknya rendah. Untuk mengurangi penggunaan energi (panas) dan untuk meningkatkan kualitas minyak maka pengambilan minyak kelapa dapat dilakukan dengan cara yang lain, di antaranya yaitu cara enzimatis. Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan minyak kelapa cara basah dengan metode enzimatis untuk mengurangi penggunaan energi (panas) dan meningkatkan kualitas minyak. Salah satu enzim yang dapat digunakan yaitu enzim papain.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi enzim papain dan waktu inkubasiterhadap jumlah (volume) minyak kelapa yang terambil (diperoleh).Untuk variabel konsentrasi enzim papain dipelajari dari konsentrasi 0,01 g/mL sampai dengan 0,03 g/mL, sedangkan untuk waktu inkubasi dipelajari dari waktu inkubasi 14 jam sampai dengan 24 jam. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kondisi optimum dicapai yaitu waktu inkubasi selama 19 jam dan konsentrasi enzim papain 0,02 g/mL (berat enzim papain 2 gram dalam 100 mL krim santan) dengan jumlah (volume) minyak yang terambil sebanyak 30 mL.Kata kunci: kelapa, enzim papain, minyak kelapa
Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu untuk Memproduksi Pulp dengan Proses Soda Ganjar Andaka
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII Ke-14 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, kebutuhan kertas juga semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan tingginya kebutuhan pulp yang merupakan bahan baku dalam pembuatan kertas. Namun, persediaan bahan yang digunakan untuk pembuatan pulp yaitu kayu juga semakin lama akan semakin berkurang. Akhirnya, eksploitasi hutanlah yang terjadi. Jika ini dilakukan secara terus menerus maka akan menyebabkan masalah lingkungan, seperti penggundulan hutan, menipisnya cadangan kayu, dan berkurangnya luas hutan di Indonesia. Untuk itu perlu dicari bahan baku alternatif agar dapat mengurangi resiko yang buruk bagi lingkungan, salah satunya dengan bahan baku ramah lingkungan dan yang persediaannya melimpah. Ampas tebu merupakan limbah organik memiliki kadar α-selulosa cukup tinggi. Namun, selama ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengolahan tebu. Padahal abu hasil pembakaran ampas tebu yang tidak terkendali telah terbukti mengakibatkan masalah polusi udara yang serius. Penelitian ini dilakukan untuk menguji perolehan pulp dan α-selulosa dari ampas tebu melalui proses soda. Dengan melihat pengaruh Kadar NaOH dan waktu pemasakan dalam pembuatan pulp sehingga keadaan optimum dapat ditentukan. Penelitian dilakukan dengan mencampur 10 gram serbuk ampas tebu dan 200 mL larutan alkali dengan kadar NaOH antara 6 - 14% (w/v) ke dalam labu leher tiga. Campuran lalu dipanaskan dalam waterbath pada suhu 80°C selama 60 menit dan diaduk pada kecepatan 400 rpm. Setelah waktu tercapai, campuran difiltrasi dengan corong hisap dan dicuci dengan aquadest hingga netral. Kemudian, endapan dikeringkan dan diputihkan dengan peroksida 2%. Terakhir, difiltrasi lagi, dibilas, dikeringkan dan ditimbang hingga bobot konstan. Selanjutnya waktu pemasakan divariasi antara 30 - 150 menit. Pulp yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian untuk penentuan yield pulp dan α-selulosa. Berdasarkan hasil penelitian, didapat kadar α-selulosa ampas tebu sebesar 35,77%. Untuk Pengaruh perlakuan, semakin besar kadar NaOH dalam larutan pemasak semakin kecil yield pulp sedangkan kadar α-selulosa semakin tinggi dan semakin lama waktu pemasakan semakin kecil yield sedangkan kadar α-selulosa semakin tinggi. Pada perlakuan variasi kadar NaOH diperoleh kondisi optimum pada kadar 10% diperoleh yield pulp 40% dengan kadar α-selulosa 93,33% sedangkan pada variasi waktu terjadi pada waktu 90 menit dengan yield pulp 38% dengan kadar α-selulosa 86,67%.
Pengambilan Zat Warna Antosianindari Ekstraksi Kulit Buah Rambutan (Niphelium Lappaceum L)sebagai Pewarna Alami Makanan Pengganti Pewarna Sintetis (Variabel Suhu Ekstraksi dan Waktu Ekstraksi) Dian Erawisti Trishadi; Ganjar Andaka
Jurnal Inovasi Proses Vol. 2 No. 1 (2017): Maret 2017
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman rambutan merupakan tanaman lokal yang banyak ditemukan di Indonesia. Selain memiliki tampilan buah yang menarik, kulit buah rambutan mengandung senyawa antosianin sebagai pigmen yang membuat warna kulitnya merah tua. Pada saat ini penggunaan zat pewarna semakin meningkat seiring dengan berkembangnya industri pengolahan pangan, khususnya jenis pewarna sintetis, maka dari itu diperlukan pewarna alami pengganti pewarna sintetis.Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti pewarna sintetis adalah kulit buah rambutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pengambilan zat warna antosianin dari kulit buah rambutan dan jumlah antosianin yang terekstrak. Penelitian ini dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut etanol dengan perbandingan pelarut yang divariasikan (104.2 mL, 130.2 mL, 156.3 mL, 182.3 mL dan 208.4 mL) dan kecepatan pengadukan yang divariasikan(200 putaran/menit, 300 putaran/menit, 400 putaran/menit, 500 putaran/menit, 600 putaran/menit).pada bahan baku kulit buah rambutan 25 gram, suhu ekstraksi 550C dan waktu ekstraksi 180 menit. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yang paling baik yaitu dengan kondisi operasi volume pelarut 156.3 mLdan kecepatan pengadukan 300 putaran/menit dengan jumlah antosianin terekstrak sebesar 19,4 mg. Diharapkan dari hasil penelitian ini zat warna antosianin dari kulit buah rambutan dapat dimanfaatkan sebagi pewarna alami pengganti pewarna sintetis.
PENGAMBILAN MINYAK KELAPA DENGAN MENGGUNAKAN ENZIM PAPAIN (VARIABEL WAKTU INKUBASI DAN BERAT ENZIM) Karomatul Fitri; Ganjar Andaka
Jurnal Inovasi Proses Vol. 2 No. 2 (2017): September 2017
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar di dunia dengan luas areal 3,88 juta hektar. Minyak kelapa merupakan bagian yang berharga dari buah kelapa dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri atau sebagai minyak goreng. Pengambilan minyak dari daging buah kelapa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: cara basah, pres, dan ekstraksi pelarut. Salah satu cara yang berkembang saat ini yaitu pengambilan minyak kelapa cara basah dengan metode enzimatis. Salah satu enzim yang dapat digunakan yaitu enzim papain. Penelitian ini bertujuan untuk mengambil minyak kelapa dari buah kelapa dengan metode enzimatis. Adapun variabel yang dipelajari yaitu berat enzim dan waktu inkubasi yang optimal pada pengambilan minyak kelapa dengan enzim papain. Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan berbagai variabel waktu yaitu 14 sampai 24 jam, dan berat enzim (1, 1,5, 2, 2,5, dan 3 g) diperoleh kondisi optimum yang dicapai yaitu waktu inkubasi selama 19 jam dan berat enzim papain 2 gram dengan jumlah minyak yang terambil sebanyak 30 mL.
PENGAMBILAN MINYAK ATSIRI DARI RIMPANG TEMULAWAK DENGAN PROSES EKSTRAKSI MENGGUNAKAN PELARUT N-HEKSAN (Variabel Volume Pelarut dan Waktu Ekstraksi) Dwiki Novendratama; Ganjar Andaka
Jurnal Inovasi Proses Vol. 7 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34151/jip.v7i2.4225

Abstract

Temulawak (Curcuma xantorrhiza Roxb.) merupakan salah satu jenis tanaman obat penting yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat di Indonesia. Rimpang temulawak mengandung zat kurkumin, minyak atsiri, pati, protein, lemak, selulosa dan minyak. Di antara komponen tersebut yang paling banyak kegunaannya adalah pati, minyak atsiri dan kurkuminoid. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jumlah volume pelarut dan waktu ekstraksi dalam pengambilan minyak temulawak dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan. Temulawak dengan ukuran yang sudah terbentuk serbuk disiapkan. Kemudian serbuk temulawak ditimbang sebanyak 100 g untuk dilakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan jumlah volume pelarut yang digunakan sebagai variabel sebanyak 300 - 500 mL dengan suhu yang digunakan 60-62oC dan kecepatan pengadukan yang digunakan 300 rpm selama 120 menit. Sedangkan untuk variabel waktu ekstraksi digunakan waktu selama 60-180 menit, dengan jumlah volume pelarut n-heksan sebanyak 500 mL. Setelah sampel selesai di ekstraksi, selanjutnya hasil ekstraksi difiltrasi. Hasil dari filtrasi kemudian dilakukan proses distilasi hingga didapatkan minyak yang tertinggal di labu distilasi (residu) dan sudah tidak ada yang menetes lagi di penampung hasil distilasi (distilat). Sampel dituang ke dalam botol penampung yang sudah diketahui beratnya. Sehingga dapat diketahui berat sampel yang terambil untuk mencari persentase minyak terambil. Dari hasil penelitian dengan jumlah bahan 100 g didapatkan bahwa semakin banyak jumlah volume pelarut yang digunakan maka persentase randemen semakin banyak dan semakin lama waktu ekstraksi maka persentase randemen semakin banyak juga. Pada variabel jumlah volume pelarut didapatkan jumlah volume pelarut yang optimal pada 500 mL n-heksan dengan persentase randemen sebesar 13,3%. Sedangkan untuk variabel waktu ekstraksi didapatkan kondisi optimal pada lama waktu ekstraksi 150 menit dengan persen minyak terambil sebesar 14%.
PENURUNAN KADAR TEMBAGA PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI KERAJINAN PERAK DENGAN PRESIPITASI MENGGUNAKAN NATRIUM HIDROKSIDA Ganjar Andaka
Jurnal Teknologi Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas AKPRIND Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri kerajinan perak, tembaga adalah salah satu logam yang dicampurkan dengan perak untuk menghasilkan logam campuran yang lebih keras dan lebih kuat dari perak murninya. Hasil dari industri kerajinan perak ini berupa perhiasan, asesoris, dan tentu saja limbah cair yang banyak mengandung logam tembaga. Tembaga termasuk logam berat yang bersifat racun. Agar limbah cair ini tidak berbahaya jika dibuang ke perairan, maka limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar tembaga dalam limbah cair dengan metode presipitasi menggunakan larutan natrium hidroksida. Penelitian ini mempelajari pengaruh konsentrasi natrium hidroksida terhadap penurunan kadar tembaga dalam limbah cair, dan lama waktu pengendapan tehadap volume endapan yang terbentuk. Mula-mula reagen (NaOH) dengan konsentrasi tertentu ditambahkan ke dalam limbah cair yang telah diketahui kadar tembaganya, kemudian diaduk dengan kecepatan 50 rpm selama 15 menit. Setelah itu hasil didiamkan selama waktu tertentu untuk mengendapkan presipitat yang terbentuk. Setelah terjadi endapan kemudian cairan beningnya diambil dan dianalisis kadar tembaganya menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode presipitasi menggunakan larutan NaOH dapat menurunkan kadar tembaga pada limbah cair industri kerajinan perak. Hasil optimum yang dicapai terjadi dengan penambahan 20 mL NaOH 9% untuk sampel limbah cair sebanyak 250 mL dengan penurunan kadar tembaga hingga 95,47%, dan kadar tembaga bisa diturunkan dari 14,35 ppm menjadi 0,65 ppm. Kadar ini hampir mencapai baku mutu limbah cair, yakni sebesar 0,6 ppm. Dari pengaruh waktu pengendapan terhadap volume endapan didapatkan bahwa laju volume pengendapan keseluruhan dari proses ini sebesar 0,028125 ml/menit.
OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI MINYAK KACANG TANAH DENGAN PELARUT N-HEKSANA Ganjar Andaka
Jurnal Teknologi Vol 2 No 1 (2009): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas AKPRIND Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak merupakan campuran ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang yang sering disebut trigliserida. Trigliserida terbentuk dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Minyak kacang tanah mengandung 76 – 82% asam lemak tak jenuh yang terdiri dari 40 – 45% asam oleat dan 30 – 45% asam linoleat. Asam lemak jenuh sebagian besar terdiri dari asam palmitat, sedangkan kadar asam miristat sekitar 5%. Kandungan minyak yang terdapat di dalam kacang tanah cukup tinggi yaitu berkisar antara 40 – 50%. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi optimum volume pelarut dan suhu ekstraksi terhadap persentase minyak terambil. Variabel volume pelarut dilakukan dengan memvariasikan volume pelarut antara 80 – 120 mL, sedangkan variabel suhu ekstraksi dilakukan dengan memvariasikan suhu ekstraksi antara 35 – 60oC. Hasil ekstraksi kemudian disaring dan filtratnya didistilasi pada suhu 69oC untuk memisahkan minyak dari pelarutnya. Persentase minyak yang terambil dapat dihitung dari perbandingan berat minyak yang diperoleh terhadap berat bahan baku. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi optimum volume pelarut tercapai pada volume pelarut 120 mL untuk 40 g kacang tanah, sedangkan kondisi optimum suhu ekstraksi tercapai pada suhu 55oC dengan persentase minyak terambil 33,47% untuk masing-masing variabel. Kata kunci: Ekstraksi; Minyak kacang tanah; n-Heksana
Hidrolisis minyak biji kapuk dengan katalisator asam khlorida Ganjar Andaka
Jurnal Rekayasa Proses Vol 2 No 2 (2008): Volume 2, Number 2, 2008
Publisher : Jurnal Rekayasa Proses

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.556

Abstract

Hydrolysis of kapok seed oil in the presence of hydrochloric acid catalyst to produce glycerol and fatty acid was studied. The objective of this work was to study the effect of reaction temperature and catalyst concentration on the reaction rate constant. The experiments were conducted in a three-neck flask equiped with stirrer, heater, condenser, and thermometer. The reaction condition studied were temperature ranging from 80 to 100 °C and catalyst concentration from 0.011 to 0.017 N. The reaction time was kept constant at 3 hours. The concentration of triglycerides every 0.25 hour were analyzed to calculate the conversion of triglycerides. The results of this study showed that the reaction kinetics of the hydrolysis of kapok seed oil was found to be first order with respect to triglyceride. The effect of reaction temperatures on the reaction rate constant was found to be k = 0.3258 exp(−1379.8875/RT) h−1, the activation energy was 1379.8875 cal/mol and the effect of catalyst concentrations on the reaction rate constant could be expressed as k = 0.06002 exp(−0.0025/Ck) h−1.
Sosialisasi Penerapan Teknologi PLTS untuk Sistem Irigasi Otomatis pada Petani Cabai di Banyuraden Sleman Andaka, Ganjar; Sholeh, Muhammad; Yusuf, Muhammad; Rachmawati, Rr Yuliana; Waluyo, Joko
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 1 (2025): Bulan September
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i1.429

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi  kepada petani cabai di Desa Nogotirto Gamoing Sleman mengenai penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sistem irigasi otomatis. Permasalahan yang dihadapi mitra adalah ketergantungan pada pasokan listrik PLN dan pengoperasian irigasi manual yang kurang efisien dalam penggunaan waktu dan tenaga. Melalui sosialisasi ini, peserta diperkenalkan pada konsep dasar PLTS, mekanisme kerja sistem irigasi otomatis, serta manfaatnya dalam mendukung efisiensi energi dan keberlanjutan pertanian. Metode kegiatan meliputi penyampaian materi dan diskusi serta kunjungan ke lapangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan para petani mengenai teknologi PLTS dan pemahaman cara mengintegrasikan dengan sistem irigasi otomatis. Diharapkan penerapan teknologi ini akan dapat membantu petani mengurangi biaya operasional, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pertanian ramah lingkungan.