Fika Anjana
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KONSTRUKSI KESADARAN ATAS PROFESI DAN MATERIALISME: STUDI INTERPRETATIVE TERHADAP PENGEMIS ANAK SURABAYA Anjana, Fika
IJTIMAIYA: Journal of Social Science Teaching Vol 4, No 1 (2020): IJTIMAIYA : Journal of Social Science Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.88 KB) | DOI: 10.21043/ji.v4i1.7257

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan profesi atau pekerjaan dan materialisme terhadap pengemis anak. Interpretative digunakan untuk menentukan paradigma penelitian ini. Konstruksi sosial Teori Peter L Berger memiliki peran utama untuk melakukan penelitian ini. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Wawancara, observasi, dan dokumentasi adalah cara yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengambil data. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa: Pertama, pengemis anak memilih pekerjaan atau profesi mereka sebagai pengemis karena sudah menjadi budaya di antara keluarga mereka. Kedua, pengemis anak senang mendapatkan uang dengan memohon untuk membeli apa yang mereka inginkan. Kesulitan ekonomi, etos kerja, dan ketidakmampuan keluarga untuk membayar pembayaran sekolah anak-anak yang membuat mereka menjadi pengemis dan hal itu adalah bagian dari proses dialektika Peter L Berger. Ketiga, orientasi materialisme terhadap pengemis anak adalah hal yang harus didapatkan dengan mengemis, karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling mudah untuk dilakukan, sehingga orientasi materialisme menjadi yang kedua setelah pengetahuan.Kata kunci: Konstruksi Kesadaran, Profesi dan Materialisme, Pengemis AnakThis study is aimed to construct the awareness on profession or job and materialism toward children beggar. Interpretive is used to determine the paradigm of this study. Social construction Peter L Berger Theory has main role to conduct this study. While the method that’s used in this study is qualitative. Interview, observation, and documentation are the way that are used in this study to take the data. The result of this study explains that first of all, children beggar realize that their orientation of their profession or job is a thing that shouldn’t be discussed a long. It is showed that children beggar choose their profession or job as beggar because it has been becoming culture among their family. Secondly, children beggar are happy to get money by begging to buy what they want. The difficulties of economic, working ethos, and family’s  incapablelity to pay children’s school payment that make children becomes beggar whereas it is a part of dialectic process Peter L Berger. Thirdly, materialism orientation toward children beggar is a thing that should be gotten by begging, because this job is an easiest job to do, so that the materialism orientation is becoming the second after knowledge.Keyword: Construction of awareness, Profession and materialism, Child beggars  
ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA FILM RUDY HABIBIE Anjana, Fika; Babul Bahrudin
Madani : Journal of Social Sciences and Social Science Education Vol. 1 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/rr1fbp95

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis nilai pendidikan karakter dalam Film Rudy Habibie sutradara Hanung Bramantyo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, artinya yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk deskripsi, dan hasil penelitian lebih menekankan kepada makna dari pada angka-angka, peneliti menggunakan Film Rudy Habibie yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo sebagai sumber data yang digunakan. Hasil Penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, terdapat nilai pendidikan karakter di dalam Film Rudy Habibie meliputi nilai religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan dan nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, kounikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab dapat dijadikan pedoman bagi guru maupun peserta didik untuk bersikap baik dalam menjalankan kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai karakter yang ada.
PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X DI SMA NEGERI 1 PAITON Anjana, Fika; Uswatun Hasanah
Madani : Journal of Social Sciences and Social Science Education Vol. 1 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/b7nzve15

Abstract

The title of this research is "The Role of Teachers in Improving "Students' Learning Motivation in Class X Sociology Subjects at Paiton 1 Public High School". The aim of this research is to understand the role of teachers as motivators, directors and facilitators in fostering students' learning motivation in class X sociology subjects at SMA Negeri 1 Paiton. The method in this research is a qualitative method with descriptive analysis. The techniques used to obtain data in this research are observation, interviews and documentation. The subject of this research is one of the sociology teachers, namely Mr. Romdan Naufal Muttaqin and 6 class X students of SMA Negeri 1 Paiton who have low motivation Study. From the research results it can be concluded that the role of the teacher is: (1) As motivation, teachers motivate students to study hard and give warnings to students. (2) the teacher as a director has the responsibility to discipline students so they can study well in class, monitor and control students behave so that they do not break the rules in class. (3) teacher as facilitator has the responsibility to provide facilities for students, such as media in the teaching and learning process.
Analisis Perbedaan Strategi Mengajar Guru Generasi Milenial dan Generasi Z Silviyana, Silviyana; Bahrudin, Babul; Anjana, Fika
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 5 No. 7 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v5.i7.2025.10

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena perbedaan strategi mengajar antara guru generasi milenial dan guru generasi z yang berdampak pada kualitas pelajaran. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis perbedaan strategi mengajar antara guru generasi milenial dan generasi Z serta memahami perspektif siswa terhadap perbedaan tersebut di salah satu SMP. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari guru generasi milenial dan generasi z, siswa dan kepala sekolah. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi data/penarikan kesimpulan, untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan 1) adanya perbedaan yang signifikan, di mana guru generasi milenial lebih adaptif, aktif, kreatif, dan inovatif dalam menerapkan metode, media, dan teknologi pembelajaran. Sebaliknya, guru generasi z cenderung menggunakan strategi konvensional dan minim dalam penggunaan teknologi. 2) Siswa menunjukkan respons lebih positif terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru generasi milenial, baik dari segi pemahaman materi, gaya mengajar, antusiasme, maupun keterlibatan dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi dalam penelitian ini yaitu sekolah perlu memberikan pelatihan berkelanjutan bagi seluruh guru lintas generasi guna memperkuat strategi pembelajaran yang kontekstual, efektif dan relevan dengan kebutuhan siswa saat ini.
Revitalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Ludruk melalui Pembelajaran IPS Berbasis Literasi Budaya Pada Siswa SMP Anjana, Fika; Winarsih, Nining
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 8, No 3 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v8i3.33707

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the values of local wisdom in the Ludruk tradition and their application in cultural literacy-based social studies learning. The research used a qualitative approach with a case study. Data were obtained through observation, interviews, and documentation, then analyzed using source triangulation and reduced for categorization. The results indicate that the values of local wisdom in ludruk include (1) the value of mutual cooperation manifested through group cooperation activities when acting out roles, (2) the value of spirituality reflected in moral messages with religious nuances, (3) the value of tolerance through the depiction of characters from various backgrounds, and (4) the value of peace through kidungan containing humorous verses and songs with a peaceful rhythm. Implementation in social studies learning is carried out through three approaches: learning about ludruk, learning with ludruk as a medium, and learning through ludruk to build character. This research contributes to strengthening cultural literacy and character formation in junior high school students.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Ludruk serta penerapannya di dalam pembelajaran IPS berbasis literasi budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan triangulasi sumber serta direduksi untuk dikategorisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal dalam ludruk meliputi (1) nilai gotong royong yang dimanifestasikan melalui kegiatan kerjasama kelompok saat memerankan peran, (2) nilai spiritualitas yang tercermin dari pesan moral bernuansa keagamaan, (3) nilai toleransi melalui penggambaran tokoh dari berbagai latar belakang, serta (4) nilai cinta damai melalui kidungan berisi syair jenaka dan tembang berirama kedamaian. Implementasi dalam pembelajaran IPS dilakukan melalui tiga pendekatan: belajar tentang ludruk, belajar dengan ludruk sebagai media, dan belajar melalui ludruk untuk membangun karakter. Penelitian memberikan kontribusi pada penguatan literasi budaya dan pembentukan karakter siswa SMP.
ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS DI SMP DARUL LUGHAH WAL KAROMAH Anjana, Fika; Bahrudin, Babul
Social Landscape Journal Vol 5, No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/slj.v5i2.62452

Abstract

This research aims to analyze students' learning difficulties in terms of learning styles in social studies subjects at Darul Lughah Wal Karomah. Descriptive qualitative is used to determine the paradigm of this research. Interview, observation and documentation are the methods used in this research to collect data. The results of this study explain that: The visual learning style dominates among other learning styles with a percentage of 56.6%, and it is followed by the kinesthetic learning style at 33.3%, and the auditory learning style at 10%. The visual learning style can be seen in students with concrete evidence that must be shown firstly so it can make students understand in lesson. The characteristics of students who have a visual learning style are a high need to see and capture information visually before they understand it. The auditory learning style can be seen from students who are able to become fluent speakers, like to discuss things and explain things at length. Students with this type of learning style are easily distracted by noise and are weak in visual activities. The kinesthetic learning style can be seen in students who find it difficult to sit still for hours because of their desire for activity and exploration.
Peran Guru IPS dalam Menginternalisasikan Nilai-Nilai Multikulturalisme pada Siswa SMP Hakim, Faisol; Bahrudin, Babul; Anjana, Fika
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 8, No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v8i4.35028

Abstract

Abstract: Indonesia is a multicultural country with diverse ethnicities, religions, cultures, and languages that serve as both a source of richness and a potential source of conflict if not properly managed. Education plays an important role in internalizing the values of multiculturalism. This study aims to analyze the role of social studies (IPS) teachers in internalizing multicultural values and their implementation in students’ social interactions at SMP Negeri 1 Kraksaan. The focus of the research lies on three aspects of the teacher’s role exemplary behavior, teaching and learning activities, and habituation and four dimensions of multicultural values: tolerance, democracy, equality, and pluralism. The study employs a qualitative approach with a case study design, chosen to explore the meanings, experiences, and actions of teachers and students in a contextual manner. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The informants consisted of the principal, social studies teachers, and students selected through purposive sampling. Data analysis followed the Miles and Huberman model, which includes data collection, data condensation, data display, and conclusion drawing. Data validity was tested through source, method, and theoretical triangulation. Albert Bandura’s social learning theory served as the analytical foundation. The results show that social studies teachers play an active role in instilling the values of tolerance, democracy, equality, and pluralism through exemplary conduct, the application of inclusive learning strategies, and the habituation of mutual respect. These findings confirm Albert Bandura’s social learning theory, emphasizing that observation and modeling are essential mechanisms in shaping students’ multicultural behavior. Students learn by imitating teachers who demonstrate fairness, openness, and respect for differences. This study contributes to the development of multicultural-based social studies learning practices by highlighting the teacher’s role as a social agent and model of multicultural behavior who fosters an inclusive learning climate, strengthens tolerant attitudes, and cultivates awareness of diversity in schools.Abstrak: Indonesia merupakan negara multikultural dengan beragam suku, agama, budaya, dan bahasa yang menjadi kekayaan sekaligus potensi konflik jika tidak dikelola dengan baik. Pendidikan berperan penting dalam menginternalisasikan nilai multikulturalisme. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran guru IPS dalam menginternalisasikan nilai-nilai multikulturalisme serta implementasinya dalam interaksi sosial siswa di SMP Negeri 1 Kraksaan. Fokus penelitian ini pada tiga aspek peran guru: keteladanan, KBM, pembiasaan dan empat dimensi nilai multikulturalisme: toleransi, demokrasi, kesetaraan, dan pluralisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk menggali makna, pengalaman, serta tindakan guru dan siswa secara kontekstual. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumentasi. Informan terdiri dari kepala sekolah, guru IPS, dan siswa yang dipilih secara purposive. Analisi data menngunakan Miles dan Huberman, yang mencakup pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Teori belajar social Albert Bandura sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru IPS berperan aktif dalam menanamkan nilai toleransi, demokrasi, kesetaraan, dan pluralisme melalui aspek keteladanan, penerapan strategi pembelajaran inklusif, dan pembiasaan sikap saling menghargai. Temuan ini mengonfirmasi teori belajar sosial Albert Bandura, bahwa proses observasi dan modeling merupakan mekanisme penting dalam pembentukan perilaku multikultural siswa. Siswa belajar meniru perilaku guru yang menunjukkan keadilan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan praktik pembelajaran IPS berbasis multikulturalisme, dengan menegaskan bahwa guru berperan sebagai agen sosial dan model perilaku multikultural yang mampu membentuk iklim belajar inklusif, memperkuat sikap toleran, dan menumbuhkan kesadaran kebinekaan di sekolah.