Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ANALISIS PENAMPANG RESISTIVITAS 2D METODE MAGNETOTELLURIK DAN AUDIO-MAGNETOTELLURIK UNTUK MENGETAHUI SISTEM PETROLEUM PADA CEKUNGAN SINGKAWANG Rizky Kurniawan; Nanang Dwi Ardi; Hidayat Hidayat
Wahana Fisika Vol 4, No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i2.21869

Abstract

Indonesia memiliki cadangan minyak bumi potensial yang cukup banyak, salah satunya terdapat pada Pulau Kalimantan. Pada bagain barat pulau ini memiliki cekungan besar, yakni Cekungan Melawi dan Cekungan Ketungau. Kedua cekungan ini diperkirakan berumur pra-tersier. Tetapi, kedua cekungan ini tidak memiliki potensi ekonomis untuk migas konvensional, dan diperkirakan ada satu cekungan lain yang beumur sama dengan kedua cekungan ini. Cekungan ini dikenal sebagai Cekungan Singkawang. Cekungan ini diperkirakan memiliki sistem petroleum yang tersusun dari formasi Batupasir Kayan, Formasi Pendawan, Formasi Brandung, Kelompok Bengkayang serta Formasi Seminis. Untuk menganalisis struktur ini, digunakan metode magnetotellurik dan audio-magnetotellurik yang memanfaatkan medan elektomagnetik alam. Data yang diperoleh dari kedua metode ini masing-masing terdiri dari 14 titik dengan 2 lintasan. Lintasan pertama terdiri dari 10 stasiun pengukuran dan lintasan kedua dengan 5 titik pengukuran. Data ini merupakan data yang didapatkan dari rentang frekuensi 320 – 0,00034 Hz  untuk metode magnetotellurik dan 3,3 – 10400 Hz untuk metode audio-magnetotellurik. Berdasarkan kedua metode ini, diperoleh lapisan dengan nilai resistivitas dengan rentang 4 – 54 Ωm yang diperkirakan sebagai Kelompok Bengakayang yang berpotensi sebagai batuan sumber (source rock). Sedangkan lapisan dengan nilai resistivitas 119 – 437 Ωm  diperkirakan sebagai Vulkanik Raya dan 1611 – 3532 Ωm sebagai Granodiorit Mensibau. Kedua formasi ini diperkirakan sebagai batuan reservoir (reservoir rock), meskipun untuk penentuan jenis batuan ini sebagai batuan reservoir harus diteliti lebih lanjut lagi.Indonesia has lot of potential of reserved crude oil, one of the region has a lot reserved is Borneo Island. In this island, there are two huge basin located in the west, there are Melawi Basin and Ketungau Basin. Both of the basin approximately pre-tertiary aged. But both of the basin has not economic potential for conventional oil and gas, and probably there is other basin that has similar age with these basin. The name of the basin is Singkawang Basin. This basin predicted has petroleum system consists of Batupasir Kayan, Formasi Pedawan, Formasi Brandung, Kelompok Bengkayang, and Formasi Seminis. Magnetotelluric and audio-magnetotelluric method use to analyze this system. These method using natural electromagnetic field. Data obtained from this measurement consists of 14 measuring station with 2 line. First line consist 10 measuring station and second one consist 5 measuring station. This data also obtained from frequency range 320 – 0,00034 Hz for magnetotelluric method and 3,3 - 10400 Hz for audio-magnetotelluric method. Based these result, show that structure with resistivity value beetwen 4 – 54 Ωm predicted as Kelompok Bengkayang potentially to be source rock, while the layer with resistivity 19 – 437 Ωm predicted as Vulkanik Raya and 1611 – 3532 Ωm predicted as Granodiorit Mensibau. Both of the formation potentially as reservoir rock, although to determine the information of this formation as reservoir rock must be researched further.Keywords:  Petroleum system; Singkawang Basin; Magnetotellurics; and Audio-magnetotellurics 
Analisis Sebaran Mineral Logam Pada Sedimentasi Batuan Di Daerah Kertajadi, Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Menggunakan Metoda Geomagnet Rajab Basuki; Nanang Dwi Ardi; Mimin Iryanti
Wahana Fisika Vol 2, No 1 (2017): JUNI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v2i1.7019

Abstract

Cidaun merupakan salah satu daerah pesisir pantai selatan yang terletak pada Kabupaten Cinajur Provinsi Jawa Barat. Salah satu kelebihan dari daerah pesisir pantai selatan Pulau Jawa adalah terdapat banyaknya mineral logam penghasil besi yang tersebar luas di sepanjang pesisir pantai. Oleh karena itu dilakukanlah eksplorasi untuk memetakan sebaran mineral logam yang ada di daerah Cidaun. Dalam melakukan eksplorasi mineral logam dibutuhkan suatu metode yang paling efektif yaitu eksplorasi geofisika dengan menggunakan metode geomagnet. Proses pengolahan data pada metode geomagnet dilakukan dengan menghitung nilai anomali magnetik dari medan magnetik total yang telah dilakukan koreksi terhadap koreksi harian dan koreksi IGRF. Kemudian dengan metode inversi data yang telah didapat dijadikan sebuah model. Selain itu dilakukan juga interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif. Interperetasi kualitatif dilakukan pada data yang telah dimodelkan menggunakan software surfer 11, apabila data tersebut terdapat anomali magnetik bernilai sangat tinggi yang berdekatan dengan nilai anomali magnetik bernilai rendah atau perubahan nilai anomali terjadi secara signifikan kemudian dilakukan proses interpretasi secara kuantitatif. Interpretasi kuantitatif pada penelitian ini dengan dilakukan deliniasi berupa proses sayatan pada perbedaan nilai anomali magnetik yang terjadi perubahan secara signifikan. Tahap selanjutnya data dari proses sayatan tersebut kemudian dilakukanlah pemodelan menggunakan software mag2dc untuk mengetahui sebaran mineral logam dapa daerah tersebut. Berdasarkan data yang telah diolah pada daerah Kertajadi, Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dengan koordinat 698283 easting - 757162 easting dan 9180169 northing - 9171050 northing memiliki rentang nilai anomali magnetik -5 nT – 145 nT. Sedangkan nilai anomali magnetik pada daerah yang telah dilakukan proses sayatan memiliki rentang nilai 84.18 nT - 119.69 nT dengan nilai susptibilitas -0.041000 – 0.050001. Dari rentang nilai suseptibilitas tersebut diduga sebaran mineral yang yang memiliki nilai suseptibilitas positif merupakan bijih besi sedangkan yang bernilai negatif merupakan lempung dan endapan pasir. Dari hasil dari penelitian ini diharapkan data tersebut dapat dijadikan informasi dan referensi bagi masyarakat, peneliti lain dan pengusaha tambang dalam eksplorasi mineral logam.Cidaun is one of the coastal areas of the southern coast located in the district of West Java province Cinajur. One of the advantages of the southern coastal areas of Java is that there are many ferrous metal mineral producer widespread along the coast. Therefore, the exploration was undertaken to map the distribution of metallic minerals in the area Cidaun. In conducting metal mineral exploration required a most effective method is a geophysical exploration using geomagnetic methods. Data processing on geomagnetic method is done by calculating the value of the magnetic anomalies of the total magnetic field has a daily correction of correction and correction IGRF. Then, with the inversion method of data has been obtained serve as a model. The researcher also interpretation of qualitative and quantitative interpretation. Qualitative Interperetasi performed on the data that has been modeled using software surfer 11, when the inputs are very high-value magnetic anomalies adjacent to the value of the magnetic anomalies of low value or change in value of the anomaly occurred significantly later performed quantitative interpretation process. Quantitative interpretation in this study conducted a process of delineation of the incision on the difference in magnetic anomaly change significantly. The next stage of the data are then perform the incision process modeling using software mag2dc to determine the distribution of metallic minerals onshore areas. Based on the data that has been processed in the region Kertajadi, Cidaun, Cianjur, West Java coordinate 698283 easting - 757162 easting and 9180169 northing - 917105 northing and has a value range of magnetic anomaly -5 nT - 145 nT. While the value of magnetic anomalies in the area that has been carried out the process of incisions have a range of values 84.18 nT - 119.69 nT with susptibilitas value -0.041000 - 0.050001. Of the value range susceptibility is suspected distribution of minerals that have a positive susceptibility value is the iron ore which is negative while the clay and sand deposits. From the results of this study are expected data can be made of information and reference for the community, other researchers and mining company in mineral exploration.
Identifikasi Tingkat Aktivitas Gunung Guntur Periode Oktober -November 2015 Berdasarkan Analisis Spektral Dan Sebaran Hiposenter - Episenter Gempa Vulkanik Ria Sulistiawan; Nanang Dwi Ardi; Hetty Triastuty
Wahana Fisika Vol 1, No 1 (2016): Juni
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v1i1.4533

Abstract

Kompleks Gunung Guntur (G.Guntur) merupakan salah satu gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kompleks ini terdiri atas beberapa kerucut, salah satunya yaitu Gunung Masigit (2249m) yang merupakan kerucut tertinggi. Sampai pada tahun ini masih terekam aktivitas kegempaan dibawah G.Guntur, sehingga dilakukan pemantauan secara kontinyu di pos PGA untuk mengetahui aktivitas G.Guntur. Metode pemantauan seismik saat ini merupakan metode pemantauan yang dominan digunakan dalam pemantauan gunung api. Maka dari itu dilakukan penelitian terhadap kegempaan pada G.Guntur periode Oktober sampai November 2015, berdasarkan analisis spektral dan analisis sebaran hiposenter-episenter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe gempa, sebaran hiposenter-episenter dan tingkat aktivitas kegempaan G.Guntur. Sinyal gempa diperoleh dari 5 stasiun yaitu stasiun Citiis, Masigit, Sodong, Legokpulus, dan stasiun Kabuyutan. Melalui parameter hiposenter-episenter serta kandungan frekuensi dan jumlah event gempa yang digunakan dalam upaya memonitoring gunungapi untuk mengetahui aktivitas gunungapi. Analisis spektral didapatkan nilai frekuensi cut off dari gempa vulkanik untuk mengidentifikasi penyebab aktivitas gempa tersebut. Analisis hiposenter serta episenter  dilakukan untuk mengetahui tipe gempa dan juga sebaran hiposenter-episenternya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan  terhadap analisis tingkat  aktivitas kegempaan G.Guntur hasil yang diperoleh yaitu seismisitas kegempaan pada G.Guntur masih di dominasi oleh gempa Vulkanik Dangkal dan Vulkanik Dalam. Tingkat aktivitas G.Guntur yang teridentifikasi ditandai dengan terjadinya peningkatan jumlah event dibawah 4 kali dalam sehari yang diakibatkan oleh migrasi magma, dan  pendangkalan gempa vulkanik dari periode Oktober ke November, secara umum aktivitas  gempa vulkanik G.Guntur  ini tidak memicu perubahan signifikan dan tergolong  aktivitas yang normal. Sehingga untuk status level bahaya G.Guntur masih berada pada level 1 (normal).
Rekontruksi Set Alat Praktikum Geolistrik pada Matakuliah Eksplorasi Geofisika di Departemen Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia Cahyo Puji Asmoro; Hana Susanti; Nanang Dwi Ardi
Wahana Fisika Vol 5, No 2 (2020): December
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v5i2.28765

Abstract

Praktikum Metode Geolistrik bertujuan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan. Metode tersebut dengan menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi melalui dua buah elektoda arus. Beda potensial yang terjadi diukur melalui dua buah elektroda potensial, dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda tertentu, dapat ditentukan variasi harga tahanan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur.  Praktikum Metode Geolistrik merupakan salah satu pembelajaran pada mata kuliah Ekspolarasi Geofisika di Departemen Pendidikan Fisika, dari hasil pengamatan dan diskusi dengan praktikan di ketahui bahwa bentuk elektroda menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengambilan data sehingga praktikum berjalan kurang efektif dan efisien. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konstruksi ideal set alat geolistrik pada bagian elektroda, agar memperoleh data yang akurat terkait nilai tahanan jenis masing-masing lapisan bawah tanah dan mudah serta aman dalam penggunaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data berdasarkan eksperimen, untuk menganalisis elektroda secara desain akan dilakukan dari segi pengunaan dan berat dari elektroda sedangkan fungsi akan dilakukan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger dengan menggunakan elektroda lama dan elektroda baru pada 2 lokasi dengan jenis lahan yang berbeda. Pengolahan data menunjukkan konstruksi Elektroda Baru memiliki kemampuan untuk pengambilan data yang lebih efektif dan efisien secara desain maupun fungsi sehingga bisa digunakan untuk Praktikum Metode Geolistrik.Kata Kunci : Geolistrik; Elektroda; Resistivitas
Landslide susceptibility mapping based on K-Means and Self-Organizing Map clustering with Geographic Information System in Tasikmalaya, West Java Iryanti, Mimin; Ardi, Nanang Dwi; Nurjanah, Riska Siti
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2026.131.9355

Abstract

Landslides are one of the most frequent natural disasters in Indonesia, primarily caused by complex topographic conditions, high rainfall intensity, and extensive land use changes. This study aimed to map landslide-susceptibility areas in Tasikmalaya Regency, West Java, using the K-Means Clustering and Self-Organizing Map (SOM) methods, visualized through a Geographic Information Systems (GIS). The data utilized include Landsat 8 satellite imagery for calculating the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Normalized Difference Built-up Index (NDBI) indices, elevation and slope data derived from Digital Elevation Model (DEM), and 2024 rainfall data from the Indonesian Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG). Each variable was classified into five categories based on gridcode values to facilitate spatial analysis. The clustering results revealed two main groups, with the first cluster showing higher landslide potential due to a combination of steep slopes, moderate rainfall, and a high level of urban development. This cluster recorded a Silhouette Coefficient value of 0.75, indicating a high level of landslide vulnerability. In contrast, the other cluster represented more stable terrain, with a Silhouette Coefficient of 0.72. This study is expected to serve as a reference for developing disaster risk-based spatial planning and mitigation strategies.
Empowering Physics Teachers in Indonesia through DELIVER: A Community-Based Approach to Reduce Student Misconceptions Samsudin, Achmad; Iqbal, Nur Habib Muhammad; Fratiwi, Nuzulira Janeusse; Nurdini, Nurdini; Ardi, Nanang Dwi; Suhandi, Andi
Smart Society Vol. 5 No. 2 (2025): Smart Society
Publisher : FOUNDAE (Foundation of Advanced Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/smartsociety.v5i2.843

Abstract

Student misconceptions in physics remain a persistent barrier to meaningful learning, often overlooked due to limited teacher training in diagnosis and conceptual remediation. This community service program aimed to enhance the pedagogical capacity of physics teachers in addressing student misconceptions through the DELIVER (Deep Learning-Integrated Verbal Refutation) approach. Implemented using a Community-Based Participatory Research (CBPR) framework, the program involved 237 teachers from various regions in Indonesia, with 69 completing both pre- and post-tests. The training covered deep learning concepts, identification of misconceptions, and practical development of refutation texts. Results indicated significant improvement with normalized gain scores exceeding 0.7 in all concept categories. In addition to cognitive gains, teachers demonstrated reflective shifts in pedagogical awareness regarding the role of misconceptions in learning. A total of 94.12% of participants reported enhanced understanding, and 82.35% expressed readiness to implement the DELIVER approach. In conclusion, the DELIVER approach effectively empowers physics teachers in Indonesia to identify and address student misconceptions, offering a scalable model for professional development in physics and science education. This program contributes to the field by offering a scalable and research-informed model for teacher professional development focused on conceptual change in science education.