Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Marriage Is Scary? Perhatikan Intensitas Penggunaan Medsos dan Self-Compassion pada Dewasa Awal Alfhani Pradita Nurrahmah; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The "Marriage is Scary" phenomenon, widely discussed on social media, reflects a growing level of premarital anxiety among emerging adults. This anxiety is often triggered by excessive exposure to negative content about marriage and unrealistic social expectations formed through social media. On the other hand, a person’s ability to treat themselves kindly (self-compassion) can help reduce this anxiety. This study aims to examine the relationship between the intensity of social media use and self-compassion with premarital anxiety in emerging adults. Using a quantitative correlational method, this research involved 373 participants. The instruments used were the Premarital Anxiety Scale, the Social Media Use Intensity Scale, and the Self-Compassion Scale each developed based on relevant theoretical frameworks. The results showed a significant relationship between social media use intensity and self- compassion with premarital anxiety. The higher the intensity of social media use, the higher the level of premarital anxiety; conversely, the higher the self- compassion, the lower the anxiety experienced. These findings highlight the importance of media literacy, so individuals can filter out negative content, and the development of self-compassion as a strategy to manage premarital anxiety. This approach may help emerging adults deal with social pressures and complex expectations around marriage in a healthier and more realistic way. Keywords: emerging adulthood, premarital anxiety, self-compassion, social media, social media use intensity. Fenomena "Marriage is Scary" yang ramai dibicarakan di media sosial mencerminkan meningkatnya kecemasan pra-nikah di kalangan dewasa awal. Kecemasan ini sering kali dipengaruhi oleh paparan berlebih terhadap konten negatif tentang pernikahan dan ekspektasi sosial yang dibentuk melalui media sosial. Di sisi lain, kemampuan individu untuk bersikap baik pada diri sendiri (self-compassion) berpotensi menurunkan tingkat kecemasan yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan self- compassion dengan kecemasan pra-nikah pada individu dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan sebanyak 373 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecemasan pra-nikah, skala intensitas penggunaan media sosial, dan skala self-compassion yang disusun berdasarkan teori relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan self-compassion dengan kecemasan pra- nikah. Semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, maka semakin tinggi tingkat kecemasan pra-nikah; sebaliknya, semakin tinggi self- compassion, maka semakin rendah kecemasan yang dirasakan. Hasil ini memberikan implikasi pada pentingnya literasi media sosial agar individu dapat menyaring konten negatif dan pengembangan self-compassion sebagai strategi untuk mengelola kecemasan pra- nikah. Pendekatan ini dapat membantu dewasa awal menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi yang kompleks terkait pernikahan dengan lebih sehat dan realistis. Kata kunci: intensitas penggunaan media sosial, kecemasan pra-nikah, masa dewasa awal, media sosial, self-compassion
Achievement Pressure dan Academic Dishonesty: Moderasi oleh Tingkat Religiusitas Mahasiswa Christy Maharani Mamuko; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Academic dishonesty behavior is one form of ethical violation in the world of education that is increasingly common among students. This study aims to determine the effect of achievement pressure on academic dishonesty, as well as the role of religiosity as a moderating variable in this relationship. This study uses a quantitative approach with a correlational method. The subjects in this study were 350 active students domiciled in Surabaya. The results of the study showed that there was a positive and significant effect between achievement pressure on academic dishonesty behavior (β = 0.74697; p < 0.001). Meanwhile, religiosity had a negative and significant effect on academic dishonesty (β = -0.18762; p < 0.001), which means that the higher the religiosity, the lower the tendency to commit academic fraud. However, the results of the interaction analysis showed that religiosity did not moderate the relationship between achievement pressure and academic dishonesty (β = -0.000159; p = 0.608). Keywords: Academic Dishonesty; Achievement Pressure; Religiosity Perilaku ketidakjujuran akademik (Academic Dishonesty) merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika dalam dunia pendidikan yang semakin sering terjadi di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengauh antara tekanan prestasi (Achievement Pressure) terhadap ketidakjujuran akademik (Academic Dishonesty), serta peran religiusitas sebagai variabel yang memoderasi hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 350 mahasiswa aktif yang berdomisili di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tekanan prestasi terhadap perilaku ketidakjujuran akademik (β = 0,74697; p < 0,001). Sementara itu, religiusitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketidakjujuran akademik (β = -0,18762; p < 0,001), yang berarti semakin tinggi religiusitas, semakin rendah kecenderungan untuk melakukan kecurangan akademik. Namun, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa religiusitas tidak memoderasi hubungan antara tekanan prestasi dan Academic Dishonesty (β = -0,000159; p = 0,608). Kata kunci: Academic Dishonesty; Achievement Pressure; Religiusitas