Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Peran Dukungan Orang Tua dan School Well-Being dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Vanny Dwi Hermawati; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the relationship between parental support and school well-being with students' learning motivation. The subjects of this research were students of SMP Negeri 17 Surabaya, with a total population of 883 students. A sample of 125 students was selected using purposive sampling technique. The data were initially analyzed using multiple linear regression, which was later adjusted to the Spearman Rho method. The findings revealed that both parental support and school well-being simultaneously have a significant relationship with students' learning motivation. Furthermore, each independent variable also demonstrated a significant partial correlation with the dependent variable. The implications of this research highlight the essential role of emotional support and a positive school environment in fostering students' academic development. Keywords: Learning Motivation, Parental Support, School Well-Being Abstrak Kajian memiliki tujuan guna mencari tahu hubungan antara dukungan orang tua dan school well-being dengan motivasi belajar siswa. Subjek pada kajian ini adalah siswa SMP Negeri 17 Surabaya dengan jumlah populasi 883 siswa dan sampel sebanyak 125 siswa yang dipilih mengenakan teknik purposive sampling. Teknik analisis yang dikenakan yaitu regresi linear berganda, kemudian beralih menjadi Spearman Rho. Luaran kajian membuktikan bahwa dukungan orang tua dan school well-being secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi belajar, dan secara parsial tiap-tiap variabel bebas juga menunjukkan hasil signifikan. Implikasi dari kajian ini menekankan pentingnya dukungan emosional dan lingkungan dalam perkembangan akademik siswa. Kata Kunci: Dukungan Orang Tua, Motivasi Belajar, School Well-Being
Peran Dukungan Sosial dan Resiliensi dalam Meningkatkan Psychological Well-Being pada Dewasa Awal Mutiara Setya Putri Basuki; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The early stages of adulthood are marked by changes characterised by demands and challenges, which have the potential to affect an individual's psychological well-being. This present study was conducted to examine the relationship between social support and resilience and psychological well-being in individuals in the early adulthood age range. This study employed a quantitative approach using a correlational design. A total of 306 young adults residing in Surabaya were selected using purposive sampling. Data were collected through the distribution of a Likert-scale questionnaire to measure social support, resilience, and psychological well-being. This study analysed the data using Spearman's correlation. The findings revealed a significant positive relationship between social support and resilience with psychological well-being. This present study offers a contribution to enriching the understanding of the role of internal and external factors in shaping psychological well-being, particularly during the early adulthood phase. Keywords: Early Adulthood; Psychological Well-Being; Resilience; Social Support Abstrak Tahap awal kedewasaan ditandai oleh perubahan yang diwarnai oleh tuntutan hingga tantangan, yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini dilakukan guna mengkaji adanya hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi dengan psychological well-being pada individu rentang usia dewasa awal. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan dalam studi ini. Sebanyak 306 partisipan dewasa awal yang berdomisili di Surabaya dengan teknik purposive sampling. Perolehan data dilaksanakan dengan menyebarkan kuesioner berbasis skala Likert untuk mengukur dukungan sosial, resiliensi, serta psychological well-being. Penelitian ini menganalisis data menggunakan korelasi Spearman. Temuan menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan resiliensi dengan psychological well-being. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya pemahaman mengenai peran faktor internal dan eksternal dalam membangun psychological well-being, khususnya bagi fase dewasa awal. Kata kunci: Dewasa awal; Dukungan Sosial: Psychological Well-Being; Resiliensi
Strengthening The Psychosocial Support of The Elderly Through Empathic Communication Training for Young Volunteers at The KG Elderly Home, Kediri Regency Laelatul Fitriya; Herlan Pratikto; Tatik Imadatus Sa’adati
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 2026
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v5i1.1013

Abstract

The elderly population in Indonesia has experienced a significant increase that has complex consequences for psychosocial well-being, especially for the displaced elderly who experience disconnection from family relationships and lack of emotional support. This study aims to analyze the effectiveness of empathic communication training for young volunteers in improving psychosocial support for the abandoned elderly at the KG Elderly House, Kediri Regency.  Data collection was carried out through naturalistic observation for one week, semi-structured interviews, and Focus Group Discussions involving the elderly, young volunteers, administrators, and active volunteers. The results of the study showed that the elderly experienced loneliness, prolonged sadness, social withdrawal, and difficulty achieving ego integrity which was aggravated by the limitations of psychosocial support. Empathetic communication training for 18 young volunteers was shown to improve the quality of emotional interaction, social engagement of the elderly, and feelings of being valued and cared for. The findings integrate Erikson's theory of psychosocial development,  Lazarus and Folkman's theory of stress and coping stress  , and Bronfenbrenner's theory of ecology in understanding problems holistically. This study recommends the development of sustainable psychosocial mentoring programs, strengthening the capacity of volunteers, and cross-sectoral collaboration to improve the welfare of the marginalized elderly.
Kecemasan Kerja pada Pekerja Berperforma Tinggi: Studi Kasus Berbasis Job Demands-Resources Model Dina Trysanti; Herlan Pratikto
Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v3i2.5428

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena pekerja yang menunjukkan kinerja tinggi namun berada dalam kondisi kerentanan psikologis, khususnya kecemasan kerja, dengan menggunakan Model Job Demands–Resources (JDR) sebagai kerangka analisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap seorang karyawan laki-laki dewasa yang bekerja pada posisi manajerial. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi perilaku, serta asesmen psikologis menggunakan beberapa instrumen, yaitu Depression Anxiety Stress Scale (DASS), Sixteen Personality Factor Questionnaire (16PF), dan asesmen proyektif grafis. Hasil asesmen menunjukkan bahwa adanya ketegangan emosional dan kerentanan psikologis pada pada subjek, namun subjek tetap mampu mempertahankan produktivitas, tanggung jawab, dan komitmen kerja yang tinggi meskipun mengalami kecemasan kerja. Tuntutan pekerjaan yang berlebihan, seperti ketidakjelasan peran, peningkatan beban kerja, serta minimnya arahan dan umpan balik dari atasan, berkontribusi signifikan terhadap munculnya kecemasan kerja. Karakteristik kepribadian berupa tanggung jawab tinggi, etos kerja kuat, dan kegigihan berperan sebagai sumber daya personal yang membantu menjaga kinerja,Intervensi yang diberikan menggunakan pendekatan kognitif dalam bentuk konseling singkat yang dikombinasikan dengan psikoedukasi, dengan fokus pada klarifikasi peran kerja, restrukturisasi kognitif, dan manajemen stres. Evaluasi pascaintervensi menunjukkan adanya penurunan kecemasan dan peningkatan regulasi emosi, meskipun tuntutan pekerjaan secara struktural belum banyak berubah. Temuan ini mendukung asumsi Model JDR bahwa ketidakseimbangan antara tuntutan kerja dan sumber daya dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis pekerja meskipun kinerja  tetap terjaga
Leisure Boredom dan Kecenderungan Kecanduan Media Sosial Tik Tok pada Gen Z Sofi Pappa; Herlan Pratikto; Akta Ririn Aristawati
PSIMPHONI Vol. 5 No. 2 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/psimphoni.v5i2.23620

Abstract

This study aims to analyze the relationship between leisure boredom and the tendency of social media addiction to TikTok among Generation Z. This research employs a quantitative approach using a correlational method. The sampling technique used is purposive sampling, with a total of 120 participants from Generation Z. Measurements were conducted using the TikTok social media addiction scale and the leisure boredom scale. The data analysis results using Product Moment correlation indicate a significant and strong relationship between leisure boredom and the tendency for TikTok social media addiction among Generation Z. These findings suggest that the higher the level of leisure boredom, the greater the tendency for individuals to develop social media addiction to TikTok. Based on these findings, it is recommended that Generation Z engage in more diverse and meaningful activities during their leisure time to reduce the risk of social media addiction. Additionally, parents, educators, and relevant stakeholders should provide education on time management and healthy social media usage. Future research can explore other contributing factors to social media addiction, such as self-regulation and social support, to gain a more comprehensive understanding of the issue.
Regulasi Emosi dan Agresivitas Verbal pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial X Ica Anggira Afrilia; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the association between emotion regulation and verbal aggressiveness among university students who use X as a social media platform. The open, fast-paced, and relatively anonymous nature of X may facilitate impulsive emotional responses and verbal aggression. A quantitative correlational design was employed, involving students who actively use X. Data were collected using a verbal aggressiveness scale based on Infante and Wigley’s framework and an emotion regulation scale grounded in Gratz and Roemer’s model. Correlation analysis was conducted after statistical assumptions were met. The findings indicate a significant negative association between emotion regulation and verbal aggressiveness, suggesting that students with better emotion regulation tend to display lower levels of verbal aggression. However, the relationship strength was weak, implying that verbal aggressiveness on social media is also influenced by other factors, including platform characteristics and anonymity. These results highlight the role of emotion regulation in reducing verbal aggressiveness, although it is not the sole contributing factor. Keywords: Verbal Agresiveness, Emotional Regulation, X Penelitian ini mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan agresivitas verbal pada mahasiswa pengguna media sosial X. Karakteristik X yang terbuka, cepat, dan relatif anonim berpotensi memicu respons emosional impulsif dan agresivitas verbal. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan partisipan mahasiswa pengguna aktif X. Data dikumpulkan menggunakan skala agresivitas verbal berbasis teori Infante dan Wigley serta skala regulasi emosi berdasarkan model Gratz dan Roemer. Analisis dilakukan melalui korelasi setelah uji prasyarat statistik terpenuhi. Hasil menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara regulasi emosi dan agresivitas verbal, di mana regulasi emosi yang lebih baik berkaitan dengan tingkat agresivitas verbal yang lebih rendah. Namun, kekuatan hubungan tergolong lemah, menunjukkan bahwa agresivitas verbal juga dipengaruhi faktor lain, seperti karakteristik platform dan anonimitas. Temuan ini menegaskan peran regulasi emosi dalam menekan agresivitas verbal, meskipun bukan sebagai faktor tunggal penentu. Kata kunci: Agresivitas Verbal, Regulasi Emosi, X
Partisipasi dalam Mengikuti Program Ojol (Slot Jatah Ruang Kerja) dengan Kesejahteraan Psikologis Driver Ojol di Surabaya Melalui Stres Kerja sebagai Variabel Moderator Mario Putra Pratama; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between participation in online motorcycle taxi programs (work space allocation slots) and the psychological well-being of online motorcycle taxi drivers in Surabaya, with the moderating variable of work stress experienced by online motorcycle taxi drivers in Surabaya. A quantitative approach was used. The population in this study was online motorcycle taxi drivers. Data were obtained by distributing questionnaires to 74 online motorcycle taxi driver respondents. In this study, the sample was selected using the GPower program. The measurement tools developed by the researcher used a program participation scale (20 items), psychological well-being scale (48 items), and work stress scale (40 items). The analysis used by the researcher was multiple regression analysis. The results of this study used moderated analyses (MRA) using the JAMOVI program. The results of this study indicate that program participation has a significant and negative relationship with psychological well-being with a value of (Z = 4.17; Estimate = 1.0802; p < 0.05). In addition, work stress significantly cannot moderate the relationship between program participation and psychological well-being (Z = -1.81; p > 0.05). This study shows that work stress cannot moderate or play an important role in the relationship between program participation and psychological well-being for online motorcycle taxi drivers in the city of Surabaya.  Keywords: Participation, Psychological well-being, Work stress, Online motorcycle taxi drivers.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara partisipasi yang mengikuti program ojek online (slot jatah ruang kerja) dengan kesejahteraan psikologis driver ojek online yang ada di kota surabaya dengan variabel moderator stres kerja yang telah dialami oleh driver ojek online dikota surabaya. Menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah driver ojek online. Data diperoleh dengan cara mengisi kuesioner yang dibagaikan kepada 74 responden driver ojek online, pada penilitian ini sampel yang digunakan menggunakan program GPower. Alat ukur yang telah disusun oleh peneliti menggunkan skala partisipasi program (20 item), kesejahteraan psikologis (48 item) dan stres kerja (40 item). Analisis yang telah digunakan oleh peneliti merupakan analisis regresi ganda. Hasil penelitian ini menggunakan moderated analyses (MRA) dengan menggunakan program JAMOVI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi program memiliki hubungan yang signifikan dan negatif dengan kesejahteraan psikologis yang memiliki nilai (Z = 4.17; Estimate = 1.0802; p < 0,05). Selain itu, stres kerja secara signifikan tidak dapat moderasi hubungan antara partisipasi program kerja dengan kesejahteraan psikologis (Z = -1,81; p >0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa stres kerja tidak dapat memoderasi atau tidak dapat berperan penting dalam hubungan partisipasi program dengan kesejahteraan psikologis bagi pengemudi ojek online di kota surabaya.  Kata kunci: partisipasi, kesejahteraan psikologis, stres kerja, pengemudi ojek online. 
Kematangan Emosi dan Komunikasi Interpersonal terhadap Kualitas Keharmonisan Keluarga Muda Nanda Shahiza; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between emotional maturity, interpersonal communication, and harmony in young families. This study uses a quantitative approach with a correlational method to determine the direction of the relationship. The subjects in this study consisted of 176 respondents who were married couples aged between 20 and 40 years old, with 1 to 5 years of marriage in the Sukamaju, West Binjai. Data collection was conducted using a family harmony scale, an emotional maturity scale, and an interpersonal communication scale that had undergone validity and reliability testing. Data analysis used simple linear regression with the help of the SPSS 16.0 for Windows. The analysis results showed that, partially, emotional maturity had a positive and significant relationship with family harmony, and interpersonal communication also showed a positive and significant relationship with family harmony. Based on the research results, it can be concluded that the higher the emotional maturity and the better the interpersonal communication possessed by the couple, the higher the quality of family harmony felt, especially in young families in the early stages of marriage. Keywords: Emotional Maturity, Family Harmony, Interpersonal Communication, Young Family Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi, komunikasi interpersonal, dan keharmonisan keluarga muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional atau untuk mengetahui arah hubungan. Subjek dalam penelitian terdiri dari 176 responden yang merupakan pasangan suami istri yang berusia antara 20 hingga 40 tahun, dengan usia pernikahan 1 hingga 5 tahun di Kelurahan Sukamaju, Binjai Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala keharmonisan keluarga, skala kematangan emosi, dan skala komunikasi interpersonal yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil analisis menunjukkan secara parsial, kematangan emosi memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap keharmonisan keluarga, Begitu pula komunikasi interpersonal menunjukkan hubungan positif dan signifikan terhadap keharmonisan keluarga. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kematangan emosi dan semakin baik komunikasi interpersonal yang dimiliki oleh pasangan, maka semakin tinggi pula kualitas keharmonisan keluarga yang dirasakan, terutama pada keluarga muda di masa awal pernikahan. Keywords: Kematangan Emosi, Keharmonisan Keluarga, Keluarga Muda,  Komunikasi Interpersonal
Cyberchondria di Era Digital: Peran Neuroticism pada Pengguna Internet Usia Dewasa Awal Jenar Shelomita Kristanto; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cyberchondria is a condition in which individuals excessively search for health information on the internet, causing anxiety, while neuroticism is one of the Big Five personality dimensions characterized by a tendency to experience negative emotions such as anxiety, fear, and easy stress. This study aims to determine the relationship between cyberchondria and neuroticism in early adult internet users. This study used a quantitative approach with correlational methods. Participants totaled 351 early adults (18-40 years old) who were selected using purposive sampling technique. The measuring instruments used were the Cyberchondria scale and the Neuroticism scale, both of which had been tested for validity and reliability. The data analysis technique used was Pearson product moment correlation technique. shows that there is a significant positive relationship between cyberchondria and neuroticism (p < 0.05), which means that the higher a person's level of neuroticism, the higher the tendency of cyberchondria he has. These results indicate the importance of paying attention to personality aspects in understanding excessive health information seeking behavior on the internet.Keywords: Anxiety; Cyberchondria, Early adulthood; Internet; Neuroticism;Cyberchondria merupakan kondisi di mana individu secara berlebihan mencari informasi kesehatan di internet sehingga memunculkan kecemasan, sedangkan neuroticism adalah salah satu dimensi kepribadian Big Five yang ditandai dengan kecenderungan mengalami emosi negatif seperti cemas, takut, dan mudah stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberchondria dan neuroticism pada individu usia dewasa awal pengguna internet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Partisipan berjumlah 351 usia dewasa awal (18–40 tahun) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala Cyberchondria dan skala Neuroticism, yang keduanya telah diuji untuk validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adaalah teknik korelasi pearson product moment. menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara cyberchondria dan neuroticism (p < 0,05), yang berarti semakin tinggi tingkat neuroticism seseorang, maka semakin tinggi pula kecenderungan cyberchondria yang dimilikinya. Hasil ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam memahami perilaku pencarian informasi kesehatan secara berlebihan di internet.Kata Kunci: Cyberchondria; Internet; Kecemasan; Neurotisme; Usia Dewasa Awal
Kematangan Emosi pada Mahasiswa di Kampus Keagamaan: Bagaimana Peranan Religiusitas? Natanael Luis Samudra; Suhadianto; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Students on religious campuses exhibit emotional instability despite being in an environment that upholds religious values. Behaviors such as being easily offended, reactive to pressure, and having difficulty managing stress indicate that their emotionalmaturity is still relatively low. Based on the data, it shows that students are in the medium emotional maturity category and are in the high religiosity category. This study aims to determine the relationship between religiosity and emotional maturity in students on religious campuses. This study used a quantitative method with a non-experimental correlational approach. The study population consisted of 5,411 students at a Christian University in Surabaya, with a sample of 357 students selectedincidentally. The instruments used were a religiosity scale and an emotional maturity scale. The results of data analysis using the Spearman Rho test showed a significant positive relationship between religiosity and emotional maturity. These findingsreinforce the idea that religiosity can be an internal factor contributing to students' emotional development.Keywords: Religiosity, Emotional Maturity, University Students, Faith-based Campus Mahasiswa di kampus keagamaan menunjukkan ketidakstabilan emosi meskipun berada dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai religius. Perilaku seperti mudah tersinggung, reaktif terhadap tekanan, dan kesulitan mengelola stres menjadi indikasibahwa kematangan emosi mereka masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil data, menunjukkan bahwa mahasiswa berada pada kategori kematangan emosi sedang dan berada dalam kategori religiusitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dan kematangan emosi pada mahasiswa di kampus berbasis agama. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional non-eksperimental. Populasi penelitian terdiri dari 5.411 mahasiswa Universitas Kristen di Surabaya, dengan sampel sebanyak 357 mahasiswa yang dipilih secara insidental. Instrumen yang digunakan adalah skala religiusitas dan skala kematangan emosi. Hasil analisis data menggunakan ujiSpearman Rho menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dan kematangan emosi. Temuan ini memperkuat bahwa religiusitas dapat menjadi salah satu faktor internal yang berkontribusi terhadap perkembanganemosional mahasiswa.Kata kunci: Religiusitas, Kematangan Emosi, Mahasiswa, Kampus Keagamaan