Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Readiness of Elementary School Teachers in Pajo District to Implement English Language Learning under the National Curriculum Arif Bulan; Risca Ariska Ramadhan; Desi Rubiyanti; Amron Zarkasih Ritonga; Maimunah Ritonga; Nur Wahyuni
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2025 (1)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v5i1.915

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru sekolah dasar di Kecamatan Pajo dalam mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Inggris berdasarkan Kurikulum Nasional. Penelitian ini fokus pada tiga aspek utama yang mempengaruhi kesiapan guru, yaitu pengetahuan tentang kurikulum, keterampilan mengajar yang dimiliki, dan tantangan yang dihadapi dalam proses implementasi. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan metode kombinasi kuantitatif serta kualitatif, penelitian ini melibatkan survei dan wawancara dengan 10 guru di beberapa sekolah dasar di Kecamatan Pajo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar guru memiliki pemahaman dasar tentang kurikulum Bahasa Inggris, banyak guru yang merasa belum sepenuhnya siap dalam mengimplementasikan kurikulum tersebut secara efektif. Kesiapan ini terhambat oleh terbatasnya akses terhadap pelatihan yang relevan, serta kurangnya bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum. Selain itu, guru juga menghadapi tantangan dalam menyesuaikan pengajaran dengan keberagaman kemampuan siswa, serta kesulitan dalam pengelolaan waktu akibat beban kerja yang tinggi. Penelitian ini menyarankan agar pihak berwenang, terutama pemerintah dan lembaga pendidikan, memberikan dukungan yang lebih besar berupa pelatihan berkelanjutan yang lebih terfokus dan penyediaan fasilitas yang memadai. Dengan adanya peningkatan dukungan ini, diharapkan implementasi kurikulum Bahasa Inggris di sekolah dasar dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Silu sebagai Alat Musik Tradisional Suku Mbojo: Kajian Budaya dan Pelestariannya Arif Bulan; Nawasyarif Nawasyarif; Tasrif Tasrif; Kasman Kasman
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ywrbwf47

Abstract

This study aims to describe the form and characteristics of the traditional musical instrument silu, examine its symbolic meanings and cultural values, and identify its existence and preservation challenges within the Mbojo community in Bima Regency. The study employed a qualitative approach with a descriptive research design. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving traditional leaders, traditional artists, and members of the Mbojo cultural community. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that silu is a traditional wind instrument characterized by its loud and resonant sound and consists of three detachable parts: the upper, middle, and lower sections. These parts contain symbolic meanings related to the structure of the human body and Islamic religious values within the Mbojo community. The middle section contains seven sound holes symbolizing the seven days of the week as a representation of order and balance in life. Silu functions as an accompanying musical instrument in traditional performances such as tari soka, tari manca, and the folk game mpa’a gantao. Beyond its entertainment function, silu also represents the cultural identity of the Bima community. However, its existence currently faces challenges due to modernization, the declining interest of younger generations, and the lack of cultural documentation. Therefore, preservation efforts through cultural education, cultural dialogue, art studio development, and documentation of local traditions are necessary to maintain silu as a cultural heritage of the Mbojo community.