Rose Mafiana
Bagian Anestesiologi Dan Terapi Intensif; Fakultas Kedokteran; Universitas Sriwijaya/RSUP Dr. Muhammad Hoesin; Palembang

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Penanganan Kasus Kehamilan 32 Minggu dengan Hipertiroid Janin-Fetal Goiter Albernande, Anggy; Sutrisno, Muhammad Al Farisi; Lestari, Peby Maulina; Mafiana, Rose; Kusnadi, Yulianto; Indrayadi, Indrayadi; Aditiawati, Aditiawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.609

Abstract

Hipertiroid pada kehamilan didefinisikan sebagai peningkatan kadar free T4. Hipertiroid terjadi pada 2/1000 kehamilan yaitu hipertiroid yang tidak terkontrol selama kehamilan meningkatkan risiko krisis tiroid, kelahiran prematur, dan kematian janin. Pasien Ny. DK 21 tahun datang dengan keluhan benjolan di leher kanan sebesar telur puyuh, hamil 21 minggu, dengan hasil USG fetal goiter. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, suhu 36,60C; tekanan darah: 120/80 mmHg; frek. nadi: 92x/menit; frek. nafas: 20 x/menit. Pada pemeriksaan Leopold I didapatkan tinggi fundus uteri 21 cm, teraba bagian lunak. Leopold II teraba tahanan memanjang di sisi kiri kesan punggung. Leopold III teraba bagian terbawah bulat, melenting dan keras U 5/5, kesan kepala. DJJ 159x/mnt, TBJ 1240 gram. Pada pasien dilakukan observasi dan kontrol dengan rentang 2 minggu setelah pemeriksaan. Tata laksana pada pasien ini adalah asam folat, kalsium karbonat, vitamin D, propylthiouracil, folamil, dan ferrous sulfat.Management of Cases 32 Weeks Gestational Pregnancy with Fetal Hyperthyroidism-Fetal GoiterAbstractHyperthyroidism in pregnancy is defined as an increase in free T4 levels. Hyperthyroidism occurs in 2/1000 pregnancies where uncontrolled hyperthyroidism during pregnancy increases the risk of thyroid crisis, premature birth and fetal death. Patient Mrs. 21 year old DK came with complaints of a lump in her right neck the size of a quail egg, 21 weeks pregnant, with ultrasound results of fetal goiter. Physical examination revealed good general condition, temperature 36.60C; blood pressure: 120/80 mmHg; Strange. pulse: 92x/minute; Strange. breath: 20 x/minute. On examination by Leopold I, the height of the uterine fundus was 21 cm, and the soft part was palpable. Leopold II has a longitudinal resistance on the left side of the dorsal impression. Leopold III palpable lower part round, melted and hard U 5/5, head impression. DJJ 159x/minute, TBJ 1240 grams. Patients were observed and monitored at intervals of 2 weeks after the examination. Treatment for this patient is folic acid, calcium carbonate, vitamin D, propylthiouracil, folamyl and ferrous sulfate.Key words: Hyperthyroidism, fetal goiter, propylthiouracil
Diagnosis dan Manajemen Anestesi pada Pituitary Apopleksia Tidak Fatal dengan Manifestasi Schizofrenia Cahyadi, Arief; Rachman, Iwan Abdul; Jasa, zafrullah Khany; Mafiana, Rose
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2401.668 KB) | DOI: 10.24244/jni.v11i1.393

Abstract

Tumor hipofisis dapat disertai gejala neuropsikiatri. Apopleksia pituitari (AP) merupakan kejadian jarang akibat infark dan perdarahan tumor hipofisis. Pemulihan total masih mungkin terjadi walaupun pada kasus berat dengan terapi pembedahan maupun konservatif. Terapi pembedahan dipilih bila adanya tanda peningkatan intrakranial dengan kondisi klinis dan neurologis yang tidak stabil. Seorang laki laki, umur 36 tahun dengan keluhan gangguan bicara mendadak sehari sebelum masuk RS, dengan riwayat terapi skizofrenia selama 8 bulan. Pasien mengalami penurunan kesadaran dalam perawatan dan didiagnosis tumor hipofisis anterior dengan komponen apopleksia dari CT-scan kepala. Pasca operasi transphenoid urgensi diterapi vasopresin intramuskular akibat poliuria. Penatalaksanaan anestesi pada pembedahan AP tidak berbeda dengan tumor hipofisis lainnya, hanya saja kondisi AP dapat bersifat urgensi. Satu bulan pasca pembedahan, pasien sudah lebih mudah berbicara, mulai beraktifitas fisik, dan halusinasi suara sudah tidak ada. Tatalaksana AP memberikan tantangan dalam manajemennya. Keluhan yang ditemukan dapat berupa halusinasi. Hingga kasus ini dilaporkan, ada satu publikasi kasus AP dengan psikosis akut dan keterlambatan diagnosis masih mungkin terjadi. Kecurigaan gangguan organik tetap perlu dipikirkan pada gangguan neuropsikiatri. Gangguan produksi urin bisa terjadi pasca operasi yang disebabkan beberapa hal sehingga memerlukan pemantauan ketat status hidrasi untuk menghindari morbiditas dan mortalitas yang mungkin terjadi.Anesthesia Management in Urgency Transsphenoidal Tumor Resection with Pituitary Apoplexy Presenting and SchizophreniaAbstractPituitary tumors may be accompanied by neuropsychiatric symptoms. Pituitary Apoplexy (PA) is a rare condition due to infarct or bleeding in pituitary tumors. Complete recovery is still possible even in severe cases with either surgical or conservative therapy. Surgery is a choice if there is evidence of increased intracranial pressure with unstable clinical and neurological conditions. Adult man, 36 yo, with sudden difficulty to speak a day before, with history of schizophrenia since 8 months ago. The patient suffered a decrease in consciousness in hospitalization and was diagnosed with anterior hypophysis tumor with apoplexy by CT-scan results. Post transsphenoidal urgency surgery, the patient was treated with vasopressin IM due to polyuria. Anesthesia management in PA surgery is the same as other pituitary tumor surgery, however, PA can be urgent. One month after surgery, the patient is more easier to talk, start physical activities, and auditory hallucination is not heard again. Management PA had its own challenge. Symptoms can be hallucinations. Until this case was reported, there was one published case of AP with acute psychosis and delay in diagnosis is still possible. Suspicion of organic disorders still needs to be considered in neuropsychiatric disorders. Impaired urine production might occur postoperatively due to several reasons so it requires close monitoring of hydration status to prevent possible morbidity and mortality.
Disfungsi Kognitif Post Operatif pada Geriatri Maharani, Nurmala Dewi; Halimi, Radian A; Mafiana, Rose; Gaus, Syaruddin
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.984 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i3.418

Abstract

Postoperative Cognitive Dysfunction (POCD) adalah gangguan neurokognitif yang ditandai dengan penurunan kinerja kognitif setelah operasi dan anestesi. POCD ditandai dengan gangguan memori, penurunan proses informasi, berkurangnya perhatian, serta perubahan suasana hati dan kepribadian. Insidensi POCD pada pasien lanjut usia ( 60 tahun) sekitar 25,8% dalam tujuh hari setelah operasi dan 10% dalam tiga bulan setelah operasi. Faktor risiko dan etiologi yang menyebabkan POCD dapat dikurangi dengan edukasi pasien yang baik, perawatan pasien, dan sanitasi yang tepat sehingga dapat mencegah kecenderungan gejala POCD pada pasien tersebut. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan tes pembelajaran kata, tes pembuatan Jejak, tes ketangkasan manual, dan tes kemampuan untuk mengingat urutan angka. Mini Mental State Examination (MMSE) sebagai tes untuk melakukan skrining demensia. MMSE terkadang digunakan untuk mengukur POCD. MMSE dapat digunakan dalam praktik klinis rutin untuk mengidentifikasi demensia subklinis pra operasi yang akan menempatkan pasien pada risiko yang lebih tinggi untuk berkembang menjadi POCD. Penatalaksanaan pada POCD meliputi dua pendekatan yaitu penegakkan diagnosis secara cepat dan pencegahan gejala POCD. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengetahui faktor risiko preoperatif, intraoperatif, dan postoperatif. Pasien dengan POCD persisten mengalami dampak negatif pada kualitas hidup, kinerja memori subjektif, emosional, dan mungkin didapatkan konsekuensi kesehatan seperti demensia dan kematian dini.Post Operative Cognitive Dysfunction among Elderly PatientsAbstractPostoperative Cognitive Dysfunction (POCD) is a neurocognitive disorder characterized by decreased cognitive performance after surgery and anesthesia. POCD is a complication characterized by memory impairment, decreased information processing and reduced attention, accompanied by changes in mood and personality. The incidence of POCD in elderly patients ( 60 years) was approximately 25.8% within seven days after surgery and 10% within three months after surgery. The risk factors and etiology that lead to POCD can be reduced by good patient education, patient care and proper sanitation can prevent the tendency of POCD symptoms in these patients. Examination can be done with the learning test, the word learning test, the tracing test, the manual dexterity test, the ability test to remember a sequence of numbers. Mini Mental Status Examination (MMSE) as a screening test for dementia. MMSE is sometimes used to measure POCD. MMSE can be used in routine clinical practice to identify preoperative subclinical dementia that would put patients at a higher risk of developing POCD. Management in POCD includes two approaches, namely rapid diagnosis and prevention of POCD symptoms. Prevention by knowing the risk factors preoperative, intraoperative and postoperative. In patients with persistent POCD, it has a negative impact on quality of life, subjective memory performance, emotional symptoms, and possible health consequences such as dementia and premature death.
Manajemen Anestesi untuk Tindakan Vp-Shunt pada Bayi Sindrom Crouzon dengan Hidrosefalus Bangun, Chrismas Gideon; Mafiana, Rose; Gaus, Syafruddin
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.983 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol8i1.211

Abstract

Sindrom Crouzon adalah sindrom dominan autosom yang ditandai dengan trias yaitu deformitas tengkorak, anomali wajah, dan eksoftalmus. Sindrom Crouzon memiliki prevalensi 1: 60.000 kelahiran. Sindrom ini disebabkan sinostosis dini sutura koronal dan sagital yang mengakibatkan dismorfisme wajah. Pada anestesi pasien dengan sindrom Crouzon, harus dilakukan langkah-langkah untuk antisipasi dan persiapan penanganan jalan napas yang sulit. Pada kasus ini, seorang bayi 5 bulan dengan sindrom Crouzon datang dengan keluhan kepala membesar sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Dari CT-scan didapatkan hidrosefalus, dan dilakukan tindakan VP-shunt. Telah diantisipasi adanya kesulitan intubasi, maka dilakukan persiapan alat-alat termasuk bougie anak. Bougie tersebut kemudian ternyata sangat berguna saat dilakukan intubasi ulang karena ketidaksesuaian ukuran tube endotrakeal. Operasi VP-shunt berjalan dengan baik, pasca operasi dan anestesi pasien sadar baik, respirasi dan hemodinamik stabil dan kemudian pindah ke ruang rawat biasa. Dalam penanganan pasien ini, antisipasi, peralatan difficult airway yang lengkap, rencana alternatif, serta pendekatan multidisiplin sangat diperlukan.Anaesthetic Management for VP-Shunt in Baby Crouzon syndrome with HydrocephalusCrouzon syndrome is an autosomal dominant syndrome characterized by triad of skull deformity, facial anomalies, and exophthalmos. Crouzon syndrome has a prevalence of 1: 60,000 births. This syndrome is characterized by early synostosis of coronal and sagittal sutures which leads to facial dysmorphism. In Crouzon syndrome, steps must be taken to anticipate and prepare for difficult airway handling.In this case, a 5-month-old baby with Crouzon syndrome presents with an enlarged head complaint 2 months before being hospitalized. CT scan showed hydrocephalus was, and VP-shunt action was planned. It is anticipated that there will be difficulty in intubation, so preparations for tools including child bougie were made. Bougie then turned out to be very useful because it had to be re-intubated because of the incompatibility of the size of the endotracheal tube. VP-shunt surgery works well, surgery and anesthesia were uneventful, then patient moved to the ward. Anticipation, complete difficult airway equipment and alternative plans, as well as a multidisciplinary approach are needed in handling these patients.
Manajemen Neuroanestesi pada Sindrom Dandy Walker dengan Hiperkalemia Kulsum, Kulsum; Mafiana, Rose; Gaus, Syafruddin
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2363.05 KB) | DOI: 10.24244/jni.v8i2.221

Abstract

Sindrom Dandy Walker termasuk hidrosefalus yang sangat jarang terjadi dengan insiden 1 kasus dari 65 kasus hidrosefalus berdasarkan penelitian profil hidrosefalus di RSUDZA Banda Aceh. Insiden di Indonesia sebanyak 5060% kasus dari operasi bedah saraf. Kasus berikut seorang bayi laki-laki lahir prematur, umur 1 bulan, berat badan 3,5 kg, ukuran lingkar kepala 45 cm, muntah dan kejang. CT-Scan terdapat kista, kalium 7 mmol/l ditegakkan diagnosa sindrom Dandy Walker dengan hiperkalemia. Manajemen neuroanestesi dengan cara premedikasi dan pemasangan kateter intravena 24G dengan sevofluran via masker O2 100% setelah jalur vena terpasang, diberikan fentanil 10 mcg sebagai analgetik dan induksi propofol 10 mg. Rocuronium 3,5 mg sebagai fasilitas intubasi. Pemeliharaan anestesi dengan sevofluran dan oksigen. Ventilasi frekuensi nafas 30 x/menit dilakukan manual dan kemudian dengan ventilator TV 30 ml, I:E = 1:1,5, RR 30 kali per menit, FiO2 100%. Monitoring hasil frekuensi nadi 100 130 kali per menit, SpO2 100%, suhu afebris, CO2 30 mmHg. Simpulan: sindrom Dandy Walker kasus yang sangat jarang terjadi dan hidrosefalus sering bersamaan dengan hiperkalemia terjadi pada bayi prematur karena gangguan reaborbsi kalium dan terjadi perpindahan kompartemen dari intraseluler ke ekstraseluler sehingga kalium banyak di ekstraseluler, maka diperlukan manajemen neuroanestesi pediatrik yang adekuat.Neuroanesthesia Management in Dandy Walker Syndrome with HyperkalemiaAbstractDandy Walker syndrome including hydrocephalus which is a very rare case with the incidence of 1 case out of 65 cases of hydrocephalus based on a study of hydrocephalus profile at Zainal Abidin Hospital, Banda Aceh. The incidence of Dandy-Walker syndrome in Indonesia are about 50 - 60% cases from all of neurosurgical cases. The following case was a premature baby, 1 month old, weight 3.5 kg, head cicumference 45 cm, vomit and seizure. Cyst was found in the head CT scan and the potassium level of 7 mmol/l. The patient was diagnosed with Dandy-Walker Syndrome with hyperkalemia. Neuroanesthesia management by premedication and infusion using intravenous cathether 24G with sevoflurane and 100% O2 mask After succesful intravenous cathether, given fentanyl 10 mcg as analgesic and propofol 10 mg as induction. Rocuronium 3.5 mg as a facility for intubation. Maintenance of anesthesia with sevoflurane and oxygen. Respiratory rate 30 breaths per minute with ventilation that was done manually and then with TV on ventilator 30 ml, I: E = 1: 1.5, RR 30x/min, FiO2 100%. Monitoring pulse frequency results of 100130 beats per minute, 100% SpO2, temperature afebrile, CO2 30 mmHg. Conclusions: Dandy-Walker Syndrome was a very rare case and hydrocephalus was often followed with hyperkalemia that occur in premature infants due to potassium reaboration disorder and the displacement of compartment from intracellular to extracellular so that potassium was abundant at extracellular, hence adequate pediatric neuroanesthesia management was needed.
Penatalaksanaan Anestesi Pada Shaken Baby Syndrome Mafiana, Rose; Saleh, Siti Chasnak; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.873 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i4.183

Abstract

Shaken Baby Syndrom adalah suatu kondisi perdarahan intraserebral atau intraokuler tanpa atau dengan hanya minimal trauma pada kepala, leher atau wajah. Kasus ini sering disebut kasus kekerasan anak- orang tua. Jumlah kejadian ini cukup banyak terjadi di US, sekitar 50.000 kasus pertahun, sepertiganya meninggal dunia dan setengah dari kasus yang bertahan hidup mengalami defisit neurologis yang berat. Umumnya prognosa penderita buruk. Di Indonesia sendiri data mengenai hal ini belum ada. Tapi mempunyai kecenderungan untuk meningkat.Gejala yang sering didapat adalah hematom subdural, perdarahan retina dan edema otak. Sering diikuti juga dengan multipel fraktur, trauma cervical dan jaringan leher lainnya. Peneliti lain melaporkan banyaknya kasus Diffuse Axonal Injury (DAI) pada kasus ini. Penanganan neuroanestesinya secara umum sama dengan neuroanestesi cedera otak traumatika pada pediatrik, karena terjadi peningkatan ICP sehingga mempengaruhi CBF, CMRO2 dan autoregulasi otak. Obat, tehnik anestesi yang digunakan dan perhitungan cairan selama operasi diusahakan tidak memperburuk keadaan . Pasca operasi penderita dirawat dan diobservasi di PICU.Anesthesia Management For Shaken Baby SyndromeShaken Baby Syndrome is a condition of intracerebral hemorrhage or intraocular without or with only minimal trauma to the head, neck or face. This case is often referred to cases of child-parent violence. This cases in the U.S, approximately 50,000 cases per year. From all event, one third died and half of the cases that survive with severe neurological deficit. Generally, prognosis of patients is poor. In Indonesia data on this subject does not exist. But it has a tendency to increase. Symptoms of a subdural hematoma is often obtained, retinal hemorrhages and brain edema.This case often followed by multiple fractures, cervical and other neck trauma tissues. Diffuse axonal injury researchers often reported for this case. Generally neuroanestesi technique for pediatric equal with pediatric trauma neuroanesthesia. Anesthesi challenges for this case was ICP, because increased ICP could influence for CBF, CMRO2 and cerebral autoregulation. Avoid anesthesi drugs , technique and the calculation of fluid during surgery to damaged this condition. Postoperative patients were treated and observed in the PICU.
Membran Sel Neuron dan Sawar Darah Otak sebagai Struktur Proteksi Otak Mafiana, Rose; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.419 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i3.174

Abstract

Otak adalah organ vital tubuh yang rentan untuk rusak. Mempunyai kebutuhan oksigen yang tinggi, sangat tergantung terhadap glukosa, mempunyai kecepatan metabolisme yang tinggi, tetapi mempunyai daya adaptasi yang rendah terhadap cedera serta sangat sulit beregenerasi. Cedara pada sel otak (neuron) adalah suatu kondisi yang serius yang dapat menyebabkan disfungsi dan kematian sel otak. Kebutuhan otak yang tinggi akan oksigen dan glikogen secara konstan adalah untuk memproduksi energi tubuh berupa adenosine-5-triposphate (ATP) yang berguna untuk mempertahankan kehidupannya. Injuri sel dapat mengganggu metabolisme tersebut, mengurangi produksi ATP, menurunkan cadangan ATP dan menyebabkan proses glikolisis dan penggunaan laktat tubuh sebagai sumber energi metabolisme. Kondisi patologis ini memicu untuk terjadinya kerusakan sampai kematian sel melalui jalur nekrosis maupun apoptosis. Oleh karena itu otak dilindungi oleh membran sel dan sistem pembuluh darah otak yang bersifat spesifik, yang disebut sawar darah otak.Membrane Neuronal Cell and Blood Brain Barriere as Structure Brain Protection The brain is the body's vital organs are susceptible to damage. Have a high oxygen demand, is highly dependent on glucose, has a high metabolic rate, but have low adaptability of the injury and it is very difficult to egeneration. Injury on brain cells (neurons) is a serious condition because of risk for dysfunction and cells death. The brain needs for oxygen and glycogen constanly to produce the body's energy in the form of adenosine-5'-triposphate (ATP) which is useful for maintaining life. Injury can interfere with the metabolism of these cells, reducing the production of ATP, reducing ATP reserves and cause glycolysis process in the body and the use of lactate as an energy source metabolisme. This pathological condition for the occurrence of damage cell and trigger to cell death through necrosis or apoptosis process. Therefore, the protective structure cell membran and cerebral vascular system such as special, the vascular structure is blood brain barrier.